Kosmologi dan Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (1)


Kosmologi adalah ilmu yang mempelajari alam semesta, kosmos. Kosmos adalah kata yang digunakan dalam pemikiran metafisika Yunani yang berarti ‘harmoni’ (harmony) atau ‘ketertiban’ (order), lawannya adalah ‘kekacauan’ (chaos). Dalam salah satu teori penciptaan Yunani, chaos adalah materi tak berbentuk sebagai asal mula kosmos, atau ketertiban harmonis yang diciptakan.* Waktu adalah salah satu masalah mendasar dalam filsafat dan kosmologi, karena seluruh eksistensi peristiwa berada dalam waktu. Semua orang merasakan waktu, namun kebanyakan orang tidak mempertanyakan hal itu karena sering dialami sehari-hari dalam banyak hal dan begitu dekat. Namun, sebenarnya jauh lebih sulit untuk memahami sifat filosofis waktu dan karakteristiknya.

Sepanjang sejarah filsafat, banyak pandangan yang bertentangan ketika mendiskusikan dan menggambarkan waktu, dan beberapa hipotesis terbaru muncul dalam kosmologi modern. Namun, merupakan impian setiap fisikawan untuk mengungkap realitas waktu, terutama karena teori modern sampai pada kesimpulan bahwa waktu adalah kuncinya.

Gambaran Singkat Model Kosmologi Awal

Dimulai pada abad kedua belas, ilmuwan Arab, ahli Taurat, dan penerjemah secara bertahap memperkenalkan kepada Eropa ilmu astronomi seperti yang dikembangkan dalam peradaban Islam berdasarkan model Helenistik sebelumnya (terutama Ptolemy dan Aristoteles). Tetapi, gereja Katolik memutuskan untuk mengadopsi model kosmologi geosentris[1] Ptolemeus sebagai prinsip teologisnya, ilmuwan yang mengkritik model ini dianggap sebagai pelaku bidah. Oleh sebab itu, ilmuwan Polandia bernama Nicolai Copernicus (1473-1544) mengemukakan model heliosentrisnya secara anonim dengan berjudul De Revolutionibus Orbium Caelestium (On the Revolutions of the Heavenly Orbs); buku tersebut tidak dipublikasikan sampai tahun 1543, hanya satu tahun sebelum kematiannya. Dalam model ini, Copernicus mendalilkan bahwa Matahari sebagai pusat alam semesta dan Bumi beserta planet-planet beredar mengelilingi Matahari dalam orbit lingkaran.[2]

Pada tahun 1609, Galileo menemukan teleskop dan berdasarkan penyelidikan ilmiahnya, ia menyatakan bahwa model alam semesta geosentris dari Ptolemy benar-benar tidak digunakan para peneliti berpengetahuan dan digantikan model heliosentris (Drake, 1990: 145-163). Dalam kurun tahun yang sama (1609-1619), ilmuwan Johannes Kepler merumuskan tiga pernyataan matematis yang secara akurat menggambarkan revolusi planet-planet di sekitar Matahari. Pada tahun 1687, dalam karya utamanya yang berjudul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, Isaac Newton mengemukakan teori gravitas yang mendukung model Copernicus dan menjelaskan bagaimana benda secara umum bergerak dalam ruang dan waktu (Hall, 1992:202).

Mekanika Newton cukup baik bila digunakan pada tata surya, tetapi teori kosmologis pada waktu itu berpandangan lain. Menurut Aristoteles, bintang-bintang memiliki posisi yang tetap dan alam semesta di luar tata surya bersifat statis. Meskipun alam semesta yang dinamis dengan mudah dapat diprediksi teori gravitas Newton, tetapi keyakinan bahwa alam semesta statis menurut Aristoteles begitu kuat sehingga bertahan selama tiga abad setelah Newton (Benih, 1990:86-107).

Pada tahun 1718, Edmund Halley membandingkan posisi bintang-bintang berdasarkan temuan klasik masa Babilonia dan astronom kuno lainnya dengan pengamatan terbaru, dan diketahui bahwa posisi bintang-bintang tidak tetap dari posisi ribuan tahun sebelumnya. Kenyataannya posisi bintang-bintang mengalami pergeseran meski dalam jarak yang relatif kecil. Keadaan ini disebut ‘gerak’ nyata bintang (tegak lurus terhadap garis pandang) berkaitan dengan latar belakang bintang yang sangat jauh. Pada tahun 1783, William Herschel menemukan gerak surya, yaitu gerak matahari relatif terhadap bintang-bintang di lingkungan galaksi tersebut. Herschel juga menunjukkan bahwa Matahari dan bintang lainnya tersusun seperti “butiran kasar dalam gerinda” (Ferguson, 1999:162-165) yang sekarang disebut galaksi Bima Sakti. Lebih dari satu abad kemudian, pada tahun 1924, Hubble mampu mengukur jarak antar bintang (berdasarkan ‘pergeseran merah’)[3] dan ia menunjukkan bahwa beberapa titik-titik terang yang kita lihat di langit sebenarnya galaksi lain seperti galaksi kita, mesipun mereka terlihat begitu kecil karena jaraknya sangat jauh (Hartmann, 1990:373-375).

Teori Aristoteles tentang alam semesta statis berakhir setelah penemuan Hubble tentang pergeseran merah dari cahaya bintang yang menunjukkan bahwa segala sesuatu di alam semesta sebenarnya bergerak; Ibn Arabi sudah menyatakan demikian berabad-abad sebelumnya. Pada tahun 1980, Stephen Hawking mengatakan:

Ketika Einstein merumuskan teori umum relativitas pada tahun 1915, ia begitu yakin bahwa alam semesta statis; ia memodifikasi teorinya supaya hipotesisnya menjadi mungkin dengan memperkenalkan sebuah konstanta kosmologis dalam persamaannya (Hawking, 1998:42).

Hipotesis Einstein ini tentu saja salah, dan semua orang kini mengetahui bahwa kosmos terus-menerus bergerak. Einstein sendiri mengganggap hipotesisnya sebagai kesalahan terbesar. Bagaimanapun, Ibn Arabi menyatakan dengan jelas bahwa posisi bintang-bintang tidak tetap, dan ia bahkan memberikan nomor dan unit bintang dengan kecepatan gerak yang tepat;** hal ini konsisten dengan pengukuran akurat terbaru.

Setelah perkembangan tersebut dan dengan munculnya teknologi baru yang digunakan dalam pengamatan yang lebih akurat untuk percepatan penelitian fisika dan astronomi. Pandangan baru tentang keseluruhan kosmos akhirnya bertemu dengan pandangan klasik. Namun, kita tidak bisa mengklaim bahwa semua pertanyaan telah mampu dijawab dan dapat membuat gambaran yang benar mengenai kosmos. Sebaliknya, pertanyaan-pertanyaan mendalam masih berupa teka-teki seperti ‘materi gelap’ dan paradoks Einstein-Podolsky-Rosen (EPR).

Seiring dengan temuan data-data dari teleskop dan pesawat ulang-alik dalam beberapa dekade terakhir, teori-teori baru banyak dihasilkan untuk mencoba menjelaskan hasil pengamatan alam semesta. Konsep ‘waktu’ dan ‘ruang’ menjadi fokus utamanya, terutama setelah ide-ide aneh dan berani dari Einstein tentang relativitas dan kelengkungan ruang-waktu yang dibuktikan Eddington melalui pengamatan gerhana Matahari total pada tahun 1918 di Afrika Selatan. Sejak itu, teori-teori lainnya seperti Mekanika Kuantum, Teori Medan, Superstring, dan Kuantum Gravitas mencoba menemukan dan menggambarkan hubungan yang sebenarnya antara objek material dan energi di satu sisi, dan antara ruang dan waktu di sisi lain. Namun, penemuan yang dicapai belum sepenuhnya meyakinkan.


* The Encyclopedia of Philosophy. (1967). Ed. Paul Edward. ‘Cosmology’, II, hal:237-244; ‘Chaos and Cosmos’, II, hal: 80-81. New York: Macmillan Publishing.

[1] Pandangan Geosentris menganggap Bumi berada di pusat alam semesta, sementara Heliosentris menganggap Matahari sebagai pusatnya. Kosmologi modern menegaskan bahwa alam semesta merupakan arena ruang-waktu yang tertutup, tidak memiliki pusat; titik di mana pun dapat dianggap sebagai pusat, seperti titik pada permukaan bumi dapat dianggap pusat (dengan memperhatikan permukaan, bukan volumenya). Jadi, apakah Bumi atau Matahari yang menjadi pusat alam semesta adalah perdebatan pada masa perkembangan kosmologi awal, tetapi tidak berlaku setelah ditemukannya galaksi dan jarak antar bintang yang berjauhan. Perlu disebutkan bahwa Ibn Arabi jelas menegaskan alam semesta tidak memiliki pusat (Futuhat al-Makiyya, Vol. II, hal: 677).

[2] Lihat: Bienkowski, B. (1972). “From Negation to Acceptance (The Reception of the Heliocentric Theory in Polish School in the Seventheenth and Eighteenth Centuries)”, dalam Perception of Covernicus’ Heliocentric Theory: Proceedings of a Symposium Organised by the Nicolas Copernicus Committee of the International Union of the History and Philosophy of Science, ed. Jerzy Dobrzycki, Boston: D. Reidel.

[3] Pergeseran merah adalah perpindahan (ke arah sisi merah) dari garis spektrum cahaya yang dipancarkan oleh bintang-bintang ketika diterima di Bumi, ini terjadi karena kecepatan tinggi dari gerakan bintang-bintang menjauhi kita. Jumlah pergeseran ke arah merah proporsional dengan jarak bintang yang menjauhi kita yang dihitung dengan tingkat akurasi tinggi berdasarkan jarak terjauh bintang dan galaksi.

** Ibn Arabi. Futuhat al-Makiyya, Vol. III, hal: 548; Vol. II, hal 441.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: