Materi dan Sebab Material (1)


Karakteristik dari materi adalah potensialitas dan pasif, dalam arti bahwa ia tidak aktif dan malah dikenai aksi: “[kategori dari] menjadi untuk materi (al-infi’al li al-madda).”[1] Dari dua kategori Aristotelian, yaitu bertindak dan ditindaklanjuti, materi mewakili yang terakhir. Selain itu, gagasan bahwa materi bukan berasal dari dirinya sendiri atau terputus dari bentuk, sejalan dengan gagasan: “materi qua materi adalah penghilangan bentuk… jika hyle (hayula, materi awal) dapat dipahami, kemungkinan ia dapat dipahami dengannya.”[2] Sebagaimana akan terlihat, Ibn Sina menyamakannya dengan non-eksistensi atau keberadaan yang tidak aktual. Oleh karena itu, karena materi berasosiasi dengan kemungkinan dan potensialitas yang berdekatan dengan non-eksistensi: “Tidak benar bahwa potensi (quwwa) adalah suatu hal yang aktif/ efisien atau eksistensi aktif/ efisien. Potensialitas adalah non-eksistensialitas (‘adamiyya), sedangkan tindakan (fi’il) adalah eksistensialitas (wujudiyya).”[3] Oleh karena materi merupakan potensi, ia berhubungan dengan non-eksistensi. Dalam kualitas wujud potensial (bukan efisien), ia adalah berupa murni penerimaan: “Semua yang berwujud materi adalah penerimaan (qabul).”[4] Istilah ‘mungkin’ dan ‘potensi’ sering dipertukarkan Ibn Sina, tetapi ‘yang berpotensi’ lebih dekat pada eksistensi daripada ‘yang mungkin’. Sesuatu ‘yang berpotensi’ secara prinsip dapat menjadi eksistensi, sementara ‘yang mungkin’ tidak terikat seperti itu.

Karena itu, materi tidak eksis dengan sendirinya, tetapi melalui prinsip aktif. Prinsip tersebut adalah bentuk. “Tidak ada sebab material, jika tidak ada bentuk yang merupakan penyebabnya, yaitu sesuatu yang eksis dalam cara tertentu. Hyle (hayula, materi pertama) hanya ada jika berhubungan dengan bentuk, sehingga jika bentuk tidak eksis maka tidak ada yang dapat digambarkan sebagai sesuatu yang memiliki hyle.”[5]

Materi tidak memiliki penyebab dalam dirinya sendiri, tetapi hanya melalui bentuk atau penyebab formal. Seperti telah disebutkan sebelumnya, penyebab dapat dipahami dalam dua cara, yaitu sebagai sesuatu yang efektif dan produktif atau hanya sebagai penjelasan.[6] Materi tidak menjadi prinsip aktif, terutama dalam arti penjelasan. Bahkan, jika diperlukan untuk menghasilkan substansi primer, ia tidak aktif menghasilkan substansi tersebut.

Maka materi merupakan bagian konstitutif dari setiap substansi fisik tertentu; ia menjadi konstituen pasif, sementara bentuk adalah konstituen aktif:

Jika penyebab dari sesuatu adalah bagian dari komposisinya dan bagian dari eksistensinya itu merupakan salah satu bagian dari eksistensinya saja, maka tidak berarti bahwa ia kenyataannya demikian, tetapi ia hanya berupa potensi yang disebut hyle (hayula, materi pertama), atau ia adalah bagian yang eksistensinya menjadi kenyataan yang disebut bentuk.[7]

Pada bagian ini, Ibn Sina memperkenalkan konsep materi sebagai bagian dari substansi primer. Substansi primer dalam istilah Aristoteles adalah eksisten tunggal, misalnya “orang ini”, sedangkan substansi sekunder adalah bentuknya atau definisi manusianya, ide tentang “manusia”, atau manusia keseluruhan.[8] Materi, seperti bentuk, merupakan bagian integral dari substansi yang menjadi penyebabnya. Keduanya disebut penyebab imanen atau terdekat, bukan penyebab efisien atau final yang bersifat eksternal terhadap akibat keduanya. Sebagai contoh, sebuah meja kayu tidak eksis tanpa materi berupa kayu dan bentuk (bentuk atau definisi) yang menyertainya. Meja akan tetap demikian meskipun tidak ada tukang kayu sebagai penyebab efisien. Juga, meja akan tetap demikian meskipun tidak ada yang menggunakan dan tidak memenuhi fungsinya.

Materi menurut penjelasan di atas merupakan potensialitas dan penerimaan dari substansi material. Ibn Sina di sini mengatakan bahwa meskipun materi dianggap kompleks, tetapi tidak berarti eksistensinya aktual, ia hanya memiliki potensi. Materi tidak dapat dianggap berkontribusi terhadap eksistensi. Sebaliknya, bentuk adalah kondisi yang diperlukan bagi eksistensi materi tersebut.

“Setiap elemen (‘unsur) dan qua (dalam kapasitas atau fungsi dari) elemen hanya memiliki penerimaan (qabul). Adapun untuk mencapai bentuk, elemen memperoleh dari luar dirinya.”[9]

Elemen (‘unsur) adalah nama lain dari materi yang paralel dengan madda dan hayula.[10] Selain  itu, Ibn Sina memberitahu bahwa bentuk bukan merupakan bagian dari materi tetapi ‘disatukan untuknya’. Nanti kita akan melihat bahwa entitas bentuk adalah dilekatkan pada materi. Bentuk dan materi merupakan substansi individual, yaitu senyawa material.

Disebutkan dalam fisika al-Syifa gagasan dari sifat penerimaan dari materi: “Materi tidak berhasil (yufidu) mengaktualitaskan sesuatu, melainkan memberikan kontribusi kepada potensi eksistensi sesuatu itu. Selanjutnya, bentuk adalah yang mengubah sesuatu menjadi aktual.[11]

Tidak seperti materi, bentuk meminjamkan aktualitas dan menjadikan sesuatu eksis. Hubungan eksistensi dan aktualitas sejalan dengan gagasan bahwa tidak ada yang benar-benar eksis dalam potensinya, seperti: “Tidak ada potensialitas dari setiap aspek (min kull jiha), maka tidak ada esensi dalam aktualitas. Suatu bagian [tertentu] yang memiliki potensi [tentu] menjadi aktual.[12] Penjelasan ini memuat dua hal penting. Pertama, potensi tidak sepenuhnya mengaktual. Kedua,—menurut prinsip keberlimpahan Aristotelian—potensi ketika mencapai titik tertentu (bentuk) akan menjadi aktual.[13] Hal ini berarti, materi tidak pernah eksis dengan sendirinya. Ia (materi) hanya eksis melalui bentuk. “Materi adalah sesuatu (ma’na) yang mendukung terhadap dirinya tetapi tidak eksis dalam aktualitas. Ia hanya eksis dalam aktualitas melalui bentuk.”[14] Dengan demikian, jenis materi yang tanpa bentuk (materi utama) adalah abstraksi belaka atau hanya teoritis belaka.


[1] Ibn Sina, Al-Mubahathat, hal: 94 dan 185. Pandangan ini sesuai dengan filosofi Aristotelian: Ibn Sina dan Ibn Rusyd menurunkan eksistensi “materi pertama” dari transmutasi empat elemen dan keduanya menegaskan bahwa “potensialitas” merupakan karakteristik yang utama (Hyman, Aristotle: “First Matter” dan Avicenna’s and Averroes: “Corporeal Form” dalam Essay in medieval Jewish and Islamic Philosophy, hal: 345.

[2] Ibn Sina, Al-Mubahathat, hal: 276 dan 794. Hyle (hayula) biasanya diartikan materi utama, yaitu jenis materi yang tidak memiliki bentuk dan bentuk dihilangkan darinya. Lihat: Goichon, Lexique, hal: 413.

[3] Ibn Sina, Al-Mubahathat, hal: 216 dan 640.

[4] Ibid, hal: 92 dan 170. Lihat: Goichon, Distinction, hal: 423; Ibn Sina, al-Najat, hal: 240.

[5] Ibn Sina, Al-Mubahathat, hal: 296 dan 831.

[6] Lihat: Kogan, Averroes and the Metaphysics of Causation, hal: 4.

[7] Ibn Sina, al-Syifa, al-Ilahiyyat, hal: 258.

[8] Aristotle, Categories, 2a11-2a19.

[9] Ibn Sina, al-Syifa, al-Ilahiyyat, hal: 281.

[10] Lihat: Kennedy-Day, Books of Definition in Islamic Philosophy, hal: 55-59.

[11] Ibn Sina, al-Sama’i al-Tabi’i, hal: 36. (Al-Yasin, hal: 103).

[12] Ibid, hal: 81. (Al-Yasin, hal: 131).

[13] Goodman menyebutkan “tesis Aristoteles bahwa tidak ada kemungkinan yang belum direalisasikan”, dalam Essay in medieval Jewish and Islamic Philosophy, hal: 148.

[14] Ibn Sina, Al-Ta’liqat, hal: 39. Lihat: Hyman, Aristotle: “First Matter”, hal: 347 dan 356; Kennedy-Day, Books of Definition in Islamic Philosophy, hal: 105-106.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: