Pencari Samudera


Apakah Tuhan mencakup semua dan Anda bagian kecil dari Tuhan?

—John Marks Templeton—

Pernahkah Anda berdiri di tepi pantai dan memandang ke seberangnya? Tampaknya lautan menjadi hamparan tak terbatas dan mungkin Anda merenungkan pencapaian menakjubkan diperbatasan seberang pantai. Imajinasi kreatif mungkin dapat memvisualisasikan progresivitas perkotaan yang ramai dengan orang-orang dari setiap deskripsi yang terlibat dalam spektrum petualangan yang luas. Mungkin Anda juga bertanya-tanya, apakah ada misteri dari laut yang luas antara Anda yang berdiri dan pantai yang terlihat jauh itu?

Kemanusiaan pada saat ini seperti perluasan eksplorasi pantai dengan penemuan baru dan percepatan pengetahuan. Manusia berdiri pada landasan penelitian yang mengesankan, bukti, dan konsep dijamin selama lima abad terakhir untuk mempercepat kemajuan ilmiah. Sudut pandang manusia naik seperti tebing tinggi. Sebelum manusia memikirkan hal yang besar, realitas “samudera” memastikan dari mana pengetahuan akan diperoleh. Seberapa besar samudera ini? Dimanakah posisi kita ketika mengeksplorasi kemanusiaan dalam mempertahankan kehidupan di masa depan? Pemandangan samudera merupakan hal yang luar biasa, menarik, dan rendah hati dalam keluasannya!

Apakah dengan sikap pikiran terbuka ketika mengeksplorasi kemungkinan pengembangan kapasitas pikiran dan spiritual, kita bisa belajar lebih banyak tentang tujuan Sang Pencipta? Bagaimana motivasi dari Sang Pencipta yang memungkinkan untuk bergerak dan berpartisipasi dalam realitas yang mengelilingi kita? Apakah hal ini bagian dari motivasi keindahan yang tersembunyi pada setiap manusia seperti bercahayanya sebuah bintang? Apakah motivasi keindahan yang bersinar melalui setiap orang merupakan ekspresi unik dari keilahian?

Sang Pencari yang Keheranan

Berpikir tentang Sang Kreator yang Mahatahu menimbulkan banyak pertanyaan: Apakah kesadaran manusia hanya manifestasi kecil dari kesadaran kreatif luas yang sering disebut dengan berbagai nama seperti Tuhan, Allah, Roh, Yahweh, Brahman, atau Sang Pencipta? Apakah konsep manusia sebagai sumber kreatif ini terlalu kecil? Apakah konsep makhluk terlalu berpusat pada spesies manusia? Apa hubungan manusia dengan keilahian yang tak terbatas itu? Kami ada, berpikir, merasa, bermain, bekerja, dan bercita-cita. Apa tujuan utama yang dituju dan dicita-citakan manusia? Apa bukti yang menunjukkan bahwa yang tak terlihat bisa lebih seratus kali lebih besar dan lebih bervariasi dari yang terlihat? Ketika mempertimbangkan kesuburan gagasan penciptaan, apakah kita melihat kemungkinan aspek yang paling penting dari tujuan Ilahi dapat diwujudkan melalui kreativitas yang sedang berlangsung, perubahan, dan inovasi? Bagaimana mempelajari cara-cara untuk merangkul kemajuan dan penemuan dengan cara yang harmoni dalam kreativitas Ilahi dan berkembang dalam tujuan hidup kita?

Sudah semenjak zaman dahulu manusia mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sampai hari ini, manusia sering memikirkan kembali renungan klasik ini. Generasi mendatang kemungkinan besar akan terus berlanjut dan mempercepat pencariannya. Tampaknya pencarian untuk menemukan jawaban atas pertanyaan utama tersebut berakar pada bagian yang sangat terdalam dari pikiran. Apakah manusia bisa belajar menerapkan penelitian intensitas energi yang sama untuk mengejar informasi spiritual seperti yang telah dikhususkan untuk penyelidikan ilmiah? Dunia saat ini telah menjadikan keahlian teknis tertentu sebagai profesionalisme yang belum pernah terjadi sebelumnya, namun pengetahuan manusia tentang spiritualitas tidak berkembang dengan kecepatan yang sama.

Sinyal transendensi luar biasa yang telah ditempatkan di langit, bumi, dan dalam diri manusia sendiri, menyimpulkan bahwa alam semesta ada di sini dengan rencana Ilahi. Kita melihat asal usul alam semesta melalui berbagai ilmu, menjelajahi ajaran suci dari agama-agama dunia yang berbeda, mempelajari evolusi manusia, dan menemukan varietas bukti keilahian yang tak terbatas. Apakah sudah saatnya untuk menyalurkan kegelisahan kreatif kita untuk membangun dunia dengan eksplorasi dan penyelesaian kuat dalam aspek spiritual maupun yang ilmiah?

Apakah ada desain kosmik bagi kemanusiaan yang membungkus kesadaran dengan kesucian dan mendorong untuk bertanya-tanya, apakah kita adalah bagian kecil dari keilahian? Apakah ini desain universal yang sama untuk memperluas imajinasi manusia dengan keindahan ekspresi kreatif yang tak terbatas, membuka hati kita dengan kasih sayang Tuhan yang tak terbatas, dan mengundang ketekunan kita untuk menyelaraskan dengan maksud kreatif yang tak terbatas itu? Apakah sekarang sudah waktunya menjelajahi jalan untuk pemahaman yang lebih besar: Mengapa kita diciptakan?

Bagaimana meningkatkan pengetahuan spiritual jika kita menjadi lebih antusias menerima kemungkinan tak terbatas yang menanti dalam kehidupan spiritual? Apa yang akan terjadi dalam kehidupan pribadi masing-masing orang dan bagi kemanusiaan secara keseluruhan, jika kita mulai lebih fokus menempatkan pada hal yang tak terhingga, keindahan ruhaniah, dan membina hubungan dengan sumber kreatif dari segala sesuatu itu? Bagaimana kemajuan dunia, jika kita membuat komitmen yang kuat untuk eksplorasi ilmiah dari ekspresi fisik-mental sebagai manusia?

2 Tanggapan to “Pencari Samudera”

  1. satu saja ku kutip, mewakili sekian buanyak pertanyaan yang tersurat dia atas bos!
    ==Apakah ada desain kosmik bagi kemanusiaan yang membungkus kesadaran dengan kesucian dan mendorong untuk bertanya-tanya, apakah kita adalah bagian kecil dari keilahian?==

    sekadar nimbrung: desain kosmik itu pastinya harus ada,, hy mewujudkan bagaimana desain itu bekerja, itulah yang begitu kompleks sehingga semua bekerja dengan keberagaman persepsinya,,, meskipun pada dasarnya yang dipahami secara universal itu mestinya sederhana dan cakupi segala sesuatu sehingga desain itu harusnya sederhana dan integral.

    =apakah kita adalah bagian kecil dari keilahian? =
    jika kita bagian dari ciptaannya, harusnya seperti itu…! ada pertanyaan prinsipil ketika tuhan begitu “ikhlas” menjadikan manusia sebagai khalifah di dunia, masalahnya “jika tuhan saja memercayai menusia, dapatkan manusia memercayai manusia itu sendiri”??,, kalau saja itu terjadi mungkin semesta kan damai…

    • gw merasa optimis dengan ungkapan dalam sains “semakin agung suatu hukum, dia akan berwujud sederhana”; meski untuk mencapai itu sebaiknya harus menanggalkan atribut-atribut kewarasan, dan itu teramat sulit karena berkejaran dengan sesu…ap nasi. Tuhan “hanya” ingin dikenal, maka di”kun”kanlah yang namanya manusia lengkap dengan keperluannya di dunia ini, karena surga hanyalah ruang idealistik bagi manusia yang telah menjadikan kemanusiaannya sebagai cahaya. “Aku adalah sebutir khazanah, Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan manusia”, begitu dalam hadis qudsi yang masyhur. Gw hanyalah orang asing yang merantau dan mencoba menyelami kedalaman “samudera” hanya untuk mencari rahasia “kun” atau “entah” itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: