Filsafat dan Agama (1)


Terlepas dari catatan teleskopis dalam The Rise of Philosophy seperti yang dilaporkan Ibn Abi Usaibiah, Al-Farabi telah memberikan kepada kita beberapa karyanya yang merefleksikan pada pengembangan pertama kalinya ilmu-ilmu filsafat. Dalam Book of Letters (Kitab al-Huruf), ia memulai dengan pengamatan bahwa keaslian atau filsafat demonstratif (burhaniyah) didahului dengan dialektis, sofistikal dan berbeda dari mode wacana logika palsu. Menurut pengamatan Al-Farabi, munculnya agama (millah) yang ‘berbicara kemanusiaan’ adalah setelah munculnya filsafat. Metode ini berbeda dari wacana filsafat yang berusaha untuk menggantikan konsep teori filsafat dengan ‘representasi imajinatif’ murni yang lebih mudah diakses publik untuk mendukung peralihan ke dialektis, bukan argumen demonstratif. Bahkan, metode yang digunakan oleh ‘seni teologi’ (Sina’at al-Kalam) yang tunduk kepada agama pada dasarnya adalah persuasif (iqna’iyah) dan termasuk ke dalam kategori argumen retoris. Menurut skala, metode ini lebih rendah dari dialektika (jadaliyah). Kenyataannya, fungsi teolog adalah untuk mendukung ajaran agama yang beralih ke argumen dialektis dan retoris di mana representasi imajinatif cenderung menggantikan bukti demonstratif.[1] Argumen teolog berujung pada hal-hal umum, bukan prinsip-prinsip yang jelas dan ini menjadi alasan yang dianggap oleh komunitas keagamaan sebagai anggota elit (khassah); referensi yang memungkinkan adalah merujuk kepada Imam, terutama yang digunakan dalam Syiah. Menurut Al-Farabi, filsuf harus dianggap sebagai anggota elit secara mutlak.

Disiplin lain yang tunduk kepada agama adalah hukum (fiqh) yang memiliki kemiripan tertentu dengan wacana rasional. Orang yang mendalami berusaha untuk menemukan pendapat dalam hal-hal praktis kepada prinsip-prinsip atau ajaran yang diterima dari pemberi hukum (Nabi). Untuk alasan itu, ahli hukum (faqih) juga ditugaskan oleh komunitas agama sebagai kelas elit. Namun, urutan keutamaan kelompok-kelompok tersebut yang pertama menurut Al-Farabi adalah para filsuf, diikuti oleh ahli dialektika (jadaliyun), sofis, hakim, teolog, dan akhirnya ahli hukum.[2]

Perkembangan metode retorika dan sofistika yang awalnya digunakan dalam seni praktis dan filosofis, kemudian dijelaskan oleh Al-Farabi sebagai produk dari ‘kerinduan alami jiwa untuk mengetahui penyebab hal-hal yang masuk akal di bumi atau sekitarnya bersama-sama dengan apa yang diamati atau muncul dari langit.[3] Dengan demikian muncul kelas para pencari untuk penyebab hal ini dalam ilmu matematika dan fisika sebagai peralihan dari metode retorika dan sofistika yang diikuti dengan metode dialektika. Kemudian, dimulai pengajaran untuk pencarian metode yang dapat dipercaya atau apodeictic (yaqini). Metode ini meliputi matematika dan politik yang merupakan kombinasi dari metode dialektika dan yaqini, untuk sampai pada metode ilmiah. Hal ini berlangsung sampai masa Plato. Proses penyelidikan ilmiah mencapai puncaknya pada masa Aristoteles yang membedakan berbagai metode pengajaran. Selanjutnya metode demonstratif digunakan dalam pengajaran pribadi; sedangkan metode dialektika, retorika dan praktis digunakan dalam pengajaran umum. Pada titik ini, kebutuhan akan undang-undang politik muncul sebagai sarana untuk mengajar masyarakat dari metode teoritis kepada demonstratif, dan dari metode praktis kepada rasional secara umum. Menurut Al-Farabi, pembuatan hukum merupakan suatu hak prerogatif para nabi sebagai anugrah superior mewakili ‘theoritical intelligibles’, serta anugrah berupa ‘kegiatan sipil’ yang nyata atau imajinatif sebagai sarana mencapai kebahagiaan. Di samping itu, diperlukan pula kekuatan persuasi yang efektif dalam hal-hal teoritis dan praktis. Ketika undang-undang di kedua bidang ini telah dibuat, ditambah dengan pengetahuan tentang cara mengajar masyarakat, agama muncul sebagai sarana untuk memberikan bimbingan kepada masyarakat dalam mencari kebahagiaan.[4]

Kadang-kadang Al-Farabi mengamati bahwa agama dipertentangkan dengan filsafat karena orang-orang tidak menyadari fakta prinsip-prinsip agama adalah representasi (mithalat) dari konsep-konsep rasional yang diajukan oleh filsuf. Ketika ini terjadi, para teolog (ahl al-Kalam) membantah argumen-argumen palsu yang digunakan oleh lawan-lawan mereka dengan menggunakan retorika—Mutakallimun, khususnya Muktazilah benar-benar menggunakan metode ini ketika menyanggah argumentasi Maniisme dan musuh Islam lainnya. Peran ganda Kalam secara khusus dinyatakan dalam Enumeration of the Sciences (Ihsa al-Ulum) untuk mendukung pendapat yang benar dan tindakan kebajikan yang ditetapkan oleh pemberi hukum (Nabi) serta penolakan dari semua proposisi sebaliknya.[5]


[1] Kitab al-Huruf, hal. 131.; Kitab al-Millah, hal. 48.

[2] Ibid., hal. 134.

[3] Ibid., hal. 150.

[4] Ibid., hal. 152.

[5] Ihsa al-‘Ulum, hal. 131.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: