Konsep ‘Kebetulan’ dalam Perspektif Ibn Sina (2)


Kebetulan dan Frekuensi Kejadian

Sesuai dengan Aristoteles, Ibn Sina membedakan antara peristiwa yang selalu (sesuai situasi), sering (sebagian besar), dan jarang terjadi. Asumsinya bahwa penyebab efisien selalu menghasilkan akibat yang tidak terhalangi. Misalnya, api membakar kayu jika sebagian besarnya melakukan kontak dengan kayu itu, seseorang sering meninggalkan rumah menuju kebunnya.[1]

Contoh pertama menggambarkan suatu proses alami yang terjadi ketika dua zat bertemu berdasarkan sifat masing-masing, dan contoh kedua menggambarkan kejadian di mana tujuan tercapai sebagai hasil dari tindakan yang disengaja. Makna “sebagian besar” bukan berarti peristiwa harus terjadi secara teratur atau sebab dan akibat biasanya ditemukan bersama-sama, tapi biasanya terdapat akibat dari sebab jika semua kondisi normal.

Ibn Sina menjelaskan ketiga jenis peristiwa di atas; selalu terjadi, sebagian besar atau sering, dan jarang terjadi. Menurut Ibn Sina, interpretasi Aristoteles mengenai peristiwa yang selalu terjadi tidak ada permasalahan sama sekali. Tetapi, mengenai peristiwa yang sebagian besar (sering) terjadi terdapat permasalahan.[2] Sehubungan dengan hal tersebut, perlu diingat bahwa penyebab dari peristiwa yang sering terjadi atau yang berasal dari internalnya dapat membawa akibat dan perlu menentukan sebab-sekunder untuk menentukannya. Berikut ini ringkasan sifat dasar atau proses dari peristiwa yang selalu, sering dan jarang terjadi.

Kemunculan menjadi [dari peristiwa yang sering terjadi] hasil dari terganggunya urutan sebab itu sendiri atau bisa juga tidak. Jika tidak, memerlukan sebab-sekunder, atau menghilangkan gangguan, atau tidak memerlukannya. Jika penyebab tidak memerlukan ini, akibat tidak mungkin berasal dari sebab. Jika penyebab tidak memerlukan sebab-sekunder, ia harus membentuk suatu urutan yang tidak terputus dengan dirinya dan itu akan mengarah kepada akibat; jika tidak demikian maka akan ada pertentangan. Selalu berlaku seperti demikian jika tidak ada gangguan yang menghalangi. Perbedaan antara peristiwa yang selalu terjadi dan sering terjadi: peristiwa yang selalu terjadi tidak memiliki sesuatu yang berlawanan sama sekali dan terhadap peristiwa yang sering terjadi akan ada gangguan. Peristiwa yang sering terjadi diperlukan hilangnya ganggungan, dan ini  di alam semesta terjadi tanpa kehendak.[3]

Ibn Sina memulai dengan menjelaskan perbedaan antara peristiwa yang selalu dan sering terjadi. Kita akan melihat penekanan pada penyebab efisien untuk menghasilkan akibat, dan ini berarti atribut akibat harus berasal dari penyebab jika kondisi yang tepat terpenuhi dan tidak adanya gangguan. Jika kondisi yang tepat tidak terpenuhi (yaitu, penyebab tidak memerlukan hal lain), maka tidak akan menghasilkan akibat; boleh jadi penyebabnya cukup menghasilkan akibat atau akibat memang tidak dihasilkan. Ibn Sina terlihat menggunakan gagasan kontingensi ketika menjelaskan tidak adanya prinsip deterministik dan kemungkinan untuk hal yang harus atau tidak harus terjadi. Tetapi Ibn Sina menolak kontingensi bagi eksistensi yang niscaya ada, hal itu menyiratkan bahwa akibat tidak mungkin dihasilkan pada keadaan demikian. Dalam kasus ini, prinsip deterministik diperlukan untuk akibat yang mengikuti penyebabnya; ia bisa menjadi penyebab atau sebab-sekunder. Oleh sebab itu peristiwa yang sering terjadi adalah kebalikan dari peristiwa yang jarang terjadi.[4] Namun, menurut Ibn Sina, peristiwa yang jarang terjadi juga memerlukan penyebab. Oleh karena itu dalam kondisi yang sama dan tidak adanya gangguan, penyebab yang sama akan selalu menghasilkan akibat yang sama. Kita dapat menafsirkan kembali contoh terdahulu mengenai api. Api akan selalu membakar kayu ketika terjadi kontak jika ada ada halangan untuk penyebab efisien, dan orang yang pergi ke taman akan mencapainya kecuali sesuatu atau seseorang mencegahnya. Gagasan penting lainnya yang diperkenalkan di sini adalah bahwa adanya urutan yang terganggu (ittirad); hal itu berarti penyebab tidak selalu menghasilkan akibat yang tepat, tetapi gangguan apapun yang muncul penyebab selalu menghasilkan akibat (lain). Jika sepotong kayu bakar tidak terbakar karena munculnya hambatan—misalnya air atau kelembaban—maka keduanya menjadi penyebab kegagalan kayu terbakar. Apa yang biasanya terjadi sebenarnya selalu terjadi jika tidak ada halangan; yang biasa terjadi dan pengecualiannya adalah sebab.

Pandangan ini secara eksplisit dinyatakan dalam karya-karya lainnya Ibn Sina, misalnya dalam Metaphysics dari al-Syifa: “segala sesuatu yang muncul memiliki sebab, dan apa yang tidak muncul pun memiliki sebab. Kemungkinan sesuatu eksis berkenaan dengan dirinya sendiri, tetapi eksistensi dan non-eksistensi karena penyebab (bi-illa).[5] Kemungkinan sesuatu eksis tersebut selain Tuhan, sebagaimana akan dijelaskan nanti.

Faktor penentu (deterministik) itu adalah penyebab efisien, bersama dengan penyebab tambahan (sekunder) jika diperlukan, dan tidak adanya gangguan atau hambatan. Bila kondisi tepat, penyebab efisien akan menghasilkan akibat yang tepat; hal itu mengindikasikan bahwa penyebab mungkin gagal atau sesuatu dapat muncul tanpa sebab. Ia menyatakan bahwa hal demikian jarang terjadi jika kondisinya sudah tepat, pahamilah: “memang yang jarang terjadi akan menjadi sesuatu diperlukan (wajib) jika didalamnya sudah ditetapkan dan keadaannya dinyatakan demikian.[6]

Contoh yang diberikan dalam hal ini adalah mengenai jari keenam, sebagai peristiwa yang jarang terjadi. Kembali ke permasalahan: apa hubungan antara frekuensi dan ‘kebetulan’ dari suatu  peristiwa? Seperti Aristoteles, Ibn Sina mengklaim bahwa ‘kebetulan’ tidak dapat ditemukan dalam peristiwa-peristiwa yang selalu atau sering terjadi. ‘Kebetulan’ adalah urutan peristiwa yang jarang terjadi. Oleh sebab itu, peristiwa yang digolongkan sebagai ‘kebetulan’, frekuensinya jarang terjadi.

Masih harus dianalisa bahwa ada peristiwa ‘kebetulan’ yang memiliki frekuensi yang sama (ma yakunu bi al-tasawi). Dalam hal ini, Ibn Sina terlibat perdebatan dengan Peripatetik mengenai kesahihan argumen Aristoteles. Aristotelian mengklaim bahwa ‘kebetulan’ hanya dapat ditemukan dalam peristiwa yang jarang terjadi, bukan pada  peristiwa yang memiliki frekuensi yang sama. Argumen Ibn Sina berbeda dari Aristoteles yang menyatakan bahwa ‘kebetulan’ tidak dapat ditemukan dalam peristiwa yang selalu atau sering terjadi. Ibn Sina membahas teori—yang tidak dibahas Aristoteles tetapi dikemukakan Peripatetik-akhir—dan tidak setuju dengan mereka mengenai peristiwa yang dikatakan memiliki frekuensi yang sama, terutama peristiwa yang tidak dikehendaki. Dia menunjuk pada kesejajaran antara peristiwa alami dan tidak dikehendaki sejauh keduanya diatur oleh prinsip-prinsip sebab-akibat yang ketat. Apakah ia menganggap rantai sebab-akibat menjadi independen dari rantai alami adalah masalah lain. Peripatetik-akhir menganggap bahwa berjalan atau tidaknya seseorang, makan atau tidaknya seseorang memiliki frekuensi ‘kebetulan’ yang sama. Ibn Sina menegaskan bahwa “jika seseorang berjalan atau makan dengan kehendaknya, tidak bisa dikatakan terjadi secara ‘kebetulan’.”[7] Ketika berjalan dan makan dikembalikan kepada suatu tindakan yang dikehendaki, “tindakan berjalan dan makan tersebut bergeser dari frekuensi ‘kebetulan’ yang sama menjadi (peristiwa) yang sering terjadi.”[8]Secara teori ini berarti bahwa berjalan dan makan memiliki frekuensi ‘kebetulan’ yang sama, tapi begitu faktor deterministik muncul, maka faktor indeterministik menjadi hilang.


[1] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 62. Bacalah: Fi-akhtar al-‘amr dengan Zayid dan Madkur (Al-Yasin, hal: 119). Dua contoh mengenai kayu bakar dan orang yang meninggalkan rumah menuju ke taman tidak terdapat dalam tradisi Arab-Aristoteles. Ibn Sina menjelaskan peristiwa paralel, yang pertama menggambarkan suatu proses alami di mana zat selalu bereaksi dengan cara yang sama ketika kontak dengan zat lain, dan yang kedua berupa suatu tindaka yang tidak berkehendak.

[2] Perlu diketahui bahwa Aristoteles dalam Buku II dari Physics menyatakan bahwa peristiwa tertentu selalu berperilaku begitu sesuai dengan sifatnya kecuali munculnya gangguan (199a9-199a11, 199b17-199b18; masing-masing hal: 147 dan 155, terjemahan bahasa Arab oleh Hunayn bin Ishaq). Tetapi Ibn Sina membuat hubungan sistematik antara peristiwa yang selalu terjadi tanpa pengecualian dan peristiwa yang tidak munculnya gangguan.

[3] Ibid., hal: 62. Bacalah: Yakunu dengan Zayid dan Madkur. (Al-Yasin, hal: 119).

[4] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 62. (Al-Yasin, hal: 119).

[5] Ibn Sina, al-Syifa, al-Ilahiyyat, hal: 38. Marmura menerjemahkan bi-i’tibari dhati-hi (with regard to itself) sebagai when considered in itself, hal: 31. Lihat: Marmura, M., “The Metaphysics of Efficient Causality in Avicenna (Ibn Sina)”, dalam Islamic Theology and Philosophy: studies in honor of George F. Hourani, ed. M. Marmura (Albany, SUNY, 1984). Untuk Ibn Sina yang menggunakan kata illa dan sabab, lihat: Kennedy-Day, K., Book of Definition in Islamic Philosophy. The Limit of words, (London, 2003), hal: 56.

[6] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 63. (Al-Yasin, hal: 119).

[7] Ibid., hal: 63. (Al-Yasin, hal: 119).

[8] Dalam hal ini, tindakan tersebut bukan peristiwa ‘kebetulan’ karena memerlukan penyebab efisien. Apakah tindakan dilakukan secara otonom atau ditentukan oleh faktor eksternal adalah masalah yang sama sekali berbeda. Dalam bagian ketentua Tuhan, Ibn Sina menunjukkan bahwa segala sesuatu berada di bawah ketentuan Tuhan, termasuk kehendak manusia. Hal ini dijelaskan pada pembahasan mengenai qadar dan qada dalam Risala al-Qada, teks asli bahasa Arab terdapat dalam Lettre au Vizir Abu Sa’d, hal: 105-108.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: