Kosmologi dan Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (2)


Kosmologi Modern

Sejak masa Copernicus, pandangan kita tentang kosmos berkembang lebih luas dan akurat. Bukan tujuannya di sini untuk menjelaskan teori-teori kosmologi modern yang rumit, tetapi hanya menggambarkan ringkasan mengenai kosmos berdasarkan pengamatan para ilmuwan. Untuk melihat gambaran mengenai kosmos kita kembali ke tahun 1924 ketika Edwin Hubble menunjukkan bahwa galaksi kita bukanlah satu-satunya entitas dalam ruang; banyak bintik-bintik cahaya samar yang kita lihat di langit sebenarnya merupakan galaksi lain yang lebih besar dari galaksi yang kita diami, tetapi mereka terlihat begitu kecil karena jaraknya dalam ruang sangat jauh.

Karena gaya gravitas, segala sesuatu di langit bergerak atau mengorbit di sekitar titik dalam ruang. Bulan mengorbit Bumi, dan Bumi beserta planet-planet lain mengorbit Matahari, Matahari juga mengorbit—bersama juta bintang lainnya—pusat galaksi Bima Sakti, dan jutaan galaksi bergerak dalam ruang yang luas.

Pandangan pada masa sekarang menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini bergerak: bintang-bintang terdekat memiliki gerakan yang tepat karena mereka tertarik ke arah pusat galaksi, dan galaksi bergerak menjauhi kita karena alam semesta mengembang. Meskipun memiliki berbagai gerakan tersebut, di sisi lainnya alam semesta tidak memiliki pusat atau tepi. Sulit untuk dibayangkan, tetapi alam semesta memiliki kelengkungan di sekitarnya sehingga jika Anda terbang lurus dalam satu arah dan terus bergerak dalam garis lurus, suatu saat Anda akan muncul kembali dari arah yang berlawanan pada titik yang sama (seandainya tidak ada fluktuasi gravitas); peristiwa seperti ini terjadi pada orang yang mengelilingi bumi.

Sama seperti Matahari, bintang-bintang yang kita lihat di langit memiliki reaktor fusi nuklir besar yang terus-menerus mengubah hidrogen menjadi unsur yang lebih berat dan karenanya menghasilkan panas dan cahaya. Tapi tidak semua bintang sama: ada yang besar dan kecil, ada yang masih muda dan sudah tua, ada yang cerah dan lainnya pucat. Juga, sepanjang waktu banyak bintang yang mati dan banyak pula yang lahir dalam proses evolusi yang sangat rumit (Benih, 1990: 134-281).

Jadi, bagaimana penjelasan semua ini menurut teori kosmologi modern? Tentu saja di sini tidak akan membahas semua teori fisika dan kosmologi, tetapi saya berusaha membuat ringkasan dari prinsip-prinsip model dasar mengenai kosmos sehingga kita dapat memahami pentingnya “Single Monad Model” yang akan dibahas selanjutnya berdasarkan pada pemahaman cemerlang dari Ibn Arabi tentang waktu dan teori “Kesatuan Wujud”.

Ringkasan Teori Kosmologi Modern

Setelah penemuan-penemuan yang menakjubkan dan sejumlah data yang diperoleh oleh teleskop, pesawat ulang-alik, dan keberhasilan teori Relativitas dan Mekanika Kuantum, para ilmuwan mencoba untuk membangun model kosmologi baru untuk menjelaskan struktur dan asal mula alam semesta atas dasar informasi tersebut. Di sini akan diuraikan secara singkat mengenai teori-teori kosmologi yang telah dikembangkan pada era modern.

Para ilmuwan sampai awal abad kedua puluh mempercayai bahwa alam semesta bersifat statis di luar tata surya, tapi kepercayaan ini terbukti keliru. Einstein pertama kali mencoba membuat teori yang sesuai dengan alam semesta yang statis, tetapi teorinya memperlihatkan bahwa alam semesta mengembang. Alam semesta mengembang menyiratkan bahwa alam semesta dimulai pada satu saat sekitar 15 miliar tahun lalu dari titik sangat kecil dengan kepadatan sangat tinggi, dan kemudian diperluas sampai menjadi keadaan seperti sekarang. Peristiwa ini disebut “Big Bang” dan model kosmologi dikembangkan atas dasar pandangan ini (Narkilar, 1993: Bab 2 dan Bab 5).

Teori “Steady State” mencoba menjelaskan ekspansi alam semesta dengan mengandaikan penciptaan terus-menerus materi yang dihasilkan oleh ekspansi, namun penemuan radiasi gelombang mikrokosmik pada tahun 1965 oleh Penzias dan Wilson menyebabkan model “Steady State” tidak dapat dipertahankan. Radiasi gelombang mikrokosmik ini ditafsirkan sebagai sisa-sisa cahaya dari radiasi yang intens dari “Hot Big Bang” yang telah diprediksi oleh Alpher dan Hermann tahun 1949 dan Gamov pada tahun 1946 (Dolgov et al., 1990:11).

Namun terdapat masalah mengenai radiasi gelombang mikrokosmik tersebut, yaitu semua pengukuran menunjukkan hal yang sangat seragam di semua arah. Keadaan isotropi dari radiasi ini merupakan sebuah teka-teki karena dengan homogenitas tersebut tidak mungkin bintang atau galaksi bisa dihasilkan (Tayler, 1993: 194). Pada tahun 1992, NASA meluncurkan satelit Cosmic Background Explorer (COBE) yang berhasil mendeteksi keadaan an-isotropi pada radiasi gelombang mikrokosmik: terdapat benih-benih dari mana galaksi terbentuk dengan kemungkinan satu per seratus ribu (Schewe dan Stein, 1992).

Model “Big Bang” sangat baik dalam menjelaskan hasil-hasil pengamatan, namun di sisi lain terdapat kontradiksi (Linde, 1990: 4). Kontradiksi-kontradiksi tersebut diselesaikan oleh “inflationary scenario” (“skenario inflasi”) yang diusulkan Alan Guth pada tahun 1979. Dalam penjelasannya, Guth memulai dari tahap paling awal perkembangan alam semesta sekitar 10-32 sampai 10-43 detik setelah penciptaan awal. Selama periode ini materi dalam keadaan tereksitasi yang sangat tinggi, menyebabkan kondisi paling ekstrim dengan kepadatan dan tekanan tinggi yang membuat kosmos diperluas secara eksponensial mengisi alam semesta dalam wujud api padat berupa partikel dan foton (Linde, 1990: 42).

Dalam mekanika klasik (Newtonian), orang bisa memprediksi perilaku sistem jika keadaan awalnya diketahui. Tapi dalam Mekanika Kuantum, kita hanya dapat menghitung probabilitas bagaimana sistem akan berkembang (White, 1966: 29). Bagaimanapun, masalah utama dalam kosmologi adalah menentukan keadaan awal supaya suatu hukum dapat diaplikasikan. Salah satu pendekatan yang berhasil mengurai masalah ini adalah menjelaskan awal mula penciptaan alam semesta dengan menggunakan sifat-sifat alam semesta sekarang untuk menyimpulkan keadaan awal tersebut.

Masalah yang terdapat dalam teori “inflationary scenario”: ketika inflasi terjadi, alam semesta terbentuk dengan mengandung materi yang sama dalam keadaan tereksitasi, tetapi, pertanyaan selanjutnya adalah mengapa terjadi eksitasi dan keadaannya demikian. Untuk mengatasi masalah ini, beberapa ilmuwan mencoba menerapkan Mekanika Kuantum untuk seluruh alam semesta, dan hasilnya adalah teori Kosmologi Kuantum.[1] Hal ini terdengar tidak masuk akal, karena sistem besar (seperti alam semesta) sudah sesuai dengan hukum klasik bukan hukum kuantum. Teori Einstein tentang Relativitas Umum adalah teori klasik yang secara akurat menggambarkan evolusi alam semesta mulai dari awal penciptaan sampai keberadaannya sekarang. Namun, diketahui bahwa Relativitas Umum tidak konsisten dengan prinsip-prinsip Teori Kuantum, dan karena itu ia bukan deskripsi yang tepat mengenai proses fisik yang terjadi pada skala yang sangat kecil atau pada waktu yang sangat singkat. Untuk menggambarkan proses tersebut, kita memerlukan teori Gravitasi Kuantum.

Dalam fisika non-gravitasional, pendekatan Teori Kuantum terbukti paling berhasil dengan melibatkan objek matematika yang dikenal sebagai “Path Integrals” dikenalkan oleh pemenang Hadiah Nobel bernama Richard Feynman. Pendekatan “Path Integrals” menjelaskan bahwa probabilitas sistem dalam keadaan awal A akan berevolusi ke keadaan akhir B dengan menjumlahkan kontribusi dari setiap peristiwa yang mungkin dari sistem yang dimulai di A dan berakhir di B. Untuk sistem yang besar (alam semesta), penjumlahan dari kontribusi peristiwa yang serupa akan saling meniadakan satu sama lain dan hanya terdapat satu peristiwa penting. Peristiwa ini adalah yang diprediksi oleh fisika klasik. Setiap saat, alam semesta digambarkan oleh geometri tiga dimensi spasial serta medan materi yang mungkin ada. Dengan data ini, seseorang dapat menggunakan prinsip “Path Integrals” untuk menghitung probabilitas perkembangan keadaan pada waktu yang berlainan. Namun, tentu saja hal ini masih membutuhkan pengetahuan tentang keadaan awal.

Kosmologi Kuantum adalah solusi untuk masalah ini. Pada tahun 1983, Stephen Hawking dan James Hartle mengembangkan teori Kosmologi Kuantum yang dikenal sebagai “No Boundary Proposal”. Dalam praktiknya, penghitungan probabilitas dalam Kosmologi Kuantum menggunakan “Path Integrals” dengan tingkat kerumitan yang cukup tinggi dan harus menggunakan beberapa pendekatan. Ini dikenal sebagai “pendekatan semi-klasik” karena validitasnya terletak di antara fisika klasik dan fisika kuantum. Dalam pendekatan semi-klasik dinyatakan bahwa sebagian besar dari geometri empat-dimensi (ruang-waktu) yang terjadi pada “Path Integrals” memberikan kontribusi yang sangat kecil terhadap “Path Integrals” dan karenanya dapat diabaikan, sehingga kita hanya menangani geometri tiga-dimensi (ruang). “Path Integrals” dapat dihitung dengan hanya mempertimbangkan beberapa geometri yang memberikan konstribusi sangat besar. Ini dikenal sebagai “Instantons” (dari kata “instant”, karena bertujuan menghilangkan faktor waktu sehingga seperti sebuah foto yang hanya memperhitungkan tiga koordinat ruang) yang menggambarkan spontanitas alam semesta secara harfiah (apa adanya). Dengan cara ini kita tidak harus berpikir tentang kosmos sebagai sesuatu yang terjadi di dalam arena ruang-waktu yang lebih besar. Setelah alam semesta eksis, Kosmologi Kuantum dapat diaproksimasi oleh Relativitas Umum sehingga muncul faktor waktu.

Penelitian mengenai hal ini masih berlangsung, namun dari masalah-masalah yang muncul, sekarang sedang dicoba untuk membangun sebuah teori Medan Kuantum dari gravitas menyangkut interpretasi yang sesuai dengan keadaan kuantum karena tidak ada referensi yang jelas mengenai “waktu”. Kita akan melihat bahwa pemahaman Ibn Arabi mengenai waktu bisa menjadi kunci untuk mendapatkan jawaban mengenai waktu, karena ia memandang dunia sebagai suatu eksistensi abadi yang terus-menerus diciptakan kembali. Ibn Arabi juga mengemukakan kesatuan ruang dan waktu dengan cara yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.


[1] Informasi mengenai prinsip-prinsip Kosmologi Kuantum, lihat: Linde, 1990: Bab 3.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: