Beberapa Prinsip Umum Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah


Termasuk yang dapat dipandang sebagai prinsip umum pemikiran al-hikmah al-muta`aliyyah adalah sebagai berikut:

1.       Realitas adalah sesuatu yang tidak dapat diragukan. Sofisme adalah sesuatu yang tertolak. Bahkan, menurut Shadra, sekiranya pengingkaran atas realitas itu (sofisme) benar-benar terjadi maka hal itu juga merupakan realitas.

2.       Pengada adalah asal yang paling prinsip (al-ashl al-ashil); pengada merupakan Hakikat dan rumah rahasia ilahi (haqiqat dar al-asrar al-ilahi), sedangkan semua esensi (al-mahiyyat) merupakan persoalan relatif yang melazimkan martabat pengada dan degradasinya.

3.       Pengada sendiri memiliki sifat, hukum dan aksioma-aksioma yang sejati, antara lain: ilmu, hidup, unitas, wujub, kesederhanaan (basathah), aktivitas (fi`liyyah), dll.

4.       Pengada merupakan hakikat gradual yang bermartabat, dimulai dari Al-Wajib bi Al-Dzat hingga materi pertama. Hanya saja, para fllosof dan kaum gnostik berbeda pendapat di seputar persoalan unitas gradual (al-wahdah al-tasykikiyyah) ini. Apakah ia hakikat pengada atau manifestasi dari hakikat?

5.       Hakikat pengada merupakan tajalli sejati dari martabah ahadiyyah.

6.       Pengulangan tajalli tidak pernah terjadi; paling lazim, pengulangan hanya terjadi pada al-huwiyyat al-syakhshiyyah al-wujudiyyah (kuiditas-personal pengada).

7.       Tajalli (teofani) adalah hamzat al-washl antara al-haqq dan al-khalq. Ia merupakan  limpahan qudsi pada martabat ahadiyyah; limpahan yang disucikan pada pengada yang ditebarkan pada martabat kehendak dan aksi.

8.       Pengada itu memiliki gerak menurun (zhurat tanazzuliyyah) kepada materi pertama tanpa harus mengganggu kegaiban Diri-Nya yang paripurna dan tak terbatas. Begitu juga, pengada memiliki gerak transubtansial menaik ke alam rahasia kegaiban. Bagi Mulla Shadra, materi tidak terpisah dari alam malakut. Bahkan, materi memiliki probabilitas untuk berubah menjadi pengada malakuti.

9.       Unitas (wahdah) pengada tetap terpelihara baik dalam tanazulat (gerak menurun) maupun dalam tasha`udat (gerak menaik).

10.   Setiap yang bergerak itu bergerak dalam kesempurnaannya menuju prinsip- prinsip pelakunya yaitu gambar kesempurnaan. Bagi Mulla Shadra, istikmal (gerak menyempurna) adalah perjalanan menuju awan (al-sayr ila al-bidayat). Dengan begitu, aksiomanya adalah bahwa al-bidayat hiya al-nihayat. Perhatikan isyarat ayat Al-Quran yang berbunyi, “huwa al-awwalu wa al-akhiru”.

11.   Jiwa manusia pada dasarnya kesempurnaannya dimulai dari materi hingga ia terabstraksikan darinya dan dari derivat-derivatnya; pada awalnya, jiwa manusia adalah nau` by potential dan akhir geraknya adalah nau` by action.

12.   Hakikat tempat kepulangan akhir (ma`ad) metafisika adalah kepulangan transubtansial ke rumah akhirat; kepulangan akhir adalah kepulangan sesuatu kepada kehidupan yang sejati.

13.   Pengada-pengada bergerak yang transubtansial menyatu dengan gambar-gambar keparipurnaannya.

14.   Hakikat gerak kesempurnaan (istikmal) terjadi melalui metode al-lubs ba`d al-lubs, bukan al-lubs ba`d al-khaf. Lubs sendiri melazimkan penanggalan kekurangan- kekurangan dan ketiadaan-ketidaan (al-naqa`ish wa al-a`dam).

Agus Efendi, (2001), Kehidupan karya dan Filsafat Mulla Shadra, Pascasarjana IAIN SGD: Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: