Konsep ‘Kebetulan’ dalam Perspektif Ibn Sina (1)


Pendahuluan: Kebetulan dan Kausalitas

Konsep ‘kebetulan’ (ittifaq) dianalisa dan dikembangkan Ibn Sina dalam al-Syifa sebagaimana Physics (al-Sama al-Tabi’i) dalam hubungannya dengan konsep ‘keberuntungan’ (bakht). Ada dua bab yang didedikasikan untuk membahas konsep ‘kebetulan’. Bab tiga belas edisi Kairo dengan berjudul: “On fortune and chance and the divergence [of opinions] regarding them; clarification of their true nature,” berisikan empat pandangan dari aliran pemikiran berbeda yang khusus membahas konsep ‘kebetulan.’ Bab empat belas dengan judul: “Critique of the arguments of those who erred regarding the issue of chance  and fortune and refutation of their doctrines,” Ibn Sina menyanggah empat aliran pemikiran tersebut dan memperkenalkan isu-isu mendasar terkait konsep ‘kebetulan’ dan peran materi.[1]

Pembahasan dimodelkan pada eksposisi Aristoteles tentang ‘kebetulan’ dalam buku kedua dari Physics (195b31-200b8): Ibn Sina membahas topik dan menggunakan contoh yang sama seperti Aristoteles. Seperti Aristoteles, ia memperlihatkan gagasan bahwa dunia secara keseluruhan atau bagian-bagiannya muncul secara kebetulan dan bukan untuk tujuan akhir.

Uraian yang panjang mengenai gagasan ini dimaksudkan untuk menegaskan kebertujuan alam dan tatanan universal. Ibn Sina mengkritik Peripatetik yang salah mengartikan pemikiran Aristoteles dan menjelaskan kualifikasi dan posisi Aristoteles. Hal ini menunjukkan keinginannya untuk mempertahankan arti sebenarnya dari pemikiran Aristoteles. Tetapi ia tidak memberikan komentar secara harfiah terhadap pemikiran Aristoteles. Sebaliknya, ia mengambil substansi pemikiran Aristoteles dan menguraikan dengan argumennya sendiri. Hasilnya terdapat perbedaan, meskipun tidak berbeda dengan pemikiran mendasar Aristoteles. Hal yang paling jelas adalah maksud dari Ibn Sina sangat jelas dan sistematis mengenai konsep ‘kebetulan’ sebagai penyebab esensial atau substansial selain empat penyebab alami lainnya. Perbandingan antara teks Aristoteles dan pemikiran Ibn Sina mengenai ‘kebetulan’ dan ‘keberuntungan’ terungkap bahwa Ibn Sina tidak menolak ‘kebetulan’ secara lebih sistematis. Ibn Sina menggunakan istilah ittifaq, bukan min tilqa’i nafsi-hi (spontan) untuk menunjukkan konsep ‘kebetulan.’ Istilah ittifaq (coincidence) tidak mengecualikan pandangan deterministik bahwa setiap peristiwa memiliki sebab dan tidak berlaku sebaliknya, sementara min tilqa’i nafsi-hi bersifat indeterministik jauh lebih kuat karena menunjukkan sesuatu yang datang dengan sendirinya, tanpa alasan. Tentu saja pembahasan ini bukan untuk menentukan kebenaran Aristoteles yang telah lama menjadi subjek perdebatan, tetapi hanya membuat perbandingan dengan teks Aristoteles yang merupakan dasar dari argumen Ibn Sina.

Argumen yang dibuat Ibn Sina tentang konsep ‘kebetulan’ melambangkan agenda deterministiknya, sebagaimana tercantum dalam Metaphysics al-Syifa. Definisi ‘kebetulan’ (ittifaq) dalam Metaphysics al-Syifa, “kebetulan muncul dari perjuangan (musadamat), dan jika semua materi dianalisis [akan terlihat] bertumpu pada prinsip-prinsip tersebut yang datang dari Tuhan yang paling tinggi.[2] Definisi ini berisi unsur-unsur utama ‘kebetulan’ dalam pandangan Ibn Sina: ‘kebetulan’ yang dihasilkan oleh perjuangan dua tubuh atau rantai kausal akhirnya dapat ditelusuri kepada kepada Tuhan, Penyebab dari segala sebab.

Posisi deterministik Ibn Sina tentang filsafat alam berasal dari dan menegaskan posisi metafisiknya dapat disimpulkan bahwa ia merujuk kepada filsafat-pertama, sebagaimana dikenal dalam terminologi metafisika Aristoteles. Keterhubungan Ibn Sina dalam menetapkan determinisme metafisik dan fisik terlihat dari dua konsep kunci seperti kekuatan Tuhan yang dalam metafisika dikembangkan menjadi teori deterministik, khususnya dalam pembahasan ketentuan Tuhan (qadar).[3]

Penting untuk tidak melupakan pertanyaan mendasar: apakah ‘kebetulan’ itu penyebab? Jika iya, bagaimana hubungannya dengan empat penyebab: agen, bentuk, materi, dan tujuan/akhir?

Diskusi mengenai ‘kebetulan’ baik menurut Aristoteles dan Ibn Sina diikuti dengan penjelasan atas empat penyebab di alam. Penyebab alami terdiri dari empat faktor. Penyebab efisien paling dekat dengan akal kita, merupakan penyebab paling umum yang menghasilkan sesuatu. Faktor ini untuk perubahan dan gerakan. Penyebab material muncul dari sesuatu yang dibuat, seperti hubungan kayu dengan meja. Penyebab akhir muncul dalam tujuan, atau demi sesuatu yang dilakukan. Penyebab formal mendefinisikan karakteristik yang benar-benar diinginkan.[4]

Setelah menguraikan empat penyebab, Ibn Sina menjelaskan posisi ‘kebetulan’ dalam skema suatu peristiwa. Pada pembukaan bab tiga belas, ia memperkenalkan masalah sebagai berikut:

Kita telah berbicara tentang penyebab, ‘keberuntungan’, ‘kebetulan’, dan spontan (min tilqa’i nafsi-hi) yang dianggap salah satu penyebab, tepat sekali untuk tidak mengabaikan pertimbangan konsep (ma’na), yaitu: apakah mereka salah satu penyebab atau bukan, dan jika mereka adalah salah satu sebab, bagaimana posisi [menemukan] mereka diantara penyebab?[5]

Kedua bab (13 dan 14) menganalisis cara ‘kebetulan’ berhubungan dengan empat penyebab. Argumen dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama menganalisis hubungan antara ‘kebetulan’ dan penyebab efisien. Bagian ini dibahas dalam 13 bab. Bagian kedua dibahas dalam 14 bab, menganalisis hubungan antara ‘kebetulan’ dan penyebab akhir.

Menurut Ibn Sina, ‘kebetulan’ bukan penyebab efisien. ‘Kebetulan’ memiliki posisi dalam skema umum peristiwa dalam hubungan sebab-akibat dengan penyebab akhir. ‘Kebetulan’ menjadi penyebab peristiwa dalam tindakan yang memiliki tujuan, yaitu dalam peristiwa yang memiliki sebab final, dan sebanyak peristiwa tersebut memiliki tujuan.


[1] Istilah ‘keberuntungan’ dan ‘kebetulan’ berasal dari kata Yunani tuch dan to automaton. Ekspresi min tilqa’i nafsi-hi (spontan) setara dengan to automaton. Ishaq ibn Hunayn menerjemahkan to automaton dengan min tilqa’i nafsi-hi. Lihat: Aristoteles, al-Tabi’iyyat, terjemahan bahasa Arab oleh Ishaq ibn Hunayn, hal: 111-135. Namun, ia menggunakan kata kerja ittafaqa untuk menunjukkan kejadian ‘kebetulan’, hal: 114; dan istilah ittifaq untuk tuch, hal: 115 dan 125, dan to automaton pada hal: 130.

[2] Ibn Sina, al-Syifa, al-Ilahiyyat, hal: 439. Marmura menggunakan ‘idha’ untuk ‘when’ bukan ‘if’, hal: 362.

[3] Di sini tidak dinyatakan bahwa argumen yang diajukan dalam Physics al-Syifa secara harfiah berdasarkan Metaphysics dalam karya yang sama, karena menurut Gutas dan Michot buku al-Syifa ini adalah bagian dari komposisi al-Syifa yang mendahului Metaphysics al-Syifa. Lihat: Gutas, Avicenna and the Aristotelian Tradition, hal: 21. Karena sistem filsafat Ibn Sina adalah sekelompok asumsi metafisis, mudah untuk melihat bagaimana pandangannya tentang ‘kebetulan’ juga didasarkan pada keputusan yang diambil pada tingkat metafisika yang lebih abstrak. Pada setiap tingkat ia tidak merujuk kepada filsafat-pertama dalam pembahasan tentang ‘kebetulan’.

[4] Mengenai interpretasi Ibn Sina tentang empat penyebab menurut Aristoteles, lihat: Jolivet, La repartition des causes chez Aristote et Avicenna: le sens d’un deplacement, hal: 49-65. Namun, perlu dicatat bahwa pandangan Jolivet dibantah Wisnovsky dalam Towards a History of Avicenna’s Distinction between Immanent and Trancendent Causes, dalam Before and After Avicenna (ed.  D. Reismen), hal: 49-68.

[5] Ibn Sina, al-Sama’ al-Tabi’i, hal: 60. Lihat juga karya yang sama dalam beberapa edisi lainnya, al-Sama’ al-Tabi’i, (dari al-Syifa), ed. Ja’far Al-Yasin, hal: 118. (Edisi selanjutnya hanya menyebutkan nama editor). Aristoteles menjelaskan bagaimana hubungan ‘kebetulan’ dan ‘spontan’ dengan empat penyebab, Ibn Sina menambahkan pertanyaan apakah ‘kebetulan’ menghasilkan beberapa hubungan dengan empat penyebab. Lihat: Aristoteles, Physics, 195b33-195b36 dan al-Tabi’iyyat, hal: 111.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: