Posisi dan Kedudukan Al-Farabi (2)


Berlawanan dengan skema kosmologis yang disebutkan di atas, Al-Farabi menyebut rangkaian itu berakhir pada manusia dengan alasan karena ia memiliki alam rasional sebagai penghubung antara dunia intelligible dan dunia material yang lebih rendah. Manusia diberkahi dengan serangkaian kemampuan—persepsi, imajinasi dan rasionalitas—yang tidak akan mencapai tujuan akhir berupa kebahagiaan atau kesejahteraan (sa’adah) tanpa semua itu. Hal ini merupakan cerminan kesatuan politik (ijtima’) dalam bentuk komunitas besar, menengah, dan kecil yang diidentifikasi oleh Al-Farabi sebagai munculnya dunia yang dihuni (ma’murah), bangsa dan kota.

Di sini Al-Farabi menarik garis paralel antara negara dan tubuh; bagian atau organ membentuk hirarki yang saling membantu satu sama lain, dipimpin oleh seorang penguasa utama (ra’is) untuk sebuah negara dan jantung untuk tubuh. Tema ini dikembangkan secara detail, tetapi dengan beberapa pengulangan dalam risalah utama politik Al-Farabi, termasuk Virtuous City (al-Madinah al-Fadilah), Civil Polity (al-Siyasah al-Madaniyah) dan Attainment of Happines (Tahsil al-Sa’adah) yang menggambarkan bahwa ia sebagai kepala filsuf Islam. Hal ini mungkin akurat untuk menunjuk Al-Farabi sebagai pendiri filsafat politik Islam, penulis seperti Ibn Bajjah (w. 1138) dan Nasir Al-Din Al-Tusi (w. 1274) menyetujuinya.

Sebagai penerus langsung Al-Farabi, Ibn Sina (w. 1037) merupakan murid spiritual dan penggantinya langsung. Dengan memiliki komitmen yang sama dengan Neoplatonis dalam memandang realitas, Ibnu Sina mampu mengembangkan skema emanasi Al-Farabi secara lebih sistematis mengenai hirarki kosmis dan khususnya perkembangan umat manusia dari yang lebih rendah kepada tingkatan mengetahui yang disebut olehnya sebagai Intelek Pasif atau Intelek Material, lalu ‘disambungkan’ dengan Intelek Aktif untuk memenuhi semua keinginan intelektual manusia. Menurut Ibnu Sina, ketika seseorang mencapai kondisi seperti ini, jiwanya menjadi replika dan penghuni dari dunia intelligible sebelum turun ke dalam tubuh manusia.

Meskipun sepakat dengan prinsip-prinsip dasar Neoplatonisme, perlu dicatat bahwa gaya menulis Ibnu Sina lebih diskursif atau tematik dan hal ini mengingatkan pada ‘risalah’ Aristoteles. Sebaliknya, Al-Farabi mengingatkan pada gaya Dialogues Plato.

Dalam istilah-istilah substantif, kontribusi Ibnu Sina mengenai etika dan politik agak berbeda dengan pekerjaan besar yang dilakukan Al-Farabi. Tidak seperti Ibnu Sina, perhatian terhadap etika dan politik mendominasi pemikiran Al-Farabi untuk menggapai kebahagiaan dengan komponen pengetahuan (‘ilm) dan kebajikan.

Murid atau pengganti Al-Farabi di daerah Timur adalah Yahia Ibnu Adi (w. 974), Miskawaih (w. 1037) dan Nasir Al-Din Al-Tusi, dan di daerah Barat bernama Ibnu Bajjah yang merupakan murid spiritual terbesar dan komentator utama dalam bidang filsafat politik dan logika, seperti yang akan dibahas pada waktunya.

Perlu dicatat bahwa meskipun sebagai pembangun sistem pertama dalam sejarah filsafat Islam dan pelopor yang luar biasa dalam bidang logika dan filsafat politik, tetapi perhatian terhadap Al-Farabi masih sangat sedikit di zaman kita. Studi awal dalam bahasa Eropa dilakukan oleh M. Steinschneider dalam bukunya yang berjudul Al-Farabi’s Leben und Schriften dan dipublikasikan pada tahun 1889; lalu diikuti oleh I. Madkour pada tahun 1934 dalam karyanya yang berjudul La Place d‘Al-Farabi dans l’ecolo philosophique Musulmane. Ian R. Netton pada tahun 1992 menerbitkan sebuah studi berjudul Al-Farabi and His School, artikel-artikel dalam bahasa Inggris atau bahasa Barat lainnya dibuat oleh R. Walzer, M. Mahdi, dan F. Najjar. Sayangnya, I. Madkour dalam karyanya yang mengagumkan tentang logika Aristoteles dalam tradisi Arab yang diterbitkan pada tahun 1934 hanya menyinggung Al-Farabi sekadarnya saja; sedangkan sesungguhnya dari sekian banyak karya dalam bidang logika dan komentarnya pada bagian-bagian Organon cukup banyak dan orisinil yang sampai kepada kita. Namun, gambaran tersebut telah berubah secara radikal dalam beberapa tahun terakhir karena sejumlah karya logika dan komentar Al-Farabi telah diedit dan diterjemahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: