Posisi dan Kedudukan Ibn Rusyd (1)


Fase Helenistik dalam sejarah filsafat Yunani bertepatan dengan berdirinya Alexandria di Mesir oleh Alexander Agung pada 332 SM. Sejak saat itu, Alexandria menjadi ahli waris Athena sebagai pusat budaya dunia kuno, terutama di bidang ilmu pengetahuan positif dan obat-obatan. Dalam filsafat, fase ini ditandai oleh sinkretisme dan kecenderungan untuk mempersatukan tradisi Yunani, Semit, Mesir, Phoenix, unsur-unsur Yahudi, dan Kristen mencapai puncaknya pada abad kedua dan ketiga era Kristen di zaman Neoplatonisme yang merupakan monumen besar filsafat Yunani.

Pendiri filsafat Helenis ini adalah Plotinus, lahir di Lycopolis Mesir pada 205 dan meninggal di Roma pada tahun 270. Ajarannya terkenal di wilayah Timur Dekat dan selanjutnya diteruskan oleh murid dan editornya yang bernama Porphyry dari Tirus (w. 303), dilanjutkan oleh Jamblichus (w. 385) muridnya Porphyry berasal dari Syria, dan diteruskan oleh murid Jamblichus bernama Proclus dari Athena (w. 485) yang merupakan pendukung besar paganisme Yunani. Tak lama setelah itu, Filsafat Yunani meredup di tanah kelahirannya dan begitu pula Eropa ketika Kaisar Bizantium bernama Justinian memerintahkan Sekolah Athena yang merupakan benteng terakhir paganisme Yunani akan ditutup. Tujuh dari guru sekolah tersebut, dipimpin oleh Simplicius (533) menyeberang ke Persia setelah dibujuk secara simpati oleh kaisar Persia bernama Chosroes I yang dikenal dalam sumber literatur Arab sebagai Anushirwan atau Just. Episode ini disebut-sebut sebagai migrasinya filsafat Yunani ke arah timur yang secara resmi menandai fase Helenistik atau Alexandria.

Tahap bersejarah berikutnya dalam sejarah filsafat Yunani adalah Arab-Islam yang dimulai selama periode Abbasiyah (750-1258), ketika ibukota Abbasiyah berada di Baghdad mewarisi kekayaan intelektual dari Alexandria dan Athena yang menjadi pusat kebudayaan dunia. Filsuf, ilmuwan, dan teolog berkumpul di seluruh penjuru dunia Islam.

Orang pertama yang dikenal menjadi ilmuwan-filsuf adalah Al-Kindi (w. 866). Ia menulis seluruh ajaran kuno mengenai logika, aritmatika, psikologi, meteorologi, astrologi, dan metafisika. Selama periode hidupnya, Al-Kindi melakukan pencarian jiwa secara mendalam, karena pada saat itu teologi rasionalis yang dikenal sebagai Muktazilah banyak beradu argumen dengan madzhab Hanbaliyah, Malikiyah dan tradisionalis lainnya yang menolak penerapan metode wacana rasional yang dipinjam dari Yunani. Mereka menganggap bahwa tradisi Yunani sebagai ajaran sesat (bid’ah) atau tidak berlandaskan agama (kufr).

Al-Kindi bersimpati dengan keinginan Muktazilah untuk merasionalisasi dogma Islam, menghadapi tradisionalis dengan tekad tunggal dan memastikan pijakan yang aman untuk filsafat di tanah Muslim. Penggantinya, termasuk Al-Farabi (w. 950) dan Ibn Sina atau dikenal sebagai Avicenna (w. 1037) menghadapi tantangan yang sama selama dua abad ke depan dalam mengembangkan proses pandangan dunia metafisik yang didasarkan pada Neoplatonisme; ia berdua melakukan pekerjaan dan percaya bahwa filsafat bisa kompatibel dengan sistem kepercayaan Islam. Posisi mereka segera ditantang oleh sekolah teologi (kalam) yang berasal berasal dari Muktazilah sendiri. Pendirinya bernama Abu Hasan Al-Asyari (w. 935) seorang mantan Muktazilah, menyukai penerapan metode bukti teologis untuk dogma Islam, tetapi cenderung setuju dengan kaum tradisionalis termasuk dengan Ibn Hanbal (w. 855) yang mengajar dengan berpijak pada substansi dogmatis. Pengikut-pengikut Abu Hasan Al-Asyari yang merupakan para teolog atau Mutakallimun yang terkenal di antaranya Al-Baqillani (w. 1012), Al-Baghdadi (w. 1037), Al-Juwaini (w. 1086) dan muridnya bernama Al-Ghazali. Teolog terakhir ini umumnya dianggap sebagai teolog terbesar atau Proof of Islam (Hujjat al-Islam).

Al-Ghazali sepenuhnya dididik sebagaimana pendidikan para filsuf, sebagai buktinya ia menghasilkan karya Intentions of the Philosophers, Criterion of Knowledge (tentang logika) dan Balance of Action (tentang etika). Bagaimanapun, ia benar-benar mendalami agama dan mistis, dan mengerahkan seluruh energinya untuk mengkritisi bagian-bagian filsafat Yunani yang “bertentangan dengan dasar-dasar agama”, menurutnya. Sebagian besar proposisi fisika dan metafisik telah dipopulerkan oleh Islam Neoplatonis yang dipimpin Al-Farabi dan Ibnu Sina. Tidak seperti mayoritas teolog lainnya, secara cukup signifikan keduanya menganggap bahwa cabang-cabang filsafat seperti logika, etika, dan matematika tidak berbahaya dari sudut pandang agama.

Hal tersebut menjadi kemungkinkan mengapa Al-Ghazali menyerang filsafat Yunani-Arab terwujud terutama dalam karyanya Tahafut al-Falasifah (Incoherence of the Philosopher) sebagai tonggak sejarah dimulainya konfrontasi teolog dan filsuf Islam. Pada saat dunia Muslim dilanda perselisihan antara Syiah Fatimiah di Mesir dengan Sunni Abbasiyah di Baghdad, pertarungan teologis dianggap tidak kalah dibanding pertempuran politik dan militer. Al-Ghazali dijadikan standar perjuangan melawan pihak filsuf dan Syiah, hal ini memang terasa sangat aneh.

Serangan Al-Ghazali pada abad kesebelas dapat dikatakan menandai kematian filsafat di Timur, tetapi tidak lama kemudian memperoleh hak hidup di Barat. Dimulai pada abad kesembilan di masa pemerintahan Muhammad Ibn Abdul Rahman (852-886), studi tentang mata pelajaran matematika dan hukum tampaknya telah dipersiapkan untuk mempelajari kembali ‘ilmu kuno’ pada masa pemerintahan Al-Hakam II yang dikenal sebagai Al-Mustansir Billah (961-976). Pangeran tercerahkan ini memerintahkan pengimporan buku dari Timur ke Cordova sebagai pusat kota Muslim Spanyol (Andalusia); kota ini mulai menyaingi Baghdad sebagai pusat pembelajaran dengan perpustakaan terkenal yang menyimpan sekitar 400.000 buku. Namun, gambaran tersebut berubah ketika putranya Al-Hakam yang bernama Hisyam (976-1009) naik tahta dan berbanding terbalik dengan kebijakan-kebijakan ayahnya. Ia memerintahkan buku-buku ‘pelajaran kuno’ untuk dibakar dengan pengecualian buku bidang astronomi, logika dan aritmatika sebagai upaya menenangkan para ahli hukum dan masyarakat umumnya. Maka berkembanglah tuduhan seperti ‘ilmu kuno’ benar-benar bidah atau kafir.

Selama masa pemerintahan dinasti penerus Berber, nasib ilmu pengetahuan, filsafat dan teologi atau kalam tidak berubah. Mula-mula dinasti ini diperintah oleh Al-Murabitun (Almoravids) yang memerintah Spanyol dan Afrika Utara (1090-1147); menganut madzhab Maliki dan mendorong studi hukum (fiqh), tetapi melarang studi teologi (kalam), ‘ilmu kuno’, dan filsafat. Dalam hal ini, mereka mengikuti jejak dari pendiri sekolah Maliki bernama Malik Ibn Anas (w. 799) yang tidak menggunakan wacana rasional dalam bentuk apapun. Sekali waktu pernah ditanya ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang Allah duduk di atas takhta (istiwa), ia menjawab: “duduk sudah dikenal secara luas, modalitasnya tidak diketahui; mempercayainya adalah wajib dan mempertanyakannya adalah ajaran sesat (bidah)”.

Dengan munculnya Dinasti Muwahhidun (Almohades) di tahun 1146, iklim intelektual di Andalusia dan Afrika Utara agak berubah. Pendiri Dinasti Almohades, Ahmad Ibn Tumart (w. 1128) memperkenalkan kembali studi teologi (kalam) dan hal ini membuka jalan bagi studi filsafat dan ‘ilmu-ilmu kuno’ yang telah diabaikan di Barat. Perlu dicatat bahwa Ibn Tumart agak terbuka dalam pendekatan ke kalam, karena ia menyukai metode Muktazilah pada beberapa hal dan metode Asyariyah pada hal-hal lainnya. Dalam hukum, ia tetap menjadi Zhahiri mengikuti jejak Ibn Hazm (w. 1068) dan menganggap Kitab Suci sebagai otoritas final dalam hal hukum agama (syari’ah) dan ritual peribadahan (ibadat).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: