Siapakah sang pencari?


Sebelum mempertimbangkan tempat manusia dalam realitas universal, mungkin akan membantu bila melihatnya sebagai makhluk individuals. Manusia memiliki fisik yang dapat melihat dan menyentuh. Manusia juga memiliki pikiran yang berpikir dan bisa merasakan emosi. Manusia adalah jiwa-jiwa yang merasakan kebenaran, keindahan, kebaikan, cinta, dan memiliki bagian ruhani yang begitu setia menuntun ke depan. Inti dari aspek-aspek menjadi manusia adalah sebagai kapten kapal kepribadian, memilih, memutuskan, bertindak, dan tentu saja menentukan hidup.

Jiwa kita memiliki potensi untuk berhubungan dengan Tuhan—dengan nama apapun manusia menyebut Sang Pencipta itu. Manusia dapat merasakan adanya keberadaan Pencipta dari ekspresi kemegahan cinta, kehidupan, kreativitas, perdamaian, keindahan, kasih sayang, persahabatan, dan banyak lagi. Bisakah kita akan merindukan sesuatu yang tersembunyi di dalam? Apakah kita sudah dipenuhi dengan kekuatan Ilahi terhadap tujuan yang diinginkan? Apakah hidup petualangan dapat mengembangkan potensi keilahian kita? Mungkinkah ini bagian dari alasan mengapa kita diciptakan? Apakah dorongan untuk hidup secara kreatif yang berasal dari imajinasi batin merupakan bisikan Ilahi yang mendorong menjadi ekspresi kita, seperti ide-ide kreatif? Apakah ini bagian dari penelitian kreatif luar biasa yang dapat bersinar melalui pikiran, perasaan, kata-kata, perbuatan, dan cara kita menjalani hidup?

Kita hidup, sadar atau tidak sadar, di bawah prinsip-prinsip spiritual dan hukum-hukum universal kehidupan yang dapat mencerminkan pergerakan energi Sang Pencipta melalui setiap orang. Mungkin dengan membiasakan reflektif, inovatif, dan seimbang—sambil melakukan yang terbaik setiap hari—membantu kita membuat kemajuan yang signifikan terhadap tujuan mulia. Ide keilahian bagi kehidupan tampaknya jauh lebih besar dari yang kita bayangkan sebelumnya. Seringkali saluran eksplorasi baru terbuka untuk mengekspresikan hal yang lebih besar dan berhasil. Manusia mulai membangun cara hidup yang sebenarnya, dengan kesadaran, partisipasi, dan mungkin dengan kreatif.

“Tujuan” bagi Sang Pencari

Daniel H. Osmond menulis:

Tujuan harus dilakukan sampai akhir, “Hal itu demi martabat keberadaan manusia”. Seseorang dapat menanyakan tujuan dari alam semesta, dunia, makhluk bernyawa umumnya, atau dari manusia secara khusus. Dan, dalam kaitannya dengan manusia, beberapa tingkat tujuan dapat diidentifikasi mulai dari persyaratan dasar untuk bertahan hidup, gratifikasi di akhir, mencari kepuasan intelektual, dan isu-isu spiritual dari kehidupan. Cepat atau lambat, orang bijak bertanya, “Untuk apa kepentingan (tujuan) keberadaan saya?” Kebanyakan dari kita melakukannya ketika menghadapi krisis. Tapi, tentu saja tujuan hidup tidak harus lebih dipikirkan hanya di saat krisis, seperti merenungkan tujuan memiliki mobil hanya pada saat kecelakaan lalu lintas. Tujuan dapat berkisar dalam lingkup untuk bertahan hidup dengan cara berkelahi seperti zaman primitif, lalu naik ke tingkat tertinggi mencari aspirasi intelektual, spiritual, dan pencapaian. Manusia perlu menemukan “tujuan yang benar” bagi seluruh kehidupannya, jika hal itu tercapai, maka dia eksis.[1]

Sebagai manusia, terkadang kita akan melompat dari tebing. Kita mungkin memiliki kehendak bebas, tapi pada saat ini dalam hukum evolusi tidak punya pilihan bebas. Paling tidak, ada sedikit pilihan, melompat dari tebing dengan kehidupan yang penuh keimanan, atau kita akan didorong dari tebing (oleh kehidupan).

Sarana untuk melompat dari tebing adalah melepaskan mental dan fisik atau berpegangan kepada orang-orang yang telah kita percaya. Kita harus melepaskan semua konsep lama, semua perbendaharaan teori, pikiran yang membebani, maupun ketergantungan hubungan pribadi. Dalam rangka itu, kita harus melakukan gerakan realistis dan sadar bahwa terdapat dua dunia paralel—keberadaan dunia spiritual dan dunia materi—untuk melompat dari tebing! Hal itu tidak berarti akan kehilangan orang-orang tercinta dan hal-hal yang dicintai saat ini, tapi kita harus melepaskan ketergantungan pada mereka.[2]

Fase paling menarik dari perjalanan manusia adalah pengembangan spiritualnya. Pesona kemanusiaan memiliki dimensi spiritual, tetapi masih seperti daerah kekuasaan yang tersembunyi. Prinsip yang mendasarinya terletak di belakang peristiwa sehari-hari yang tumbuh dan diambil hasilnya pada abad-abad berikutnya. Setiap penjelasan baru tampaknya membuka pertanyaan mendalam, seolah-olah hanya berupa garis besar dan penjelasan pengamatan dengan model yang hanya mendekati kebenaran. Tetapi spiritualitas akan menyebar dan menjadi energi dimensi kreatif terhadap pemahaman baru bagi manusia masa depan.[3]

Manusia hidup di dunia spiritual dan setiap individu yang diciptakan di dunia menurut gambar Tuhan dengan hadiah yang unik serta bertujuan untuk menggunakan karunia-karunia yang memberikan nilai kepada dunia.

Tujuan sudah di tanam dalam diri manusia. Hal ini hanya menunggu untuk ditemukan. Jika membuka diri, kita akan menemukannya. Dan setelah menemukan, kita harus mencoba untuk menjalankannya. Bekerja untuk tujuan, memberi kita arah. Tujuan adalah jalan hidup—sikap disiplin yang akan dipraktekkan sehari-hari. Ruhani menyentuh dan menggerakkan kehidupan kita, melalui “entah” yang merupakan misteri tujuan.[4]


[1] Daniel H. Osmond, “A Physiologist Looks at Purpose and Meaning in Life,” in Evidence of Purpose, ed. John M.Templeton (New York: Continuum, 1994), 134–35.

[2] Walter Starke, It’s All God (Boerne,Tex.: Guadalupe Press, 1998), 236.

[3] John M.Templeton and Robert L. Herrmann, The God Who Would Be Known (New York: Harper & Row, 1989), 4–5.

[4] Richard J. Leider, The Power of Purpose (New York: MJF Books, 1997), 3–4.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: