Klasifikasi Ilmu Pengetahuan (2)


Fisika dan Metafisika

Tiga bagian dari matematika, yaitu musik, dinamika, dan mekanika akan dibahas secara singkat, selanjutnya diskusi yang lebih lengkap mengenai fisika dan metafisika.

Fisika didefinisikan sebagai studi mengenai “tubuh alam dan kejadian-kejadian yang melekat padanya; di dalamnya dibahas bagaimana, dari mana, dan di mana tubuh alam dan kejadian yang melekat padanya muncul.”[1]

Al-Farabi membagi tubuh alam menjadi alami dan buatan, yang terakhir adalah sebagai produk dari pilihan atau seni manusia; sedangkan “bentuknya” independen dari pilihan atau seni manusia. Tubuh alami dan buatan yang ada tentu saja bertujuan yang baik dan memiliki sebab efisien dan material yang dapat dipahami hanya dengan cara metode demonstratif. Hal ini akan menjadi rujukan terhadap materi primer dan penyebab keumuman objek fisik yang tidak tunduk terhadap pengamatan empiris, tetapi untuk inferensi rasional saja.

Materi, bentuk, agen, dan tujuan dari keumuman tubuh alam disebut sebagai prinsip-prinsip pertama dan membentuk materi-subjek ilmu-ilmu fisik. Tubuh-tubuh alam tersebut dibagi menjadi: 1) tubuh yang sederhana, terdiri dari empat unsur: air, api, udara, dan tanah; dan 2) tubuh yang tersusun, seperti hewan dan tumbuhan. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa ilmu fisik dibagi menjadi delapan bagian, sesuai dengan risalah ilmu fisik Aristoteles:

  1. Menyelidiki prinsip dan kejadian bahwa tubuh alam sederhana dan tersusun memiliki kesamaan. Hal ini tercakup dalam Physics Aristoteles (al-Sama’ al-Tabi’i; Physike Akroesis)
  2. Menyelidiki tubuh sederhana (empat unsur) mengenai jumlah dan sifatnya, serta unsur kelima[2] berupa benda langit. Hal ini dibahas dalam bagian pertama buku Heavens and the World (De Coelo et Mundo), seperti karya Aristoteles De Coelo yang disebut dalam sumber-sumber Arab. Pada agian ketiga dan keempat dalam buku tersebut dibahas mengenai elemen-elemen dan kejadian-kejadian yang menyertainya.
  3. Meneliti keumuman dan kerusakan tubuh alami serta elemen-elemennya. Hal ini terdapat dalam Generation and Corruption (al-Kawn wa al-Fasad).
  4. Berkaitan dengan prinsip-prinsip kejadian dan keberkahan yang menyangkut elemen-elemen eksklusif. Hal ini terdapat dalam tiga bagian pertama dari buku Meteorology (al-Athar al-‘Ulawiyah).
  5. Mempelajari tubuh yang tersusun dari unsur-unsur sederhana; ada yang berasal dari bagian yang sama (homoemera), bagian yang berbeda (yaitu organik), dan diberi bentuk seperti daging dan tulang. Hal ini terdapat dalam bagian keempat dari buku Meteorology.
  6. Mempelajari jenis-jenis tubuh alam yang terdiri dari bagian yang sama (yaitu anorganik), seperti mineral dan bebatuan. Hal ini dibahas dalam Book of Minerals.[3]
  7. Berhubungan dengan varietas-varietas tanaman, dibahas dalam Book of Plants.[4]
  8. Berhubungan dengan studi mengenai hewan, dibahas dalam Book of Animals dan De Anima.

Dua pernyataan terakhir dari Al-Farabi bermaksud untuk menjelaskan prinsip umum kehidupan hewan dan manusia.[5] Sembilan belas risalah mengenai zoologi berhubungan erat dengan Aristoteles yang dalam tradisi Arab diberi judul Book of Animals. Menurut Aristoteles, psikologi sebenarnya merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam sebagaimana dibahas dalam De Anima (Kitab al-Nafs) dan Parva Naturalia yang dikenal dalam tradisi Arab sebagai Kitab al-Hiss wa al-Mahsus (Sense and Sensibles).

Setelah pembahasan mengenai alam fisik, berikutnya Al-Farabi mengulas tentang metafisika atau “Ilmu Ilahi” (al-‘Ilm al-Ilahi). Kita diberitahu bahwa ilmu ini terdapat dalam karya Aristoteles yang berjudul Metaphysics (Ma Ba’d al-Tabi’ah, Metaphysica). Al-Farabi melanjutkan bahwa “Ilmu Ilahi” dibagi menjadi tiga bagian:

  1. Bagian pertama mempelajari entitas yang ada (eksistensi). (Kita dapat menyebut bagian ini sebagai ontologi yang berhubungan dengan karya Aristoteles berjudul Metaphysics, buku VII).
  2. Bagian kedua berhubungan dengan prinsip-prinsip pertama mengenai demonstrasi ilmu yang bersifat partikular, seperti prinsip logika, matematika, dan fisika yang sudah diakui kebenarannya; pada sisi lain disebutkan pula argumen-argumen yang salah dari risalah-risalah kuno dalam prinsip-prinsip pertama tersebut. Kita dapat menyebut bagian ini sebagai epistemologi metafisika. (Aristoteles menolak pandangan kaum Sofis yang mempertanyakan keabsahan pengetahuan dalam Metaphysics, buku IV).
  3. Bagian ketiga berhubungan dengan entitas imaterial dan menyelidiki apakah entitas tersebut ada atau tidak, apakah entitas tersebut banyak atau tidak, dan apakah entitas tersebut terbatas atau tak terbatas, serta ditunjukkan bahwa entitas tersebut sebenarnya ada, banyak, dan terbatas. Al-Farabi kemudian menjelaskan berbagai tingkat kesempurnaan entitas yang muncul dari yang paling sempurna untuk lebih sempurna, sampai akhirnya entitas menjadi (being) sempurna, tidak lebih sempurna dari yang ada. Tidak mungkin ada hal lain yang sama dengan entitas yang sudah menjadi sempurna tersebut. Tidak ada entitas lain yang sederajat dengannya, begitu pula kebalikannya. Ini adalah entitas Yang Pertama sebelum yang lain tidak ada dan ada; keberadaan entitas tersebut tidak menerima dari yang lain.[6] Al-Farabi menyimpulkan bahwa Yang Satu adalah yang benar-benar pertama.

Dalam mengkarakterisasi Yang Satu, Al-Farabi melampaui Aristoteles, searah dengan Plato, dan Plotinus; rumusan argumen ontologis tersebut pertama kali diusulkan oleh St. Anselmus (w. 911) dan dihidupkan kembali pada masa modern oleh Descartes (w. 1650).[7]

Al-Farabi berusaha mengejar pemikiran Platonik-Plotinian dengan berdasar pada karya Aristoteles yang berjudul Metaphysics (Buku VII) dan menjelaskan bagaimana Yang Satu menciptakan eksistensi, kesatuan, dan kebenaran untuk segala sesuatu yang lain. Yang Satu lebih layak diberi sifat-sifat eksistensi, kesatuan, dan kebenaran dari apapun; Yang Satu harus dianggap sebagai sesuatu yang identik dengan Tuhan Yang Mahakuasa.

Awalnya Al-Farabi membuat kesejajaran dengan argumen Plotinian, yaitu argumen-argumen tentang bagaimana entitas yang ada diturunkan dari Tuhan, bagaimana tata tertib dari semua yang ada, dan bagaimana semua tindakan-Nya sepenuhnya terbebas dari kontradiksi. Akhirnya, ia menyetujui Aristoteles; ia melontarkan kritikan terhadap karya Plotinus yang berjudul Uthulugia mengenai tindakan dan kreasi Tuhan. Kritikannya dilakukan dengan metode demonstratif yang menghasilkan pengetahuan meyakinkan, terhindari dari hadirnya ketidakpastian atau keraguan yang biasa terjadi pada setiap orang.[8]


[1] Ihsa al-‘Ulum, hal: 111.

[2] Pada saat itu disebut ether.

[3] Buku tersebut tidak terdapat dalam karya Aristoteles.

[4] De Plantis terdapat dalam kumpulan karya Aristoteles yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Latin, kemudian ke dalam bahasa Arab menjadi Kitab al-Nabat. Sumber utama Nicolaus dari Damaskus, komentator terakhir Aristoteles. W. D. Ross, Aristotle, hal: 12.

[5] Ihsa al-‘Ulum, hal: 119.

[6] Ibid, hal: 121; dan Fusul, hal: 53.

[7] Lihat: M. Fakhry, The Ontological Argument in the Arabic Tradition, the Case of Al-Farabi, Studi Islamica, 64, 1986, hal: 5-17.

[8] Ibid, hal: 123.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: