Kosmologi dan Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (3)


Garis Besar Kosmologi Ibn Arabi

Ibn Arabi (1165-1240) adalah seorang sufi agung dari Abad Pertengahan dan salah satu penulis paling berpengaruh dalam sejarah Islam, tulisan-tulisannya mempengaruhi peradaban Islam selama berabad-abad dan diminati secara luas di Barat. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad Ibn al-Arabi al-Hatimi al-Ta’i. Ia dilahirkan di Murcia (di timur Andalusia) dari keluarga yang sangat saleh dan berbudaya. Ketika ia berusia tujuh tahun, keluarganya pindah ke Sevilla, dan pada usia enam belas tahun “dimasukkan pada sekolah tasawuf”. Ia bepergian di antara daerah Andalusia dan Maroko selama beberapa tahun sebelum pergi ke daerah Timur. Pada tahun 1201, ia berkunjung ke Kairo, Yerusalem, dan akhirnya ke Makkah untuk menunaikan haji. Karyanya membuat ia terkenal, dan karena keterkenalannya ia dicari oleh Saljuk, Pangeran Ayyubiyyah, dan sekelompok orang yang ingin menjadi muridnya. Ia populer disebut Muhyi al-Din (Reviver of Religion) dan al-Syaikh al-Akbar (the Greatest Master). Ia melanjutkan perjalanan di seluruh Timur Tengah sampai menetap pada tahun 1224 di Damaskus sampai wafatnya pada tahun 1240.[1]

Dua karya Ibn Arabi yang paling terkenal dan berpengaruh adalah al-Futuhat al-Makiyya (The Meccan Illuminations) sebuah ensiklopedi mengenai kebijaksanaan Islam (Nasr, 1965: 92-98) dan Fusus al-Hikam (The Bezels of Wisdom) berisi jenis-jenis spiritual. Karya Ibn Arabi lainnya seperti: Kitab al-Tajaliyyat, Tarjuman al-Ashwaq, Mashahid al-Asrar al-Qudsiyya, Mawaqi’ al-Nujum, ‘Uqlat al-Mustawfiz, Insha’ al-Dawair, dan al-Tadbirat al-Ilahiyya; di samping 29 risalah pendek yang diterbitkan dalam koleksi Hyderabad dikenal sebagai Rasa’il Ibn ‘Arabi dan banyak buku serta risalah pendek lainnya. Lebih dari 850 buku telah dihasilkan olehnya.[2]

Ibn Arabi bukan seorang astronom, dan tidak pernah tertarik pada astronomi sebagai ilmu. Tapi sebagai seorang sufi dan teolog mistis senantiasa diilhami ajaran kosmologis dan simbolisme yang terdapat dalam Al-Quran dan sejumlah hadis terkait yang berbicara tentang planet, orbs, dan gerakan mereka sebagai struktur yang diciptakan Tuhan serta hubungan mereka dengan Nama-nama Tuhan. Ia menggunakan kosmologi sebagai cara memperoleh pengetahuan Ketuhanan. Selain dari risalah singkat di mana ia berbicara tentang beberapa mata pelajaran astronomi yang diintegrasikan dengan filsafat dan teologi, Ibn Arabi tidak mencurahkan buku khusus untuk menjelaskan langit. Namun demikian, dalam karyanya yang agung, ­al-Futuhat al-Makiyya (selanjutnya disebut Futuhat), kita dapat menemukan beberapa paragraf yang dapat digunakan untuk menggambarkan pandangannya yang mendalam tentang kosmos.

Dapat dikatakan bahwa pandangan Ibn Arabi mengenai alam semesta benar-benar menantang, bahkan jika dibandingkan dengan teori-teori modern sekalipun. Sebagai contoh, ia secara jelas menyatakan bahwa bintang-bintang tidak tetap di posisinya—lebih dari tujuh abad sebelum hal ini diketahui secara ilmiah—dan pergerakan benda langit tidak terlihat oleh indra fisik. Selain itu, ia memberikan kecepatan rata-rata gerak bintang dalam seratus tahun per derajat busur yang cukup konsisten dengan hasil pengukuran pada masa sekarang; ia bahkan menggunakan satuan pengukuran yang sama dengan masa modern (Smart, 1977: 249). Ia juga menjelaskan “retrograde motion” yang diamati dari beberapa planet dan pembentukan planet-planet di tata surya dalam cara yang mirip dengan cara yang diterima secara luas pada masa kini. Tapi yang paling penting dalam hal ini adalah pandangannya tentang heliosentris, seperti yang diajukan Copernicus berabad-abad sesudahnya. Dia juga menegaskan bahwa Bumi adalah bulat, bergerak dan berputar, dan ia juga menjelaskan mengapa orang tidak menyadari gerakan Bumi di sekitar pusatnya.

Pemahaman Ibn Arabi mengenai realitas dan proses penciptaan telah banyak dibahas ulama. Ibn Arabi sendiri membahas secara khusus perkembangan kosmologis dalam Futuhat pada Bab 371 dan lebih detail lagi pada Bab 198; begitu pula dalam buku-buku lainnya seperti Insha al-Dawair, al-Tadbirat al-Ilahiyya, dan ‘Uqlat al-Mustawfiz. William Chittick menulis buku The Self-disclosure of God: Principles of Ibn al-‘Arabi’s Cosmology (selanjutnya disingkat SDG) tentang ontologi dan kosmologi Ibn Arabi, ia juga menulis buku seperti The Sufi Path of Knowledge: Ibn al’Arabi’s Metaphysics of Imagination (selanjutnya disingkat SPK), dan juga Henry Corbin membahasnya dengan judul: Alone with the Alone: Creative Imagination in the Sufism of Ibn ‘Arabi (Corbin, 1969: 184).

Semesta dalam pandangan Ibn Arabi terdiri dari material dan abstrak, dunia spiritual atau noetik (‘aqli). Dia mengatakan bahwa alasan utama penciptaan kosmos adalah “Cinta”. Dalam menjelaskan prinsip yang mendasarinya itu, ia sering mengacu pada hadits al-quds yang terkenal (Khazanah Tersembunyi)[3] yang menyatakan bahwa Tuhan akan “mencintai” ketika diketahui dan memberikan keistimewaan kepada makhluk yang datang untuk mengenal-Nya. Jadi, cinta Tuhan adalah rahmat (rahma) dari-Nya yang ingin diberikan kepada makhluk-Nya. Anugerah ini merupakan keadaan pertama kali dari kehadiran Tuhan yang berhubungan dengan dunia yang akan dicipta, dan karena itu Ia membentuk tempat abstrak (ruang) di mana ciptaan akan muncul. Seperti tersirat dalam hadits Nabi, Ibn Arabi menyebut tempat ini sebagai abstrak al-‘ama (awan).[4] Menurut catatannya, realitas al-‘ama menerima bentuk-bentuk dari “Roaming Spirits” (al-arwah al-muhayyama) yang dicipta secara langsung oleh Tuhan tanpa perantara. Hal ini disebabkan penciptaan langsung Ruh di hadapan Tuhan, tidak ada yang tahu selain Dia. Mereka (yang diciptakan) bahkan tidak tahu tentang dirinya sendiri (tidak memiliki kesadaran diri). Tuhan menunjuk salah satu Ruh dan diberikan kepadanya suatu pencerahan khusus dari Pengetahuan Ilahi (tajalli ‘ilmi) yang semua terukir dalam dirinya bahwa Tuhan ingin menciptakan seluruh kosmos ini sampai Hari Terakhir. Ruh lainnya tidak mengetahui tentang hal itu. Makhluk muncul karena Ruh yang telah mendapat pencerahan tersebut—yang kemudian disebut “Akal Universal” (al-‘aql al-kulli) atau “Akal Pertama” (al-‘aql al-awwal) atau Al-Quran menyimbolkannya dengan “Kalam Tertinggi” (al-qalam al-a’la)—yang sadar terhadap dirinya dan ruh lainnya, sementara ruh yang lain tidak mengetahui tentang dia.

Melalui pencerahan ini, Akal Pertama melihat dirinya yang terdiri dari dirinya sendiri dan kemampuan lebih untuk menyadari. Ia juga melihat bahw ia memiliki “bayangan” hakiki disebabkan oleh Cahaya pencerahan khusus yang diwujudkan melalui Nama Ilahi “Cahaya” (al-nur). Bayangan ini adalah “jiwa”nya—yang disebut “Jiwa Universal” (al-nafs al-kulliyya) atau “Jiwa Pertama” (al-nafs al-ula) atau disebut juga “Tertinggi”/ “Butir Terlindung” (al-lawh al-a’la/ al-mahfuz)—di mana ia akan menulis (yang diketahuinya) yang akan terjadi sampai Hari Terakhir. Seluruh alam semesta, kemudian—sesuai simbolisme yang terdapat dalam Al-Quran—adalah “Surat” dan “Firman” Tuhan yang diciptakan melalui “Nafas Yang Maha Penyayang”. Kita akan melihat dalam pembahasan selanjutnya bahwa fundamental “blok” di alam semesta adalah “string” atau getaran (“suara” atau “catatan”) yang mirip dengan pengertian Ibn Arabi mengenai hirarki dari “nafas pria” (rijal al-anfas). Oleh karena itu, mengatakan bahwa seluruh alam semesta adalah “Surat” atau “Firman” Tuhan tidak hanya simbolisme,[5] karena firman terus-menerus ditulis oleh “Kalam Tertinggi” (Akal Pertama) dalam Butiran Tertinggi (Jiwa Universal). Gambar 1.1 menunjukkan Awan dan isinya kepada “kedudukan Arasy” (‘Arsy al-istiwa) yang berbeda dari makna kosmologis biasa dengan “Tahta Ilahi”. “Kedudukan Tahta” adalah tahta di mana “Tuhan membentuk otoritas-Nya” seperti apa yang disinggung dalam al-Rahman ‘ala al-‘arsy istawa (QS. 20:5).

Dalam Bab 371 disebutkan bahwa alam semesta muncul dalam Jiwa Universal melalui Akal Universal sebagai hasil apa yang disebut Ibn Arabi “perkawinan abstrak” (atau spiritual) (nikah ma’nawi). Hal ini karena segala sesuatu yang terjadi sebagai akibat dari penyebab partikular, seperti “anak” menyebabkan ada yang dianggap sebagai “ayah” dan “ibu” adalah objek di mana “anak” muncul. Sama seperti kita semua (dimensi luar tubuh kita) disebut “anak” dari Adam dan Hawa, semua hal lainnya di alam semesta dapat dianggap sebagai “anak” dari Akal Universal atau Jiwa Universal.


[1] Informasi mengenai hidup dan latar belakang intelektual Ibn Arabi, lihat: Addas (1993) dan Hirtenstein (1999).

[2] Untuk mengetahui daftar buku dan karya Ibn Arabi, lihat: Yahya (1964). Dalam buku ini Utsman Yahya menyebutkan lebih dari 900 buku (dengan 1.395 judul) karya Ibn Arabi.

[3] Dalam hadits ini Tuhan berkata, “Aku adalah khazanah tersembunyi, Aku ingin dikenal; Aku menciptakan makhluk supaya Aku dikenal”. Hadits qudsi ini tidak ditemukan dalam koleksi hadits standar, tetapi dapat ditemukan  dalam literatur Sufi dan khususnya dalam karya Ibn Arabi.

[4] Lihat: Kanz al-Umal: 1185, 29851. Ibn Arabi sering mendiskusikan  hadits ini dalam Futuhat al-Makiyya.

[5] Lihat: The Language of the angels, oleh Pierre Lory, dalam Simposium The Breath of the All-Merciful di Berkeley, 1998 (tersedia juga dalam bentuk audio dari Komunitas Muhyiddin Ibn Arabi, Oxford).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: