Kosmologi dan Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (5)


Kemudian di bawah tujuh Taman muncul bola berupa bintang-bintang, rasi bintang, dan “rumah besar” (Manazil) Bulan. Namun, Ibn Arabi menyatakan bahwa bintang-bintang memiliki posisi yang tidak tetap; pada waktu itu pendapat ini tidak begitu populer.

Bola dari bintang-bintang (secara konvensional) dibagi menjadi 28 rasi bintang atau “rumah” di mana Bulan muncul untuk melaluinya. Selanjutnya, setelah kemunculan bintang-bintang, Tuhan menciptakan benda angkasa yang terlihat berupa “tujuh langit” (al-samawat) dan Bumi. Ibn Arabi menunjukkan bahwa dalam kaitannya dengan “Kursi” (Kursi), dimensi Bumi bersama dengan tujuh langit terlihat seperti cincin di padang pasir yang luas—seperti Kursi dalam relasi dengan besarnya Kerajaan Tuhan.

Kemudian Ibn Arabi berbicara panjang lebar (Pasal 371 dari Futuhat) mengenai keadaan, tingkatan Taman dan deskripsi lain mengenai dunia lain (al-akhirat). Namun, pembahasan ini dibatasi secara singkat mengenai poin-poin yang relevan dengan kosmologis, khususnya fokus terhadap konsep waktu.

Pertama, harus diperhatikan bahwa Ibn Arabi, mengikuti kebiasaan orang Arab, menyebut Matahari dan Bulan sebagai “planet”. Tetapi pada saat yang sama ia dengan jelas membedakan antara sifat planet-planet (termasuk Bulan) dan Matahari, hasil pengamatan bahwa Matahari “bertanggung jawab untuk menerangi semua planet bagian atas dan bawah”. Seperti kebiasaan dalam tulisan Arab (termasuk dalam astronomi), ia juga menyebut bintang-bintang dengan istilah “planet” (kawkab), namun ia mengetahui bahwa bintang seperti Matahari memancarkan cahaya sendiri.

Membaca karya Ibn Arabi tentang dunia mungkin ada kesamaan dengan karya tradisional Aristoteles (geosentris) mengenai cara memandang dunia. Seperti kebanyakan kosmologi kuno lainnya (sesuai Al-Quran dan Hadits), ia berbicara tentang “tujuh langit” di sekitar atau di atas Bumi yang dihuni oleh sebuah planet (termasuk Matahari dan Bulan, seperti ditunjukkan pada Gambar 1.4). Tapi Ibn Arabi menekankan bahwa hal ini menurut cara pandang orang yang tinggal di Bumi, sehingga ia membedakan antara pandangan duniawi dan gerakan aktual planet dan bintang. Jadi, bagi Ibn Arabi, pandangan Aristoteles adalah pandangan dari dunia seperti yang kita lihat, sementara alam semesta tidak dapat dijelaskan seperti itu. Dia menekankan posisi sentral Matahari yang dianggapnya berada di “jantung” (pusat) dari tujuh langit, dan ia menekankan keunggulan Matahari atas planet-planet lain termasuk Bumi: “Keunggulan tempat ini (Matahari) karena menjadi jantung bola, sehingga ia memiliki status yang tinggi daripada bola-bola lainnya.” Oleh karena itu, pandangan aktualnya mengenai dunia (lokal) sama dengan “heliosentris”, setidaknya dalam kaitannya dengan status unik atau “peringkat” (makana) dari Matahari.

Adapun wilayah bintang dan rasi bintang biasanya ditentukan oleh 12 tanda-tanda zodiak atau 28 rumah Bulan, Ibn Arabi menganggap mereka sebagai suatu konvensi belaka yang tidak selalu berhubungan dengan posisi sebenarnya dari bintang-bintang tertentu. Dia mengatakan: “Zodiak (rasi bintang) adalah posisi perkiraan, dan ia merupakan rumah untuk planet-planet yang bergerak”. Dan selanjutnya ia mengatakan bahwa “bintang-bintang disebut “rumah” karena planet-planet bergerak melalui mereka, tapi tidak ada perbedaan antara mereka dan bintang-bintang lain yang tidak memiliki rumah. Mereka hanya asumsi dan proporsi dalam tubuh ini (langit)”.

Di sisi lain, kita tidak bisa secara ketat memisahkan dunia materi dari dunia abstrak atau spiritual, karena mereka benar-benar tumpang-tindih—atau lebih tepatnya, semua dunia materi (“Kursi”, langit bagian atas, dan Bumi bagian bawah) terkandung dalam “Kerajaan” imaterial. Inilah sebabnya mengapa Ibn Arabi kadang-kadang mencampur dua pandangan tersebut: misalnya, ia menggambarkan tonggak merujuk pada Manusia Sempurna yang ia anggap sebagai “citra dari yang Real” (yaitu Tuhan) dalam kosmos, sehingga tanpa-Nya kosmos akan runtuh. Dia juga berbicara, mengikuti simbolisme kitab suci, tentang tujuh langit “mendukung” pada tujuh (level atau daerah dari) Bumi. Namun, Ibn Arabi tidak menganggap bahwa hal itu menjadi gambaran fisik yang sebenarnya dari sesuatu, karena ia jelas-jelas menyatakan bahwa Bumi adalah bulat dan berputar sekitar pusat: “Tetapi gerakan Bumi tidak jelas bagi kita, dan gerakannya berada di sekitar tengah (pusat) karena ia berbentuk bola”. Dia bahkan menjelaskan mengapa kita tidak merasakan gerakan Bumi dan kosmos pada umumnya (bintang-bintang). Misalnya, dia mengatakan bahwa orang-orang dan kebanyakan makhluk lainnya tidak merasakan gerak kosmos karena semuanya bergerak sehingga dimensi yang disaksikan seolah-olah tidak berubah, dan itulah sebabnya mengapa orang-orang membayangkan bahwa Bumi bersifat statis di alam semesta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: