Plato dan Filsafatnya (2)


Plato dalam Cratylus berdasarkan klaim ahli bahasa bahwa pengetahuan sejati dapat dicapai dengan pemahaman tinggi kata-kata dan konotasinya sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang yang berbicara dengan bahasa tertentu; sehingga orang yang menguasai konotasi kata-kata akan memperoleh pengetahuan tentang suatu esensi. Pandangan linguistik ditolak oleh Plato. Menurut Al-Farabi, Plato menyatakan bahwa puisi, seni penggubahan syair atau kemahiran membaca puisi, serta pemahaman makna syair pujian dan kaidahnya dapat menghasilkan pengetahuan sejati atau berkontribusi untuk mengejar kesalehan hidup. Dia menyimpulkan dalam karyanya yang berjudul Ion bahwa metode puitis secara umum mampu mengarahkan pada pencapaian yang teoritis dan praktis.[1]

Plato juga dikenal begitu keras kutukannya terhadap puisi yang dikatakannya sebagai imitasi rendahan dari realitas. Kepada penyair, khususnya penyair mitologi seperti Homer dan Hesiod dianggap telah melakukan tindakan memalukan para dewa atau para penyair tersebut mewakili para penyihir dalam berbagai bentuk. Plato mengatakan dalam Republic, ‘sifat Tuhan harus sempurna dalam segala hal dan karena itu akan menjadi hal terakhir untuk transformasi’.[2] Sejauh yang saya tahu, Al-Farabi tidak sepenuhnya menyetujui penilaian kritis mengenai sifat puisi oleh Plato. Menurut Al-Farabi, selanjutnya Plato menyelidiki metode retoris masing-masing di dalam Gorgias, Sophist, dan Euthydemus dan menunjukkan bahwa salah satu metode ini mampu mencapai tujuan pengetahuan dan kebajikan. Lebih jauh Plato mengkritik di dalam Sophist sebagai metode untuk menggambarkan instruksi olahraga belaka (la’ib) yang tidak mengarah pada pengetahuan yang menguntungkan  baik secara teoritis atau praktis.[3]

Menurut Al-Farabi, mengenai dialektika (jadal) Plato menunjukkan di dalam Parmenides bahwa seni ini sangat bermanfaat dalam melayani fungsi pendahuluan di dalam pendidikan. Memang, Plato percaya bahwa seseorang tidak dapat memperoleh pengetahuan sejati tanpa pelatihan sebelumnya di dalam dialektika.

Setelah selesai mengulas tentang kebajikan dan sarana umum teori pengetahuan, Plato kemudian beralih ke seni praktis. Menurut Al-Farabi, di dalam Alcibiades II (Minor), Platon mengatakan bahwa apa yang dianggap masyarakat sebagai tindakan baik atau tidak baik sebenarnya tidak seperti itu. Dalam Hipparchus, ia menunjukkan bahwa seni hanya menguntungkan dan bermanfaat bila ditunjang dengan pengetahuan dan cara hidup berbudi luhur menuju kesempurnaan manusia, tetapi tidak ada seni praktis yang mampu sampai kepada ‘kesempurnaan sejati’.[4]


[1] Ibid., hal. 7.

[2] Republic, II, hal. 380.

[3] Ibid., hal. 9.

[4] Ibid., hal. 11.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: