Waktu dalam Pandangan Filsuf Barat dan Sains Modern


Waktu dalam Pandangan Filsuf Barat

Gagasan Aristoteles tentang waktu melingkar berdasarkan alam semesta yang kekal (tidak diciptakan) tidak bisa diterima kebanyakan teolog dari tiga agama Ibrahami—Islam, Kristen, dan Yahudi—karena mereka menganggap waktu itu linier yang berawal dan berakhir. Penolakan St. Agustinus dan Thomas Aquinas atas pendapat Aristoteles dengan menegaskan bahwa pengalaman manusia adalah perjalanan satu arah dari awal sampai hari akhir meskipun terdapat pola berulang atau siklus yang terjadi di alam. Pandangan terakhir ini kemudian diadopsi Newton pada tahun 1687 ketika ia menyatakan waktu secara matematis dengan menggunakan garis, bukan lingkaran.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, dalam tradisi filsafat Yunani terjadi perdebatan apakah waktu itu eksis secara objektif atau hanya dikontruks oleh pikiran. Kebingungan tersebut disimpulkan St. Agustinus bahwa waktu tidak ada dalam realitas, tetapi berupa kekhawatiran pikiran mengenai realitas itu sendiri. Di sisi lain, Henry dan Giles mengatakan bahwa waktu eksis dalam realitas yang terbebas dari pikiran, tetapi dibedakan menjadi bagian-bagian oleh pikiran. Isaac Newton menganggap waktu (dan ruang) sebagai kuantitas independen yang ada dan mengalir terlepas dari materi atau pikiran, pandangan ini dikritik oleh Leibniz. Leibniz berpendapat bahwa jika ruang berbeda dari segala sesuatu di dalamnya, maka ia harus seragam dan homogen; Leibniz sampai pada kesimpulan bahwa waktu adalah nyata dan relatif, hal ini diantisipasi dalam Relativitas Einstein meskipun ia tidak pernah menempatkannya dalam bentuk persamaan matematika (Ross, 1984: 47).

Newton juga menolak pendapat Aristoteles mengenai keterkaitan antara waktu dan gerak dengan mengatakan bahwa waktu adalah sesuatu yang eksistensinya tidak tergantung pada gerak dan entitas ciptaan Tuhan lainnya. Dia berargumen bahwa waktu dan ruang adalah “wadah” tak terhingga untuk semua peristiwa dan “wadah” tersebut eksis dengan atau tanpa peristiwa; ini yang disebut teori waktu “absolut”. Leibniz yang mengadopsi pandangan relasional keberatan dengan hal tersebut dan berpendapat bahwa waktu bukanlah sebuah entitas yang eksis secara independen dari suatu peristiwa.

Pada abad kedelapan belas, Kant mengatakan bahwa stuktur pikiran mempersepsi ruang dengan geometri Euclidian dan waktu dengan persamaan matematis (Kant, 1998: 158:176). Bagaimanapun, pandangan ini menjadi tidak begitu populer seiring dengan ditemukannya geometri non-Euclidian di tahun 1820-an.[1] Dalam Critique of Pure Reason, Kant menyajikan antinomi pertama dengan dua argumen rasional: pertama, dunia tidak memiliki permulaan dalam waktu. Kedua, jika kita menganggap bahwa dunia tidak memiliki permulaan dalam waktu, maka pada saat waktu tertentu jumlah peristiwa yang tak terbatas telah berlalu—ketidakterbatasan tidak pernah dapat diselesaikan. Di sisi lain, jika dunia memiliki awal dalam waktu, maka tidak pernah ada peristiwa sebelumnya dan tidak ada alasan dunia dimulai pada saat itu (argumen yang sebelumnya digunakan Leibniz untuk mendukung teori relasional tentang waktu). Kita akan melihat pada bagian selanjutnya bagaimana Ibn Arabi keluar dari teka-teki ini dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menyatakan bahwa Tuhan menciptakan (secara terus-menerus dan berulang-ulang) dunia dan waktu secara bersama-sama (Kant, 1998: 462-463, 470-476, 490-495, 536-538).

Dalam artikel berjudul Mind, McTaggart berpendapat tentang ketidaknyataan waktu. Menurut Taggart, peristiwa diurutkan dalam dua cara: sebagai masa lalu-sekarang-masa depan yang disebutnya rangkaian-A, atau sebagai “sebelum”-“sesudah” yang disebutnya rangkaian-B. Dia kemudian berpendapat bahwa dalam rangkaian-A terdapat pertentangan dan rangkaian-B tidak memberikan informasi penting tentang waktu karena waktu melibatkan perubahan. McTaggart berpendapat bahwa rangkaian-A terdapat pertentangan karena hal itu berdasarkan kenyataan bahwa setiap peristiwa dapat dijelaskan (pada waktu yang berbeda) dengan masa depan, sekarang, dan masa lalu; kejadian selalu mengalir dari masa depan ke masa lalu, sehingga peristiwa masa depan menjadi masa lalu melaluinya dan peristiwa masa depan menjadi masa sekarang kemudian menjadi masa lalu. Pada rangkaian-B selalu didahului oleh sebelum atas peristiwa lainnya atau setelah peristiwa lain, tidak memperhitungkan apakah peristiwa-peristiwa itu adalah masa depan, sekarang atau masa lalu (Dyke, 2002: 137:152).

Di sisi lain, terdapat perdebatan mengenai apakah waktu merupakan kuantitas kontinum atau diskrit. Kebanyakan filsuf Barat menganggap waktu sebagai kuantitas kontinum, tetapi setelah munculnya Mekanika Kuantum ide tentang waktu kuantum dihidupkan kembali meskipun Teori Kuantum itu sendiri tidak mempertimbangkan waktu yang “terkuantisasi” (Mehlberg, 1971: 16-71).

Waktu dalam Pandangan Sains Modern

Teori Medan Kuantum dan Relativitas Umum merupakan teori dasar fisika modern yang sudah mapan. Menurut teori ini, ruang-waktu adalah kumpulan titik yang disebut “ruang-waktu terlokalisasi” di mana peristiwa fisik terjadi. Ruang-waktu merupakan kuantitas kontinum empat dimensi dengan waktu fisik menjadi satu dimensi sub-ruang dari kontinum ini, tetapi bukan sebuah entitas yang terpisah dari ruang: ruang dan waktu selalu bersama sebagai satu kesatuan.

Pada tahun 1908, matematikawan yang juga guru Einstein bernama Herman Minkowski adalah orang pertama yang menyadari bahwa ruang-waktu lebih fundamental dari waktu atau ruang saja. Seperti yang ia katakan:

Pandangan ruang dan waktu yang ingin saya ungkapkan sebelum muncul dari fisika eksperimental dan di situlah letak keunggulannya. Hal ini sangat radikal. Selanjutnya ruang dan waktu dengan sendirinya pasti akan memudar menjadi bayangan belaka dan hanya sebagai pelestarian realitas independen (Pais, 1982: 152).

Asumsi metafisik Minkowski adalah realitas independen yang tidak bervariasi atas kerangka acuan yang lain. Oleh karena itu pembagian peristiwa kepada masa lalu, sekarang dan masa depan juga tidak independen.

Bertentangan dengan pandangan klasik Newtonian, interval waktu sangat tergantung pada pengamat sebagai kerangka acuan. Dalam mekanika klasik dan berdasarkan akal sehat, jika interval waktu antara dua kilatan lampu adalah 100 detik pada jam seseorang, maka intervalnya juga 100 detik pada jam Anda, bahkan jika Anda terbang dengan kecepatan luar biasa. Einstein menolak bagian yang diterima akal sehat itu pada tahun 1905 dengan teori Relativitas Khusus ketika menyatakan bahwa interval waktu (dan jarak) antara dua peristiwa bergantung pada pengamat sebagai kerangka acuan. Dia mengatakan bahwa setiap bagian kuantitas memiliki waktu khususnya sendiri; kecuali kita diberitahu bagian kuantitas tersebut yang menyatakan acuan waktu, tetapi bukan berarti pernyataan mengenai waktu dari suatu peristiwa yang terjadi (Einstein, 1920: bab 9). Jadi setiap kuantitas membagi ruang-waktu menjadi bagian waktu dan ruang tersebut.


[1] Geometri Euclidian didasarkan pada gagasan Euclid yang dinyatakan dalam bukunya The Elements dengan lima postulat sebagai dasar atas semua teoremanya. Menurut postulat ini, ruang homogen itu seperti yang kita rasakan di Bumi. Dalam kosmologi modern dan ruang dengan intensitas gravitas yang tinggi di dekat bintang-bintang besar dan galaksi, ruang tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai homogen. Karena itu, lahir cabang baru geometri (non-geometri Euclidian untuk memperhitungkan kelengkungan ruang-waktu. Untuk informasi tentang geometri Euclidian, lihat: Patrick (1986).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: