Posisi dan Kedudukan Ibn Rusyd (3)


Namun, filsuf sejati pertama dari Andalusia adalah Abu Bakar Ibn Al-Sayigh yang lebih dikenal sebagai Ibn Bajjah atau Avempace (w. 1138). Tidak seperti para pendahulunya dari Andalusia yang disebutkan di atas, Ibn Bajjah benar-benar mendalami bidang filsafat, logika, dan medis. Dia menulis parafrase dari Aristoteles Physics, Meteorology, Generation and Corruption, dan Book of Animals. Selain itu, ia menulis interpretasi secara luas (ta’liq) terhadap logika karya Al-Farabi yang dikaguminya. Di samping itu, ia menulis sebuah risalah politik orisinil yang modelnya diambil dari Virtuous City karya Al-Farabi dan diberi judul Conduct of the Solitary (Tadbir alMutawahhid).

Sosok besar kedua dalam sejarah filsafat Andalusia adalah Abu Bakr Ibn Tufail (w. 1185), sahabat dekat Ibn Rusyd. Karyanya yang terkenal berjudul Hayy Ibn Yaqzan adalah novel filosofis yang mewujudkan substansi Islam Neoplatonisme yang tidak disenangi oleh aliran sufi seperti Al-Ghazali yang memang telah populer di Timur.

Bagaimanapun, sosok penting dalam sejarah filsafat Andalusia adalah Abu Al-Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Rusyd, lebih dikenal di Eropa sebagai Averroes. Filsafat Ibn Rusyd menandai titik klimaks dalam pengembangan filsafat Arab-Islam dan sebagai kesimpulan selama empat abad peperangan antara filsafat dan teologi dalam Islam. Dalam istilah budaya global, kontribusinya untuk menggali kembali ajaran Aristoteles menandai titik kritis dalam sejarah transmisi filsafat Yunani-Arab ke Eropa Barat. Karena pada saat itu bahasa Yunani dan filsafat hampir sepenuhnya dilupakan di Barat, khususnya lagi Aristotelianisme. Kecuali terjemahan logika karya Aristoteles oleh Boethius (w. 525) dan bagian dari Timaeus karya Plato oleh Chalcidus (abad keempat), sangat sedikit filsafat Yunani yang sampai ke Barat. Jadi, komentar Ibn Rusyd terhadap karya Aristoteles yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di awal abad ketiga belas menyebabkan pertumbuhan intelektual dalam bidang filsafat dan teologis di Eropa Barat dan meletakkan landasan bagi kebangkitan Skolastik Latin yang menemukan kembali karya Aristoteles. Sudah selayaknya Barat berterima kasih terutama untuk komentar Ibn Rusyd tersebut. Bahkan bangkitnya Renaisans dengan rasionalisme dan humanismenya terkait erat dengan komitmen Ibn Rusyd terhadap keunggulan wacana filosofis dan teologis. Etienne Gilson menulis dalam Reason and Revelation in the Middle Ages, “Rasionalisme lahir di Spanyol dalam pikiran seorang filsuf Arab, sebagai reaksi sadar terhadap teologisme Arab”. Etienne kemudian menambahkan bahwa ketika Ibn Rusyd meninggal pada 1198, “dia mewariskan sesuatu yang ideal berupa filsafat rasional yang murni, memiliki pengaruh yang ideal sehingga evolusi filsafat Kristen menjadi terpengaruh dan dimodifikasi”.[1] Bisa dikatakan bahwa ‘rasionalisme filosofis’ Ibn Rusyd tidak hanya lima abad yang lalu, tetapi bahkan lebih komprehensif daripada ‘rasionalisme matematis’ dari Rene Descartes (w. 1650) yang umumnya dianggap sebagai bapak filsafat modern.

Terlepas dari kontribusinya pada perdebatan filosofis dan teologis yang meramaikan dunia intelektual Islam, Ibn Rusyd adalah filsuf Muslim yang aktif dalam perdebatan yuridis semasa di Andalusia. Ia menjabat sebagai hakim agama (qadi) di Sevilla (1169-1l72), hakim ketua di Cordova (1172-1l82), dan pada 1182 ditunjuk sebagai dokter kerajaan di Marrakesh. Ia juga menulis risalah yuridis berjudul Primer of the Discretionary Scholar (Bidayat alMujtahid) yang sampai hari ini masih banyak dipelajari. Dalam risalah ini, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa tujuannya adalah untuk membahas keputusan-keputusan yuridis yang menjadi subjek konsensus atau perselisihan di antara para cendekiawan dan menentukan pangkal pernyataan secara eksplisit dari Kitab Suci. Di sini terlihat pengetahuannya yang luas di bidang hukum Islam, karena ia menyebutkan dan membahas setiap pendapat yuridis baik liberal maupun konservatif, Hanafi, Syafii, Maliki atau Hambali, serta tidak selalu mengunggulkan pendapat Maliki meskipun ia resmi berstatus sebagai hakim yang bermadzhab Maliki.

Selain dalam hukum Islam, filsafat, dan teologi, Ibn Rusyd memberikan kontribusi secara ekstensif dalam bidang medis. Ia menghasilkan banyak risalah, yang paling terkenal di antaranya adalah alKulliyat diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai Colliget. Risalah ini bersama dengan sejumlah karya medis lainnya banyak yang sampai kepada kita, sebagian besar berisi epitomes atau ringkasan (talakhis) medis karya Galen. Karyanya yang lain berupa komentar pada puisi medis terkenal karya Avicenna diberi judul alUrjuzah fi alTibb yang masih eksis dalam bahasa Arab dan Latin.


[1] Reason and Revelation in the Middle Ages, hal. 37.

2 Tanggapan to “Posisi dan Kedudukan Ibn Rusyd (3)”

  1. Kunjungan pagi ini, sambil baca baca sekalian mencari backlink

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: