Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (2)


Meskipun Ibn Arabi menyatakan bahwa waktu merupakan imajinasi dan tidak memiliki eksistensi riil, ia menekankan bahwa waktu merupakan salah satu dari empat “ibu eksistensi” (prinsip fundamental): bentuk monad (al-jawhar al-suwari),[1] bentuk aksidental (al-‘arad),[2] waktu (al-zaman), dan ruang (al-makan).[3] Semua manifes yang ada di dunia merupakan kombinasi dari empat parameter di atas. Ia juga berargumen bahwa keempat parameter itu—bersama dengan enam kategori yang diturunkan dari empat parameter itu: fa’il, munfa’il, idafa, wad’, ‘adad, kayf—cukup untuk menjelaskan semua fenomena atau keadaan di dunia. Jumlah semuanya sama seperti sepuluh kategori Aristoteles: substansi (jawhar), kuantitas (kamm), kualitas (kayf), relasi (idafa), waktu (mata), tempat (ayna), situasi atau posisi (wad’), kepemilikan (lahu), atau keadaan (jidda), keinginan (yanfa’il), dan tindakan (yaf’al)—makna dari jawhar dalam pembahasan di sini berbeda jauh dengan yang biasa digunakan Aristoteles, tetapi merupakan refleksi dan inspirasi kalam dalam terminologi Ibn Arabi. Dalam konsepsi yang berbeda mengenai kesatuan wujud, menurut Ibn Arabi keempat “ibu eksistensi” termasuk bentuk-monad merupakan bentuk-bentuk imajiner atau refleksi dari keunikan “Monad Tunggal” (al-jawhar al-fard) di mana ia hanya dapat dijelaskan dengan eksistensi riil: semua benda yang ada di dunia berbeda bentuknya dengan Monad Tunggal, termasuk “penglihatan dan yang dilihat, pendengaran dan yang didengar, imajinasi dan yang diimajinasikan, berpikir dan yang dipikirkan, dan seterusnya”. Konsep-konsep refleksi Ibn Arabi selanjutnya menjadi teori kontroversial mengenai kesatuan wujud.

Memahami realitas waktu sangat penting sekali untuk menghubungkan antara kesatuan aktual Monad Tunggal dan kejamakan makhluk yang dapat disaksikan di dunia. Itulah sebabnya mengapa Ibn Arabi mengatakan:

Mengetahui waktu merupakan pengetahuan berharga untuk keabadian (al-azal) sebagai pengetahuan yang benar… Tetapi hanya orang Arif[4] dari “Manusia Baik” yang mengetahui keabadian. Realitas ini dikenal sebagai “Zaman Pertama” (al-dahr al-awwal) atau “Zaman dari zaman” (dahr al-duhur). Dari keabadian (al-azal) ini waktu muncul menjadi eksistensi.

Ringkasnya, waktu sebagai pengalaman biasa diketahui dari gerak, dan gerak dapat diketahui berdasarkan perbedaan posisi dari bentuk-bentuk monad. Monad sendiri berbeda-beda keadaannya atau ia merupakan bentuk-bentuk dari Monad Tunggal yang merupakan eksistensi riil.

Waktu Fisik dan Waktu Spiritual

Ibn Arabi membedakan dua jenis waktu: fisik atau “waktu alami” (zaman tabi’i) dan spiritual atau “waktu adi-alami” (zaman fawq-tabi’i). Waktu yang pertama digunakan untuk membandingkan gerak dari makhluk fisik dan orbit, sementara waktu yang kedua digunakan untuk membandingkan perubahan di dalam keadaan spiritual. Ia menjelaskan bahwa eksistensi waktu tidak memerlukan eksistensi materi, sebab waktu berhubungan dengan gerak material di bawah efek Alam dan waktu berhubungan dengan gerak imaterial di atas efek Alam, misalnya dunia spiritual. Selanjutnya ia mengatakan bahwa “Anda akan mengetahui bahwa waktu berada di atas Alam dan waktu yang berada di bawah Alam, dan ia menjelaskan yang dimaksud dengan waktu di bawah Alam adalah “ditentukan oleh gerak orbit dan waktu di atas Alam ditentukan oleh keadaan (spiritual)”. Jadi ketika Ibn Arabi mengatakan: “Asal mula eksistensi waktu adalah Alam di mana keadaannya di bawah Jiwa Universal dan di atas Debu Universal”, dalam aktualitanya ia merujuk kepada waktu alami yang digunakan untuk membandingkan gerak dari makhluk dan orbit—sementara waktu spiritual digunakan untuk membandingkan perubahan di dalam keadaan spiritual, dan menjadi asal mula dari eksistensi dunia fisik.

Kita dapat mengatakan bahwa konsepsi Ibn Arabi mengenai waktu alami adalah waktu yang dikenal dalam fisika dan kosmologi, dan waktu spiritual adalah yang disebut oleh para filsuf modern sebagai “waktu psikologis”. Waktu psikologis adalah perasaan tentang peristiwa-peristiwa di dalam waktu: kita dapat merasakan waktu karena keadaan rasa terus-menerus mengalami perubahan di dalam pikiran, kecuali jika kita tidur yang lama seperti contoh yang terjadi pada “sekelompok manusia di dalam gua” (ash-hab al-kahfi) yang tertidur lebih dari 300 tahun tetapi ketika dibangunkan merasa sehari atau setengah hari (QS. 18: 9-25).

Waktu fisik mengalir seragam dan kontinu (terlokalisasi), sementara waktu psikologis tergantung kepada suasana hati, sebagaimana dalam larik puisi Ibn al-Farid:

Ketika dengannya, bagiku satu tahun terasa sekilas

Dan berpisah satu jam seperti satu tahun (Mahmud, 1995: 344).

Ibn Arabi juga mengatakan “satu menit adalah setahun ketika tidur” dan kita akan mendiskusikan aspek relatif “adi-alami” dalam waktu fisik pada pembahasan selanjutnya, insya Allah.

Asal Mula Dunia

Banyak orang mengajukan pertanyaan seperti: “Berapa usia alam semesta?” atau “Kapan dunia dimulai?” Para kosmolog berusaha untuk memberikan jawaban dan mengestimasi usia alam semesta (sampai saat ini diketahui usia alam semesta sekitar 15 milyar tahun). Beberapa pertanyaan pada masa modern terinspirasi oleh perdebatan antara Plato dan Aristoteles: apakah waktu diciptakan setelah atau sebelum dunia, atau sebaliknya; atau apakah keduanya abadi. Perdebatan tersebut menghasilkan banyak teka-teki dan paradoks. Misalnya, seseorang bertanya: jika dunia dimulai pada titik waktu tertentu, bagaimana Tuhan mengubah waktu dalam benda fisik (partikular)? Dapatkah dunia diciptakan sepuluh menit sebelum atau setelah ditetapkan? Dan apakah pekerjaan Tuhan setelahnya, atau apakah peristiwa yang terjadi sebelum dunia dimulai?

Ibn Arabi memperlihatkan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bermakna, sebab dunia diciptakan di luar waktu dan waktu sendiri merupakan bagian dari penciptaan dunia. Tuhan tidak menciptakan dunia di dalam waktu, sebab tidak ada eksistensi “sebelum” dunia terpisah dari-Nya yang juga di luar waktu, dan oleh karena itu penciptaan dunia tidak dapat dibandingkan terhadap peristiwa lainnya di dalam waktu. Eksistensi Pencipta mendahului eksistensi dunia secara logika, bukan secara kronologis; hal ini seperti ketika kita mengatakan “hari dimulai ketika terbit Matahari”: ini bukan durasi waktu yang memisahkan terbitnya Matahari dengan dimulainya hari, tetapi secara logika hari tidak dimulai jika Matahari tidak terbit. Eksistensi Tuhan merupakan prakondisi—bukan penyebab—bagi eksistensi dunia. Oleh sebab itu, karena dunia diciptakan di luar waktu (bukan “di dalam” waktu), maka pertanyaan-pertanyaan di atas tidak sah/ tidak bermakna.

Ibn Arabi menjelaskannya sebagai berikut:

Kenyataan bahwa materi merupakan eksistensi dari Yang Riil tidak ditentukan (temporal atau kausal) oleh eksistensi dunia: bukan “sebelum”, “dengan”, atau “setelah” secara temporal, sebab temporal atau spasial yang diprioritaskan ketika berhubungan dengan Tuhan adalah bertolak belakang dengan kenyataan faktualnya—kecuali jika dikatakan dengan cara iluminasi, seperti apa yang disampaikan Nabi atau apa yang dinyatakan dalam Kitab Suci. Tidak semua orang bisa mengalami kenyataan realitas. Kita hanya dapat mengatakan bahwa Tuhan eksis oleh diri-Nya dan untuk diri-Nya; eksistensi-Nya absolut, tidak dapat dijelaskan oleh yang lain kecuali diri-Nya, dan Ia tidak disebabkan oleh sesuatu atau penyebab terhadap sesuatu—tetapi Ia adalah Kreator dari sebab dan semuanya.

Dunia eksis melalui Tuhan, bukan oleh dirinya atau untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, pernyataan bahwa eksistensi Tuhan oleh diri-Nya sendiri merupakan suatu kondisi untuk menentukan eksistensi dunia, di mana semuanya tidak dapat eksis tanpa eksistensi Tuhan. Begitu pula waktu tidak dapat eksis tanpa eksistensi Tuhan dan Ia merupakan Sumber (mabda’) dari dunia, oleh karena itu dunia menjadi eksis “dalam waktu yang lain”. Secara aktual kita tidak dapat mengatakan dalam realitas sesuatu Tuhan eksis sebelum dunia—sebab dalam perkataan ini ditetapkan kata “sebelum” yang merupakan salah satu tanda waktu dan pada saat demikian tidak ada “waktu” (sebelum eksistensi dunia). Begitu pula kita tidak dapat mengatakan bahwa dunia eksis setelah eksistensi Tuhan; tidak ada “setelah” atau “dengan” untuk eksistensi Tuhan, karena Ia bukan penyebab eksistensi sesuatu, tetapi Ia adalah pembuat dan pencipta sesuatu (sebagaimana dalam hadits) “tidak ada sesuatu (dengan-Nya)”.


[1] Al-jawhar secara harfiah berarti “permata” tetapi secara teknis berarti “esensi”. Ibn Arabi mengambil penggunaan teknis kata tersebut dari teologi kalam. Dalam pembahasan ini diterjemahkan sebagai “monad” yang merupakan zat tak-terbagi yang diperkirakan sebagai materi dasar.

[2] Al-‘arad—dalam pengertian teknis sebagaimana yang digunakan dalam teologi kalam—adalah tampilan aktual atau bentuk al-jawhar, atau bentuk tiap-tiap monad ketika mengaktual. Golongan Atomistik, terutama  para teolog Asy’ariyah menegaskan bahwa dunia terdiri dari substansi dan aksiden (jawahir dan ‘arad) dan substansi bersifat tetap sementara aksiden selalu berubah. Ibn Arabi menggunakan istilah yang lebih ketat daripada Asy’ariyah, ia mengatakan bahwa segala sesuatu yang kita lihat senantiasa berubah secara terus-menerus, meskipun perubahannya “sama” atau “seperti sama” yang menurut pikiran kita tidak berubah. Ia juga menegaskan bahwa monad (al-jawhar) tidak terlihat dengan sendirinya, tetapi kemunculannya memakai bentuk yang lain.

[3] Ada dua kata berbeda dalam bahasa Arab yang biasa digunakan untuk makna ruang: al-makan dan al-hayyiz. Al-hayyiz lebih tepat digunakan untuk merujuk kepada abstraksi dari ruang tiga dimensi, sementara al-makan mengacu ke “tempat” dari suatu ruang. Ibn Arabi kadang-kadang menggunakan kedua kata tersebut dengan arti ruang, tetapi dalam satu bagian ia mendefinisikan secara berbeda: al-makan adalah tempat ketika suatu objek diam, tetapi bukan di dalamnya; jika objek berada di dalam, ia menjadi al-ahyaz (bentuk tunggalnya hayyiz, ruang) bukan al-makan (tempat).

[4] Al-afrad min ar-rijal: al-afrad merupakan kelompok orang Arif dengan tingkat spiritualitas tertinggi yang keluar dari putaran Kutub (al-Qutb) spiritual; al-Khadir merupakan salah satu dari mereka; dan “Mereka bukan yang menguasai Kutub spiritual dan ia keluar dari aturan mereka, tetapi ia merasa cukup atas dirinya sendiri”. Dalam teknik yang digunakan Ibn Arabi, al-rijal (“Manusia Baik”) tidak merujuk kepada gender tetapi kepada spiritualitas orang Arif atau “true Knowers” (‘urafa). Lihat: Al-Mu’jam Al-Sufi: 515-521.

2 Tanggapan to “Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (2)”

  1. Tasawuf filosofi memang rumit, kadang satu teori didukung oleh teori lain tp kadang dipatahkan, smntara tasawuf amali satu teori didukung oleh teori lainnya, dan teori yg seabrek ini hanya sbg modal dasar dlm memulai suluk. Dan jika sudah didalam perjalanan, semua teori tsb baik yg pilosofi/amali menguap entah kemana, spt pembalap, jika sudah memulai balapan, semua teori mengemudi hilang, hanya ada pembalap, mobil dan insting dia selaku pembalap.
    hanya masalahnya ada / tdk hidayah utk kita dlm mnembus hijab2 perjalanan. Dan jika kita berhasil, adakah yg prcaya?. Pertanyaan sederhana yg selalu ditanyakan kpd orang yg pulang dr prjalanan, oleh2nya mana?.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: