Anasir Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah[1]


Mengenai hal ini, menurut Muhammad Khajawi filsafat Islam dan filsafat di luar Islam masing-masing unsurnya telah dijadikan anasir bagi filsafat Mulla Shadra. Unsur-unsur tersebut telah dipadukan dengan kuat dalam bentuknya yang `aqli dan suluki. Irfan, pandangan-pandangan keagamaan, prinsip-prinsip rasional logika dan filsafat benar-benar telah membentuk anasir utama filsafat tersebut.

Menurut Khajawi, apa yang telah dilakukan filosof kita ini atas anasir tersebut adalah: Pertama, mendalami pandangan-pandangan filsafat, keagamaan, dan irfan dengan tidak memihaki terlebih dahulu dari masing-masing unsur tersebut kecuali jika ia berdasarkan argumentasi yang kuat. Untuk itu ia benar-benar menelaah kelebihan dan kekurangan mulai dari filsafat Yunani, Persia, dan pandangan-pandangan keagamaan Islam. Kedua, mengeliminasi dari masing-masing unsur di atas ekstriminas dan dialektika tak berujungnya dengan berfokus pada pengetahuan filsafatnya yang luas. Ketiga, mendalami pandangan-pan­dangan mazhab kalam untuk mengeliminasi dialektikanya yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip logika yang benar dan sebaliknya mengambil pandangan-pandangan dialektis Kalam yang sejalan dengannya. Keempat, mempelajari mazhab tafsir Al-Quran yang dengannya diperoleh pengetahuan luas mengenai Kitab Ilahi dan pandangan-pandangan keagamaan Islam yang untuk selanjutnya pengetahuan luas tersebut dijadikan dukungan bagi pandangan-pandangan filosofisnya, sehingga ia menjadikan mazhab-mazhab tafsir tersebut dan konklusi-konkulisinya sebagai unsur dalam filsafatnya. Kelima, memikirkan persolan pengada (wujud) sebagai persoalan yang mandiri. Keenam, dari perjuangan keras studi pemikiran tanpa hentinya itu selanjutnya ia melahirkan sebuah metode baru pemikiran yang didasarkan pada prinsip-prinsip holistik yang unik. Ketujuh, dengan metode di atas tersingkaplah olehnya prinsip-prinsip filosofis dan ilmiah yang baru serta banyak persoalan yang bernilai tinggi di seputar persoalan pengada agung tanpa henti (al-wujud al-`azhim al-lamutanahi). Prinsip-prinsip demikian telah mentransformasikan filsafat Islam kepada bentuknya yang baru dengan berbasis nilai yang baru. Dari sinilah lahir Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah.

Sejalan dengan apa yang telah dilakukannya di atas, maka anasir Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah seperti disimpulkan oleh Muhammad Khajawi[2] adalah: Pertama, logika formal (al-manthiq al-shuriyy) atau yang disebut dengan logika Aristotelian. Kedua dan ketiga, pengada (wujud) yang oleh Mulla Shadra dijadikan titik tolak bagi setiap pemikiran filsofisnya. Persoalan-persoalan filosofis dibangun atas dasar-dasar dan kaidah-kaidah pengada. Dasar-dasar dan kaidah-kaidah tersebut dijadikannya sebagai prinsiip-prinsip awal (al-ushul al-awwaliyyah). Begitulah hal tersebut sebagai salah satu unsur metode Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah yang menjadikan filsafat sebagai manifestasi spesifik bagi prinsip-prinsip pengada. Dengan kata lain, aksioma-aksioma tentang wujud itu merupakan prinsip bagi seluruh aksioma metafisika; hakikat pengada adalah titik tolak prinsipal kepada seluruh pemikiran dan realitas. Dengan demikian, menurut Khajawi, metode Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah adalah metode logika-matematis yang perjalanannya dimulai dari sejumlah dasar dan prinsip yang aksiomatis (dharuriy). Keempat, ajaran-ajaran keagamaan Islam. Kelima, prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran irfan. Dengan begitu, Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah dapat dikatakan sebagai Falsafah yang Irfani atau sebaliknya, Irfan yang Falsafi. Keenam, al-suluk al-irfani. Melalui metode suluk irfani isyraqi ini Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah mengajarkan kepada setiap salik (musafir ruhani) untuk menyingkapkan rahasia-rahasia dan kebenaran-keberanan dzawqi dengan tetap berdasarkan pada `aql-nya. Begitulah Mulla Shadra menjadikan suluk irfani isyraqi ini sebagai salah satu metode pemikirannya yang transendental (muta`ali).

Agus Efendi, (2001), Kehidupan karya dan Filsafat Mulla Shadra, Pascasarjana IAIN SGD: Bandung.


[1] Sebagai sebuah istilah, Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah pertama kali digunakan oleh Ibnu Sina. Mengenai hal ini, Muhsin Bidarfur menulis, “Agaknya orang yang pertama kali menggunkana istilah ini adalah Ibnu Sina. Ia mengatakan hal itu dalam fasal kesembilan, jilid III Al-Isyarat: “Tstimma in kana ma yaluhu dharb min al-nazhar masturaan illa `ala al-rasikhin fi al-hikmah al-muta`aiyyah…”. Ditunjukkan juga oleh Muhsin Bidarfur, ketika mengantarkan Tafsir Al-Quran Al-Karim karya Mulla Shadra (1:22), bahwa istilah Al-Hikmah Al-Muta`aliyyah ini juga digunakan oleh Al-Thusi (dalam Syarh Al-Isyarat, 7:juz 3, p. 401) dan Al-Qayshari dalam Syarh-nya atas Fushush Al-Hikam karya Ibnu `Arabi (Rasa`il Al-Qayshari, p. 15; nushush falsafiyyah, p. 239.

[2] Dalam pengantarnya kepada Mafatih Al-Ghaib Karya Mulla Shadra, cet. Muassasah Muthala`at wa tahqiqat Farhang-e Anjuman Island Himat wa Falsafeh Iran, tt. p. mim waw w-mim tha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: