Hikmah Muta`aliyyah


Metode dan tujuan dari karya-karya Mulla Shadra.Dalam menulis karya-karyanya, Mulla Shadra memiliki metode dan tujuan yang unik. Sebagai penulis Mazhab Hikmah yang prolifik, Mulla Shadra (w. 1050 H) memiliki satu madrasah pemikiran saja yaitu madrasah pemikiran yang yang menyerukan kepada kita untuk mensintesiskan peripatetisme, iluminasionisme, dan Islam. Oleh sebab itu, seluruh karya Mulla Shadra fondasinya adalah ketiga hal tersebut. Seluruh tujuan dari karya-karya Mulla[1] Shadra adalah (1) membina kemuliaan manusia, dari relung kekurangan ke keparipurnaan spiritual, (2) menjelaskan tatacara (kayfiyyah) perjalanan ruhani menuju Allah SWT; “Tujuan kami di dalamnya adalah menjelaskan cara mencapai kebenaran (al-haqq) dan tata cara melakukan perjalanan ruhani menuju Allah.” (Al-Asfar, 1:90).

Lebih rincinya ada enam tujuan dari penulisan karya-karya Mulla Shadra. Tiga tujuan sebagai ushul dan tiga tujuan cabang (lawahiq). Termasuk ke dalam tujuan ushulnya adalah (1) pengetahuan tentang Kebenaran Awal (Tuhan), sifat-sifat dan pengarah-pengaruh-Nya (fann al-rububiyyah; sejenis teologi) yang merupakan bagian dari pembahasan metafisika umum (al-falsafah al-kulliyyah). Ontologi; (2) pengetahuan tentang shirath al-mustaqim, derajat menaik kepada-Nya, dan kayfiyyat al-suluk (tata cara perjalanan ruhani) menuju Dia. Nafsologi dan epistemologi; (3) pengetahuan tentang ma`ad dan kondisi-kondisi mereka yang sampai kepada-Nya. Eskatologi. Sedangkan yang temasuk ke dalam tujuan cabangnya adalah (1) pengetahuan tentang bi`tsah (profetologi); (2) pengetahuan tentang para penolak jalan ruhani; (3) pengetahuan tentang akhlak; pengajaran mengenai manzilah dan marhalah safar ruhani dan riyadhah-riyadhah ruhaniyyah.

Dalam menulis karya-karyanya, secara metodik Mulla Shadra melakukan tiga pendekatan: pendekatan logika (dalil-dalil logika; al-adillah al-manthiqiyyah), pendekatan kasyfi dan kesaksian irfani, dan pendekatan sam’i (perujukan dan penyaksian dalil-dalil sam’i). Boleh dikatakan pula bahwa hampir seluruh karya Mulla Shadra, terutama magnum opus-nya., Al-Asfar, didekati dengan dua maslak: maslak ‘irfani (seperti untuk Al-Syawahid Al-Rububiyyah dan Asrar Al-Ayat wa Al-Waridat Al-Qalbiyyah) dan maslak bahtsi (dialektis/analitis-filosofis) seperti untuk karyanya yang lain, Syarahnya atas Al-Hidayah Al-Atsiriyyah, karya Atsiruddin Mufadhdhal Al-Abhari (w. 663 H) dan Syarahnya atas Ilahiyyat Al-Syifa` karya Ibnu Sina (370/980-428/1037). Mengenai sintesis pendekatan yang dilakukan oleh Mulla Shadra ini, Muhammad Ridha Muzhaffar, guru besar filsafat, menulis, “… sesungguhnya ia memiliki satu pemikiran yang diperjuangkannya bagi setiap karyanya … bahwa syariat dan `aql adalah dua hal yang sejalan. Dan pemikiran dalam itu memiliki dua sisi: dukungan `aql atas syariat, yang untuk itu ia menulis buku-buku filsafat dengan tujuan mendukung syariat Islam dengan filsafat, dan dukungan syariat untuk akal, yang untuk itu ia menulis buku-buku agama dengan tujuan mendukung filsafat dengan syariat Islam. Dengan demikian, kita dapat memandang karya-karya filsafatnya sebagai karya-karya keagamaan, yakni sebagai karya-karya teologis, dan memandang karya-karya keagamannya sebagai karya-karya filsafat. Inilah pengertian yang telah saya jelaskan sebelumnya bahwa karya-karya keagamaannya merupakan perpanjangan bagi karya-karya filsafatnya.”[2]


[1] (1) Al-Asfar Al-Arba`ah, (2) Al-Mabda wa Al-Ma`ad, (3) Al-Syawahid Al-Rububiyyah, (4) Asrar Al-Ayat, (5) Al-Masya`ir, (6) Al-Hikmah Al-`Arsyiyyah, (7) Syarh Al-Hidayah Al-Atsiriyyah, (8) Syarh Ilahiyyat Al-Syifa, (9) Risalat AI-Huduts, (10) Risalat Ittishaf Al-Mahiyyat bi Al-Wujud, (11) Risalat Al-Tasyakhkhush, (12) Risalat Saryan Al-Wujud, (13) Risalat Al-Qadha` wa Al-Qadar, (14) Risalat Al-Waridat Al-Qalbiyyah, (15) Risalat Iksir Al-`Arifin, (16) Risalat Hasyr Al-`Awalim, (17) Risalat Khalq Al-`A`mal, (18) Surat kepada Mawla Syamsa al-Jaylani, (19) Jawaban atas Tiga pertanyaan Khawaja Nashiruddin Thusi, (20) Risalat Al-Tashawwur wa Al-Tashdiq, (21) Risalat fi Ittihad Al-`Aqil wa Al-Ma`qul, (22) Kasr Al-Ashnam Al-Jahiliyyah, (23) Jawabat Al-masa`il Al-`Awishah, (24) Risalat Hall Al-Isykalat Al-Falakiyyah fi Al-Iradat Al-Juzafiyyah, (25) Hasyiyah `ala Syarh Hikmat Al-Isyraq, (26) Risalat fi Al-Harakat Al-Jawhariyyah, (27) Risalat fi Al-Alwah Al-Ma`adiyyah, (28) Hasyiyat `ala Al-Kawasih, karya Mir Damad, (29) Syarh Ushul Al-Kafi, (30) Risalat Al-Mazhahir Al-Ilahiyyah fi Asrar Al-`Ulum Al-Kamaliyyah, (32) Tafsir Al-Quran Al-Karim, (33) Tafsir Surat Al-Dhuha.

Agus Efendi, (2001), Kehidupan karya dan Filsafat Mulla Shadra, Pascasarjana IAIN SGD: Bandung.

[2] Dalam Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah, jilid II, penerbit Dar Ihya al-Turats Al-`Arabi, Beirut (1981),. p. kaf.

11 Tanggapan to “Hikmah Muta`aliyyah”

  1. Jangan lupa kirimi saya karya2nya ya. Hatur Nuhun

  2. gita permana Says:

    kang punya karya-karya mulla shadra? saya pinjem lah…….lagi butuh ni kang…kalo mau contak2 kmn nih…..saya butuh pisan kang..makasih..

    • di blog ini lumayan ada beberapa tulisan, sok aja di copy paste… saya punya copian asfar sembilan jilid dan beberapa buku dalam bahasa indonesianya. ayo ah sambil kita diskusi, saya juga tertarik sekali dengan pemikiran shadra…

  3. gita permana Says:

    ayo ah kita diskusi…saya ga tau pisan tentang mulla shadra makanya saya pengen tau… pengen baca baca bukunya…..

  4. gita permana Says:

    kang saya pinjem karya sama buku2nya mulla shadra dong…

  5. dimana emang tinggal? add atuh fb nya ya…

  6. gita permana Says:

    bandung kang….daerah UPI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: