Pandangan Mulla Shadra tentang Kekuasaan Tuhan (2)


Perbedaan Makna Kekuasaan Pada Tuhan dan Manusia

Menurut Shadra, kekuasaan pada Tuhan adalah aktivitas dan kewajiban (`ayn al-wujud) itu sendiri, sedangkan kekuasaan pada manusia adalah potensi dan kontingensi (`ayn al-quwwat wa al-imkari)itu sendiri.

Jiwa manusia dan jiwa seluruh binatang, menurut Shadra, dalam mela­kukan perbuatannya itu bersifat terpaksa. Demikian juga seluruh geraknya. Karena, kedua-duanya bersifat tunduk (taskhiri), seperti perbuatan alam dan geraknya. Seluruh perbuatan dan gerak tersebut tidak akan terjadi kecuali karena berdasarkan tujuan-tujuan dan motif-motif yang bersifat eksternal. Mengenai hal ini, Shadra menegaskan sebuah kaidah teosofisnya, “Setiap yang merdeka selain Al-Wajib Al-Awwal kemerdekaannya itu bersifat terpaksa, dan [oleh karena itu—ae] terpaksa dalam perbuatan-perbuatannya”; “Kemerdekaan tidak akan terjadi dan tidak sah dengan sesungguhnya kecuali pada wajib al-wujud semata. Dan per­buatan lainnya dari mereka yang merdeka tidak akan terjadi kecuali terpaksa dalam bentuk mereka yang terpaksa”. Dengan begitu, menurutnya, kekuasaan yang ada pada diri kita artinya adalah potensi itu sendiri untuk melakukan per­buatan. Tidak ada suatu kemerdekaan kecuali bersumber dari Tuhan Yang Maha Benar. Menurut Shadra, sebagai contoh, gerak-gerak jiwa-jiwa planet itu terjadi karena tarikan kerinduan yang memaksanya; oleh karena itu, gerak-gerak tersebut merupakan gerak-gerak yang tunduk (taskhiri). Demikian juga jiwa-jiwa binatang bumi, semuanya berbuat dan bergerak semata-mata bukan karena kekuasaan sejati melainkan karena demi tujuan-tujuan dan motif-motif. Ditegaskan oleh Ibnu Sina, dalam salah satu karyanya, Al-Ta`liqat, seperti dikutip Shadra, “Menurut Mu`tazilah bahwa [perbuatan—ae] merdeka itu (ikhtiyar)terjadi karena stimulasi atau suatu sebab, dan [perbuatan—ae] merdeka yang karena motif seperti itu bersifat terpaksa. Sedangkan kemerdekaan Tuhan dan perbuatan-Nya tidaklah disebabkan oleh suatu motif (da`[in])”.Dikutip lagi oleh Shadra, bahwa di tempat lain Ibnu Sina juga mengatakan sebagai berikut:

“Makna wajib al-wujud sesungguhnya adalah kewajiban itu sendiri, dan bahwa wujud dirinya dan sifat-sifatnya itu secara aktual tidak memiliki potensi, probabilitas dan kesiapan. [Pernyataan—ae] bahwa Dia Merdeka itu sama dengan bahwa Dia Berkuasa… [Pengertian merdeka dan berkuasa pada Tuhan—ae] tidak seperti pengertian keduanya menurut kebanyakan orang dimana pengertian mer­deka menurut umum adalah sesuatu yang berdasarkan potensi dan membutuhkan preferant yang mengeluarkan kemerdekaannya dari potensi kepada aksi, baik karena melalui motif yang menstimulasinya untuknya, baik dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Oleh karena itu, hukum merdeka pada kita [manusia—pen] adalah merdeka dalam pengertian terpaksa. Sedangkan [pengertian merdeka yang—ae] pertama (kemerdekaan pada Tuhan), tidaklah berdasarkan motif dari luar diri dan kebaikan-Nya yang menstimulasinya untuk melakukan kemerdekaan tersebut; Dia tidak merdeka secara potensial kemudian merdeka secara aktual, tetapi secara aktual Dia merdeka sejak awal. Artinya, bahwa Dia tidak pernah memaksa Diri-Nya untuk melakukan apa yang diperbuat-Nya, akan tetapi Dia me­lakukan perbuatan-Nya itu untuk Diri-Nya dan kebaikan-Nya sendiri, bukan untuk selain-Nya. Dan di sana tidak ada dua kekuatan yang saling berkontradiksi—sebagaimana terjadi pada diri kita….”

Selanjutnya, menurut Ibnu Sina, kekuatan pada manusia itu berupa poten­si. Oleh sebab itu, tidak mungkin akan keluar sesuatu dari kekuasaan kita itu ke­cuali karena ada motif; menurut Ibnu Sina, pada diri manusia itu memiliki kekua­saan antagosnistik. Ketika suatu perbuatan itu sah bersumber dari kekuaaan kita maka sah pula keluarnya dua jenis perbuatan yang saling bertentangan secara bersamaan dari satu orang manusia dalam kondisi yang sama. Oleh karena itu, menurut kesimpulan Ibnu Sina, kekuasaan manusia bersifat potensial, sedangkan kekuasaan Tuhan bersifat tidak potensial; sifat kekuasaan yang melekat pada Tuhan selamanya equivalen dengan sifat aktualnya. Sebab, meskipun kita telah mengatakan “[kami akan melakukannya—ae] kapan kami bisa” ungkapan tersebut tetap saja bersifat potensial, tidak aktual; sebab, kita pun berkuasa untuk berkehendak, padahal kehendak yang ada pada diri kita pun bersifat potensial. Oleh karena itu, menurut Ibnu Sina, kekuasaan pada diri manusia adalah kekuasaan yang sesekali terjadi pada jiwa dan sesekali lagi bisa terjadi pada anggota tubuh; kekuasaan yang terjadi pada jiwa adalah kekuasaan atas kehendak, sedangkan kekuasaan yang terjadi pada anggota tubuh adalah kekuasaan atas gerak. Oleh karena itu pula, Shadra selanjutnya menyimpulkan bahwa sesungguhnya potensi dan kontingensi itu terjadi pada sesuatu yang material (madiyyat), sedangkan [kekuasaan—ae] yang pertama [kekauasaan pada Tuhan—ae] adalah aktualitas mutlak, maka bagaimana itu merupakan potensi? Dengan begitu, akal-akal aktif (al-`uqul al-fa`alat)itu seperti yang pertama dalam kemerdekaan dan kekuasaan, karena keduanya tidak menuntut kebaikan yang dianggap tetapi kebaikan yang sejati, dan tuntutan di sini mustahil ada yang dapat menghalangmya seperti yang terjadi pada diri manusia.

Menyangkut persoalan di atas, Mulla Shadra sendiri menegaskan bahwa kekuasaan Tuhan itu bersiafat azali dan tetap, sedangkan objek-objek kekuasaan Tuhan bersifat baru (haditsat)dan baru kejadiannya. Namun demikian, tidaklah saling meniadakan antara keyakinan bahwa ijad (penciptaan) itu abadi dengan wujud yang pengaruhnya itu dikatakan baru dalam menciptakan sesuatu yang dalam menuju keberadaannya itu tidak lain adalah berupa kemembaruan (tajaddud). Begitulah semua yang terjadi di alam fisika ini. Sedangkan gambar-gambar diferensia (al-shuwar al-mufaraqat) yang merupakan gambar-gambar dari nama-nama Tuhan dalam alam keputusan azali-Nya tidaklah termasuk perbuatan-perbuatan eksternal, tetapi termasuk ke dalam sifat-sifat Tuhan dan hijab-hijab cahayawi serta rahasia-rahasia keagungan-Nya, dan semua itu tidak dinamai dengan “alam” atau nama “selain Allah”. Oleh karena itu, menurut Shadra, mereka yang tidak fanatik buta, mereka yang meninggalkan taqlid dan mereka memiliki kearifan akan memahami bahwa kehendak Allah itu bersifat wajib al-wujub sebagaimana Diri-nya, karena kekuasaan Tuhan adalah Diri-Nya sendiri yang maha Ahad; “anna wajib al-wujud bi al-dzat wajib al-wujud min jami’ al-jihat,” tegas Shadra; dan kehendak itu menurut Shadra bukanlah maksud penciptaan, terutama penciptaan mutlak atau penciptaan awal bagi objek-objek tercipta yang paling dekat kepada-Nya atau kosmos paling mulia dari-Nya, karena maksud kepada sesuatu itu setelah sesuatu yang dimaksud itu telah tercapai. Dengan begitu tegas Shadra, “kehendak Allah SWT maknanya bukanlah maksud tapi maknanya bahwa Allah SWT itu murid[an] (Maha Berkehendak).” Artinya, menurut Shadra “annahu (subhanahu wata`ala) ya`qilu dzatahu ya`qilu nizham al-khayr al-mawjud fi al-kull min dzatih.” Menurut Shadra, sistem tersebut bersifat eksistensial dan emanatif, tidak menafikan Diri Sumber Awal, sebab Diri-Nya itu merupakan keseluruhan kebaikan eksistensial. Diktum filosofis yang banyak disebut Shadra berkaitan dengan kesimpulannya seperti itu adalah “al-basith al-haq kull al-asy-ya` al-wujudiyyah.” Mengacu kepadanya maka menurut Shadra suatu sistem yang paling paripurna bagi kosmos mungkin itu mengikuti sistem Tuhan yang paling mulia. Demikianlah pengetahuan Tuhan yang equivalen dengan kekuasan-Nya itu sendiri. Begitulah kehendak Tuhan yang tidak mengandung kekurangan dan kemungkinan. Makna kekuasaan seperti itulah yang menafikan penafsiran kekuasaan yang membolehkan dan tidaknya suatu perbuatan, sebagaimana yang dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki kedalaman menyangkut hikmah dan `irfan. Walhasil, Shadra, ketika menutup pembahasan persaolan ini, lagi-lagi menegaskan, “… inna ma siwallah min al-mukhtarin mudhtharr fi ikhtiyarih majbur fi iradatih.”

Agus Efendi, (2001), Kehidupan karya dan Filsafat Mulla Shadra, Pascasarjana IAIN SGD: Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: