Posisi dan Kedudukan Ibn Rusyd (2)


Namun demikian, meskipun bermadzhab Maliki, Ibn Tumart percaya bahwa konflik yang nyata antara kalam dan filsafat bisa diselesaikan ketika berpindah ke prinsip-prinsip intuitif dari akal yang menetapkan bahwa setiap tindakan atau kejadian harus dirujuk ke Agent sebagai akhir dari prinsip kausalitas dan Al-Quran sendiri menetapkan dalam ayat-ayat seperti 11:14 dan 11:17 yang mengacu bahwa Al-Quran sebagai wahyu dari Allah dan “bukti yang jelas dari Tuhan mereka”. Dari premis Ibn Tumart ini, kita dapat membuktikan keberadaan Tuhan dan dengan demikian “dapat dipastikan bahwa Allah Yang Maha Kuasa bisa diketahui melalui perlunya alasan”, ia telah menempatkan hal tersebut dalam karyanya yang paling terkenal, Dearest Quest (A’azz ma Yutlab).[1] Dia tidak sepakat terhadap orang yang mengklaim bahwa hukum agama (syariah) tidak kompatibel dengan kebijaksanaan atau filsafat (hikmah), “hal yang demikian merendahkan martabat agama dan mengabaikan kebijaksanaan Tuhan itu sendiri”.[2] Dia juga berkeyakinan seperti Ibn Rusyd yang diketahui telah menulis Commentary on Ibn Tumart Creed bahwa deduksi (qiyas), relijius (syar’i) atau rasional (aqli) adalah jalan menuju kepastian di mana hal itu bertentangan dengan ‘dugaan’ yang telah menyebabkan munculnya sektarian, seperti Nonattributionists (Mu’attilah) dan Corporealists (Mujassimah) yang menyesatkan. Dia juga meyakini bahwa rasional dan hukum deduksi adalah setara; karena dalam kasus yang pertama, kita membedakan antara apa yang diperlukan, mungkin dan yang tidak mungkin; sedangkan dalam kasus yang terakhir, kita membedakan antara wajib, halal dan haram—menurutnya, hal itu adalah dua set kategori yang analog.

Ibn Tumart melanjutkan dengan menyatakan bahwa sebenarnya hukum deduksi memiliki lima varietas yang digunakan oleh berbagai sekte, termasuk Mu’attilah, Mujassimah dan lainnya untuk mendukung proposisi munafik mereka. Menurutnya, kelima varietas tersebut sebagai berikut:

  1. Eksistensial deduction, yang dijadikan Mujassimah berdasarkan pengamatan objek empiris dengan berkesimpulan bahwa Pencipta harus korporeal.
  2. Habitual deduction, yang membuat beberapa orang berpendapat bahwa semua entitas yang eksis dihasilkan oleh entitas yang eksis lainnya, sehingga makhluk yang tidak menghasilkan entitas yang eksis itu tidak eksis pula—dari hal tersebut mereka menyimpulkan bahwa Tuhan tidak eksis.
  3. Observational deduction, segala sesuatu yang kita amati harus eksis dalam suatu lokus tertentu. Maka, Tuhan pun harus eksis dalam suatu lokus.
  4. Active deduction, disimpulkan bahwa siapa pun yang bertanggung jawab untuk tindakan tertentu seperti ketidakadilan atau agresi, harus digambarkan sebagai agresor yang tidak adil. Dari premis ini mereka menyimpulkan bahwa Tuhan harus dijelaskan seperti itu.
  5. Causal deduction, berdasarkan pengamatan bahwa pengetahuan yang menetap dalam sesuatu yang mengetahui adalah penyebabnya menjadi maha mengetahui. Pengetahuan Tuhan akan menjadi kontingen daripada yang diperlukan, dan dengan demikian pengetahuan dapat dipungkiri-Nya.[3]

Menarik sekali untuk mendefinisikan deduksi rasional yang memang berbeda dari hukum deduksi dan variasi lainnya. Hal ini memainkan peran penting dalam upaya Ibn Rusyd untuk menunjukkan keharmonisan agama (shariah) dan filsafat (hikmah) dalam karyanya Decisive Treatise. Di dalamnya memunculkan wacana antara dua varietas deduksi; keagamaan digunakan oleh ahli fikih dan teolog sedangkan rasional digunakan oleh filsuf.

Meskipun Murabitun menolak keras studi filsafat, teologi dan ‘ilmu-ilmu kuno’, tetapi mereka tidak melakukan penelitian selanjutnya. Faktanya awal dari spekulasi filosofis di Andalusia bertepatan dengan akhir kekuasaan mereka. Sejarawan Andalusia bernama Said (w. 1070) menyebutkan bahwa seorang sarjana bernama Maslamah Ibn Ahmad Al-Majriti (w. 1008) adalah orang pertama yang memisahkan astronomi dan ilmu-ilmu gaib. Diceritakan pula kalau ia telah mengajarkannya di Timur dan membawa kembali Epistles of the Brethren of Purity ke Spanyol. Menurut sumber lainnya, dibawa ke Spanyol oleh muridnya yang bernama Al-Kirmani.[4]

Sarjana lain yang berminat dalam filsafat dan ‘ilmu kuno’ sebagaimana disebutkan Said adalah Ibn Al-Nabbash Al-Bajjai, Abu Al-Fadl Ibn Hasdai, Ahmad Ibn Hafsun yang dijuluki filsuf, dan lain-lain. Sebelumnya, sarjana Andalusia bernama Muhammad Ibn Abdullah Ibn Masarrah (w. 931) lebih cenderung memilih teologi mistisisme Mutazilah.[5]


[1] A’azz ma Yutlab, hal. 214.

[2] Ibid, hal. 157.

[3] Ibid, hal. 158.

[4] Said Al-Andalusi, Tabaqat al-Uman, hal. 80.

[5] Ibid, hal. 21.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: