Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (1)


Waktu, jika Anda merenungkan kemunculannya, adalah sesuatu yang dapat diverifikasi; Namun, ia dapat diketahui oleh (manusia) ketika berimajinasi (awham). Kekuatan waktu, seperti alam yang memiliki efek-efek tertentu, meskipun esensi dari keduanya (waktu dan alam) adalah tidak eksis.[1] Melaluinya, semua yang ada di dunia dapat ditentukan. Meskipun ia sendiri esensinya tidak eksis dengan sesuatu yang dapat ditentukan.

Pada pembahasan sebelumnya kita melihat bahwa waktu merupakan masalah penting dalam filosofi fisika dan kosmologis. Untuk alasan yang sama, Ibn Arabi menjelaskan dengan baik bahwa waktu merupakan kunci utama untuk merealisasikan spiritual manusia. Pada pembahasan ini, kita akan melihat relevansi pandangan Ibn Arabi mengenai waktu. Kita akan mendeskripsikan ide-idenya mengenai waktu dan secara fokus membahas isu-isu seputar waktu. Untuk alasan ini, akan dilakukan pembahasan dari berbagai referensi untuk menjelaskan masalah waktu secara detail.

Apakah Waktu?

Ibn Arabi memulai dengan menyatakan bahwa waktu merupakan atribut imajiner yang tidak eksis dengan sendirinya; ia bukan merupakan entitas fisik atau non-fisik yang terpisah. Ia berargumen bahwa “hubungan waktu dengan manusia seperti hubungan keabadian dengan Tuhan, dan oleh karena keabadian merupakan atribut negatif[2] yang tidak dapat eksis dengan sendirinya, hubungan waktu dengan dunia kontingen dan seluruh kosmos (juga) atribut imajiner yang tidak eksis.”

Dalam kitab utamanya Al-Futuhat Al-Makiyyah, ia berkata: “Dalam kitab ini dan kitab The Time (Al-Zaman) kami memperlihatkan bahwa waktu merupakan suatu eksistensi yang tidak riil.” Meskipun kitab yang terakhir sulit ditemukan pada masa sekarang, konsep Ibn Arabi mengenai waktu secara mendetail dapat ditemukan dalam Futuhat yang tersebar dalam bab-babnya, seperti  Bab 59, 291, dan 390.

Konsep waktu diperlukan untuk membandingkan urutan dari peristiwa atau gerakan, tetapi eksistensi riilnya hanya diatributkan kepada suatu gerakan aktual bukan kepada gerakan abstraksi; gerakan waktu dan ruang yang dapat diobservasi:

Waktu dan ruang merupakan konsekuensi dari eksistensi alam, tetapi waktu merupakan suatu bentuk imajinasi yang tidak eksis (dengan sendirinya), ia diawali oleh gerakan suatu orbit yang terlokalisasi ketika kita mengajukan pertanyaan “kapan”. Jadi, waktu dan ruang tidak eksis dalam realitas, tetapi eksistensinya tergantung kepada faktor gerak dan diam.

Hal ini tidak untuk mengatakan bahwa “gerak”, “ruang”, dan “waktu” tidak memiliki eksistensi fisik, tetapi ketiganya bukan peristiwa yang terpisah dengan cara mengabstraksikannya: eksistensi ketiganya merupakan ilusi; ketiganya hanya proyeksi dari imajinasi manusia (wahm).

Tidak mudah untuk menolak eksistensi waktu, ruang, dan gerak karena ketiganya merupakan pengalaman dalam kehidupan manusia sehari-hari. Bagaimanapun, Ibn Arabi bukan orang pertama yang menyatakan proposisi tersebut. Kita mengetahui bahwa Aristoteles memberikan penjelasan sederhana bahwa waktu tidak riil. Membuktikan kekeliruan pandangan gerak dan ruang memiliki eksistensi riil sangat rumit. Mungkin hanya Zeno (488 SM) yang cukup berani untuk membuat postulat bahwa gerak itu hanya ilusi, dan ia menyusunnya dalam bentuk teka-teki yang sulit untuk dipecahkan dengan logika. Ide utama, di samping konsepsi misterius Ibn Arabi adalah teori kontroversialnya mengenai kesatuan wujud, di mana hal tersebut menjadi fokus bahasan selanjutnya. Jika kita mendukung bahwa eksistensi “riil” di dunia adalah satu keunikan, maka gerak menjadi tidak bermakna, begitu pula terhadap waktu dan ruang; atau ketiganya perlu didefinisikan ulang. Kita akan mudah memahami paradoks Zeno dengan mengikuti pandangan Ibn Arabi mengenai teori kesatuan wujud. Kembali kepada waktu, kita dapat menjelaskan dengan mudah bahwa waktu itu imajiner. Aristoteles mengatakan dalam Physics bahwa “waktu terdiri dari dua bagian, salah satunya telah eksis (masa lalu) dan lainnya belum eksis (masa depan). Jadi, bagaimana sesuatu dikatakan eksis jika tersusun dari yang tidak eksis?” (Lettinck, 1994: 348).

Terdapat eksistensi rill dari waktu, yaitu pada masa sekarang, bukan masa lalu atau masa depan. Aristoteles kemudian memberikan argumen lainnya bahwa “sekarang” itu bukan waktu. Masa sekarang bukan waktu tetapi cenderung seperti titik waktu imajiner, seperti titik dalam garis; meskipun garis disusun dari titik, tetapi tiap-tiap titik bukan garis.[3] Sebagaimana waktu yang merupakan jumlah dari momen-momen masa sekarang yang eksis satu per satu, dan tiap momen masa sekarang (sendiri) bukan waktu. Oleh karena itu waktu adalah proyeksi pikiran yang bersifat kontinu dari masa depan menuju masa lalu melalui masa sekarang.

Ibn Arabi mengupas secara mendalam mengenai waktu. Pada Bab 390 dalam Futuhat, ia berkata: “Waktu dari sesuatu adalah kehadiran”. Kemudian ia menjelaskan bahwa kedudukan waktu di hadapan Tuhan adalah “abdi” dan waktu bagi abdi adalah Tuhan (al-Rabb). Tuhan patut diberikan nama demikian oleh abdi, karena Dia tidak disebut “Tuhan” jika tidak ada abdi yang beribadah kepada-Nya; seperti abdi yang patut diberi nama demikian (manakala dihubungkan) dengan Tuhan. Dalam cara yang sama, Ibn Arabi mengatakan: “Waktu dari ayah adalah anaknya dan waktu bagi anak adalah ayahnya”. Itulah sebabnya mengapa Ibn Arabi pada Bab 390 mengatakan: “Waktu dari sesuatu adalah kehadiran, tetapi Aku dan Anda keluar darinya, jadi Aku berada dalam waktu Anda dan Anda berada dalam waktuku. Artinya, Aku berada dalam kehadiran Anda dan Anda berada dalam kehadiranku”.

“Waktu” dalam kebiasaan orang adalah alat aktual yang digunakan oleh persepsinya untuk mengklasifikasi peristiwa atau gerak objek secara kronologis; ia tidak memiliki arti tanpa gerakan atau perubahan. Itulah sebabnya mengapa kita tidak merasakan waktu ketika tidur; kita dapat melihat beberapa jenis gerakan standar dari (Matahari, Bulan, bintang, atau jam) untuk menentukan berapa banyak waktu yang digunakan ketika tidur. Waktu tidak memiliki arti riil absolut; ia bersifat relatif terhadap sesuatu untuk menjelaskan keadaan eksistensinya. Itulah sebabnya mengapa Ibn Arabi menggunakan kata “waktu” dan “keadaan” secara sinonim, ketika ia berkata: “Seperti saat Anda (dapat) mengatakan waktu dari eksistensi atau keadaan (hal) dari eksistensi”.

Jadi, arti riil waktu direduksi kepada eksistensi dunia dalam “momen sekarang”, di mana tidak ada durasi atau perluasaan karena masa depan atau masa lalu adalah imajinasi. Ibn Arabi menyatakan bukan suatu masalah ketika orang mengatakan bahwa “waktu” adalah siang dan malam, atau waktu adalah durasi dalam gerak objek, atau waktu adalah perbandingan dari suatu peristiwa terhadap peristiwa yang lain ketika menanyakan “kapan?”; sebab definisi-definisi tersebut dapat digunakan secara umum dan dibenarkan bila dihubungkan dengan waktu menurut pendapat orang awam. Sebagaimana Ibn Arabi katakan pada Bab 59 dalam Futuhat dengan judul “Eksistensi dan Asumsi tentang Waktu”, orang menggunakan kata “waktu” (zaman)[4] dengan banyak cara: filsuf menjelaskan waktu sebagai durasi dalam gerakan orbit dan teolog Muslim menjelaskan waktu sebagai peristiwa yang berurutan. Tetapi makna zaman dalam tradisi Arab adalah waktu-malam (layl) dan waktu-siang (nahar). Ibn Arabi sendiri kadang-kadang menggunakan kata zaman dengan arti siang dan malam. Hal ini hanya berupa konvensi; sebab, hari (yawm) bersifat ketuhanan yang merupakan satuan utama yang tidak dapat dipisahkan dari waktu. Jika waktu memiliki beberapa eksistensi riil, ia eksis sebagai “hari-hari” (untuk tiap sesuatu yang riil secara instan) dengan bersifat ketuhanan, bukan sebagai jam atau detik sebagaimana konvensi yang kita gunakan. Tidak seperti kata hari (yawm), siang (nahar), dan malam (layl), kata waktu (zaman) tidak digunakan dalam Al-Quran.


[1] Alam di sini berarti “level alam” (martabat al-tabi’a) (yaitu empat elemen dasar) dan bukan alam dalam arti fisik yang merupakan dunia material. Ibn Arabi menjelaskan bahwa level alam tidak memiliki eksistensi fisik terpisah: “Tuhan menetapkan level alam yang memiliki (riil) eksistensi berada di bawah Jiwa, meskipun ia tidak benar-benar eksis, hal ini disaksikan oleh Yang Riil. Itulah sebabnya Dia membedakan dan menetapkan level alam. Hal ini berkaitan dengan wujud alami dalam Nama-nama ketuhanan: mereka dapat diketahui dan dibayangkan, efeknya dapat muncul dan tidak dapat diabaikan, sedangkan umumnya mereka tidak memiliki esensi (terpisah). Demikian juga level alam memiliki bentuk potensial yang rasional dan memiliki eksistensi riil, meskipun eksistensi riilnya tidak terpisah. Jadi, begitu kuat keadaannya dan begitu tinggi efeknya!

[2] Dalam bahasa teologi kalam, “atribut negatif” (sifat salbiyyah) adalah atribut yang bukan gambaran sesungguhnya, tetapi hanya sebuah negasi dari deskripsi yang dikemukakan. Lihat: “The Book of Eternity” (Kitab al-Azal) karya Ibn Arabi.

[3] Untuk informasi lebih jauh mengenai analogi “titik-garis” dan “waktu-sekarang”, lihat: Hasnaoui (1977). Hal: 50. Lihat juga karya Ibn Arabi “Risalah fi Asrar al-Dhat al-Ilahiyyah” dalam “Rasail Ibn Arabi” (Beirut: Mu’assasat al-Intishar al-Arabi, 2002), ed. Sa’id Abd al-Fattah, Vol. I: 193-206.

[4] Ada dua kata yang terkait erat dalam bahasa Arab yang digunakan untuk “waktu”: zamaan dan zaman. Pada dasarnya, keduanya digunakan dalam konteks yang sama dan biasanya kamus bahasa Arab (seperti: Lisan al-Arabi (Beirut: Dar Sadir, tt), XII: 200) tidak membedakan keduanya. Ibn Arabi juga menggunakan dua kata ini secara bergantian dalam tulisan-tulisannya, meskipun begitu kita dapat mengetahui suatu pola unik yang digunakan dalam Futuhat: dalam banyak tulisan ia menggunakan zamaan untuk waktu dengan rentang yang lama, sementara kata zaman digunakan untuk waktu sekarang atau waktu tertentu yang singkat dan jelas, seperti dalam pernyataan teknis “waktu tunggal” (al-zaman al-fard) yang akan dijelaskan dalam pembahasan selanjutnya.

2 Tanggapan to “Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (1)”

  1. adi abdurrosyadi Says:

    Waktu berlaku bagi manusia ketika berada di wilayah sadar, karena kesadaran adalah kelayakan hidup selain itu adalah kesia-siaan,{zaman}. Dan ada waktu yang melampaui di atas sadar, d sana tidak ada lagi batasan- batasan yang mampu mengikat dan tidak dapat di ukur oleh ruang dan waktu,yang ada hanyalah kehadiran yang tak terbatas, dan ini adalah waktu bagi manusia yang termanusiakan. { zamaan }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: