Hubungan antara Materi dan Kebetulan


Telah dijelaskan bahwa menurut Ibn Sina kebetulan bukan penyebab yang berasal dari dirinya sendiri, dengan demikian tidak memainkan peran yang efisien dalam penyingkapan fenomena alam. Artinya, kebetulan berlangsung pada peristiwa yang jarang terjadi di alam. Salah satu isu yang terkait dengan pembahasan kebetulan adalah sebab material: pada akhir bab empat belas dari fisika al-Syifa, Ibn Sina membahas materi dan posisinya dalam pengembangan substansi alami. Kejadian yang jarang terjdi di alam, seperti deformasi fisik sebagai suatu ukuran yang tidak mencukupi atau kelebihan karena “keengganan” materi untuk menerima suatu bentuk tertentu; atau ketidakmampuan alam material untuk “memaksa” terhadap bentuk tertentu pada materi.[1] Selain itu, ada beberapa pandangan bahwa materi “layak” memiliki bentuk.[2] Terkait gagasan ini—“keengganan” materi menerima bentuk dan “kelayakan” memiliki bentuk—menunjukkan bahwa materi mungkin independen dari kekuatan deterministik formal, dan Ibn Sina berulang-ulang menyatakan bahwa segala sesuatu sangat ditentukan dari atas.

Gagasan-gagasan tersebut menunjukkan kemungkinan materi membawa efek acak. Jika pernyataan “ketidaktaatan materi” diterima secara harfiah, maka materi memiliki “pilihan” untuk tidak mengikuti perintah yang berasal dari atas. Hal ini disebut “patuh” atau “bandel” terhadap perintah; tetapi ketika bersikap tidak patuh, materi tidak memiliki daya aktif secara independen. Ungkapan ini bukan sebagai bentuk terhadap perilaku materi; Ibn Sina mengatakan bahwa alam tidak mampu menggerakkan materi menuju akhir, hal ini hanya peristiwa yang “sesuai aturan” untuk materi.[3] Tidak bisa dikatakan bahwa jika kekuatan materi benar-benar otonom, maka hal itu merupakan batu sandungan yang serius bagi gagasan tentang kemahakuasaan Tuhan. Selain itu, maka akan terjadi suatu dunia di mana materi terjebak dalam kerusakan dirinya sendiri. Jika materi memang sebuah prinsip independen dari kekuatan yang lebih tinggi, maka hal itu tidak memungkinkan untuk mengklaim bahwa semua zat dan peristiwa di alam sudah ditentukan; ini adalah teori yang ditekankan Ibn Sina pada bab tiga belas dan empat belas dalam Physics serta Metaphysics al-Syifa. Bahkan jika ia tidak secara eksplisit menganggap materi tidak memiliki peran aktif, apakah hal ini secara implisit disarankan dalam filsafat? Dan apakah ada kontradiksi mengenai pembahasan masalah ini di dalam tulisan-tulisan metafisika dan fisikanya?

Pernyataan Ibn Sina tentang materi di atas seolah-olah membenarkan inkonsistensi atau kebimbangan pandangannya. Menurut Alfred Ivry, atribut-atribut yang dianggap menjadi indeterminisme oleh Ibn Sina yaitu mengenai dua konsepsi tentang materi:

[Ibn Sina] mengemukakan dua model materi: salah satu materi sebagai murni penerimaan, hanya sebagai wadah yang mencerminkan konsistensi dan materi lainnya sebagai prinsip yang nyata, sumber dari kebetulan dan keburukan, diketahui dalam dirinya sendiri dan karenanya tak terduga dalam kaitannya dengan bentuk.[4]

Akibatnya, pertanyaan yang harus kita atasi adalah: apakah Ibn Sina mempertahankan kedua model materi tersebut? Apakah ia mengakui bahwa materi adalah sebuah prinsip yang nyata? Apa hubungan antara materi dengan kebetulan, kerusakan, dan keburukan? Apakah ada masalah yang tak terduga dalam kaitannya dengan bentuk?

Dalam rangka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, diperlukan studi dokumentasi terhadap pandangan Ibn Sina mengenai materi. Saya akan berusaha untuk menunjukkan bahwa Ibn Sina dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan ini di dalam karya-karyanya.


[1] Ibn Sina, al-Sama’i al-Tabi’i, hal: 72, 73. (Al-Yasin, hal: 125-126).

[2] Ibid, hal: 63. (Al-Yasin, hal: 119).

[3] Dalam fisika al-Syifa digunakan pernyataan “ketaatan materi” (al-madda al-mutawi’a), al-Sama’i al-Tabi’i, hal: 22. (Al-Yasin, hal: 94). Dengan menyatakan alasan mengapa dalam kasus-kasus tertentu zat dari materi dan bentuk tidak mengalami kerusakan, ia berkata: “Hal itu terjadi bagi yang meninggal dunia (yafsidu) untuk bersatu ke bentuk yang tidak bertentangan. Jadi, yang menyebabkan sesuatu tidak menjadi dan lenyap terletak pada bentuknya yang mencegah materi dari apa yang ada di alam (yaitu untuk menerima kebalikannya) kecuali pada bagian dari suatu materi yang taat.” Terjemahan latinnya berbunyi: non ex parte materiae oboedentialis, yang menunjukkan pembacaan la, bukan illa; yaitu bukan karena materi mematuhi (atau tidak mematuhi). Pembacaan yang terakhir ini menunjukkan bahwa dalam bentuk senyawa materi bertanggung-jawab dalam perubahan, dan peran materi adalah pasif.  Hal ini menolak pandangan bahwa kerusakan atau keburukan materi terletak pada ketaatan atau sebaliknya.

[4] “Destiny Revisited: Avicenna’s Concept of Determinism, hal: 167. Ivry mengidentifikasi peran penting materi dalam  perdebatan serta hubungannya dengan metafisika Ibn Sina: “Teori Ibn Sina tentang kebijaksanaan dan determinisme bergantung pada konsep-konsep potensialitas, kemungkinan, materi,  keburukan, dan semua di atasnya yang memungkinkan eksistensi konsep-konsep tersebut.” Ivry tidak mengutip catatan-catatan mengenai kebetulan dalam fisika al-Syifa untuk mendukung tesisnya, dan tidak jelas bagaimana dia dapat menyimpulkan bahwa Ibn Sina mendukung pandangan materi bersifat positif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: