Archive for the 30. Qadar yang Lebih Halus Category

Qadar yang Lebih Halus

Posted in 30. Qadar yang Lebih Halus with tags , , , , , on Oktober 8, 2012 by isepmalik

Tiada satu napas terlepas dari kamu melainkan di situ ada qadar yang berlaku atas kamu.

 

Persoalan Qadar telah disentuh pada Hikmah 3 dan kembali disentuh oleh Hikmah 30 ini. Persoalan Qadar pada Hikmah tersebut telah menyinggung tentang permintaan atau doa yang dimaksudkan sebagai tuntutan terhadap Allah swt. Tuntutan-tuntutan timbul lantaran kurang menghayati tentang Qadar. Kini kita diajak merenungi perkara Qadar yang sangat halus, yaitu satu nafas yang terjadi kepada kita. Kita kurang memperhatikan tentang nafas karena ia terjadi secara spontan, tanpa bersusah payah dan kita anggap remeh untuk diperhatikan. Sekarang perkara yang kita anggap remeh inilah yang hendak kita perhatikan dengan seksama. Apakah berbeda perkara yang dianggap remeh dengan perkara yang dianggap besar dalam hubungannya dengan perjalanan Qadar. Kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, adakah setiap nafas yang kita hembuskan itu berlaku secara percuma, tanpa perkiraan, tidak mengikuti perintah yang Allah swt tentukan? Adakah apabila kita hembuskan satu nafas hanya nafas saja yang berlaku atau pada saat yang sama berbagai Qadar telah terjadi? Perkara yang dianggap kecil ini haruslah direnungi dengan mendalam agar kita mendapat pengertian tentang Qadar secara terperinci.

Nafas ialah udara yang keluar masuk pada badan kita melalui mulut dan hidung. Satu hembusan udara yang keluar dari badan kita disebut satu nafas. Nafas ini penting bagi jasmani kita. Nafas menjadi nyawa kepada diri kita yang bersifat zahir. Penghidupan diri yang zahir diukur dengan perjalanan nafas. Kita biasanya menyebut umur dengan perkiraan tahun. Kita tidak menyebut umur kita dengan perkiraan bulan, apalagi dengan perkiraan hari dan jam. Sebenarnya sebutan yang tepat tentang umur ialah nafas. Berapa juta hembusan nafas itulah umur kita.

Kita melihat Qadar sebagai ketentuan Ilahi yang berlaku kepada kita dalam cakupan yang luas. Sikap memandang Qadar secara luas menyebabkan kita terhalang untuk melihatnya pada setiap detik dan setiap kejadian. Sebab itu kita sering keluar dari berpegang kepada Qadar. Seandainya kita memang hidup secara tepat, yaitu dengan hitungan nafas niscaya kita akan melihat Qadar secara halus sebagaimana halusnya nafas. Dapatlah kita benar-benar menghayati bahwa pada setiap hembusan nafas itu berlaku Qadar menurut ketentuan Ilahi. Jumlah udara yang keluar masuk pada badan kita bagi setiap perjalanan nafas adalah menurut perintah yang Allah swt tentukan. Jumlah nafas yang akan kita hembuskan juga telah ditentukan oleh Allah swt dan apabila jumlah nafas yang telah disediakan untuk kita itu habis maka kita akan mati. Jika kita dapat melihat perjalanan Qadar hingga kepada peringkat yang halus ini, niscaya pandangan mata-hati kita tidak akan terlepas dari melihat Qadar pada setiap detik dan pada setiap kejadian. Kita akan melihat bahwa jumlah tetesan air hujan di atas atap rumah kita adalah mengikuti perintah yang telah ditentukan Allah swt. Bilangan debu yang beterbangan juga ditentukan Allah swt. Helaian rambut yang gugur dari kepala kita juga ditentukan Allah swt. Panjang, lebar dan dan dalamnya luka yang kita alami ketika terjadi musibah juga ditentukan Allah swt. Tidak ada satu pun yang menyimpang dari Qadar menurut ketentuan Ilahi. Sesungguhnya Allah swt itu al-Lathif, Maha Halus, tidak ada sesuatu yang terlepas dari perintah dan pertimbangan-Nya. Semua makhluk berjalan di atas landasan Qadar yang diatur-Nya. Sesungguhnya Allah swt tidak sekali-kali lalai, tidur atau keliru. Apa yang Dia tentukan itulah yang berlaku. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana, tidak ada yang sumbang pada penciptaan dan perjalanan penciptaan-Nya.

“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus” (QS. Hud:56).

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (QS. Al-Hadid:22).

Allah swt mengadakan ketentuan sejak azali. Tidak ada yang tahu tentang ketentuan Allah swt. Malaikat hanya menjalankan perintah-Nya. Apa yang pada sisi malaikat dapat diubah oleh-Nya, tetapi apa yang pada sisi-Nya tidak pernah berubah. Malaikat menjalankan tugas dan manusia melakukan kewajiban. Tuhan yang memiliki ketentuan mutlak. Doa dan amal manusia mungkin menjadi asbab kepada berlakunya perubahan pada apa yang berada dengan malaikat yang menjalankan tugas, jika Tuhan izinkan, tetapi ia tidak mengubah apa yang pada sisi Tuhan. Ilmu Tuhan meliputi yang awal dan yang akhir. Segala sesuatu telah ada pada ilmu-Nya sebelum ia terjadi. Urusan yang demikian sangat mudah bagi Allah swt. Malaikat dan manusia tidak memiliki ilmu yang demikian. Malaikat semata-mata patuh kepada apa yang Allah swt perintahkan. Manusia perlu bergerak pada maqamnya dan berusaha meningkatkan perkembangan keruhaniannya sehingga dia menjadi sesuai dengan kehendak Allah swt.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.499 pengikut lainnya.