Arsip untuk ikatan hidrogen

Gaya Antarmolekul (Ringkasan)

Posted in Ikatan Antarmolekul with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , on Maret 26, 2014 by isepmalik

Semua zat eksis dalam satu dari tiga keadaan: gas, cair, atau padat. Perbedaan utama antara keadaan terkondensasi dan keadaan gas adalah jarak pemisahan antara molekul.
Gaya antarmolekul bertindak antara molekul dan molekul atau antara molekul dan ion. Secara umum, gaya ini lebih lemah daripada gaya ikatan. Gaya dipol-dipol dan gaya ion-dipol menarik molekul dengan momen dipol kepada molekul polar atau ion lainnya. Gaya dispersi merupakan hasil dari momen dipol terinduksi temporer dalam molekul nonpolar biasa. Perluasan momen dipol terinduksi dalam molekul ditentukan oleh polarizabilitasnya. Istilah “gaya van der Waals” merujuk kepada gaya dipol-dipol, gaya dipol-dipol terinduksi, dan gaya dispersi.

Ikatan hidrogen merupakan kekuatan relatif gaya dipol-dipol yang bertindak antara ikatan polar yang mengandung atom hidrogen dan berikatan dengan atom-atom elektronegatif N, O, atau F. Ikatan hidrogen antara molekul-molekul air secara khusus lebih kuat.

Cairan cenderung diasumsikan sebuah geometri dengan luas permukaan minimum. Tegangan permukaan merupakan energi yang diperlukan untuk mengembangkan luas permukaan cairan; gaya antarmolekul yang kuat mengarah kepada tegangan permukaan lebih besar. Viskositas merupakan ukuran resistensi cairan untuk mengalir; ia menurun dengan peningkatan suhu.

Molekul air dalam keadaan padat membentuk jaringan tiga-dimensi di mana setiap atom oksigen berikatan secara kovalen dengan dua atom hidrogen dan berikatan hidrogen dengan dua atom hidrogen. Struktur khas ini diperhitungkan untuk fakta bahwa es kurang rapat daripada cairan air. Air juga ideal sesuai dengan peran ekologinya yang memiliki kalor spesifik tinggi, sifat lainnya berdasarkan kekuatan ikatan hidrogennya. Air dalam jumlah besar dapat menurunkan iklim dengan melepaskan dan menyerap sejumlah kalor di mana suhunya hanya mengalami perubahan kecil.

Semua padatan baik kristal (dengan struktur atom, ion, atau molekul reguler) atau amorf (bukan struktur reguler). Basis satuan struktur kristal padat adalah satuan sel di mana pengulangannya membentuk kisi kristal tiga-dimensi.

Empat tipe kristal dan gaya yang mencengkeram partikel bersama-sama: kristal ion dicengkeram bersama-sama oleh ikatan ion; kristal molekul oleh gaya van der Waals dan/atau ikatan hidrogen; kristal kovalen oleh ikatan kovalen; dan kristal logam oleh ikatan logam.

Cairan dalam wadah tertutup ditetapkan sebagai kesetimbangan dinamis antara penguapan dan kondensasi. Tekanan uap di atas cairan di bawah kondisi ini merupakan kesetimbangan tekanan uap, di mana sering dirujuk secara sederhana sebagai tekanan uap. Pada titik didih, tekanan uap cairan sama dengan tekanan luar. Kalor molar penguapan cairan merupakan energi yang diperlukan untuk menguapkan 1 mol cairan. Ia dapat ditentukan oleh pengukuran tekanan uap cairan sebagai fungsi suhu dan menggunakan Persamaan (12.1). Kalor molar peleburan padatan merupakan energi yang diperlukan untuk mencairkan 1 mol padatan.

Setiap zat memiliki suhu, disebut suhu kritis, di atas suhu ini bentuk gas zat tidak dapat dibuat menjadi cair.

Hubungan di antara tiga fasa dari zat tunggal direpresentasikan diagram fasa, di mana setiap daerah merepresentasikan fasa murni dan batas-batas antara daerah memperlihatkan suhu dan tekanan di mana kedua fasa berada dalam kesetimbangan. Pada titik tripel, ketiga fasa berada dalam kesetimbangan.

Biomolekul dan Metabolisme

Posted in Biomolekul dan Metabolisme with tags , , , , , on Mei 5, 2012 by isepmalik

  • Sel adalah satuan organisasi terkecil yang dimiliki oleh semua makhluk hidup. Sel dibangun dari protein, karbohidrat, asam nukleat, dan lipid. Semuanya merupakan makromolekul berbentuk polimer yang tersusun dari satuan sederhana.
  • Karbohidrat berperan sebagai sumber makanan untuk organisme dan sebagai bahan struktural untuk tanaman. Karbohidrat sederhana dinamakan monosakarida, umumnya mengandung lima atom karbon dan enam atom karbon polihidroksi dari keton atau aldehid yang mengandung atom karbon kiral. Gabungan monosakarida membentuk karbohidrat yang lebih kompleks, sukrosa adalah disakarida, pati dan selulosa adalah polimer D-glukosa.
  • Protein adalah golongan polimer alam dengan berat molekul berkisar dari 6000 sampai 1000000. Menurut strukturnya, protein digolongkan sebagai protein primer, sekunder, tersier, dan kuarterner atau globular. Menurut fungsinya, protein berperan sebagai struktural, transport, nutrien, katalis, regulator, dan sebagainya.
  • Pembangun protein adalah asam amino, yang dapat dibagi ke dalam kelompok polar dan nonpolar, bergantung pada rantai samping (gugus R) yang menempel pada atom karbon α, yakni hidrofil atau hidrofob.
  • Polimer protein dibangun oleh urutan reaksi kondensasi asam-asam amino yang menghasilkan peptida.
  • Urutan asam amino dalam rantai protein dinamakan struktur primer. Perbedaan dalam struktur primer adalah spesifikasi fungsinya.
  • Struktur sekunder merujuk kepada susunan rantai protein, yang ditentukan oleh ikatan hidrogen antara atom-atom pada asam amino yang berbeda. Jika antaraksi terjadi dalam rantai, terbentuk struktur spiral dinamakan heliks-α. Jika ikatan hidrogen diantara rantai berbeda akan menghasilkan struktur β-sheet. Bentuk keseluruhan protein dinamakan struktur tersier. Perombakan struktur protein tersier, dinamakan denaturasi, dapat disebabkan oleh sumber energi atau berbagai reaksi kimiawi.
  • Enzim adalah protein yang berperan sebagai katalis dalam reaksi biologi. Spesifikasi dan efisiensi suatu enzim akibat dari strukturnya, yang sejalan dengan jenis tertentu pereaksi molekul (substrat).
  • Kinetika reaksi enzim adalah orde pertama menurut persamaan kinetik Michaelis-Menten. Mekanisme reaksi enzim diibaratkan kunci dan gemboknya menurut teori lock and key. Menurut hipotesis induced fit, enzim dapat berubah sesuai bentuk substrat. Kinerja enzim dipengaruhi oleh suhu, pH, dan faktor hambatan, seperti hambatan bersaing dan hambatan tidak bersaing.
  • Lipid adalah zat yang tidak larut dalam air yang terdapat dalam sel dan dapat dikelompokkan ke dalam empat golongan: lemak, phosfolipid, malam (lilin), dan steroid. Lemak adalah ester yang tersusun dari gliserol (alkohol polihidroksi) dan asam lemak (asam karboksilat yang mengandung rantai hidrokarbon).
  • Jika sel membelah diri, informasi genetik ditransmisikan melalui asam deoksiribonukleat (DNA) yang mempunyai struktur heliks ganda, dimana dua untai dipertahankan bersama melalui ikatan hidrogen antara pasangan basa organik. Pasangan basa yang terjadi hanya pada pasangan tertentu. Selama pembelahan sel, heliks ganda tidak memisah, dan polimer baru terbentuk sepanjang untai DNA asal membentuk dua molekul DNA heliks ganda. DNA mengandung fragmen disebut gen, menyimpan informasi struktural untuk protein tertentu. Berbagai jenis molekul asam ribonukleat (RNA) membantu dalam sintesis protein.
  • Perombakan molekul besar umumnya menghasilkan energi disebut katabolisme; sintesis molekul besar dari komponen sederhananya dinamakan anabolisme, umumnya memerlukan energi. Kedua proses ini secara simultan membangun metabolisme organisme. Energi yang dilepaskan atau yang dibutuhkan dalam bentuk AMP, ADP, atau ATP.

(Sumber: Yayan Sunarya. (2003). Kimia Dasar: Prinsip-prinsip Kimia Terkini Jilid 2.

Wujud Zat

Posted in Wujud Zat with tags , , , , , on April 29, 2012 by isepmalik

  • Materi berwujud gas, cair, dan padat dibentuk oleh gaya antar molekul di antara molekul, atom, atau ion. Gaya dipol-dipol adalah antaraksi antara molekul yang mempunyai momen dipol. Gaya ini cukup kuat untuk molekul yang mengandung ikatan hidrogen dengan unsur yang memiliki keelektronegatifan tinggi, seperti nitrogen, oksigen, atau flor. Pada kasus ini, gaya dipol yang dihasilkan dinamakan ikatan hidrogen, yang mengakibatkan titik didih dan titik leleh tinggi.
  • Gaya dispersi London yang disebabkan oleh dipol sesaat merupakan gaya yang penting di dalam molekul nonpolar. Sifat-sifat zat cair seperti tegangan permukaan dan viskositas bergantung pada kekuatan gaya antar molekul.
  • Gas pada umumnya memiliki sifat-sifat fisis yang mudah diamati. Teori kinetik molekul menerangkan sifat-sifat ini melalui asumsi bahwa molekul-molekul gas secara konstan bergerak acak dengan lintasan lurus, selama tidak ada gaya yang mempengaruhinya. Teori kinetik dapat menjelaskan hukum-hukum dasar gas secara kualitatif dan hukum gas ideal secara kuantitatif. Penyimpangan dari hukum ideal dinamakan gas nyata. Gas nyata serupa dengan gas ideal pada suhu tinggi dan tekanan rendah.
  • Perubahan fasa antara cair dan uap dinamakan penguapan. Energi yang diperlukan untuk mengubah satu mol cairan menjadi uapnya disebut kalor penguapan. Pengembunan adalah proses kebalikan dari penguapan. Bila laju penguapan dan pengembunan dalam wadah tertutup tepat sama, dikatakan sistem berada dalam keadaan setimbang. Tekanan uap yang dihasilkan dinamakan tekanan uap zat cair.
  • Kemudahan menguap bergantung pada massa molekul dan gaya antar molekul. Cairan yang tersusun dari molekul berat cenderung kurang mudah menguap, akibat gaya antar molekulnya kuat. Titik leleh normal padatan didefinisikan sebagai suhu dimana padatan dan cairannya mempunyai tekanan uap yang identik. Titik didih normal cairan terjadi pada suhu dimana tekanan uap cairan 1 atm.
  • Diagram fasa untuk zat menunjukkan keadaan yang eksis pada suhu dan tekanan yang ada. Titik triple pada diagram fasa menyatakan suhu dan tekanan dimana ketiga fasa eksis. Titik kritis didefinisikan oleh suhu dan tekanan kritis. Suhu kritis adalah suhu di atas mana uap tidak dapat dicairkan pada berapapun tekanannya. Tekanan kritis adalah tekanan yang diperlukan untuk mencairkan gas pada suhu kritis.
  • Dua kategori utama zat padat adalah kristalin dan amorf. Padatan kristalin mempunyai susunan teratur atau kisi. Komponen partikel terkecil dengan satuan berulang dinamakan sel satuan. Susunan partikel di dalam padatan kristalin dapat ditentukan melalui teknik difraksi sinar-X, dan jarak antar atom dalam kristal dapat dihubungkan dengan panjang gelombang dan sudut pantulan sinar-X melalui persamaan Bragg.
  • Struktur logam dimodelkan melalui asumsi atom-atom berupa bulatan yang homogen dan dikemas secara mampat. Terdapat dua susunan terjejal, yaitu heksagonal dan kubus.
  • Struktur kristal digolongkan menurut susunan atom-atom, ion, atau molekul membentuk sistem kristal yang diidentifikasi oleh jenis ruang kisi dan sel satuan yang dihuni. Berdasarkan partikel penyusunnya dikenal kristal logal, kristal ion, dan kristal molekuler.
  • Kristal ion dapat dipandanga sebagai larik ion yang lebih besar, biasanya anion, dengan kation yang lebih kecil menghuni celah-celahnya. Pada susunan heksagonal terjejal dan kubus terjejal terdapat dua jenis lubang, yaitu lubang tetrahedral dan lubang oktahedral. Lubang oktahedral lebih besar dari dua. Lubang kubus dibentuk dari susunan kubus sederhana suatu anion, yang bukan struktur terjejal.
  • Di alam, kristal jarang ditemukan yang sempurna. Pada dasarnya memiliki berbagai jenis cacat yang mengkontribusi terhadap sifat fisis dan sifat kimia zat. Ada dua jenis cacat kristal, yaitu cacat Frenkel dan cacat Scotcky.

(Sumber: Yayan Sunarya. (2000). Kimia Dasar: Prinsip-prinsip Kimia Terkini Jilid 1. Bandung: Alkemi Grafisindo Press. Hal: 411).

Amina

Posted in Amina with tags , , , , , on April 29, 2012 by isepmalik

  1. Amina adalah senyawa yang mengandung atom nitrogen trivalen yang berikatan dengan satu/ dua/ tiga atom karbon. Ditinjau dari rumus strukturnya, amina merupakan turunan dari NH3 dengan satu/ dua/ tiga atom hidrogennya digantikan oleh gugus alkil (-R) atau aril (-Ar).
  2. Klasifikasi amina didasarkan atas jumlah atom H dalam NH3 yang digantikan oleh gugus alkil/ aril. Bila yang diganti hanya satu atom H disebut amina primer, bila yang diganti dua buah atom H disebut amina sekunder, dan bila yang diganti tiga buah atom H dinamakan amina tersier. Bila penggantinya gugus alkil dinamakan amina alifatik, dan bila penggantinya gugus aril dinamakan amina aromatik. Dalam hal atom N dalam amina merupakan bagian dari suatu cincin maka amina tersebut diklasifikasikan sebagai amina heterosiklik. Bila atom N dalam amina merupakan bagian dari cincin aromatik, maka amina tersebut termasuk amina heterosiklik aromatik.
  3. Menurut tatanama IUPAC, pemberian nama pada amina primer serupa dengan cara untuk alkohol, tetapi akhiran –a dalam nama alkana induknya diganti dengan kata amina. Untuk amina sekunder dan tersier, diberi nama dengan menganggapnya sebagai amina primer yang tersubstitusi pada atom N. Dalam tatanama trivial, adalah dengan menyebut nama gugus alkil/ aril yang terikat pada atom N dengan urutan abjad, kemudian ditambahkan kata amina dibelakangnya.
  4. Semua amina merupakan senyawa polar, dan antar molekul amina primer/ sekunder terdapat ikatan hidrogen. Karena perbedaan keelektronegatifan antara atom N dan H relatif kecil maka ikatan hidrogen antar molekul amina tidak sekuat molekul-molekul yang mengandung gugus –OH, seperti misalnya alkohol. Adanya perbedaan kekuatan antara ikatan hidrogen dalam molekul-molekul amina maupun alkohol nampak pengaruhnya terhadap titik didih kedua golongan senyawa tersebut. kelarutan amina dalam air menurun seiring dengan meningkatnya berat molekul. Dengan molekul air, semua amina dapat membentuk ikatan hidrogen.
  5. Semua senyawa amina bersifat basa lemah, demikian pula larutannya dalam air. Harga tetapan ionisasi asam konjugat suatu amina (Ka) dijadikan acuan dalam menentukan kebasaan suatu amina. Dalam praktiknya, yang dipakai adalah notasi pKa (= -log Ka). Hasil kajian menunjukkan bahwa sifat basa suatu amina alifatik/ aromatik ditentukan oleh rumu strukturnya.
  6. Semua amina dapat bereaksi dengan asam. Di samping itu terdapat pula reaksi-reaksi yang khas, yaitu: (a) dengan HNO2 amina alifatik primer, sekunder, dan tersier memberikan reaksi yang spesifik, sehingga dapat digunakan untuk membedakan ketiga jenis amina tersebut, (b) amina aromatik primer dengan HNO2 pada 00C menghasilkan garam diazonium, (c) dengan HOCl atau (CH3)3C-OCl amina akan mengalami substitusi pada atom H (yang terikat atom N) oleh atom Cl, (d) larutan KMnO4 dan asam-asam peroksi dapat mengoksidasi amina.
  7. Dua macam cara yang dapat digunakan untuk membuat amina adalah: (a) cara substitusi, yaitu mereaksikan amonia dengan alkil halida, (b) cara reduksi, yaitu dengan mereduksi senyawa nitro atau senyawa nitril atau senyawa aldehida/ keton, dengan ketentuan bahwa untuk masing-masing senyawa tersebut menggunakan reduktor yang berbeda. Cara pembuatan amina primer yang khusus adalah melalui reaksi degradasi Hofmann, yaitu mereaksikan suatu amida dengan brom dalam suasana alkalis. Kekhususan dari cara yang terakhir ini adalah terjadinya pengurangan satu atom C (degradasi) pada amida asalnya.

(Sumber: Parlan. (2003). Kimia Organik I. Universitas Negeri Malang. Hal: 230-231).

Turunan Asam Karboksilat

Posted in Turunan Asam Karboksilat with tags , , , , , on April 29, 2012 by isepmalik

  1. Turunan asam karboksilat meliputi kelompok-kelompok senyawa: halida asam (RCOX), amida (RCONH2), ester (RCOOR’), dan anhidrida asam karboksilat (RCOOOCR). Semua senyawa yang termasuk dalam turunan asam karboksilat jika dihidrolisis menghasilkan asam karboksilat yang menurunkannya. Persamaan di antara struktur-struktur turunan asam karboksilat adalah bahwa di dalamnya terdapat gugus karbonil (-C=O). Gugus inilah yang menyebabkan molekul turunan asam karboksilat bersifat polar.
  2. Tatanama masing-masing kelompok senyawa turunan asam karboksilat berbeda-beda, dan terdiri dari dua sistem, yaitu sistem IUPAC dan trivial. (Catatan: pelajarilah dengan cermat ketentuan-ketentuan penamaan setiap kelompok yang telah diuraikan dalam bab ini).
  3. Kepolaran molekul senyawa turunan asam karboksilat mempunyai pengaruh terhadap sifat-sifat fisikanya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat fisika turunan asam karboksilat mendekati aldehida dan keton, yang keduanya juga mempunyai gugus karbonil. Khusus untuk senyawa amida, harga titik didihnya cukup tinggi karena adanya ikatan hidrogen antar molekulnya. Semua turunan asam karboksilat dapat larut dalam pelarut-pelarut organik, tetapi kelarutannya dalam air ditentukan oleh rantai atom karbonnya.
  4. Sifat-sifat kimia dari turunan asam karboksilat secara umum adalah: (a) kereaktifannya dalam reaksi sangat dipengaruhi oleh gugus karbonil, (b) mudah mengalami substitusi.
  5. Nukleofilik, dalam arti atom/ gugus yang berikatan dengan gugus asil (R-C=O) digantikan oleh nukleofil, (c) substitusi nukleofilik pada turunan asam karboksilat lebih cepat daripada dalam senyawa alifatik jenuh.
  6. Reaksi pada senyawa-senyawa turunan asam karboksilat mempunyai ragam sesuai dengan jenis kelompoknya, demikian pula cara pembuatan untuk masing-masing kelompok. Pada setiap kelompok senyawa turunan asam karboksilat terdapat reaksi-reaksi khas (Catatan: pelajarilah dengan cermat reaksi-reaksi pada setiap kelompok yang telah diuraikan dalam bab ini).

(Sumber: Parlan. (2003). Kimia Organik 1. Universitas Negeri Malang. Hal: 217-218).

Asam Karboksilat

Posted in Asam Karboksilat with tags , , , , , on April 28, 2012 by isepmalik

  1. Sebagai suatu golongan senyawa organik, ciri khas dari asam karboksilat adalah sifat asamnya, yang ditunjukkan oleh gugus fungsi –COOH (karboksil). Rumus umum golongan asam monokarboksilat dinyatakan dengan RCOOH (asam monokarboksilat alifatik) atau ArCOOH (asam monokarboksilat aromatik). Dalam rumus umum tersebut R atau pun Ar mempunyai beberapa variasi struktur. Di samping asam monokarboksilat, diketahui juga adanya asam yang mengandung dua gugus –COOH (asam dikarboksilat), dan ada juga yang mengandung tiga gugus –COOH (asam trikarboksilat). Di antara asam-asam monokarboksilat, dikarboksilat, dan trikarboksilat tidak terdapat perbedaan sifat kimia yang mendasar.
  2. Untuk memberi nama asam monokarboksilat alifat jenuh dengan sistem IUPAC adalah dengan mengganti akhiran –a dalam nama alkana yang jumlah atom karbonnya sama dengan rumus asam tersebut dengan akhiran –oat, dan didahului dengan kata asam. Khusus untuk asam monokarboksilat yang diturunkan dari benzena dengan rumus C6H5COOH, diberi nama asam benzoat. Dalam tatanama IUPAC pemberian nomor dalam rantai atom karbonnya, atom C dalam gugus –COOH mempunyai nomor-1. Dengan ketentuan ini, maka pemberian nama IUPAC untuk asam monokarboksilat yang mengandung gugus fungsi lain ataupun yang tersubstitusi, harus memperhatikan penomoran rantai atom karbonnya. Untuk asam-asam alifatik yang mengandung dua buah gugus –COOH, namanya berakhiran –dioat, sedangkan pada asam-asam yang diturunkan dari sikloalkana atau benzena menggunakan akhiran dikarboksilat.
  3. Dalam tatanama trivial, nama asam-asam monokarboksilat/ dikarboksilat/ trikarboksilat dikaitkan dengan nama sumbernya atau ciri-ciri khasnya. Perlu diingat bahwa nama trivial ini lebih sering digunakan daripada nama IUPAC.
  4. Secara umum dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat fisika asam karboksilat adalah sebagai berikut: (a) antar molekulnya terjadi asosiasi melalui ikatan hidrogen, (b) titik didihnya lebih tinggi daripada senyawa lain yang mempunyai berat molekul sebanding, (c) kelarutan asam karboksilat dalam air lebih besar daripada senyawa lain yang berat molekulnya sebanding.
  5. Sifat-sifat kimia asam karboksilat adalah: (a) merupakan asam lemah, dengan harga pKa: 4-5, (b) keberadaan substituen yang berupa gugus penarik elektron dalam molekul asam karboksilat, meningkatkan keasamannya, (c) bereaksi dengan basa kuat dan menghasilkan garam yang larut dalam air, (d) dengan reduktor LiAlH4 menghasilkan alkohol primer, tetapi dengan hidrogen dan katalis tidak terjadi reduksi, (e) dengan katalis asam (umumnya H2SO4), reaksi asam karboksilat dan alkohol menghasilkan ester, (f) asam karboksilat bila bereaksi dengan tionilklorida (SOCl2) menghasilkan klorida asam (RCOCl), yang selanjutnya dengan NH3 menghasilkan amida asam (RCONH2), (g) pada suhu tinggi asam karboksilat mengalami dekarboksilasi, (h) dengan katalis P, reaksi antara asam karboksilat dan klor atau brom mengakibatkan terjadinya substitusi atom H pada rantai karbon oleh –Cl/ -Br.
  6. Asam monokarboksilat dapat dibuat dengan salah satu dari cara-cara berikut: (a) oksidasi alkohol primer, (b) karbonasi pereaksi Grignard, (c) oksidasi alkilbenzena (khusus untuk asam benzoat), (d) hidrolisis nitril (RCN). Dalam industri asam-asam monokarboksilat dibuat dengan cara-cara yang khusus. Untuk memperoleh asam dikarboksilat, reaksi pembuatannya mengikuti pembuatan asam monokarboksilat.

Fenol

Posted in Fenol with tags , , , , , on April 24, 2012 by isepmalik

  1. Istilah fenol mempunyai dua macam arti, yaitu sebagai nama senyawa organik yang mempunyai rumus C6H5OH, dan sebagai nama golongan senyawa organik yang rumus umumnya ArOH (Ar adalah gugus aril). Bila dibandingkan dengan golongan alkohol, terbukti bahwa keduanya mempunyai gugus fungsi –OH. Perbedaannya adalah bahwa gugus –OH pada golongan alkohol terikat pada rantai alifatik, sedangkan pada golongan fenol terikat langsung pada cincin aromatik. Di antara golongan alkohol dan golongan fenol terdapat persamaan dan juga perbedaan sifat kimia.
  2. Dalam hal tatanama, dikenal adanya dua sistem, yaitu: (a) dengan sistem IUPAC, dan (b) dengan menggunakan nama trivial. Yang lazim dipakai adalah nama trivialnya.
  3. Antar molekul fenol (C6H5OH) terdapat ikatan hidrogen, sehingga titik didihnya relatif tinggi. Fenol dan beberapa turunannya sukar larut dalam air. Hal yang istimewa dijumpai pada senyawa o-nitrofenol, yaitu terbentuknya ikatan hidrogen antara gugus –NO2 dan gugus –OH yang letaknya berdekatan. Keadaan pada o-nitrofenol semacam itu mempengaruhi volatilitas dan kelarutannya dalam air.
  4. Fenol (C6H5OH) lebih bersifat asam daripada etanol (C2H5O). Bila dalam fenol terdapat substituen halogen atau gugus –NO2, maka keasamannya meningkat. Sebagai asam lemah, fenol dapat bereaksi dengan basa kuat dan menghasilkan garam yang larut dalam air. Di samping itu, fenol dapat membentuk ester (sintesis Williamson), membentuk ester, mengalami substitusi elektrofilik pada inti, serta reaksi-reaksi yang khas (reaksi Kolbe, reaksi Reimer-Tiemann, reaksi polimerisasi dengan formaldehida).
  5. Untuk membuat fenol dapat ditempuh empat macam cara, yaitu: (a) meleburkan garam Na-arilsulfonat dan NaOH, (b) menghidrolisis garam diazonium, (c) melalui proses Dow, dan (d) mengoksidasi kumena. Cara yang lazim dilakukan untuk membuat fenol dalam industri dewasa ini adalah oksidasi kumena.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.498 pengikut lainnya.