Posisi dan Kedudukan Al-Farabi (1)


Abu Nashr Al-Farabi (870-950) dalam sumber-sumber Arab disebut sebagai Guru Kedua (al-Mu`allim al-Tsani) yang menempati posisi unik dalam sejarah filsafat sebagai penghubung antara filsafat Yunani dan pemikiran Islam. Karyanya sangat penting mengenai sejarah logika Aristoteles; dia seorang ahli logika yang memainkan peran penting selama periode antara Boethius (w. 525) seorang konsulat Romawi yang menerjemahkan karya-karya logika Aristoteles ke dalam bahasa Latin, dan Abelard (w. 1141) di Eropa Barat. Para filsuf Arab yang mendahului Al-Farabi, seperti Al-Kindi (w. 866) guru besar mengenai filsafat Yunani yang selaras dengan Islam; tetapi menurutnya dia tidak terlalu memberikan kontribusi signifikan terhadap logika, meskipun dalam hal lain pengetahuannya sangat luas. Al-Razi (w. 925) menjunjung tinggi orang Yunani, khususnya terhadap Plato yang dianggap sebagai master dan pemimpin dari semua filsuf; tapi dia menganggap filsafat dan agama tidak harmonis. Sebagai non konformis terbesar dalam Islam, ia menolak seluruh struktur wahyu dan menggantinya dengan pandangan lima prinsip Islam yang bersifat coeternal, Sang Pencipta (Bari), jiwa, materi, ruang, dan waktu, yang terinspirasi oleh Plato dan Harranian.

Al-Farabi—dalam sebuah risalahnya yang hilang berjudul Rise of Philosophy—menelusuri sejarah filsafat Yunani dari zaman Aristoteles dengan beberapa tahap, pertengahan masa Alexandria, periode Ptolemeus, periode Islam dan sampai masanya sendiri. Dalam beberapa tulisannya yang lain, ia menjelaskan filsafat Aristoteles dan Plato secara rinci dan memberikan catatan ringkas mengenai pra Sokrates. Gurunya dalam logika bernama Yuhanna Ibn Haylan, serta ahli-ahli logika terkemuka sepanjang masa bernama Abu Bishr Matta (w. 940), Israil Quwayri, dan Ibrahim Al-Marwazi yang disebutkan bagian lampiran Rise of Philosophy. Namun, belum ada satupun ahli logika Syria yang telah melampaui empat buku pertama mengenai logika Aristotelian, Isagoge karya Porphyry, Categories, De Interpretatione dan bagian pertama dari Analytica Priora, karena ada peringatan terhadap keyakinan agama Kristen bahwa studi yang lain terutama Posteriora Analytica yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai Book of Demonstration (Kitab al-Burhan) diperkirakan hadir. Al-Farabi patut dihormati karena ia merupakan ahli logika pertama yang memutuskan tradisi Syria tersebut; komentar-komentar logis dan parafrasenya menutupi seluruh ajaran logika Aristotelian dengan menambahkan Rhetorica dan Poetica.

Tidak hanya di bidang logika, Al-Farabi juga menjadi tokoh terkemuka dalam bidang kosmologi dan metafisika. Begitu pula Al-Kindi atau Al-Razi memberikan kontribusi substansial dalam sistematisasi kosmologi dan metafisika. Oleh karena itu, Al-Farabi harus dianggap sebagai orang pertama yang membangun sistem sejarah pemikiran Islam-Arab. Dia berpijak di atas skema emanasionis Plotinus dalam sistem kosmologi dan metafisik yang rumit tetapi berani. Dijiwai semangat Neoplatonis dari filsuf Yunani-Mesir, Al-Farabi mengembangkan tulisan utamanya seperti Virtuous City (al-Madinah al-Fadilah) dan Civil Polity (al-Siyasah al-Madaniyah); di dalamnya berisikan skema metafisis yang rumit, konsep-konsep Al-Quran tentang penciptaan, kedaulatan Tuhan di dunia, dan nasib jiwa setelah kematian diinterpretasikan dengan semangat yang sama sekali baru. Skema yang memiliki nilai seni ini kemudian digabungkan dengan skema politik, mengingatkan model utopis Plato di dalam Republic.

Dalam skema metafisik, God atau The First Being (al-Awwal), Al-Farabi lebih suka menyebut dengan kata Him, mengikuti contoh Proclus dari Athena (w. 485) yang merupakan cendekiawan Yunani yang menjadi juru bicara utama Neoplatonisme mengenai puncak dari tatanan kosmik; tetapi tidak seperti The One (Tô hen) dari konsep Plotinus (w. 270) atau The First (Tô Prôton) dari konsep Proclus yang berada di atas keberaaan dan berpikir, konsep God menurut Al-Farabi identik dengan Aristoteles, yaitu Penggerak yang tidak digerakkan, Berpikir dengan sendirinya (‘aql, ‘aqil dan ma’qul), dan Wujud di mana semua makhluk berasal. Dari The First Being, melalui proses emanasi progresif atau keberlimpahan (fayd atau sudur) berturut-turut muncul intelek (‘aql), jiwa (nafs) dan materi pertama (hayula). Setelah itu, unsur takdir telah terpenuhi yang berada dalam ruang asing atau dunia yang dapat di mengerti, jiwa mampu berhubungan (ittisal) dengan intelek terakhir yang dikenal sebagai Intelek Aktif untuk bergabung kembali dengan keadaan awal di dunia yang lebih tinggi.

Meskipun konsep emanasionis memiliki kesamaan dengan konsep Al-Quran mengenai penciptaan (khalq, ibda), tetapi apa yang disajikan dalam Al-Quran mengenai kemahakuasaan dan kemahatahuan Tuhan dihilangkan dari konsep itu (emanasi). Tidak heran bila masalah ini menjadi kontroversi yang paling sengit antara para filsuf Islam dan para teolog (Mutakallimun), sebagaimana diilustrasikan dalam serangan Al-Ghazali (w. 1111) kepada dua juru bicara utama Neoplatonisme dalam Islam, yaitu Al-Farabi dan Ibn Sina (w. 1037). Bentuk kontroversi tersebut mengenai apakah konsep dunia sebagai emanasi abadi atau kekal dari Tuhan; pada sisi lain doktrin Islam mengatakan bahwa dunia dibuat untuk jangka waktu tertentu dan bermula dari ex nihilo (hadits, muhdats) oleh tindakan Tuhan dengan perintah yang pasti (amr).

Kontroversi yang berhubungan dengan jiwa (nafs), apakah jiwa manusia hanyalah sebuah fragmen sederhana dari jiwa universal yang bergerak di ruang surgawi dan melalui Intelek Aktif dapat hidup di bumi; atau, jiwa merupakan ciptaan Tuhan yang ditakdirkan untuk bertahan ketika tubuhnya hancur, lalu disatukan kembali secara ajaib di akhirat.

Menurut skema Neoplatonis Islam—di mana Al-Farabi adalah orang pertama yang mengembangkannya—rangkaian intelek (‘uqul) dan jiwa (nufus) berakhir pada kemunculan bumi yang terdiri dari suatu entitas hidup dan mati, disebut dunia. Skema ini tidak diragukan lagi berasal dari Neoplatonis; meskipun ada yang mengkaitkan dengan Aristoteles, hal itu karena sebuah kecelakaan sastra yang aneh, yaitu terjemahan dari tiga buku terakhir karya Plotinus yang berjudul Ennead secara keliru dikaitkan dengan Aristoteles dan diedarkan dengan judul Atulugia Aristutalis (The Theology of Aristotle) atau Book of Divinity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: