Konsep ‘Kebetulan’ dalam Perspektif Ibn Sina (4)


Sebuah peluang terjadi dari suatu tindakan atau peristiwa yang memiliki tujuan dan mengarah ke hasil tak terduga lainnya dari tujuan yang diharapkan. Hasil ini dapat dikatakan sah apabila tindakan agen memiliki tujuan.[1] Karena itu, elemen ‘kebetulan’ terikat dengan hasil yang diharapkan dari suatu tindakan, bukan dengan penyebab esensial dari tindakan itu. Menurut Ibn Sina, untuk tindakan yang selalu memiliki penyebab esensial, tidak diperlukan kriteria untuk mengklasifikasikan peristiwa ‘kebetulan’. Apakah contoh ini berarti ‘kebetulan’ hanya terbatas pada tindakan sukarela berupa aktivitas yang melibatkan pengetahuan? Bagaimana dengan peristiwa alam, atau peristiwa yang melibatkan hewan? Dalam proses alami atau hewan, ‘kebetulan’ terkait dengan kebiasaan yang dilakukan dan tujuannya. Definisi lain mengenai ‘kebetulan’ sebagaimana yang terdapat dalam al-Syifa mengenai Physics adalah “akhir yang disengaja (ghaya) dari proses alami, proses sukarela (amr), atau bahkan peristiwa yang dipaksa.”[2]

Kutipan ini untuk melengkapi penjelasan ‘kebetulan’. ‘Kebetulan’ tidak secara eksklusif dikatakan muncul dari tindakan yang memiliki tujuan, khususnya berhubungan dengan penyebab final. ‘Kebetulan’ melekat pada penyebab final, bukan pada penyebab efisien, karena ‘kebetulan’ adalah sebuah akhir, namun tidak hanya satu yang dimaksudkan.[3] Penyebab efisien dapat ditentukan dalam hal apapun, dan ‘kebetulan’ memiliki hubungan kuat dengan penyebab final. Dalam filsafat Ibn Sina, penyebab efisien (dan final) adalah tiga bentuk: alami, sukarela, dan ‘kebetulan’. Dengan menyatakan bahwa penyebab pertama di dunia adalah alam atau kehendak, Ibn Sina menegaskan bahwa penyebab pertama bukan ‘kebetulan.’[4]

Tetapi di sini masih menyisakan kontradiksi. Pada bagian tertentu, ia menyatakan bahwa ‘kebetulan’ berkaitan dengan peristiwa yang jarang terjadi, pada bagian yang lain ia mengatakan bahwa peristiwa yang selalu terjadi sebagai ‘kebetulan’. Kontradiksi ini dipecahkan: “Ketika sesuatu yang tidak diantisipasi atau tidak diharapkan muncul, karena tidak selalu atau jarang terjadi, maka tepat untuk mengatakan bahwa penyebab utamanya adalah ‘kebetulan’ atau keberuntungan.[5] Kontradiksi ini dapat dpecahkan dengan mengatakan bahwa peristiwa yang jarang terjadi adalah ‘kebetulan’ karena tak terduga dan karenanya dianggap anomali oleh agen dari peristiwa. Bagaimanapun, ini tidak berarti aktual, atau objek yang jarang, atau anomali. Model statistik yang menghubungkan ‘kebetulan’ dengan frekuensi suatu peristiwa berlaku untuk kasus yang melibatkan harapan pada bagian agen saat melakukan suatu tindakan. Hal ini berlaku untuk makhluk hidup dan benda mati. Namun, bila tidak melibatkan makhluk rasional digunakan istilah ‘kebetulan’ (ittifaq), sedangkan keberuntungan (bakht) dipakai untuk tindakan yang melibatkan manusia.

Jelas, sesuatu yang merupakan peristiwa langka seperti jari keenam, tidak terduga dan cenderung di bawah kategori peristiwa ‘kebetulan.’ ‘Kebetulan’ biasanya berupa peristiwa yang jarang terjadi karena ia berubah menjadi tak terduga, tapi itu tidak berarti bahwa peristiwa yang sering terjadi tidak dapat digolongkan sebagai ‘kebetulan.’ Jika kita mengambil semua elemen-elemen sebagai dalil, maka ‘kebetulan’ adalah penyebab final aksidental dan terjadi hanya ketika hasilnya tak terduga. Contoh-contoh  yang dikemukakan Ibn Sina berfungsi untuk menjelaskan definisinya.

Jika kita mengambil rujukan ke penyebab aksidental sebagai kausalitas final, maka menemukan harta karun adalah penyebab final aksidental. Dengan kata lain, menemukan harta karun dikatakan sebagai hasil tak terduga ketika seseorang menggali lubang di kebunnya, karena menggali lubang tidak selalu menghasilkan harta karun. Penyebab final esensial, yaitu niat agen (subjek) akan menjadi sebuah penjelasan yang tepat. Namun, sejauh sebagai penyebab efisien, menggali dianggap sebagai penyebab efisien esensial untuk menemukan harta karun itu. Penyebab esensial dalam terminologi Aristotelian adalah yang menetapkan akibat dalam gerakan menggali dengan temuan harta karun tersebut. Karena dalam contoh ini ada satu penyebab efisien dan ‘kebetulan’ tidak dijadikan dasar penyebab efisien, maka ia tidak berhubungan dengan penyebab efisien atau sumber dari peristiwa. Sebaliknya, dalam penafsiran Ibn Sina hal itu berhubungan dengan tujuan dan hasil nyata.

Jika sesuatu tidak mengakibatkan apa-apa dan tidak ada hubungan kausal antara dua peristiwa, maka tidak bisa dikatakan sebagai penyebab aksidental. Seperti seseorang duduk saat gerhana bulan, “tidak bisa dikatakan bahwa seseorang duduk secara ‘kebetulan’ (ittifaq an kana) menjadi penyebab gerhana bulan, tetapi yang benar adalah begitu duduk (pada waktu yang sama) terjadi gerhana bulan.”[6] Duduk bukanlah penyebab gerhana meskipun terjadi pada waktu yang sama dengan gerhana bulan—murni koinsiden temporal. Pada contoh ini, tidak ada penyebab final aksidental dalam hubungan antara duduk dan gerhana bulan, maka ini bukan peristiwa ‘kebetulan.’ Namun, karena kedua rantai sebab-akibat, satu mengarah ke gerhana bulan dan yang lain duduk, maka hasil akhirnya berasal dari Tuhan meskipun antara keduanya tidak ada hubungan langsung sebab-akibat.

Penyebab peristiwa aksidental berhubungan dengan penyebab final, hanya saja jarang mengarah kepada akhir aksidental. Apa artinya mengatakan bahwa ‘kebetulan’ merupakan penyebab final aksidental? Ada banyak kemungkinan hasil ketika seseorang menggali di kebunnya, dan semua hasil mungkin penyebab final. Setelah agen tunggal keluar untuk menggali di kebun, maka niat menjadi penyebab final esensial dan jika terdapat hasil lain, maka akan menjadi penyebab final aksidental. Sebaliknya, dalam kasus menemukan orang yang berutang setelah ditetapkan maksud untuk menemukannya, tidak dapat dikatakan bahwa itu adalah peristiwa ‘kebetulan.’ Sejak berniat untuk menemukan orang yang berutang maka hasilnya bisa tidak terduga. Di sini penyebab akhir esensial muncul kepada hasil daripada penyebab final aksidental, yaitu berupa beberapa kemungkinan tujuan dari peristiwa. Sebagaimana telah kita ketahui, sebuah peristiwa langka atau substansi terikat dengan satu-satunya ‘kebetulan’ jika secara bersamaan tak terduga. Sebagai contoh, dalam kasus eksistensi zamrud, penyebab esensial atau substansial menentukan bahwa hal itu eksis karena penyebab tersebut diperlukan untuk pembentukannya. Oleh sebab itu, muncul gagasan secara tersirat bahwa dalam semua peristiwa selalu ada penyebab efisien esensial pada setiap peristiwa ‘kebetulan’ serta penyebab final esensial untuk mencapai tujuan yang diinginkan meskipun hal tersebut mungkin atau tidak mungkin menjadi kenyataan.[7]

Hal ini penting untuk memikirkan konsep ‘aksiden’ karena terkait erat dengan ‘kebetulan.’ Peristiwa ‘aksidental’ biasanya merupakan entitas yang eksistensinya muncul dari sesuatu yang lain. Definisi ‘aksiden’ dalam al-Syifa tentang logic adalah “yang ada dalam suatu peristiwa tanpa menjadi bagian dari peristiwa tersebut, subsisten (qiwam) dari yang tidak benar tanpa ia didalamnya.”[8] ‘Aksiden’ tidak berada dalam isolasi, tetapi hanya melalui sesuatu substansi atau peristiwa dalam peristiwa ‘kebetulan.’ Pada akhirnya, substansi “terpisah dari ‘aksiden’ dan subsisten diperoleh tanpa itu.”[9] Suatu substansi tidak tergantung pada ‘aksiden’ untuk eksistensinya, meskipun kebalikannya berlaku.

Dalam Logic, ‘aksiden’ berlawanan dengan esensi. ‘Aksiden’ esensial selalu bersamaan dengan subjek yang ditautkan, seperti tiga-dimensi dalam tubuh. ‘Aksiden’ non-esensial atau predikat dicontohkan dengan ‘putih’ pada seseorang. Namun, ‘warna’ umumnya adalah aksiden esensial dari tubuh, karena tubuh harus berwarna. Dalam ontologi, ‘aksiden’ beriringan dengan substansi, dalam arti bahwa hal itu melekat pada sebuah subjek tanpa menjadi bagian darinya. Dalam pengertian ini, sembilan kategori selain substsnai adalah ‘aksiden.’[10] Beberapa ‘aksiden’ ada yang permanen dan non-permanen. Dalam logika dan ontologi disebutkan bahwa permanen atau non-permanen, ‘aksiden’ bukan bagian dari substansi atau esensi. “Substansi membentuk ‘aksiden.’ Sedangkan, ‘aksiden’ tidak meninggalkan [substansi] dalam arti ia (‘aksiden’) tidak eksis tanpanya (substansi), eksistensi ‘aksiden’ tidak terpisah secara mandiri.”[11]

Selanjutnya, jika kita memperhitungkan pembagian antara atribut permanen/ esensial dan non-permanen, konsep ‘aksiden’ disebut Ibn Sina dalam konteks pembahasan ‘kebetulan’ sebagai ‘aksiden aksidental’ (‘aksiden non-permanen), lawan dari aksiden substansial/ esensial.[12] Hubungan antara ‘kebetulan’ dan ‘aksiden aksidental’ sangat jelas karena ‘kebetulan’ terkait dengan peristiwa yang jarang terjadi, sedangkan gagasan aksiden esensial menyiratkan selalu menyertai substansi/ esensi.

Mentransfer konsep ‘aksiden aksidental’ pada teori penyebab ‘kebetulan’ dapat dikatakan bahwa penyebab ‘kebetulan’ tidak berdiri sendiri, karena ia hanya ditemukan pada peristiwa-peristiwa yang memiliki penyebab esensial dan substansial, sedangkan dirinya sendiri tidak menentukan peristiwa terjadi. Jadi, “penyebab ‘kebetulan’ muncul untuk kepentingan sesuatu, tetapi penyebab menghasilkan akibat melalui ‘aksiden’ dan ujung-ujungnya berakhir dengan ‘aksiden’ karena ia termasuk dalam kelompok penyebab yang melalui ‘aksiden’.”[13]

Relativitas aksidental vis-à-vis penyebab esensial diilustrasikan dengan batu jatuh.[14] Jika batu jatuh membuat retak kepala [seseorang], mungkin batu akan berhenti atau mungkin jatuh ke tempat lain secara alami. Jika mencapai tujuan alaminya, hal ini berhubungan dengan penyebab esensial dan tujuan aksidental (al-ghaya al’aradiyya) yang merupakan penyebab secara ‘kebetulan.’ Jika tidak mencapai tempat alami, batu jatuh adalah penyebab secara ‘kebetulan’ yang berhubungan dengan tujuan aksidental, dan hal ini menggagalkan (batil) hubungan dengan tujuan esensial.[15]

Akhir yang tak disengaja akibat batu jatuh yang meretakkan kepala seseorang itu bukan tujuan karena kecenderungan alaminya tidak demikian. Maksud dari contoh adalah bahwa benda berat seperti batu secara alami jatuh ke tanah. Ketika mau menimpa kepala, batu bisa jatuh ke tanah yang menjadi tujuan esensialnya. Jika tidak demikian, berarti melesat dari target alaminya. Jatuh adalah penyebab aksidental terhadap retaknya kepala karena kepala retak itu bukan tujuan esensial dari jatuhnya batu. Penyebab aksidental (‘kebetulan’) muncul secara terpasang kepada penyebab esensial, tetapi ia hanya muncul dalam hubungannya dengan penyebab esensial, tidak pernah muncul dengan sendirinya. Argumentasi Ibn Sina dan contoh-contohnya secara konsisten mendukung suatu kausalitas deterministik yang efisien di alam. Kita harus ingat bahwa contoh jatuhnya batu adalah ilustrasi dari kausalitas final aksidental, hal itu masuk akal jika kita menganggapnya sebagai kausalitas final aksidental yang alami. Kausalitas efisien bukan yang dimaksud dari contoh tersebut. Fakta bahwa batu adalah penyebab efisien esensial dari retaknya kepala tidak diperdebatkan.

Satu yang dapat menentukan hubungan antara ‘kebetulan’ dan penyebab efisien berdasarkan fakta bahwa penyebab efisien adalah yang memproduksi hasil ‘kebetulan’, meskipun hal itu jarang terjadi. Namun, bagi Ibn Sina ‘kebetulan’ adalah urutan penyebab final karena ia merupakan hasil yang tak terduga dari suatu peristiwa, apalagi bila hal itu disebabkan oleh penyebab efisien. Secara umum mengatakan ‘kebetulan’ adalah penyebab aksidental berarti bahwa ‘kebetulan’ sendiri tidak memperhitungkan peristiwa, tetapi hanya dalam hubungannya dengan penyebab esensial.

Pada penutup penjelasannya, Ibn Sina membedakan antara ‘kebetulan’ (ittifaq) dan keberuntungan (bakht) dengan menegaskan bahwa keberuntungan hanya ditemukan dalam tindakan yang dilakukan manusia dan peristiwa ‘kebetulan’ lebih umum dan mencakup totalitas dari proses alami.

‘Kebetulan’ (ittifaq) lebih umum daripada keberuntungan (bakht), untuk setiap [contoh] keberuntungan adalah [contoh] ‘kebetulan, tetapi tidak setiap [contoh] ‘kebetulan’ adalah [contoh] keberuntungan. Keberuntungan adalah apa yang menyebabkan suatu hal yang diharapkan, dan prinsip ini merupakan bagian dari kehendak orang dewasa yang rasional yang dikaruniai dengan pilihan. Jika keberuntungan dikatakan sebagai sesuatu yang lain atau jika kata tersebut untuk sesuatu yang lain [dari manusia], misalnya sepotong kayu; setengahnya untuk membangun masjid dan setengah lainnya untuk membangun toilet umum. Setengah yang pertama dikatakan beruntung (sa’id) dan setengah yang kedua dikatakan tidak beruntung, ini sebuah metafora. Prinsip alam (mabda) tidak dikatakan muncul oleh keberuntungan (bi al-bakht) melainkan muncul secara spontan (min tilqa’i nafsi-hi) kecuali bila terhubung dengan prinsip sukarela.[16]

Oleh karena itu, ‘kebetulan’ terjadi secara spontan atau koinsidental—seperti telah ditunjukkan, istilah ittifaqsecara harfiah berarti ‘kebetulan.’


[1] Hal ini juga tidak dimaksud sebagai hasil ‘kebetulan’ menurut Aristoteles, tetapi bisa dianggap sebagai tujuan, Physics, 196b32-196b34, hal: 119-120 menurut versi terjemahan dalam bahasa Arab, dan menyerupai penyebab final yang benar.

[2] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 68. (Al-Yasin, hal: 122).

[3] Seperti untuk kasus ‘kebetulan’ dan itu adalah akhir tertentu (ghaya), disebutkan dalam Physics (al-Tabi’iyyat). Ibn Sina, al-Syifa, al-Ilahiyyat, hal: 284.

[4] Ibn Sina, Danishnamah, al-Ilahiyyat, hal: 57-58. Le Livre de Science, hal: 172-173.

[5] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 64. (Al-Yasin, hal: 120).

[6] Versi terjemahan bahasa Arab Physics contoh tersebut berupa orang memasuki kamar mandi ketika terjadi gerhana bulan, lihat hal: 131, dan Physics, 197b27-197b28.

[7] Menurut Ibn Sina, peristiwa ‘kebetulan’ selalu memiliki penyebab sebelumnya, lihat: al-Sama wa al-‘Alam, hal 61. Untuk penjelasan bahwa penyebab final mendahului penyebab lainnya, lihat: Wisnovsky, Notes of Avicenna’s Concept of Thingness, hal: 201 dan 207-211.

[8] Ibn Sina, al-Maqulat, hal: 28.

[9] Ibid, hal: 32.

[10] Goichon, A. M., Lexique de la langue philosophique d’Ibn Sina, (Paris, 1938), hal: 216-219 dan 422.

[11] Ibn Sina, al-Maqulat, hal: 37.

[12] Ibn Sina, al-Madkhal, hal: 86. Contoh dari aksiden esensial ketika genus dipredikatkan sebagai spesies, seperti ‘warna’ dinisbahkan kepada ‘putih.’ Hal ini bertentangan dengan aksiden aksidental, seperti ‘putih’ dinisbahkan kepada ‘Zaid.’ Putihnya Zaid tidak berhubungan dengan esensinya, hal: 85.

[13] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 65. Lihat: min haythu dengan Zayid dan Madkur. (Al-Yasin, hal: 120). Penyebab aksiden dijelaskan dalam Bab 12 dalam al-Sama’ al-Tabi’i. Contoh klasik dari penyebab efisien aksidental adalah dokter yang membangun rumah. Dokter esensialnya adalah menyembuhkan orang, sedangkan bangunan tidak sesuai dengan atribut esensialnya, maka aktivitas membangun rumah tidak dikatakan sebagai esensial, hal: 55-56. (Al-Yasin, hal: 100-101). Akhir aksidental dapat dikatakan dengan cara yang berbeda: sesuatu yang bertujuan tetapi tidak untuk kepentingan dirinya, yaitu alat untuk mencapai tujuan seperti minum obat agar sembuh; sesuatu yang menyertai akhir atau menimpa aksidentalnya, seperti makan untuk menghilangkan lapar dan keindahan tubuh dalam kaitannya dengan olahraga; terakhir, arah gerakan yang tidak diarahkan, tetapi berlangsung di jalur gerak itu sendiri, seperti posisi kepala di jalur jatuhnya batu, hal 58. (Al-Yasin, hal: 101).

[14] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 65-66. (Al-Yasin, hal: 121).

[15] Ibn Sina, Ibid., hal: 65-66. (Al-Yasin, hal: 121). Lihat: versi terjemahan karya Aristoteles mengenai “contoh ini [yaitu, spontan] adalah batu jatuh dan membunuh (seseorang). Batu jatuh tidak bukan demi membunuh; karena itu adalah spontan [terjadinya] jika jatuhnya baru berakibat membunuh, atau jatuhny batu dilemparkan seseorang dengan tujuan membunuh, hal: 131-132. Lihat: Aristoteles, Physics, 197b30-197b31.

[16] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 66. (Al-Yasin, hal: 121). Ibn Sina menyesuaikan contoh untuk pembaca Muslim. Versi terjemahan Arab dari karya Aristoteles menyatakan bahwa batu patung yang dibuat hanya keberuntungan yang bersifat metaforis, hal: 129. Lihat: Aristoteles, Physics, 197b9-197b11.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: