Klasifikasi Ilmu Pengetahuan (1)


Hubungan antar Ilmu Pengetahuan

Untuk lebih memahami Al-Farabi yang mewarisi pemikiran Yunani, terutama Aristoteles, penting sekali untuk menganalisis karyanya mengenai filsafat, linguistik, teologi, dan hukum dalam salah satu tulisan utamanya yang berjudul Enumeration of the Sciences (Ihsa al-‘Ulum).

Dalam pengantar risalah tersebut, Al-Farabi menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk mengklasifikasi berbagai ilmu dan bagian-bagiannya dengan metode didaktik yang cocok untuk mengakuisisi dan mengurutkan dengan benar supaya mudah dipelajari.

Bagian pertama adalah ilmu linguistik yang berhubungan dengan: a) kata-kata dan konotasinya dalam setiap bahasa tertentu yang digunakan oleh beberapa bangsa, dan b) aturan yang mengatur penggunaan kata-kata.

Ilmu linguistik memiliki tujuh bagian: 1) the science of single terms; 2) the science of compound expressions; 3) the science of the laws of single terms; 4) the science of the laws of compound expressions; 5) the science of orthography; 6) the science of locution; dan 7) the science of prosody or versification.[1]

Klasifikasi ini diikuti dengan penjelasan singkat tentang subjek dari tujuh bagian ilmu linguistik, terutama transmisi dari istilah yang digunakan oleh setiap bangsa dan warisan sastra yang diciptakan oleh pemikir, penyair, dan para ahli. Al-Farabi kemudian membuat beberapa komentar pada bagian-bagiannya.

Logika dan Matematika

Bagian kedua adalah ilmu filsafat. Bagian ini mencerminkan pengaruh dari Aristoteles. Al-Kindi telah memberikan contoh yang tidak terlalu jelas dan eklektis dalam Quantity of Aristotle’s Writings (Kammiyat Kutub Aristutalis).[2] Sebaliknya, klasifikasi yang dibuat Al-Farabi menyeluruh dan sistematis. Dimulai dengan logika, ia mendefinisikannya sebagai seni yang menetapkan hukum-hukum umum yang mengatur dan memandu pikiran menuju jalan kebenaran yang hak supaya jauh dari kesalahan.[3] Bagi Al-Farabi, logika memiliki analogi tertentu untuk tata bahasa, sejauh logika memberi kita aturan yang mengatur intelegensi (ma’qulat). Dengan cara yang sama bahwa tata bahasa memberi kita aturan yang mengatur istilah atau ekspresi tertentu. Al-Farabi mencatat bahwa ada perbedaan besar antara keduanya, dan mengkritik mereka yang mengklaim bahwa studi logika adalah berlebihan. Seperti tata bahasa, keduanya harus dikuasai dengan berlatih penalaran logis, sama seperti menguasai tata bahasa dengan menghafal wacana sastra dan puitis.[4]

Bagian logika ini kemudian disesuaikan dengan tradisi Arab dan Syria, sesuai dengan Organon Arostoteles yang menambahkan tradisi Rhetorica dan Poetica. Bagian ini sesuai dengan tiga mode ekspresi—internal, eksternal, dan kombinasi keduanya—serta lima mode deduksi (qiyas): demonstratif, dialektis, sopistikal, retorika, dan puitis.

Al-Farabi kemudian mengklasifikasi Organon menjadi delapan bagian:

  1. Categories (Ma’qulat, Qatigurais) yang berkaitan dengan single terms dan peraturan yang mengaturnya.
  2. On intepretation (Ibarah, Yunani: Bari Ermenias, Peri Hermeias) yang berkaitan dengan proposisi atau compound expressions.
  3. Prior Analytics (Qiyas, Analytica Priora) yang berkaitan dengan aturan wacana umum.
  4. Posterior Analytica (Kitab al-Burhan, Analytica Posteriora) yang berkaitan dengan aturan argumen demonstratif.
  5. Dialectic (Mawadi Jadaliyah, Topica) yang berkaitan dengan argumen dialektis atau pertanyaan dan jawabannya.
  6. Sophistics (Mughalatah, Sophistica).
  7. Rhetoric (Khatabah, Rhetorica) yang berkaitan dengan argumen retoris.
  8. Poetics (Kitab al-Syi’ir, Poetica) yang berkaitan dengan wacana dan varietas puitis, serta aturan penggubahan syair.[5]

Ilmu matematika (al-Ta’alim; berasal dari kata Yunani manthano yang artinya belajar) menurut Al-Farabi terdiri dari tujuh bagian: aritmatika, geometri, optik, astronomi, musik, dinamika, dan mekanika. Masing-masingnya memiliki bagian teoritis dan praktis; yang pertama (teoritis) berurusan dengan sifat materi subjek dan yang kedua (praktis) dengan aplikasinya. Terdapat pernyataan Al-Farabi yang menarik mengenai astronomi, yang menurutnya terbagi menjadi astrologi (‘ilm ahkam al-nujum) dan “matematika astronomi”. Mengenai astrologi, ia membuat risalah sangat kritis berjudul Valid and Invalid Inferences in Astrology (Ma Yasuh wa ma la Yasuh min ‘Ilm Ahkam al-Nujum); astrologi didefinisikan olehnya sebagai “pengetahuan tentang cara di mana planet berfungsi sebagai pertanda dari kejadian di masa depan, sebagai indeks dari sebagian besar apa yang terjadi hari ini, atau di masa lalu.[6]

Dalam risalah penting ini, Al-Farabi mengemukakan serangkaian argumen yang menunjukkan bahwa klaim-klaim para astrolog tidak selalu dapat diandalkan. Menurutnya, kejadian di dunia ditentukan oleh sebab-sebab tertentu yang dapat dipastikan, atau oleh penyebab yang murni kebetulan. Meskipun benar bahwa benda-benda langit memberikan pengaruh tertentu pada peristiwa terestrial yang diamati, pengaruhnya terdiri dari dua jenis. Pertama, beberapa efek dapat ditentukan melalui perhitungan astronomi atau faktor fisik seperti kedekatannya dengan matahari yang merupakan penyebab dari pemanasan. Kedua, peristiwa kebetulan seperti kematian orang saat matahari terbenam atau terbit. Jenis terakhir ini tidak ditentukan dan tidak tunduk pada pengaruh benda-benda langit dengan cara apapun. Lebih lanjut Al-Farabi mengemukakan bahwa sebenarnya tidak ada peristiwa kebetulan yang penyebabnya tidak diketahui; tidak akan ada ruang tersisa untuk ketakutan dan harapan, dan tidak akan ada tatanan alam yang berhubungan dengan manusia yang terjadi secara kebetulan. Tetapi karena takut dan berharap, tidak akan ada yang berani membuat ketentuan untuk masa depan dan tidak akan ada bawahan yang mematuhi atasannya, kecuali yang harus ditaati adalah Tuhan. Jadi, bila seseorang meyakini urutan peristiwa masa depan, ia bodoh bila merencanakan masa depan.[7]

Al-Farabi berpendapat bahwa efek pergerakan benda langit harus melalui pengamatan, eksistensinya lebih mungkin dibandingkan non-eksistensinya atau sebaliknya, dan karena alasan itu tidak dapat ditentukan dengan deduksi apapun. Dalam banyak kasus, pengalaman itu sendiri berguna dalam hal-hal yang mungkin; bila dalam hal yang sama-sama mungkin atau tidak mungkin, pengalaman akan menjadi sia-sia.

Selanjutnya Al-Farabi berargumen bahwa semua peristiwa alam adalah mungkin atau kontingen. Namun, hal-hal yang mungkin tidak diketahui telah disebut kemungkinan oleh orang-orang yang tingkat berpikirnya terbatas untuk mencari penyebab kejadian di bumi atau langit melalui perhitungan. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kasus-kasus tertentu pengaruh benda-benda langit pada peristiwa di bumi dapat ditentukan secara akurat, seperti yang terjadi dalam matahari dan kedekatannya dengan tempat lembab tertentu menjadi penyebab penguapan, pembentukan awan dan hujan yang dapat menyebabkan sakit atau kematian. Namun, ketika menegaskan bahwa kejadian tersebut dapat diketahui oleh perhitungan astronomi adalah tanda kebodohan.[8] Pengaruh sebenarnya ditentukan dan bergantung pada sifat dan gerakan benda-benda langit yang tak dapat diubah; tetapi ketika merujuk pengaruh orang terhadap konjungsi tertentu dari planet adalah konjektur murni.

Sebagai contoh dari klaim yang salah dari astrolog, Al-Farabi mengutip pengaruh dugaan gerhana matahari terhadap kematian beberapa raja. Sebenarnya, gerhana matahari terjadi karena interposisi bulan diantara matahari dan bumi. Astrolog mengatakan bahwa setiap kali cahaya matahari tertutup oleh awan, raja akan mati atau akan terjadi bencana di bumi. Al-Farabi mengatakan bahwa pendapat tersebut dikeluarkan oleh orang-orang bodoh yang jauh dari sifat bijaksana.[9] Al-Farabi kemudian melanjutkan dengan mengatakan bahwa tidak dapat dipungkiri karena faktor ketenaran dan pertanda dari astrolog kadang-kadang terbukti benar, kadang-kadang pula salah. Jika demikian, maka hal itu hanya dapat digambarkan sebagai dugaan, probabilitas, atau bentuk ramalan saja.

Akhirnya, Al-Farabi bertanya, mengapa para astrolog yang terkenal tersebut tidak bisa meramalkan nasib mereka sendiri? Maka dapat diasumsikan bahwa mereka melakukan itu sebagai profesi yang disengaja untuk mencari keuntungan atau keserakahan.[10]

Di sisi lain, matematika astronomi adalah studi tentang bumi dan benda-benda langit dengan maksud untuk menentukan: a) bentuk, posisi, jarak, dan hubungan antar benda langit; b) gerakan dan jumlahnya bersifat umum dan khas untuk setiap benda langit; c) gerakan, posisi dalam zodiak, dan efek benda langit pada fenomena terestrial seperti gerhana matahari dan bulan memiliki keteraturan; d) pembagian daerah bumi yang dapat dihuni dan tidak. Hal ini dilakukan untuk menentukan divisi atau zona utama dan cara di mana zona ini dipengaruhi oleh gerakan universal benda langit seperti pergantian siang dan malam.[11]


[1] Ihsa al-Ulum, hal: 59.

[2] Rasail al-Kindi al-Falsafiyah, II, hal: 363.

[3] Ibid, hal: 67.

[4] Ibid, hal: 73.

[5] Ibid, hal: 89.

[6] Ibid, hal: 102.

[7] Ma Yasuh wa ma la yasuh, hal: 106.

[8] Ibid, hal: 110.

[9] Ibid, hal: 112.

[10] Ibid, hal: 114.

[11] Ibid, hal: 103.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: