Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah fi Al-Asfar Al-`Aqliyyah Al-`Arba`ah (Asfar)


Karya magnum opus Mulla Shadra, Asfar (9 jilid), diterbitkan oleh Dar Ihya Al-Turats Al-`Arabiyy, cetakan ketiga, Beirut, 1981, yang diberi Catatan kaki oleh enam ahli filsafat dan hikmah, yakni (1) Allamah Hakim Ustadz Ogha AH. bin Jamsyid Al-Nuri Al-Ishfahani, yang wafat pada tahun 1246 H,; (2) Al-Hakim Ustadz Maula Hadi bin Mahdi Al-Sabzawari, penulis Al-La`ali Al-Manzhumah, yang hidup antara tahun 1212 sampai tahun 1287 H. (3) Filososf terkenal Agha AH. Al-Mudarris bin Maula Abdullah Al-Zanuzi, penulis Badai` Al-Hikam, wafat pada tahun 1310 H.; (4) Allamah Hakim Mawla Isma`il bin Mawla Sami` Al-Ishfahani, wafat pada tahun 1277 H., murid AH. Al-Nuri; (5) Sayyid Muhammad Husein Thaba`thabai, guru besar filsafat dan hikmah Iran kontemporer, penulis tafsir terkenal Al-Mizan fi Tafsir Al-Quran.

Mengenai penambahan judul al-Asfar ke dalam judul Al-Hikmah al- Muta`aliyyah tersebut, menurut Shadra mengisyaratkan, dan sejalan dengan teori gerak empat perjalanan ruhani. Seperti dijelaskan oleh Shadra sendiri (Asfar, II, hlm. 13), di bawah ini:

“Ketahuilah bahwa para pejalan ruhani para `arif (sallak) dan wali memiliki empat perjalanan, pertama al-safar min al-khalq ila al-haqq (perjalanan dari makhluk menuju Tuhan); kedua, al-safar bi al-haq fi al-haq (perjalanan dengan Tuhan dalam Tuhan); perjalanan ketiga adalah kebalikan dari perjalanan yang pertama yaitu al-safar min al-haq ila al-khalq bi al-haq (perjalanan dari Tuhan menuju makhkuk dengan Tuhan); (perjalanan) keempat kebalikan dari perjalanan kedua yaitu perjalanan al-safar bi al-haq fi al-khalq (perjalanan de­ngan Tuhan di dalam makhluk). Buku ini penulis susun sejalan dengan gerak cahaya dan pengaruh mereka di atas empat perjalanan dan kuberi nama buku tersebut dengan Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah fi Al-Asfar Al-Arba`ah….” penerj.) dan aku beri nama Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah fi Al-Ashfar Al-Arba`ah… .”

Asfar merupakan salah satu dari sumber primer utama bagi studi pemikiran Mulla Shadra. Sebab, menurut para ahli tentang pemikiran Shadra Asfar merupakan karya magnum opusnya, seperti ditegaskan oleh Muhammad Khazawi, Muhammad Rizha Muzhaffar dan Mushsin Bidarfur.

Sedangkan Hossein Nasr, mengenai Asfar ini dalam Islamic Life And Thought (1981, hlm. 160), menulis:

“The writings of Mulla Sadra may be devided into those which deal primarily with intellectual sciences and those which concern them selves with religious questions. However, in his view these two paths toward the truth are never completely divorced from each other. Of the first category, the work which stands as one of the greatest monuments of metaphysics in Islam is al-Hikmat al-Muta`aliyyah fi al-Asfar al-Arba`ah (The Transcendent Theosophy for High Wisdom] Concerning the Four Journeys of the Soul) usually known as Asfar, which ini four books or four stages of a journey (safar, asfar being its broken plural) deals with the origin and end of all cosmic manifestation and the human soul in farticular.”

Sedangkan mengenai apa yang dibahas oleh Shadra di dalam Asfar, sekilas dapat dijelaskan sebagaimana di bawah ini:

Asfar Jilid I

Jilid ini memuat pembahasan mengenai Fisika, yang dibagi kepada empat —Shadra menyebutnya dengan—fann (seni). Fann yang pertama Shadra menjelaskan kategori kuantitas dan menetapkan keberadaan dan pembagiannya. Fann yang kedua oleh shadra dibagi kepada beberapa bab. Bab yang pertama membahas persoalan kateogiri kualitas; bab kedua kualitas-kualitas objek inderawi; bab ketiga kualitas- kualitas objek penglihatan, seperti warna, cahaya, hakikat dan pembagiannya; perbedaan antara dhau, nur, syu`a, dan barq;bab ke empat membahas kualitas-kualitas objek pendengaran, suara; bab ke lima membahas tentang kualitas-kualitas objek rasa dan objek penciuman, seperti rasa makanan, bau objek penciuman, kehendak, rasa nyeri dan lezat, rasa sehat, bahagia, sengsara, bentuk, karakteristik angka dan kualitas- kualitasnya. Fann ke tiga, mem­bahas kategori- kategori yang lain, aksiden, yang mencakup nisbah, tempat (al-ayn)dan jenis-jenisnya, waktu (mata)dan jenis-jenisnya, posisi (wadh`), jiddah, aktivitas (an-yaf`al), dan pasivitas (an-yanfa`il). Fann kempat, fann terakhir, membahas persoalan subtansi dan aksidensi; hukum- hukum dan pembagian keduanya.

Asfar Jilid II

Dalam jilid ke dua Asfar ini, Shadra membahas persoalan-persoalan umum atau persoalan-persoalan umum Ketuhanan (al-`ilm al-ilahiyy). Bab ini oleh Shadra dibagi kepada dua marhalah (periode); untuk marhalah yang pertama dibaginya lagi kepada dua metode (manhaj), dan masing-masing manhaj dibagi-bagi lagi kepada beberapa fasal. Sedangkan marhalah kedua langsung dibagi-bagi kepada fasal-fasal.

Pada fasal-fasal dan kedua marhalah ini Shadra membahas tema wujud bagi pengetahuan Tuhan, konsep wujud, ashalat al-wujud, karakteristik dan hakikat wujud; sedangkan dalam fasal-fasal manhaj kedua Shadra membahas persoalan-persoalan yang berkaitan dengan wujud pasti (wajib al-wujud)dan wujud mungkin (mumkin al-wujud/al-dzat)dan wujud mental (al-wujud al-dzihniy). Dalam jilid ini, Shadra dengan kata lain membahas persoalan-persoalan ontologis dan teologis.

Asfar Jilid III

Dalam jilid ini, Shadra lebih khusus lagi membahas persoalan-persoalan teologis, seperti persoalan hakikat Kalam Tuhan, Al-Quran, pengutusan para rasul, inayah Tuhan, kejahatan, kebaikan, hikmah penciptaan langit dan bumi. Di dalam jilid ini, Mulla Shadra juga membahas persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kerinduan, kecintaan manusia kepada Tuhan, derajat manusia dalam mencintai-Nya. Di dalam jilid ini juga dibahas persoalan kebaharuan alam fisika dan keharmonisan antara syariah dan falsafah

Asfar Jilid IV

Di dalam jilid ke empat ini, Shadra membahas persoalan potensi dan aksi; gerak dan diam, pembaharuan fisik material dalam perspektif ilmuninatif; keabadian dan kebaruan, keterkaitan anatara yang baru dan yang abadi, waktu; persoalan-persoalan yang berkaitand dengan epistemologi, seperti ilmu dan klasifikasi ilmu, derajat ulama, inteksi (ta`aqqul), akal dan objek-objek akal (ma`qulat), kesatuan akal dan objek-objek akal (ittihad al-`aqil wa al-ma`qul), derajat akal dan objek-objek akal.

Asfar Jilid V

Dalam jilid ini, Shadra membahas persoalan-persoalan antropologis. Jilid ini dimulai dengan bab ke delapan dan diakhiri dengan bab ke sebelas; masing-masing bab dibagi-bagi kepada fasal-fasal. Persoalan yang di bahas di dalam fasal-fasal dari bab-bab tersebut adalah persoalan penolakan atas reinkarnasi, jiwa, karakteristik manusia, karakteristik jiwa manusia, posisi dan derajat manusia, martabat spiritualitas (tajarrud), kebahagiaan dan penderitaan. Khusus dalam bab ke sebelas, Shadra membahas masalah-masalah eskatologi, seperti siksa kubur, kebangkitan, penghimpunan (hasyr), kondisi-kondisi kiamat dan martabat manusia pada waktu itu; masalah surga, neraka, siksa dan keabadian dan pembaharuan di dalam keduanya dan perjalanan ruhani (suluk) menuju Tuhan.

Menyimak dari tema-tema pembahasannya, Asfar jilid ke lima inilah tampaknya, selain jilid DC, di antara yang banyak menunjukkan pemikiran- pemikiran antropologis Mulla Shadra.

Asfar Jilid VI

Jilid ini membahas lebih banyak persoalan-persoalan fisikawi, yang dibaginya kepada enam fann. Antara lain, Shadra di dalam jilid ini membahas persoalan yang berkaitan dengan substansi fisika (fann ke satu), materi (fann ke dua), bentuk/shurah (fann ke tiga), karakteristik alam fisika (fann ke empat), pembaharuan alam fisika (fann ke lima), dan ontologi alam fisika dan relasinya dengan alam Tuhan (fann ke enam).

Asfar Jilid VII

Dalam jilid ini yang dibahas oleh Shadra adalah masalah esensi, genus, ma­teri, diferensia, aktivitas, bentuk, unitas, diversitas, sebab-akibat, kebebasan, perbedaan khayr dan jud, penolakan kejahatan eksistensial, wajib al-wujud dan mumkin al-wujud, nisbah hakikat wujud kepada mumkin al-wujud, dan lain-lain yang masih bertalian dengan persoalan filsafat wujud.

Asfar Jilid VIII

Jilid ini tampaknya lebih banyak membahas persoalan teologis. Pembahasannya dibagi menjadi enam—Shadra mengistilahkannya dengan—mawqif (tempat keberangkatan; tempat bersikap). Masing-masing mawqif dibagi-bagi lagi kepada beberapa fasal. Mawqif pertama membahas wajib al-wujud; mawqif kedua membahas sifat-sifat-Nya; mawqif ke tiga membahas pengetahuan tentang Tuhan; mawqif ke empat tentang kekuasaan-Nya; mawqif ke lima, kedudukan Tuhan sebagai yang maha Hidup; dan mawqif terakhir, kedudukan Tuhan sebagai Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Asfar Jilid IX

Dalam jilid ini, seperti juga dalam jilid V, Shadra membahas persoalan yang sangat berkaitan dengan persoalan antropologis, jiwa. Dengan kata lain, membahas persoalan-persoalan yang berkaitan dengan persoalan-persoalan psikologisnya (atau mungkin juga bisa diistilahkan dengan nafsologi), seperti menyangkut hukum-hukum jiwa, martabat dan esensi jiwa, subtansi dan spiritualitas jiwa, keberjumlahan dan keragaman potensi, relasi badan dan jiwa; pengetahuan-pengetahuan batin, imajinasi, hafalan, spiritualitas jiwa, dan kondisi-kondisinya.

Agus Efendi, (2001), Kehidupan karya dan Filsafat Mulla Shadra, Pascasarjana IAIN SGD: Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: