Filsafat dan Agama (2)


Al-Farabi menegaskan kembali keutamaan dan kekurangan filsafat ketika membahas hubungan antara filsafat dan agama; agama memberikan sesuatu yang lebih utama dari filsafat, keutamaan tersebut menghasilkan kebenaran yang lebih jauh dari filsafat. Persoalan ini dipersulit ketika pemberi hukum (Nabi) bukan berasal dari pendapat atau keyakinannya sendiri ketika mengajar masyarakat mengenai sistem filsafat yang terjadi pada zamannya atau bukan berasal dari pendapat atau kepercayaan yang diusulkan oleh agama sebelumnya. Kesulitan selanjutnya ketika pemberi hukum berhasil mengulangi proses yang sama untuk mengikuti jejak pendahulu agamanya.

Kadang-kadang ajaran agama-agama tertentu yang didasarkan pada filosofi asli ditransmisikan ke negara-negara atau komunitas tertentu (ummah) yang masyarakatnya tidak menyadari fakta bahwa prinsip-prinsip atau doktrin-doktrin yang diajarkan agama mereka hanyalah ‘representasi’ dari prinsip-prinsip filosofis atau peribahasa yang tidak mereka ketahui. Selanjutnya, seolah-olah ada kesan bahwa terdapat pertentangan antara filsafat dan agama; para filsuf dipaksa untuk berhadapan dengan agamawan (ahl al-millah), tetapi mereka mempertahankan bahwa tidak ada pertentangan dengan agama melainkan anggapan itu beradal dari agamawan sendiri. Agamawan kemudian diingatkan bahwa proposisi keyakinan agama mereka bertumpu kepada representasi proposisi atau prinsip-prinsip filosofis asli.[1]

Sebagai kesimpulan, Al-Farabi tidak mengesampingkan kemungkinan bangsa-bangsa tertentu menunjukkan ketertarikan kepada filsafat, tetapi ada pula bangsa-bangsa yang merespon biasa-biasa saja atau melarang sama sekali. Alasan larangan ini biasanya dinyatakan bahwa bangsa-bangsa yang bersangkutan tidak cocok bila diajarkan ‘kebenaran murni’ atau hal-hal teoretis umumnya, tetapi setuju bila pengajaran diberikan dengan jalan lain melalui ‘analogi kebenaran’ secara praktis. Kadang-kadang, penguasa bersedia untuk menyebarkan atau membela keyakinan agama palsu dengan tujuan mewujudkan kepuasan atau kesejahteraan mereka sendiri, terlepas dari kepuasan atau kesejahteraan rakyatnya.


[1] Ibid., hal. 155.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: