Plato dan Filsafatnya (1)


Dari tiga puluh dua “Dialog” karya Plato, sejumlah besar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab berasal dari kompendium Galen atau ‘sinopsis’. Dari “Dialog” ini, Timaeus dan Laws telah diterjemahkan Yahya Ibn Al-Bitriq dan selanjutnya oleh Hunain Ibnu Ishaq dan Yahya Ibnu Adi. Crito, Parmenides, Republic, Phaedo, Cratylus, Euthydemus, dan Sophist yang diterjemahkan Hunain Ibnu Ishaq dan bersama muridnya Isa Ibn Yahya.[1] Sebagian besar dari terjemahan ini tidak sampai kepada kita sekarang, kecuali Laws, Timaeus, fragmen dari Phaedo, Apology, dan Crito.

Dalam risalahnya yang berjudul Philosophy of Plato, Its Parts and the Order of Its arts, Al-Farabi sepenuhnya menguasai terjemahan ini selain beberapa sumber Yunani lainnya yang berbentuk ringkasan materi dari semua “Dialog” ke dalam bahasa Arab. Dia memulai eksposisi tentang filsafat Plato dalam risalah Alcibiades bahwa kesempurnaan manusia tidak semata-mata terdapat dalam tubuh yang sehat, kesejahteraan material, kemuliaan, atau persahabatan dan kerabat. Menurutnya, kesempurnaan yang dapat membuat kebahagiaan bagi manusia terdiri dari ilmu sejati (‘ilm) dan berbudi luhur (sirah).[2]

Kita diberitahu Al-Farabi mengenai pernyataan Plato dalam Theaetetus bahwa pengetahuan sejati adalah pengetahuan yang penting dari hal-hal yang eksis; sedangkan berbudi luhur dapat dilakukan melalui tindakan-tindakan yang kondusif bagi kebahagiaan sebagaimana dinyatakan Plato dalam Philebus. (Di tempat lain,[3] Al-Farabi mengidentifikasi kesempurnaan manusia dengan pengetahuan Tuhan, keesaan-Nya, kebijaksanaan dan keadilan, ditambahkan pula bahwa filsuf sejati adalah orang yang ‘meneladani sifat Tuhan (homoiosis Theo) semaksimal mungkin’, sebagaimana dinyatakan Plato dalam Theaetetus. Ketika menyelidiki lebih lanjut sifat pengetahuan sejati, kita diberitahu Al-Farabi bahwa Plato dalam “Dialog” menyangkal klaim Protagoras yang Sofis, pengetahuan sejati tidak mungkin tercapai tetapi hanya dalam bentuk opini (doxa, zhan). Pada Meno dalam “Dialog” ia bertanya, apakah pengetahuan sejati diperoleh melalui pengajaran atau hanya menunggu kesempatan sehingga apa yang tidak diketahui akan tetap selamanya tidak diketahui atau diketahui.[4]

Setelah membantah pandangan Protagoras, Plato kemudian mulai mengidentifikasi jenis penyelidikan (fahs) yang dapat menyebabkan pengetahuan sejati. Pendapat-pendapat yang berkembang ia dengan berbagai pandangan yang dimulai dengan penyelidikan (diyaniyah) keagamaan atau ‘seni silogisme keagamaan’ (Al-Farabi mungkin mengartikannya sebagai teologi [‘ilm al-kalam]. Dia menyimpulkan dalam Euthyphro bahwa penyelidikan dan seni tidak mampu menghasilkan pengetahuan sejati atau pada suatu cara hidup yang berbudi luhur.[5]


[1] Lihat: M. Fakhry, A History of Islamic Philosophy, Hal. 13.

[2] Falsafah Aflatun, Hal. 3.

[3] Ma Yanbaqhi an Yataqaddam al-Falsafah, Hal. 53.

[4] Ibid., hal. 6; Meno, hal. 80, fokus diskusi sebenarnya mengenai apakah kebajikan itu dapat dipelajari atau tidak.

[5] Ibid., hal. 6.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: