Pra-Sokrates, Stoik, dan Peripatetik


Sebuah contoh dari luasnya pengetahuan historis Al-Farabi adalah catatan yang ia berikan dalam karya pendek berjudul What Ought to Precede the Study of Philosophy (Ma Yanbaqhi an Yataqaddam al-Falsafah) mengenai berbagai sekolah filsafat Yunani dan para pendirinya. Ia menyebutkan Sekolah Pythagoras dengan pendirinya yang bernama Pythagoras; Sekolah Cyrenaic didirikan oleh Aristippus yang merupakan para pengikut Chryssippus, dikenal sebagai ‘orang-orang di Stoa’ karena di situlah tempat pengajaran berlangsung. Dalam konteks ini, Al-Farabi tidak menyebutkan nama pendiri sebenarnya dari Sekolah Stoic yang bernama Zeno dari Citium di Siprus. Sekolah Cynic didirikan oleh Diogenes yang pengikutnya dikenal sebagai ‘anjing’ (kuwon dalam bahasa Yunani merupakan asal kata dari cynic) karena mereka menganjurkan pengabaian tugas sipil, kasih sayang, dan persaudaraan yang semuanya berkaitan dengan ciri-ciri anjing.

Selanjutnya Al-Farabi menyebutkan sebuah sekolah yang berasal dari para pengikut Pyrrho (Furun) yang disebut Negators (Mani’ah), karena mereka menegasikan pengetahuan dan melarang orang untuk belajar. Disebutkan pula sekolah yang didirikan para pengikut Epicurus atau biasa disebut Hedonist yang menyatakan bahwa tujuan dasar dari filsafat adalah mencari kenikmatan.

Penjelasan ini ditutup dengan penjelasan mengenai Peripatetik (Mashsha’iyyun) atau pengikut Plato dan Aristoteles, disebut demikian karena ketika mengajar mereka berjalan atau melenggang (dari kata Yunani Peripatein).[1] (catatan ini berlaku untuk praktek Aristoteles di pagi hari ketika memberikan kuliah pada mata pelajaran lanjutan di Lyceum, tetapi tidak berlaku untuk Plato.) Catatan ini tidak mengejutkan mengingat tesis Al-Farabi dalam Two Sages (hakimain) mengenai isu-isu kunci yang sempurna.

Selanjutnya, Al-Farabi memperlihatkan materi-subjek dalam buku Aristoteles sangat mengagumkan sebagaimana ditulis dalam bukunya Philosophy of Aristotle dan Enumeration of the Sciences yang akan dibahas nanti, insya Allah. Dalam hal ini dia merujuk kepada karya tradisional Aristoteles sebagaimana tercermin dalam tradisi Arab ketika merujuk Physics sebagai al-Sama al-Tabi’i (Physike Akroasis). Salah satu  ketentuan metode pengajaran Plato bahwa studi filsafat harus didahului dengan penguasaan geometri; maka tidak mengherankan bila prasasti yang menghiasi pintu masuk ke Akademinya berbunyi ‘Tidak ada yang boleh masuk kecuali ahli geometri’.[2] Metode ini berbanding terbalik dengan ajaran Theophrastus yang merupakan penerus Aristoteles sebagai kepala di Lyceum, ia menyatakan bahwa pembangunan karakter harus mendahului studi filsafat. Plato menyatakan bahwa hanya mereka yang murni hatinya dapat mendekati sesuatu yang murni, pernyataan ini dibenarkan oleh Hippocrates: jika memakan benda najis, Anda akan meningkatkan kecenderungan terhadap yang jahat. Adapun Boethius dari Sidon menyatakan bahwa studi filsafat harus dimulai dengan fisika, pernyataan ini bertentangan dengan muridnya bernama Andronicus yang menyatakan bahwa penelitian tersebut harus dimulai dengan bidang logika.[3]


[1] Ma Yanbaqhi an Yuqaddam Qabla Ta’allum al-Falsafah, hal. 50.

[2] Ibid, hal. 52.

[3] Ibid, hal. 53. Andronicus dari Rhodes (40 SM) merupakan editor tulisan-tulisan Aristoteles dan kepala kesebelas di Lyceum. Boethius adalah muridnya. W. Windelband, History of Ancient Philosophy, hal. 302.

2 Tanggapan to “Pra-Sokrates, Stoik, dan Peripatetik”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: