Kebetulan dan Keburukan dalam Perspektif Ibn Sina (2)


Kelompok pertama keliru ketika menolak mengenai peran kebetulan di alam, menurut penjelasan Ibn Sina. Ini bukan berarti karena ia memberikan peran penting terhadap kebetulan, tetapi karena adanya negasi implisit dari penyebab final. Sebuah hasil kebetulan, sebagaimana telah kita lihat, hanya dapat terjadi dalam tindakan yang mengarah kepada tujuan. Dengan menolak kebetulan, kelompok ini sekaligus menolak penyebab final.

Penyebab final merupakan dasar kritik yang ditujukan pada tiga posisi argumen. Terhadap kelompok pertama, Ibn Sina mengatakan, “Jika semuanya memiliki penyebab, tidak berarti kebetulan tidak ada, penyebab kebetulan itu tidak diperlukan pada peristiwa yang jarang atau sering terjadi.”[1]

Kelompok ini keliru ketika mengatakan bahwa dengan memiliki satu hasil sebagai tujuan, hal itu tidak mengubah jalannya peristiwa. Tetapi kita telah melihat bahwa pengetahuan dan harapan dari agen (subjek) akan menentukan apakah suatu peristiwa berlangsung atau tidak. Selain itu, jelas bahwa kehendak memiliki kekuatan yang menentukan. Orang yang mengetahui keberadaan yang berutang dalam kebanyakan kasus akan menemukannya, jika hal ini dipandang tidak mungkin terjadi. Ini tidak bertentangan dengan pandangan bahwa setiap tindakan dan peristiwa memiliki penyebab efisien yang pasti. Kita melihat kontribusinya pada perdebatan tentang penentuan peristiwa oleh Tuhan (qadar), Ibn Sina menyatakan dengan jelas bahwa kehendak manusia secara efektif ditentukan oleh kekuatan Tuhan.[2]

Membantah Demokritus—diwakili oleh kelompok ketiga—yang meyakini dunia muncul secara kebetulan, Ibn Sina berpendapat bahwa kehendak dan alam—dengan asumsi tindakan bertujuan—mendahului kebetulan dan penyebab pertama di dunia atau asal-usul penyebab adalah alam atau kehendak.

Ibn Sina melanjutkan penolakannya terhadap argumen Empedokles yang diwakili dalam kelompok keempat mengenai akibat yang khusus (partikular) terbentuk secara kebetulan. Empedokles dan pengikutnya mencampur kebetulan dan kebutuhan dengan mengatakan bahwa materi muncul secara kebetulan, pembentukannya sesuai dengan kebutuhan dan tanpa tujuan, artinya, ia memiliki penyebab efisien tetapi tidak memiliki penyebab final.

Mereka juga menolak bahwa alam bertindak dengan segala macam perbuatan baik, karena di dalamnya ditemukan kerusakan dan kematian. Karena hal ini terjadi, maka proses alami lainnya tidak ada kebaikan. Bagaimana maksud dari pertumbuhan yang tidak mati? Apa yang menjadi kriteria untuk membedakan tindakan-tindakan yang dimaksud? Bagi kelompok ini, peristiwa alami terjadi karena kebutuhan materi dan kebetulan yang berarti tidak adanya tujuan. Salah satu contohnya mengenai hujan:

Kita mengetahui dengan pasti bahwa hujan muncul karena kebutuhan (darura) dari materi, matahari menyebabkan [air] untuk menguap yang dilepaskan ke udara dingin, menjadi dingin, dan air yang berat turun karena kebutuhan materi.[3]

Ibn Sina membantah pandangan ini dengan menegaskan bahwa meskipun kebetulan terjadi dalam peristiwa individu (partikular) “karena benih gandum tidak jatuh pada tanah ini dengan selalu atau sering”,[4] baik tumbuh atau rusak akan ada tujuan yang pasti untuk pelestarian.[5] Benih barley akan menghasilkan barley, bukan gandum.[6] Pelestarian individu secara alami merupakan peristiwa yang sering terjadi—dalam terminologi Ibn Sina diartikan sebagai peristiwa yang selalu terjadi jika tidak ada gangguan—merupakan indikasi dari adanya tujuan umum alam dan rencana Tuhan bagi alam semesta.

Salah satu pernyataan khusus tentang “kebutuhan materi” berulang-kali ditekankan dalam teks mengenai kebetulan dan memiliki peran penting dalam konteks kausalitas di alam dan wacana mengenai kebetulan itu sendiri. Hal ini dapat dipahami sebagai atribut kekuatan penentu yang menghubungkannya dengan materi. Namun, tidak berarti hal itu memperlihatkan peran aktif dari materi. Menurut Ibn Sina dan Aristoteles sebelumnya, materi identik dengan potensialitas dan penerimaan.[7] Kekuatan penentu dari materi bersifat pasif seperti yang akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya. Jadi, pernyataan “kebutuhan materi” berfungsi untuk menunjukkan sifat kekurangan alami dari materi, menginformasikan materi secara spesifik, dan keterbatasannya. Ibn Sina tidak secara eksplisit menyatakan peran aktif materi yang independen dari bentuk, seperti konsistensi teorinya terhadap penyebab lain berupa formal, efisien, dan final. Materi apapun memiliki kekuatan, yaitu kekuatan penerimaan; bahkan terdapat isu-isu dari daya Ilahi yang efisien, yang mempersiapkan materi untuk menerima bentuk.

Dalam konteks perdebatan mengenai kebetulan, Ibn Sina menyatakan bahwa materi selalu menjadi subordinat, selalu mengikuti, menjadi akhir, dan bukan kebalikannya. Pandangan materialis menyatakan mengkritik segala sesuatu yang terjadi di alam mengenai masalah ini. Ibn Sina mengklaim bahwa itu adalah demi tujuan dan penyebab final. Hal ini digambarkan dengan contoh berikut yang diambil dari Aristoteles:

Dalam sebuah rumah, batu tidak ditempatkan di bagian bawah dan kayu di bagian atas karena batu lebih berat dan kayu ringan, ini bukan hanya hubungan antara material yang sesuai dengan rencana pengrajin dan karenanya ia dicapai melalui hubungan ini [antara material yang berbeda].[8]

Selain itu, ia menyebutkan bahwa materi tidak bergerak sendiri atau oleh yang lain, melainkan dipindahkan menuju bentuk tertentu oleh kekuatan alam yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Gerakan ini disebabkan oleh tujuan alami yang selalu atau sering terjadi asalkan tidak ada gangguan.[9] Kegagalan untuk mencapai akhir mengarah kepada keburukan yang tidak dimaksudkan. Intervensi manusia ketika alam gagal untuk mencapai tujuan khususnya menunjukkan bahwa segala sesuatu di dunia, alam, dan manusia pada prinsipnya untuk mencapai akhir.

Sebagaimana telah kita lihat, dalam menjelaskan hubungan antara kebetulan dan penyebab efisien, Ibn Sina mengatakan bahwa materi tidak independen, tidak ikut campur tangan dalam proses alami dan kerusakan karena untuk setiap peristiwa diperlukan penyebab efisien. Penyebab efisien ini bukanlah materi tetapi akhir atau bentuknya. Materi merupakan sarana untuk mencapai akhir dalam makhluk-makhluk fisik yang terdiri dari bentuk dan materinya. Dalam sebuah rumah, ia adalah rencana dari perancang yang menentukan proses kontruksi dalam pergerakannya. Jadi, di dunia ini segalanya mengikuti rencana Sang Pencipta. Tuhan adalah penyebab efisien dengan cara desain-Nya bagi alam semesta. Bahwa Dia adalah penyebab efisien utama diilustrasikan dalam contoh berikut:

Tidak mungkin untuk mengatakan bahwa elemen di bumi dan air bergerak dari diri mereka sendiri dan mempengaruhi substansi gandum supaya tumbuh. Gerakan mereka tidak muncul dari [masing-masing] posisinya. Gerakan dari diri mereka sendiri seharusnya menggambarkan kekuatan dasar dari dalam biji dengan kehendak Tuhan.[10]


[1] Ibn Sina, al-Samai’ al-Tabi’i, hal: 67, bacalah: al-sabab al-mujib dengan Zayid dan Madkur, (Al-Yasin, hal: 122.

[2] Ibid, hal: 13 dan 28.

[3] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 69. (Al-Yasin, hal: 123)

[4] Ibid, hal: 70. (Al-Yasin, hal: 123).

[5] Dalam al-Najat, Ibn Sina menjelaskan bagaimana pergerakan langit yang berbeda mengarah untuk pelestarian spesies alam, lihat: hal: 304.

[6] Bagi Aristoteles, pelestarian spesies melalui reproduksi merupakan bukti dari proses konstan sebagai lawan dari kebetulan, lihat: Physics, 196a28-196a33, hal: 115 dalam versi terjemahan bahasa Arab.

[7] Aristoteles, Physics, 193b6-193b8, hal: 86 dalam versi terjemahan bahasa Arab.

[8] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 70, bacalah: nasab menurut Al-Yasin bukan dari bi-sabab. (Al-Yasin, hal: 123), Aristoteles, Physics, 199b35-200a5, hal: 158 dalam versi terjemahan bahasa Arab.

[9] Ibid, hal: 71. (Al-Yasin, hal: 123).

[10] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 70. (Al-Yasin, hal: 123).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: