Fajar Hikmah Muta`aliyah


Hikmah Muta`aliyyah (HM) adalah filsafat yang paripuma yang dikembangkan filosof Muslim, Muhammad bin Ibrahim Shadruddin Syirazi yang juga dikenal Shadrul Muta`allihin atau bisa juga disebut dengan Mulla Shadra.

HM adalah sejenis teosofi Islam yang mampu menggabungkan keunggulan filosofis, keyakinan tradisional, dan pengalaman penyingkapan. HM merupakan buah pemikiran Islam yang matang di lingkungan kota ilmiah Islam sendiri, seperti Iran, Syiraz, Isfahan,dan Qum.

Sebagai filsafat, HM adalah filsafat yang terbina pada pribadi Muslim Timur, yang kepribadian ilmiahnya berkembang di lingkungan wilayah Islam di atas.

Mulla Shadra, putera dan genius pemikiran Islam tersebut di atas, semula mempelajari filsafat, matematika, fikih, dan hadis. Setelah itu, ia mempelajari irfan kepada Mir Damad dan Syekh Islam Baha`uddin al-`Amuli. Selanjutnya, ia mandiri dalam menggabungkan metode suluk irfani dan pemikiran demonstratif (al-suluk al-`irfani wa al-tafkir al-burhani), hingga ia mengalami pencerahan hati dan kematangan intelektual. Dengan anugerah keduanya itu, dia berhasil mengkombinasikan antara filsafat dan gagasan-gagasan keagamaan Islam, dari satu segi, dan dari segi lain, antara filsafat dan irfan. Selanjutnya, setelah itu, ia berhasil merajut keunggulan- keunggulan unsur peripatetisme, iluminasionisme, irfan, dan agama. Di tangannya, semua itu menjadi satu kesatuan sebagai Muta`aliyyah yang bisa di pandang sebagai fajar baru yang menyingsing dari Timur bagi peradaban pemikiran dan filsafat baru Islam. HM merupakan tindakan pemikiran yang bersifat suluki, yang dikembangkan oleh Mulla Shadra. Dengan HM, peradaban manusia Islam hendak diorientasikan kepada prinsipnya yang utama, yaitu prinsip kesatuan wujud (tawhid al-wujud). Termasuk unsur-unsur HM dalam filsafat Mulla Shadra adalah sebagai berikut: Pertama, unsur filsafat, pandangan-pandangan agama, dan irfan. Kedua, unsur penolakan terhadap pandangan-pandangan filsafat dan irfan dan dialektikanya yang sebenarnya dipandang bertentangan dengan prinsip-prinsip filsafat dan irfan itu sendiri. Ketiga, unsur positif kalam yang dipelajarinya. Dan untuk selanjutnya, ia melakukan penolakan terhadap argmentasi-argumentasi kalam yanag semata-mata demi dialektika itu sendiri, yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip kekuatan logika. Sebaliknya, ia pun mengambil keunggulan gagaasan-gagasan kalam yang sejalan dengan prinsip-prinsip logika tersebut. Keempat, unsur hermeneutika yang diraihnya dari tafsir-tafsir Al-Quran. Hal itu bisa dilakukannya karena ia sebagai filosof juga adalah seorang tradisionalis. Terbukti dari penguasaannya atas khazanah-khazanah ilmiah tradisional Islam, seperti Ulum Al-Quran dan Ulum Al-Hadits. Bahkan untuk keduanya, Mulla Shadra memersembahkan Tafsir Al-Quran Al-Karim dan syarah atas Kitab Hadis Al-Kafi. Bahkan pula, di tangan Shadra justru Tafsir Al-Quran itu telah merupakan wahana bagi pemahaman-pemahaman filosofisnya yang sejati. Demikian juga sebaliknya, seluruh karya filsafatnya lebih merupakan manifestasi dari pemikiran tradisionalnya. Kelima, dalam HM pemikiran tentang wujud benar-benar mendapatkan perhatian yang sangat serius, utama dan mandiri. Keenam, dari perdebatan-perdebatan pemikiran-pemikiran di atas Mulla Shadra berhasil membangun basis metodologis pemikiran Islam yang kombinatif, unik, dan integratif. Ketujuh, dengan tindakan di atas, berarti Mulla Shadra telah membangun suatu paradigma baru pemikiran Islam. Sebuah paradigma pemikiran yang secara metodologis bersifat kombinatif. Paradigma pemikiran yang mampu mengombinasikan akal dan hati, sebagai alat pengetahuan, serta Al-Quran dan Sunnah sebagai sumber keyakinan filosofis dan rasional.

Dalam konteks pemikiran, secara metodologis, Mulla Shadra melalui tahapan-tahapan berikut:

Pertama, ia berangkat dari keyakinan akan keajegan logika umum ma­nusia. Kedua, semua fraksis pemikiran filosofisnya itu, ia berangkatkan dari titik realitas. Dengan kata lain, eksistensi wujud merupakan titik tolak bagi setiap perjalanan pemikiran filosofisnya. Ketiga, ia bangun asumsi-asumsi metafisisnya di atas asumsi-asumsi ontologis. Dengan begitu, jika hakikat wujud merupakan titik tolak yang prinsipil menuju seluruh lapangan pemikiran dan realisme, maka metode muta`aliyah pun merupakan metode logika matematis yang berangkat dari sejumlah prinsip aksiomatik, dan dari situ selanjutnya menuju wilayah-wilayah yang lebih jauh lagi. Keempat, pandangan-pandangan keagamaan Islam, oleh Mulla Shadra, telah pula dijadikan sebagai reposisi dengan kedudukan prinsip-prinsip rasional. Bahkan, sesekali pula diposisikan sebagai kebenaran-kebenaran entitas ekstemal. Dan dari situ, ia mencabangkannya menjadi kesimpulan-kesimpulan rasional metafisis dan menafsirkannya, serta menjelaskannya sebagaimana ia menafsirkan realitas-realitas eksternal dan kejadian-kejadian korporeal. Ia menyandarkan tindakannya itu kepada pernyataan bahwa pandangan-pandangan keagamaan itu, pada karakteristiknya, bermula dari prinsip rasional dan eksistensial.

Kelima, prinsip-prinsip dan pengalaman-pengalaman irfani. Metode ini dibangun dalam metodologinya, dan ia tafsirkan sesuai dengan kaidah-kaidah rasional, dan merajutnya dalam suatu rajutan filosofinya, sehingga filsafatnya terkesan merupakan percikan-percikan dari pengalaman-pengalaman kasyfi-nya. Bahkan, filsafatnya adalah irfan-nya itu sendiri. Dan sebaliknya.

Keenam, suluk ifrani, meskipun yang bernama suluk itu tidak bernama pemikiran, namun Mulla Shadra menjadikan suluk ini sebagai bagian dari metodologi pemikirannya. Keyakinannya adalah bahwa suluk irfani merupakan wahana pencerahan dan akal. Melalui suluk irfani ini pula, ia meyakini bahwa ia banyak mengatasi berbagai persoalan yang tak tersentuh oleh banyak pemikir lainnya. “Shadrul Muta`allihin, telah menjadikan suluk irfani sebagai unsur pemikirannya yang muta`ali (teosofis) berada dalam metodologinya,” tulis Muhammad Khajawi.

Agus Efendi, (2001), Kehidupan karya dan Filsafat Mulla Shadra, Pascasarjana IAIN SGD: Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: