Kebetulan dan Keburukan dalam Perspektif Ibn Sina (4)


Api memiliki kualitas tertentu yang memastikan bahwa ia selalu bertindak dalam cara dan situasi yang sama. Ia membakar kayu dan material lainnya, pada sisi lain ia “hanya” melelehkan lilin. Kualitas-kualitas yang melekat padanya tidak dapat diubah untuk tujuan-tujuan tertentu. Api tidak akan membakar jika tidak berada dalam konsisi yang sesuai. Dalam keadaan tertentu ia dapat menyebabkan suatu keburukan daripada kebaikan. Sudah jelas bahwa api umumnya baik dalam dirinya sendiri dan sifatnya telah dibuat seperti itu. Namun, dalam keadaan tertentu dan sebagian kecil peristiwa ia dapat menyebabkan akhir yang merugikan. Akhir yang merugikan merupakan efek samping dari penciptaannya. Tuhan merupakan penyebab dari suatu penyebab dan pemurah, eksistensi real dari kejahatan harus dijelaskan sebagai non-entitas. Kejahatan yang absolut adalah non-eksistensi. Teori Ibn Sina—sebagaimana ditemukan dalam Aristoteles—menggabungkan pandangan negatif dari materi sebagai benda pasif dan lembam dengan pandangan Plotinian sebagai tidak sempurna dan sumber keburukan.[1]

Dalam Metaphysics tentang The Healing, Ibn Sina menjelaskan bahwa kejahatan merupakan konsekuensi dari penciptaan:

Hal itu diperlukan sebagai kreasi Tuhan (al-ghaya al-ilahiya)—yang merupakan sifat pemurah (Jud)—bahwa setiap kemungkinan eksistensi harus berasal dari eksistensi yang baik, eksistensi makhluk terdiri dan berasal dari unsur-unsur, mereka memiliki susunan dari unsur tanah, air, api, dan udara; api hanya mengarah pada akhir maksud yang baik ketika membakar dan menghancurkan meskipun hal itu akan membahayakan makhluk yang baik (salihin) dan menimbulkan kerusakan lainnya.[2]

Realisasi dari tujuan keilahian sebagai rancangan Tuhan bagi dunia menyiratkan bahwa makhluk harus mencapai kesempurnaan di dalam level masing-masing. Tuhan berkuasa menciptakan hanya alam superlunar, tetapi jika begini wujud tertentu mungkin akan kehilangan kebaikan tertentu dan akan “mengurangi” kemurahan Tuhan. Makhluk yang eksis di bawah lingkup bulan terdiri dari materi dan bentuk yang secara khusus terdiri dari empat elemen, salah satunya adalah api. Tuhan menciptakan api dalam rangka menjadikan makhluk materi. Karena sifatnya, api memiliki kekuatan efisien berdasarkan cara bereaksi dengan jenis bahan yang kontak dengannya.

Bagian ini mengasumsikan bahwa ada ketertiban di alam dan makhluk yang tidak dapat dikembalikan. Elemen tertentu selalu memiliki sifat tertentu. Rantai kausalitas yang efisien dapat diamati. Api membakar kayu atau pakaian jika terjadi kontak dan tidak ada yang menghalanginya, sebagaimana dapat dilihat dengan mudah. Dalam pengertian ini, penyebab efisien diutamakan daripada penyebab akhir esensial. Hal ini berarti, meskipun penyebab efisien selalu aktif, tetapi akhir tidak akan menjadi hasil, dan hasil ini terjadi pada peristiwa kebetulan. Namun demikian, ketika ada penyimpangan dari penyebab akhir esensial yang mengarah kepada keburukan, hal ini hanya terjadi pada peristiwa yang jarang dan selalu terjadi dalam tatanan universal yang ditetapkan Tuhan.  Hal ini juga mengindikasikan penyebab dari kebetulan dan keburukan. Kita telah mengetahui hal ini dalam penjelasan tentang materi.

Dalam Physics pada bab empat belas ditutup dengan penegasan kembali bahwa materi ditentukan oleh bentuk dan bukan sebaliknya, dan alam itu menuju akhir. Ini juga merupakan tema besar Aristoteles ketika menganalisis konsep kebetulan. Selain menggabungkan teori-teori Aristoteles, Ibn Sina menjelaskan keburukan dalam dua cara: di satu sisi, keburukan adalah pengecualian dari aturan dan mempengaruhi individu, bukan keseluruhan. Di sisi lain, kebetulan merupakan dari desain kasih sayang Tuhan bagi alam semesta.

Kesimpulan

Analisis Ibn Sina tentang kebetulan—bukan termasuk peristiwa yang acak—sesuai dengan definisi tentang kebetulan (ittifaq) dalam Metaphysics al-Syifa.[3] Menurutnya, kebetulan adalah sebuah koinsiden yang dihasilkan oleh benturan dari dua entitas berbeda atau rantai kausal yang akhirnya dapat ditelusuri kembali kepada Tuhan sebagai penyebab dari segala sebab. Koinsiden itu sendiri memerlukan penyebab. Demikian pendapat Ibn Sina dalam fisik dan metafisik ketika menjelaskan kebetulan bukan sebagai penyebab esensial.

Dalam filsafat Aristoteles, penyebab bukan hanya diperlukan oleh akibat, tetapi penjelasannya lebih luas dari itu. Penyebab, khususnya penyebab efisien, memiliki akibat yang menentukan terhadap yang dihasilkan, tetapi juga sekaligus memberikan penjelasan untuk eksistensi zat tertentu. Arti pertama dari kausalitas adalah mengenai ontologis karena menyangkut eksistensi zat yang dihasilkan oleh sebab-sebab. Arti kedua adalah mengenai epistemologis dan fokus pemahaman kita tentang substansi dan asal penyebab, keduanya sering ditemukan bersama-sama. Kebetulan bukan merupakan penyebab esensial, dan bukan prinsip aktif yang memunculkan eksistensi dari penyebab sebenarnya yang akan dibahas selanjutnya secara rinci mengenai komentar Ibn Sina terhadap tulisan Aristoteles tentang kebetulan. Sementara itu, selalu ada penyebab efisien yang spesifik untuk setiap peristiwa dan hasil dari suatu tindakan; karena hasil dari suatu tindakan tidak selalu menjadi apa yang dimaksud oleh agen (subjek), maka salah satu ujung dari suatu tindakan mungkin bukan apa yang dimaksud di awal. Salah satu dari akhir, berupa aksidental sampai menjadi akhir yang real, dan ini menerangkan peristiwa kebetulan, tetapi akhir aksidental itu sendiri bukan kekuatan penentu. Kekuatan berasal dari penyebab efisien.

Ibn Sina memunculkan “teori benturan”—yang bertentangan dengan teori Empedokles—untuk memperkuat pandangannya tentang sistematisasi kausalitas efisien universal. Semua bagian dunia—dalam satu atau banyak cara—saling terhubung dan mempengaruhi satu sama lain melalui tindakan kemahakuasan Tuhan.

Dalam bab tiga belas dan empat belas dari Physics al-Syifa, Ibn Sina memiliki tugas ganda: menyangkal kemungkinan penyebab efisien esensial dalam peristiwa alam dan menekankan sifat yang selalu bertindak untuk mencapai akhir. Ia berusaha menunjukkan bahwa kebetulan hanya memiliki peran sekunder, atau peran aksidental. Ia konsisten dalam menegaskan bahwa setiap peistiwa di alam memiliki penyebab efisien esensial, dalam arti bahwa pemahaman tentang kebetulan mengungkapkan penyangkalan terhadap determinisme. Determinisme ini diungkapkan dalam terminologi filosofis dan disajikan oleh Aristotelian dan Neoplatonis yang memiliki akar mendalam pada gagasan Islam tentang keputusan dan kehendak Tuhan sebagaimana akan dijelaskan dalam pembahasan selanjutnya. Untuk itu, dalam rangka “menyelamatkan” kasih sayang Tuhan, ia berpendapat bahwa dalam segala hal alam bertindak untuk mencapai akhir, dan materi beserta keburukan adalah bersifat negatif.

Interpretasi Ibn Sina terhadap teks Aristoteles sangat deterministik. Semua unsur ketidakpastian seperti model statistik diabaikannya. Apapun yang terjadi memiliki penyebab. Selain itu, tidak hanya terhadap setiap peristiwa tunggal, tetapi kebetulan atau kelompok peristiwa dapat ditentukan. Mungkin tidak ada hubungan langsung antara dua peristiwa, tetapi semuanya berasal dari Tuhan; kebetulan itu sendiri selalu disebabkan.

Satunya elemen yang dapat menimbulkan gangguan bagi teori kepastian adalah materi. Apakah Ibn Sina dalam Physicsmendukung teori bahwa materi hanya bersifat pasif dan tidak memunculkan peristiwa secara mandiri yang bersifat acak atau spontan? Apakah filsafat In Sina secara konsisten mendukung pandangan ini? Hal ini adalah subjek pembahasan berikutnya.


[1] “[sesuai dengan Plotinus], dalam satu cara, materi memang memiliki jenis eksistensi … sebab ia bertentangan dengan bentuk dan tidak sempurna. Tetapi alam sendiri, ia eksisten tidak terbatas. Jika ketidaksempurnaan materi dalam kapasitasnya untuk menerima bentuk, apakah itu berarti keburukan turut serta dalam kebaikan? Materi adalah keburukan dalam ketidaksempurnaannya bukan di dalam partisipasinya. Memang, Plotinus menjelaskan lebih jauh dari hal tersebut: materi tidak memiliki kebaikan, yang muncul darinya bukan berarti karena partisipasinya”, Corrigan, Plotinus’ Theory of Matter-Evil, hal: 88-89. Lihat juga: Ormsby, Theodicy in Islamic Thought, hal: 14.

[2] Ibn Sina, al-Syifa, al-Ilahiyyat, hal: 289.

[3] Lihat: hal: 22.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: