Asal-usul Filsafat


Dalam bagian fasal dari risalah yang hilang dengan judul On the Rise of Philosophy (Fi Zuhur al-Falsafah), Al-Farabi memberikan catatan ringkas mengenai tahapan-tahapan sejarah filsafat dan posisinya sendiri dalam mata rantai filsuf Yunani, Helenistik, Syria, dan Muslim. Dalam bagian fasal tersebut, sejarawan abad ketiga belas bernama Ibnu Abi Usaibiah (w. 1270) menyatakan bahwa Al-Farabi telah menulis perkembangan filsafat selama masa pemerintahan raja-raja Yunani (periode Klasik) yang ditransmisikan ke Alexandria setelah kematian Aristoteles (w. 322 SM) dan dilanjutkan sampai dengan kematian Cleopatra (perempuan) pada 30 SM. Selama periode Ptolemaeus (masa pemerintahan tiga belas raja) muncul dua belas guru filsafat, salah satunya adalah Andronicus (Rhodes) (w. 40 SM). Al-Farabi mendapat tugas dari Kaisar Romawi bernama Agustus untuk memeriksa karya sastra di perpustakaan Alexandria yang memuat salinan karya-karya Aristoteles oleh Theophrastus (penerus langsung Aristoteles sebagai kepala Lyceum di Athena (322-288 SM). Augustus memerintahkan buku-buku yang akan disalin diprioritaskan. Andronicus didaulat untuk mempersiapkan salinan dari buku-buku ini, beberapa di antaranya dibawa ke Roma, sisanya disimpan dalam ‘pusat instruksi’ di Alexandria. Andronicus juga diperintahkan untuk menunjuk penggantinya di Alexandria, sehingga ia bisa menemani Kaisar ke Roma. Demikianlah instruksi dilangsungkan dari di dua lokasi sampai munculnya Kekristenan.[1]

Selama periode Kristen, Al-Farabi menyatakan bahwa telah berdiri sebuah konsili para uskup Kristen untuk memutuskan buku-buku pengajaran (ta’lim) yang harus disimpan dan dibuang atau dihancurkan. Para uskup menetapkan bahwa dalam karya-karya logika (Aristoteles) pada bagian-bagian yang berakhir dengan ‘suasana hati eksistensial (dari silogisme)’ harus diajarkan, termasuk di antaranya: Categories, On Interpretation (Perihermeneias dalam bahasa Yunani dan Fari Hermenias dalam bahasa Arab), bagian pertama dari Analytica Priora, dan Isagoge karya Porphyry. Hal ini sebenarnya merupakan praktek di seminari Nestorian dan Jacobite dari Harran, Edessa, Qinnesin dan Antiokhia. Sisa karya-karya dalam bidang logika lainnya, yaitu: Analytica Posteriora yang dikenal dalam sumber-sumber Arab sebagai Kitab al-Burhan, Topica dan Sophistica harus dibuang atau dihancurkan karena merupakan ancaman bagi Kristen.[2]

Ketika muncul Islam, pengajaran dan penyalinan buku-buku dipindahkan dari Alexandria ke Antiokhia yang berlangsung dalam waktu yang lama. Periode ini berakhir ketika guru terakhir Sekolah Antiokhia—Al-Farabi tidak menyebut namanya—memiliki dua mahasiswa, satu dari Harran dan yang lain dari Merw. Selanjutnya kedua orang tersebut menjadi guru. Guru dari Merw memiliki dua mahasiswa yang bernama Ibrahim Al-Marwazi dan Yuhanna Ibn Haylan. Begitu pula guru dari Harranian memiliki dua mahasiswa yang bernama Israil Uskup dan Quwayri. Kedua mahasiswa dari Merw tersebut ditugaskan untuk melanjutkan tradisi logika di Baghdad. Dengan demikian, Ibrahim Al-Marwazi menjadi guru Matta Ibn Yunis (atau Matta Ibn Yunan) (w. 911), sedangkan Yuhanna Ibn Haylan menjadi guru Al-Farabi; berita ini benar-benar aktual yang sampai kepada kita. Al-Farabi menyatakan secara eksplisit bahwa dia belajar logika kepada Yuhanna sampai akhir buku Analytica Posteriora (Kitab al-Burhan).[3]


[1] Ibn Abi Usaibiah, ‘Uyun al-Anba’, hal. 604.

[2] Ibid., hal. 225.; N. Rescher, The Development of Arabic Logic, hal. 19.; dan Wright, History of Syriac Literature, hal. 61.

[3] Ibn Abi Usaibiah, ‘Uyun al-Anba’, hal. 605.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: