Sang pencari di dunia tiga dimensi


Mungkinkah banyak dari kita yang belum—dalam beberapa hal—mendengar bisikan batin, “Apakah ada hal lain, selain kehidupan yang Anda alami sekarang”? Dan kita mulai mencari sesuatu yang tersembunyi berupa kemegahan ruhani yang ingin bersinar. Dengan fokus pada sesuatu yang tak terhingga, pada kemegahan keilahian, dan pada hubungan dengan sumber kreatif, kita dapat mulai menggali lebih dalam aspek ruhani dan ekspresi fisik sebagai manusia.

Apakah manusia diciptakan untuk menjadi agen percepatan dari kreativitas Tuhan? Kemampuan manusia untuk menciptakan dan memahami jauh lebih besar dari jenis makhluk dunia lainnya. Berbagai teks agama menunjukkan kemungkinan pikiran secara murni intrinsik mengandung “kuman” keilahian. Konfusianisme menyatakan: “Apakah kebaikan memang begitu jauh? Jika benar-benar ingin kebaikan, kita dapat menemukan itu di sisi kami”. Allah menjelaskan dalam Al-Quran, “Lebih dekat daripada urat nadi”, mengetahui semua pikiran dan keinginan seseorang, dan tinggal di dalam hati manusia. Sufi menafsirkan perumpamaan Al-Quran tentang lampu sebagai pernyataan kehadiran Tuhan dalam hati manusia. Dalam agama Hindu, Sikh, dan Jainisme, imanensi Ilahi digambarkan secara ontologis: realitas tertinggi yang berada pada dirinya sendiri.

Namun, hidup di dunia tiga dimensi menemukan contoh keterbatasan kemampuan untuk menggambarkan Tuhan dan hubungan kita dengan-Nya. Kisahnya dapat dilihat dalam buku yang berjudul, Wisdom from World Religions: Pathways Toward Heaven on Earth, yang memberikan contoh kemungkinan hubungan ini.

Apakah sang pencari pencipta pohon apel?

Seorang pemuda berinisial “J” mewarisi pertanian subur dan produktif sebuah kebun apel besar yang terletak di bagian belakang rumahnya. Keberadaan kebun ini sudah diketahui di seluruh wilayahnya karena menghasilkan apel terbaik. Pada musim panen telah tiba, orang-orang dari jauh pun berdatangan memilih dan membeli apel tersebut. “J” menyambut setiap orang yang datang untuk membeli apel dan memang buahnya selalu berlimpah.

“J” memiliki hubungan khusus dengan kebunnya. Dia ingat sekali, sebagai anak laki-laki, mengikuti jejak ayahnya untuk merawat pohon-pohon apel. Ketika sang ayah berinisial “Y” memberinya panci berisi biji apel untuk ditanam. Benih-benih kecil tumbuh menjadi pohon muda yang “Y” tanam di tanah. Dia melihat keajaiban mengagumkan dari pohon apel yang tumbuh dari benih kecil, menjadi sebuah pohon yang indah, berbunga, dan akhirnya menghasilkan buah lezat. “J” belajar banyak tentang pohon apel. Dia mempelajari bagaimana pohon mengangkut air dari akar melalui pembuluh dan menjadi bunga indah yang harum. Dia melihat lebah berkerumun di sekitar bunga, menghisap sarinya untuk membuat madu. Tahun-tahun berlalu dan “J” tumbuh menjadi dewasa, ia mengamati pohon-pohon apel yang mampu bertahan dari badai dan kesulitan lainnya untuk kembali mekar di musim selanjutnya dan menghasilkan lebih banyak buah lezat di musim berikutnya.

Suatu hari, ketika duduk di bawah pohon apel, “J” mengalami “pencerahan”. Secara sadar dia tahu banyak tentang pohon apel dan dengan mudah bisa menggambarkan atributnya. Tapi kemampuan mempersepsi pohon tidak seluas pemahaman kepada Sang Pemiliknya! Masih bersandar di bawah pohon apel dengan matahari yang hangat membelai bahu, angin lembut mengacak-acak rambut, “J” menyadari bahwa ia hanya tahu sedikit tentang Penciptanya, tidak seperti pengetahuannya kepada pohon apel!

Mengapa berharap untuk bisa menggambarkan Pencipta ketika kita tahu sedikit tentang keilahian? Mungkin ada orang yang belum mengetahui, bahkan satu persen saja dari apa yang ia bisa pelajari tentang keilahian. Misalnya, hanya dalam dua abad terakhir, bukankah penelitian sains menemukan banyak informasi yang tak terbayangkan sebelumnya tentang kosmologi, realitas sub-atomik, elektronik, dan aktivitas selular? Contoh percepatan penemuan dapat ditemukan dari hasil penelitian dalam berbagai bidang seperti kedokteran, pertanian, dan elektromagnetisme. Bisakah penemuan lebih dahsyat dilakukan mengenai realitas spiritual dasar seperti cinta tak terbatas, tujuan, kecerdasan, kreativitas, dan doa?

Apakah Anda Sang Pencipta pohon apel? Bukti menunjukkan bahwa manusia diciptakan melalui kasih-sayang yang tak terbatas dan benar-benar berkembang ketika mampu memancarkan sesuatu yang tak terbatas pula, yaitu berupa luapan cinta kepada Sang Pencipta dan bagi setiap manusia lainnya—tanpa kecuali.

Manusia menerima begitu banyak berkah dari Ilahi. Manusia selalu memiliki kesempatan untuk mengambil substansi spiritual sebanyak yang ia pilih untuk menerima dan menggunakannya. Ketika manusia mulai menyadari dan menghargai keajaiban penciptaan, ia sungguh sedang berada dalam proses yang menguntungkan. Manusia bisa bercermin dari substansi pohon apel dalam cerita di atas: indah, harum, vital, produktif, diisi dengan tujuan, dan bermanfaat bagi banyak orang.

2 Tanggapan to “Sang pencari di dunia tiga dimensi”

  1. imas sumarni Says:

    Hmm…menarik. Dengan kekuatan spiritual/doa, alam/sipembuat apel mendengar rintihan si petani pepaya. Ketika orang disekitar sudah mengganggap dia gila karena setiap hari selalu mengusap-usap pohon pepaya seraya berkata”Ya Rabb berilah rizki untuk sekolah anak-anak kami”Sipembuat apel pun respon maka keajaiban pun datang pepaya berbuah lebat ketika petani lain sudah berputus asa menebangi pohon pepaya.

    Luar biasa! ini kisah nyata lho… menyaingi kisah sipetani apel kwkwk…

  2. di setiap saat, akan ditemui keajaiban-keajaiban yang mengejutkan…. semoga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: