Waktu Menurut Teori Kuantum dan Ibn Arabi


Waktu Kuantum

Mengenai pertanyaan tentang waktu “instan”; waktu berwujud kontinum linier berarti bahwa didalamnya terdapat faktor tak terhingga. Hal ini berarti di antara dua waktu instan terdapat fakta ketiga; waktu kontinu. Namun, terhadap waktu yang lebih pendek dari 10-43 detik, disebut waktu Planck, sains tidak memiliki dukungan eksperimental atas kekontinuan waktu. Tapi fisikawan setuju bahwa Relativitas Umum gagal untuk menjelaskan interval waktu yang lebih pendek dari waktu Planck,[1] meskipun mereka tidak tahu persis bagaimana dan apa penggantinya.

Gagasan bahwa ruang atau waktu (ruang-waktu) bersifat diskrit muncul kembali dalam literatur ilmiah baru-baru ini, tetapi asal-usulnya kembali ke filosofi kuno. Konsep baru yang dibawa oleh Mekanika Kuantum (misalnya konsep ketidakpastian atau prinsip ketidakpastian) menyatakan bahwa ruang-waktu dapat juga terkuantisasi seperti energi. Ini diperkuat dengan ditemukannya divergensi ultraviolet dalam teori Medan Kuantum (Zee, 2003: 145-151), meskipun banyak konsep aneh dari kuantum yang diterima fisika kontinum. Pada tahun 1980-an, kehandalan komputer telah menginspirasi munculnya pemikiran mengenai sifat diskrit dalam fisika. Simulasi matematika yang rumit dalam super-komputer telah membuka jalan bagi munculnya teori Kisi yang diaplikasikan dalam Mekanika Kuantum, termasuk Gravitas Kuantum. Dalam Gravitas Kuantum, interval waktu Planck merupakan ukuran minimum yang tidak dapat dilakukan pengukuran dengan akurat.

Hawking melihat ada alasan untuk meninggalkan teori-teori kontinum yang telah begitu sukses sebelumnya. Menurutnya memungkinkan untuk menciptakan struktur diskrit ruang-waktu tanpa meninggalkan teori kontinum jika dualitas diskrit-kontinum dapat di atasi sebagaimana dualitas gelombang-partikel dapat di atasi oleh Mekanika Kuantum.[2]

Metode praktis dari kuantisasi waktu dalam teori-teori ilmiah modern didasarkan pada beberapa persamaan matematika yang rumit seperti teori kisi dan otomata seluler yang berada di luar pembahasan ini (Wolfram, 2002: 771). Patut dicatat di sini bahwa kuantisasi Ibn Arabi terhadap waktu sangat unik dan didasarkan pada pandangan kosmologis yang lebih luas (kesatuan wujud).

Waktu dalam Pandangan Ibn Arabi

Ibn Arabi menganggap waktu adalah imajiner dan tanpa eksistensi nyata; waktu hanya alat yang digunakan pikiran untuk mengatur kronologis suatu peristiwa, gerakan bola langit dan benda-benda fisik. Selanjutnya Ibn Arabi membedakan dua jenis waktu: “waktu alami” dan “waktu adi-alami”. Dia juga menjelaskan bahwa dasar asal-usul waktu imajiner dari dua kekuatan jiwa: daya aktif dan intelektif.

Meskipun waktu itu imajiner, Ibn Arabi menganggap waktu sebagai salah satu dari empat unsur utama di alam: waktu, ruang, monad (al-jawhar), dan bentuk (al-‘arad). Seperti beberapa teori modern, Ibn Arabi juga menentukan bahwa waktu itu siklik, relatif, dan homogen. Ibn Arabi memberikan definisi yang tepat mengenai “hari”, “siang”, “malam” yang berhubungan dengan entitas real dan imajiner terhadap orbit atau lintasan; setiap orbit memiliki “hari” tersendiri dan hari-hari tersebut diukur dengan hari normal di Bumi.

Di sisi lain, Ibn Arabi menegaskan pentingnya satuan “Minggu” kosmis dan mengatakan bahwa hari dalam satu minggu memiliki keunikan tersendiri dan satu sama lainnya tidak sama. Hari Sabtu (al-sabt) khususnya, memiliki arti penting karena ia menganggap hari ini sebagai “Hari Keabadian”, sehingga hari dalam seminggu yang diamati termasuk hari Sabtu itu sendiri. Awalnya mungkin hal ini membingungkan, tetapi akan menjadi mudah setelah kita menjelaskan pandangan Ibn Arabi tentang prinsip penciptaan kembali dan teori kesatuan wujud.

Pandangan Ibn Arabi yang sangat penting dan unik adalah waktu bersifat diskrit: terdapat “hari” atau “waktu” minimum—yang mengejutkan “hari” tersebut sama dengan hari normal yang kita gunakan dan dibagi menjadi jam, menit, detik, dan satuan yang lebih kecil lagi. Konsepsinya terlihat ambigu, tetapi ketika menjelaskan hal ini Ibn Arabi memperkenalkan tiga jenis hari yang tergantung pada aliran waktu aktual yang tidak seragam dan tidak terasa sebagaimana kita bayangkan. Poin pentingnya, Ibn Arabi menekankan bahwa menurut Al-Quran hanya ada satu “peristiwa” setiap hari (hari aktual) dan bukan peristiwa berbeda seperti yang kita amati. Untuk mencapai pemahaman lebih mendalam dari kata kunci di dalam Al-Quran, ia merekonstruksi realitas yang mendasari hari biasa dengan cara khusus dari perbedaan hari dalam aliran waktu aktual.

Berdasarkan sejumlah ayat-ayat dalam Al-Quran, Ibn Arabi mengatakan bahwa dunia tidak eksis secara langsung dan statis setelah penciptaan, tetapi mengalami keterciptaan yang berulang dan terus-menerus. Kita akan melihat pandangan Ibn Arabi mengenai waktu dan bagaimana waktu mengalir secara tepat dan unik; hal ini tidak pernah dibahas para filsuf atau ilmuwan. Kekhasan visi kosmis berupa “penciptaan terus-menerus” akan memudahkan untuk memahami aliran waktu aktual yang didasarkan pada tiga jenis hari sebagaimana disinggung di atas. Hal ini dapat digunakan untuk membangun model kosmos yang akan dibahas selanjutnya.


[1] Ini dikarenakan “Prinsip Ketidakpastian” (Heisenberg) menyatakan bahwa untuk semua parameter fisik (seperti: posisi [x] dan momentum [p]) dari suatu sistem tidak dapat ditentukan pada waktu bersamaan. Secara matematis dinyatakan sebagai: Δx. Δp > h, di mana h adalah konstan Planck dengan nilai 6 x 10-34 erg-detik.

[2] Sebelum munculnya Mekanika Kuantum terdapat perdebatan panjang tentang sifat cahaya, apakah partikel atau gelombang. Beberapa percobaan (dan teori) menegaskan bahwa ia adalah partikel, sementara yang lainnya menegaskan sebagai gelombang. Mekanika Kuantum memecahkan kontradiksi ini dengan menyatakan bahwa partikel memiliki sifat gelombang dan gelombang memiliki sifat partikel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: