Archive for the Kimia Organik Category

Amina

Posted in Amina with tags , , , , , on April 29, 2012 by isepmalik

  1. Amina adalah senyawa yang mengandung atom nitrogen trivalen yang berikatan dengan satu/ dua/ tiga atom karbon. Ditinjau dari rumus strukturnya, amina merupakan turunan dari NH3 dengan satu/ dua/ tiga atom hidrogennya digantikan oleh gugus alkil (-R) atau aril (-Ar).
  2. Klasifikasi amina didasarkan atas jumlah atom H dalam NH3 yang digantikan oleh gugus alkil/ aril. Bila yang diganti hanya satu atom H disebut amina primer, bila yang diganti dua buah atom H disebut amina sekunder, dan bila yang diganti tiga buah atom H dinamakan amina tersier. Bila penggantinya gugus alkil dinamakan amina alifatik, dan bila penggantinya gugus aril dinamakan amina aromatik. Dalam hal atom N dalam amina merupakan bagian dari suatu cincin maka amina tersebut diklasifikasikan sebagai amina heterosiklik. Bila atom N dalam amina merupakan bagian dari cincin aromatik, maka amina tersebut termasuk amina heterosiklik aromatik.
  3. Menurut tatanama IUPAC, pemberian nama pada amina primer serupa dengan cara untuk alkohol, tetapi akhiran –a dalam nama alkana induknya diganti dengan kata amina. Untuk amina sekunder dan tersier, diberi nama dengan menganggapnya sebagai amina primer yang tersubstitusi pada atom N. Dalam tatanama trivial, adalah dengan menyebut nama gugus alkil/ aril yang terikat pada atom N dengan urutan abjad, kemudian ditambahkan kata amina dibelakangnya.
  4. Semua amina merupakan senyawa polar, dan antar molekul amina primer/ sekunder terdapat ikatan hidrogen. Karena perbedaan keelektronegatifan antara atom N dan H relatif kecil maka ikatan hidrogen antar molekul amina tidak sekuat molekul-molekul yang mengandung gugus –OH, seperti misalnya alkohol. Adanya perbedaan kekuatan antara ikatan hidrogen dalam molekul-molekul amina maupun alkohol nampak pengaruhnya terhadap titik didih kedua golongan senyawa tersebut. kelarutan amina dalam air menurun seiring dengan meningkatnya berat molekul. Dengan molekul air, semua amina dapat membentuk ikatan hidrogen.
  5. Semua senyawa amina bersifat basa lemah, demikian pula larutannya dalam air. Harga tetapan ionisasi asam konjugat suatu amina (Ka) dijadikan acuan dalam menentukan kebasaan suatu amina. Dalam praktiknya, yang dipakai adalah notasi pKa (= -log Ka). Hasil kajian menunjukkan bahwa sifat basa suatu amina alifatik/ aromatik ditentukan oleh rumu strukturnya.
  6. Semua amina dapat bereaksi dengan asam. Di samping itu terdapat pula reaksi-reaksi yang khas, yaitu: (a) dengan HNO2 amina alifatik primer, sekunder, dan tersier memberikan reaksi yang spesifik, sehingga dapat digunakan untuk membedakan ketiga jenis amina tersebut, (b) amina aromatik primer dengan HNO2 pada 00C menghasilkan garam diazonium, (c) dengan HOCl atau (CH3)3C-OCl amina akan mengalami substitusi pada atom H (yang terikat atom N) oleh atom Cl, (d) larutan KMnO4 dan asam-asam peroksi dapat mengoksidasi amina.
  7. Dua macam cara yang dapat digunakan untuk membuat amina adalah: (a) cara substitusi, yaitu mereaksikan amonia dengan alkil halida, (b) cara reduksi, yaitu dengan mereduksi senyawa nitro atau senyawa nitril atau senyawa aldehida/ keton, dengan ketentuan bahwa untuk masing-masing senyawa tersebut menggunakan reduktor yang berbeda. Cara pembuatan amina primer yang khusus adalah melalui reaksi degradasi Hofmann, yaitu mereaksikan suatu amida dengan brom dalam suasana alkalis. Kekhususan dari cara yang terakhir ini adalah terjadinya pengurangan satu atom C (degradasi) pada amida asalnya.

(Sumber: Parlan. (2003). Kimia Organik I. Universitas Negeri Malang. Hal: 230-231).

Turunan Asam Karboksilat

Posted in Turunan Asam Karboksilat with tags , , , , , on April 29, 2012 by isepmalik

  1. Turunan asam karboksilat meliputi kelompok-kelompok senyawa: halida asam (RCOX), amida (RCONH2), ester (RCOOR’), dan anhidrida asam karboksilat (RCOOOCR). Semua senyawa yang termasuk dalam turunan asam karboksilat jika dihidrolisis menghasilkan asam karboksilat yang menurunkannya. Persamaan di antara struktur-struktur turunan asam karboksilat adalah bahwa di dalamnya terdapat gugus karbonil (-C=O). Gugus inilah yang menyebabkan molekul turunan asam karboksilat bersifat polar.
  2. Tatanama masing-masing kelompok senyawa turunan asam karboksilat berbeda-beda, dan terdiri dari dua sistem, yaitu sistem IUPAC dan trivial. (Catatan: pelajarilah dengan cermat ketentuan-ketentuan penamaan setiap kelompok yang telah diuraikan dalam bab ini).
  3. Kepolaran molekul senyawa turunan asam karboksilat mempunyai pengaruh terhadap sifat-sifat fisikanya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat fisika turunan asam karboksilat mendekati aldehida dan keton, yang keduanya juga mempunyai gugus karbonil. Khusus untuk senyawa amida, harga titik didihnya cukup tinggi karena adanya ikatan hidrogen antar molekulnya. Semua turunan asam karboksilat dapat larut dalam pelarut-pelarut organik, tetapi kelarutannya dalam air ditentukan oleh rantai atom karbonnya.
  4. Sifat-sifat kimia dari turunan asam karboksilat secara umum adalah: (a) kereaktifannya dalam reaksi sangat dipengaruhi oleh gugus karbonil, (b) mudah mengalami substitusi.
  5. Nukleofilik, dalam arti atom/ gugus yang berikatan dengan gugus asil (R-C=O) digantikan oleh nukleofil, (c) substitusi nukleofilik pada turunan asam karboksilat lebih cepat daripada dalam senyawa alifatik jenuh.
  6. Reaksi pada senyawa-senyawa turunan asam karboksilat mempunyai ragam sesuai dengan jenis kelompoknya, demikian pula cara pembuatan untuk masing-masing kelompok. Pada setiap kelompok senyawa turunan asam karboksilat terdapat reaksi-reaksi khas (Catatan: pelajarilah dengan cermat reaksi-reaksi pada setiap kelompok yang telah diuraikan dalam bab ini).

(Sumber: Parlan. (2003). Kimia Organik 1. Universitas Negeri Malang. Hal: 217-218).

Asam Karboksilat

Posted in Asam Karboksilat with tags , , , , , on April 28, 2012 by isepmalik

  1. Sebagai suatu golongan senyawa organik, ciri khas dari asam karboksilat adalah sifat asamnya, yang ditunjukkan oleh gugus fungsi –COOH (karboksil). Rumus umum golongan asam monokarboksilat dinyatakan dengan RCOOH (asam monokarboksilat alifatik) atau ArCOOH (asam monokarboksilat aromatik). Dalam rumus umum tersebut R atau pun Ar mempunyai beberapa variasi struktur. Di samping asam monokarboksilat, diketahui juga adanya asam yang mengandung dua gugus –COOH (asam dikarboksilat), dan ada juga yang mengandung tiga gugus –COOH (asam trikarboksilat). Di antara asam-asam monokarboksilat, dikarboksilat, dan trikarboksilat tidak terdapat perbedaan sifat kimia yang mendasar.
  2. Untuk memberi nama asam monokarboksilat alifat jenuh dengan sistem IUPAC adalah dengan mengganti akhiran –a dalam nama alkana yang jumlah atom karbonnya sama dengan rumus asam tersebut dengan akhiran –oat, dan didahului dengan kata asam. Khusus untuk asam monokarboksilat yang diturunkan dari benzena dengan rumus C6H5COOH, diberi nama asam benzoat. Dalam tatanama IUPAC pemberian nomor dalam rantai atom karbonnya, atom C dalam gugus –COOH mempunyai nomor-1. Dengan ketentuan ini, maka pemberian nama IUPAC untuk asam monokarboksilat yang mengandung gugus fungsi lain ataupun yang tersubstitusi, harus memperhatikan penomoran rantai atom karbonnya. Untuk asam-asam alifatik yang mengandung dua buah gugus –COOH, namanya berakhiran –dioat, sedangkan pada asam-asam yang diturunkan dari sikloalkana atau benzena menggunakan akhiran dikarboksilat.
  3. Dalam tatanama trivial, nama asam-asam monokarboksilat/ dikarboksilat/ trikarboksilat dikaitkan dengan nama sumbernya atau ciri-ciri khasnya. Perlu diingat bahwa nama trivial ini lebih sering digunakan daripada nama IUPAC.
  4. Secara umum dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat fisika asam karboksilat adalah sebagai berikut: (a) antar molekulnya terjadi asosiasi melalui ikatan hidrogen, (b) titik didihnya lebih tinggi daripada senyawa lain yang mempunyai berat molekul sebanding, (c) kelarutan asam karboksilat dalam air lebih besar daripada senyawa lain yang berat molekulnya sebanding.
  5. Sifat-sifat kimia asam karboksilat adalah: (a) merupakan asam lemah, dengan harga pKa: 4-5, (b) keberadaan substituen yang berupa gugus penarik elektron dalam molekul asam karboksilat, meningkatkan keasamannya, (c) bereaksi dengan basa kuat dan menghasilkan garam yang larut dalam air, (d) dengan reduktor LiAlH4 menghasilkan alkohol primer, tetapi dengan hidrogen dan katalis tidak terjadi reduksi, (e) dengan katalis asam (umumnya H2SO4), reaksi asam karboksilat dan alkohol menghasilkan ester, (f) asam karboksilat bila bereaksi dengan tionilklorida (SOCl2) menghasilkan klorida asam (RCOCl), yang selanjutnya dengan NH3 menghasilkan amida asam (RCONH2), (g) pada suhu tinggi asam karboksilat mengalami dekarboksilasi, (h) dengan katalis P, reaksi antara asam karboksilat dan klor atau brom mengakibatkan terjadinya substitusi atom H pada rantai karbon oleh –Cl/ -Br.
  6. Asam monokarboksilat dapat dibuat dengan salah satu dari cara-cara berikut: (a) oksidasi alkohol primer, (b) karbonasi pereaksi Grignard, (c) oksidasi alkilbenzena (khusus untuk asam benzoat), (d) hidrolisis nitril (RCN). Dalam industri asam-asam monokarboksilat dibuat dengan cara-cara yang khusus. Untuk memperoleh asam dikarboksilat, reaksi pembuatannya mengikuti pembuatan asam monokarboksilat.

Aldehida dan Keton

Posted in Aldehida dan Keton with tags , , , , , on April 27, 2012 by isepmalik

1. Aldehida dan keton adalah dua golongan senyawa organik yang masing-masing tersusun dari unsur-unsur C, H, dan O, dan mempunyai gugus karbonil (-C=O). Rumus umum aldehida adalah:

dan rumus umum keton adalah

Kedua golongan senyawa tersebut mempunyai gugus karbonil, tetapi berbeda rumus umumnya, sehingga di antara keduanya terdapat persamaan dan perbedaan.

2. Tatanama aldehida, seperti halnya golongan senyawa organik lainnya, dapat diberikan dengan dua sistem, yaitu sistem IUPAC dan trivial. Dalam tatanama IUPAC, nama aldehida menggunakan akhiran –al sebagai pengganti akhiran –a dalam nama alkana yang terkait. Untuk nama trivialnya, dikaitkan dengan nama asam karboksilat yang diperoleh dari hasil oksidasi aldehidanya. Selanjutnya akhirat –at dalam nama asam tersebut dibuang dan diganti dengan kata aldehida.

3. Tatanama keton menurut sistem IUPAC adalah dengan menggunakan akhirat –on sebagai pengganti akhira –a dalam nama alkana yang terkait. Dalam tatanama trivial, pemberian nama keton adalah dengan menyebut nama gugus-gugus alkil yang terikat pada gugus karbonil, kemudian diikuti dengan kata keton.

4. Dalam hal wujud fisiknya, formaldehida dan asetaldehida berupa gas, suku-suku aldehida yang mengandung 3-12 atom C berwujud cairan dan selebihnya berwujud zat padat. Keton yang mengandung 3-13 atom C berupa cairan, dan yang selebihnya berwujud zat padat. Suku-suku rendah dalam golongan aldehida dan keton dapat larut dalam air, sedangkan suku-suku yang tinggi sukar atau tidak dapat larut dalam air.

5. Aldehida dapat dibuat dengan cara: (a) oksidasi alkohol primer, (b) mengalirkan uap alkohol primer di atas tembaga panas, (c) memanaskan garam kalsium monokarboksilat jenuh bersama-sama dengan garam kalsium format. Untuk membuat keton, adalah dengan cara: (a) oksidasi alkohol sekunder, (b) mengalirkan uap alkohol sekunder di atas tembaga panas, (c) memanaskan garam kalsium monokarboksilat jenuh.

6. Reaksi-reaksi yang dapat terjadi pada aldehida adalah: (a) oksidasi oleh (K2Cr2O7 + H2SO4), menghasilkan asam karboksilat (aldehida dapat pula mereduksi larutan Fehling dan larutan Tollens), (b) reduksi oleh hidrogen dengan katalis logam Cu, menghasilkan alkohol primer, (c) NaHSO3; NH3; HCN; NH2OH; C6H5NHNH2; alkohol; dan pereaksi Grignard adalah senyawa-senyawa yang dapat mengadisi pada aldehida, (d) halogen dapat mensubstitusi atom H yang diikat oleh atom C, (e) PCl5 dengan aldehida mengakibatkan atom O pada aldehida digantikan oleh 2 atom Cl, (f) formaldehida bila berpolimerisasi menghasilkan paraformaldehida, dan asetaldehida bila berpolimerisasi menghasilkan paraldehida, (g) aldehida yang memiliki atom H dengan larutan alkali encer atau ZnCl2, dapat berkondensasi aldol, (h) khusus untuk formaldehida: dapat membentuk heksametilentetramina bila direaksikan dengan NH3, dapat mengalami oksidasi dan reduksi secara serentak bila bereaksi dengan basa kuat (reaksi Cannizzaro), dapat menghasilkan pentaeritritol bila bereaksi dengan asetaldehida, dan dapat membentuk resin “Bakelite” bila bereaksi dengan fenol.

7. Reaksi-reaksi yang dapat terjadi pada keton adalah: (a) oksidasi, yang menghasilkan asam karboksilat dengan jumlah atom C lebih sedikit daripada keton asalnya, (b) sejumlah zat seperti yang disebutkan dalam reaksi adisi pada aldehida, dapat pula mengadisi pada keton, (c) reduksi, yang menghasilkan alkohol sekunder, (d) dengan PCl5, keton bereaksi sebagaimana halnya pada aldehida, (e) dengan aldehida/ keton dalam lingkungan asam (HCl) terjadi kondensasi, (f) semua metil keton dengan I2 dan NaOH menghasilkan iodoform (CHI3), (g) khusus untuk aseton bila direaksikan dengan H2SO4 pekat menghasilkan mesitilena (1,3,5-trimetilbenzena).

8. Contoh kegunaan aldehida/ keton dalam kehidupan sehari-hari adalah: (a) larutan formaldehida dalam air dengan konsentrasi 35-40% yang dinamakan formalin, digunakan untuk germisida, (b) paraldehida yang merupakan hasil polimerisasi asetaldehida digunakan untuk akselerator dalam vulkanisasi karet, (c) aseton banyak digunakan untuk pelarut, membuat plastik, dan membuat zat warna.

Eter

Posted in Eter with tags , , , , , on April 26, 2012 by isepmalik

1. Eter adalah nama suatu golongan senyawa organik yang terdiri dari unsur-unsur C, H, dan O, dengan rumus umum R-O-R’ (R dan R’ adalah lambang gugus alkil/ alkil tersubstitusi). Bila R = R’ dinamakan eter sederhana atau eter simetrik, dan bila R ≠ R’ dinamakan eter campuran atau eter asimetrik.

2. Untuk memberi nama pada senyawa-senyawa eter, dapat digunakan tatanama sistem IUPAC dan tatanama trivial. Menurut tatanama IUPAC, eter dianggap sebagai derivat alkoksi (RO-) suatu alkana, sedangkan dalam tatanama trivial eter diberi nama dengan menyebut nama gugus-gugus yang terikat pada atom O, kemudian ditambahkan kata eter.

3. Sifat-sifat fisika eter antara lain: tidak larut dalam air, larut dalam pelarut-pelarut organik, mudah terbakar, dapat melarutkan lemak, minyak, alkaloid dan beberapa zat anorganik.

4. Tiga macam cara untuk membuat eter adalah: (a) mereaksikan alkil halida dan senyawa alkoksida (sintesis Williamson), (b) mereaksikan alkil halida dan perak oksida, dan (c) dehidrasi alkohol.

5. Reaksi-reaksi yang dapat terjadi pada eter adalah: (a) oksidasi, dengan menggunakan oksidator antara lain (K2Cr2O7 + H2SO4), (b) reaksi dengan HI, yang mengakibatkan pemutusan rantai pada eter, (c) hidrolisis dalam lingkungan asam, yang menghasilkan alkohol, (d) reaksi dengan H2SO4 pekat dan panas menghasilkan alkohol dan alkil hidrogensulfat, dan (e) reaksi dengan klor atau brom yang mengakibatkan terjadinya substitusi atom H pada atom C alfa.

6. Dalam golongan eter dikenal beberapa jenis eter yang mempunyai rumus struktur khusus, misalnya:

: etilena oksida; : dioksana;

ClCH2CH2-O-CH2CH2Cl      : β, β’-diklorodietil eter;

CH2=CH-O-CH=CH2               : divinil eter

7. Di samping eter yang mengandung unsur-unsur C, H, dan O dijumpai pula senyawa tioeter yang mengandung unsur-unsur C, H, dan S. Pada dasarnya sifat-sifat tioeter menyerupai eter. Cara pembuatannya juga menyerupai pembuatan eter. Contoh tioeter misalnya: dietilsulfida: C2H5-S-C2H5 dan dialil sulfida: CH2=CH-CH2-S-CH2-CH=CH2.

Fenol

Posted in Fenol with tags , , , , , on April 24, 2012 by isepmalik

  1. Istilah fenol mempunyai dua macam arti, yaitu sebagai nama senyawa organik yang mempunyai rumus C6H5OH, dan sebagai nama golongan senyawa organik yang rumus umumnya ArOH (Ar adalah gugus aril). Bila dibandingkan dengan golongan alkohol, terbukti bahwa keduanya mempunyai gugus fungsi –OH. Perbedaannya adalah bahwa gugus –OH pada golongan alkohol terikat pada rantai alifatik, sedangkan pada golongan fenol terikat langsung pada cincin aromatik. Di antara golongan alkohol dan golongan fenol terdapat persamaan dan juga perbedaan sifat kimia.
  2. Dalam hal tatanama, dikenal adanya dua sistem, yaitu: (a) dengan sistem IUPAC, dan (b) dengan menggunakan nama trivial. Yang lazim dipakai adalah nama trivialnya.
  3. Antar molekul fenol (C6H5OH) terdapat ikatan hidrogen, sehingga titik didihnya relatif tinggi. Fenol dan beberapa turunannya sukar larut dalam air. Hal yang istimewa dijumpai pada senyawa o-nitrofenol, yaitu terbentuknya ikatan hidrogen antara gugus –NO2 dan gugus –OH yang letaknya berdekatan. Keadaan pada o-nitrofenol semacam itu mempengaruhi volatilitas dan kelarutannya dalam air.
  4. Fenol (C6H5OH) lebih bersifat asam daripada etanol (C2H5O). Bila dalam fenol terdapat substituen halogen atau gugus –NO2, maka keasamannya meningkat. Sebagai asam lemah, fenol dapat bereaksi dengan basa kuat dan menghasilkan garam yang larut dalam air. Di samping itu, fenol dapat membentuk ester (sintesis Williamson), membentuk ester, mengalami substitusi elektrofilik pada inti, serta reaksi-reaksi yang khas (reaksi Kolbe, reaksi Reimer-Tiemann, reaksi polimerisasi dengan formaldehida).
  5. Untuk membuat fenol dapat ditempuh empat macam cara, yaitu: (a) meleburkan garam Na-arilsulfonat dan NaOH, (b) menghidrolisis garam diazonium, (c) melalui proses Dow, dan (d) mengoksidasi kumena. Cara yang lazim dilakukan untuk membuat fenol dalam industri dewasa ini adalah oksidasi kumena.

Alkohol

Posted in Alkohol with tags , , , , , on April 23, 2012 by isepmalik

  1. Alkohol adalah nama suatu golongan senyawa organik yang mengandung unsur-unsur C, H, dan O, dengan gugus fungsi –OH (hidroksil). Manfaat golongan alkohol dalam sintesis senyawa organik sangat besar, karena dapat digunakan untuk membuat senyawa golongan lain, misalnya aldehida, keton, dan asam karboksilat.
  2. Rumus umum golongan alkohol adalah ROH, dengan ketentuan R dapat berupa gugus alkil/ alkil tidak jenuh/ alkil tersubstitusi/ rantai alisiklik. Dikenal pula alkohol yang mengandung lebih dari sebuah gugus –OH. Apabila gugus –OH terikat langsung pada inti atau cincin aromatik, maka senyawanya bukan termasuk golongan alkohol, melainkan golongan fenol.
  3. Karena cakupan golongan alkohol cukup luas, maka dalam mengklasifikasi alkohol perlu dipilih dasar klasifikasi yang tepat. Jika didasarkan atas jenis atom karbon yang mengikat sesama gugus –OH, maka didapatkan kelompok-kelompok alkohol primer, sekunder, dan tersier. Bila didasarkan banyaknya gugus –OH, maka diperoleh kelompok-kelompok alkohol monohidroksi, alkohol dihidroksi, dan seterusnya.
  4. Di samping tatanama IUPAC, dan tatanama trivial, dalam golongan alkohol alifatik jenuh dikenal pula tatanama karbinol. Perlu diketahui bahwa tatanama karbinol tidak banyak digunakan. Dalam tatanama IUPAC, digunakan akhiral –ol sebagai pengganti dari akhiran –a dalam nama alkana yang menurunkannya. Untuk tatanama trivial, alkohol diberi nama dengan menyebut nama gugus alkil yang mengikat gugus –OH, dan diikuti kata alkohol. Dalam tatanama karbinol, alkohol alifatik jenuh dianggap sebagai turunan CH3OH (karbinol).
  5. Sifat-sifat alkohol ditentukan oleh dua unit strukturnya, yaitu R- (gugus alkil) yang bersifat lipofilik dan gugus –OH (hidroksil) yang bersifat hidrofilik. Kedua unit struktur ini mempengaruhi sifat-sifat fisika alkohol, yaitu dalam hal kelarutannya dalam air, titik didih, dan viskositasnya.
  6. Reaksi pada alkohol dapat dibeda-bedakan menjadi: (a) penggantian H dalam gugus –OH oleh atom/ gugus, (b) penggantian gugus –OH oleh halogen, (c) perubahan pada gugus –C-OH karena adanya oksidasi, (d) dehidrasi.
  7. Untuk membuat alkohol primer dapat dilakukan cara-cara berikut: (a) mereaksikan alkil halida primer dan basa, (b) mereduksi aldehida, (c) hidrolisis alkil hidrogensulfat, (d) hidrolisis ester, (e) menggunakan pereaksi Grignard (lihat bab: Aldehida dan Keton). Di samping cara-cara tersebut dikenal pula cara-cara khusus untuk membuat metanol dan etanol.
  8. Alkohol sekunder dapat dibuat dengan cara-cara berikut: (a) mereaksikan alkil halida sekunder dan basa, (b) mereduksi keton, (c) menghidrolisis hasil adisi H2SO4 pada alkena, (d) menggunakan pereaksi Grignard (lihat bab: Aldehida dan Keton).
  9. Untuk membuat alkohol tersier, terdapat dua cara, yaitu: (a) menggunakan pereaksi Grignard (lihat bab: Aldehida dan Keton), dan (b) menghidrolisis alkil hidrogensulfat dengan ketentuan gugus –OSO3H terikat pada atom C tersier.
  10. Alkohol polihidroksi yang banyak dikenal adalah yang mengandung dua gugus –OH (etilena glikol) dan tiga gugus –OH (gliserol). Reaksi-reaksi pada alkohol polihidroksila pada dasarnya sama dengan alkohol monohidroksi.
  11. Alkohol monohidroksi ada juga yang tidak jenuh, yaitu: CH2=CHOH (vinil alkohol) dan CH2=CH-CH2OH (alkil alkohol). Cara membuat alkohol tidak jenuh ini serupa dengan pembuatan alkohol monohidroksi jenuh, sedangkan reaksi-reaksinya dapat memperlihatkan sifat yang dimiliki oleh ikatan rangkap karbon-karbon, dan dapat pula memperlihatkan sifat sebagai alkohol primer.
  12. Tioalkohol (tiol) adalah senyawa organik yang mempunyai rumus umum RSH. Tiga macam reaksi yang dapat menghasilkan tioalkohol adalah: (a) mereaksikan ROSO3Na dengan NaSH, (b) mereaksikan alkil halida dengan KSH, dan (c) mereaksikan alkohol dengan H2S.

Senyawa Halogen Organik

Posted in Senyawa Halogen Organik with tags , , , , , on April 23, 2012 by isepmalik

1. Senyawa halogen organik dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu: (a) alkil halida, (b) halida tidak jenuh, (c) aril halida, dan (d) polihalogen, yang masing-masing mempunyai ciri struktur khas.

2. Alkil halida mempunyai rumus umum CnH2n+1X (X umumnya berupa Cl/ Br/ I). Bila ditinjau dari jenis atom C yang mengikat X, alkil halida dibedakan menjadi alkil halida primer/ sekunder/ tersier. Bila X diikat oleh atom C primer maka alkil halida tersebut dinamakan alkil halida primer. Ketentuan serupa itu berlaku pula untuk alkil halida sekunder dan tersier.

3. Tatanama dalam alkil halida ada dua macam, yaitu tatanama IUPAC dan tatanama trivial. Dalam tatanama IUPAC, alkil halida dianggap sebagai derivat alkana, dan dalam pemberian namanya digunakan awalan halo. Kedudukan atom halogen dalam rantai atom C alkana induknya ditunjukkan sesuai dengan nomor atom C yang mengikatnya. Dalam tatanama trivial, nama alkil halida terdiri dari nama gugus alkil diikuti dengan nama halidanya.

4. Sifat-sifat fisika alkil halida sangat beragam, tetapi masih dapat digeneralisasi, yaitu: (a) titik didih alkil halida > alkil bromida > alkil klorida, (b) semua alkil halida tidak larut dalam air, tetapi dapat larut dalam pelarut-pelarut organik, (c) massa jenis alkil klorida < massa jenis air, sedangkan berat jenis alkil bromida dan alkil iodida > massa jenis air.

5. Reaksi yang penting dalam alkil halida adalah reaksi substitusi nukleofilik. Dalam reaksi ini nukleofil yang menyerang dapat berupa anion (OH-, CN-, dan sebagainya) dan dapat pula berupa molekul polar yang netral (NH3, CH3OH dan sebagainya). Dengan basa kuat, alkil halida mengalami eliminasi. Dengan logam Na, alkil halida menghasilkan alkana (reaksi Wurtz), dengan logam Mg menghasilkan pereaksi Grignard (RMgX) dan dengan logam Li menghasilkan alkil litium.

6. Untuk membuat alkil halida dapat dilakukan cara-cara: (a) mereaksikan alkohol dan asam halogen, (b) adisi asam halogen pada alkena. Di samping kedua cara tersebut dapat pula ditempuh cara yang berlaku terbatas, yaitu halogenasi alkana dengan katalis panas/ cahaya dan reaksi Hunsdiecker.

7. Kelompok senyawa halida tidak jenuh ada beberapa macam, di antaranya: CH=CH-Cl(vinil klorida), CH=CH-CH2Br (alil bromida), dan CHCl=CCl2 (trikloroetena). Masing-masing contoh tersebut berbeda sifat, cara pembuatan, dan kegunaannya.

8. Pada kelompok senyawa aril halida, atom halogennya terikat pada inti aromatik. Bila atom halogennya terikat pada rantai samping, dinamakan aril halida tidak sejati atau aralkil halida. Salah satu contoh aril halida adalah:

(bromobenzena)

dan salah satu contoh aril halida tidak sejati adalah:

(benzilbromida)

9. Dalam hal sifat-sifat fisika dapat dinyatakan bahwa aril halida: wujud fisikanya ditentukan oleh jumlah atom halogen yang dikandungnya, hanya dapat larut dalam pelarut-pelarut organik dan berat jenisnya serta titik didihnya meningkat mengikuti urutan F-Cl-Br-I.

10. Aril halida tidak reaktif terhadap nukleofil. Reaksi nukleofil dengan aril halida hanya dapat berlangsung dalam kondisi reaksi yang istimewa, misalnya dengan suhu atau tekanan yang tinggi. Bila aril halida direaksikan dengan elektrofil maka terjadi substitusi pada inti, dengan posisi orto dan/ atau para terhadap halogen. Pembuatan pereaksi Grignard hanya mungkin terjadi bila bromobenzena atau iodobenzena direaksikan dengan logam Mg dalam pelarut eter kering.

11. Cara-cara pembuatan klorobenzena/ bromobenzena:

(a)     Klorobenzena dan bromobenzena dibuat dengan reaksi langsung klor atau bromo dengan benzena, disertai katalis asam Lewis FeCl3/ FeBr3/ AlBr3 yang berfungsi sebagai “halogen carrier”.

(b)     Klorobenzena dapat dibuat dengan proses Raschig, yaitu mereaksikan benzena dengan HCl dan oksigen pada 2500C dan katalis  CuCl2.

(c)     Mereaksikan fenol dengan fosfortrihalida/ fosforpentahalida (Catatan: cara ini hanya memberikan hasil sedikit).

12. Senyawa yang termasuk kelompok polihalogen antara lain CH2I2, CH2Cl2, CHCl3, CCl4, CHI3, CCl2F2, CH2Cl-CH2Cl, CCl2=CCl2, CH2Br-CH2Br. Masing-masing senyawa tersebut berbeda dalam cara pembuatannya, sifat-sifatnya, dan kegunaannya.

(Sumber: Parlan. (2003). Kimia Organik I. Universitas Negeri Malang. Hal: 117-118).

Benzena dan Turunannya

Posted in Benzena dan Turunannya with tags , , , , , on April 22, 2012 by isepmalik

Benzena adalah senyawa hidrokarbon dengan rumus molekul C6H6 yang diketemukan pertama kalinya oleh Michael Faraday pada tahun 1825. Jika dibandingkan dengan senyawa hidrokarbon lain yang mengandung 6 atom C dapat diduga bahwa benzena derajat ketidakjenuhannya tinggi. Kenayataan menunjukkan bahwa sifat-sifat kimia benzena sangat berbeda dengan hidrokarbon tidak jenuh.

Diamati bahwa benzena dan senyawa-senyawa turunannya memiliki aroma (bau yang sedap). Atas dasar aroma itulah maka benzena dan turunan-turunannya diklasifikasikan sebagai senyawa aromatik. Meskipun istilah aromatik dewasa ini masih dipertahankan, namun pengertiannya tidak terkait lagi dengan aroma. Kini istilah aromatik diterapkan pada sejumlah besar senyawa yang mempunyai dua ciri utama, yaitu derajat ketidakjenuhannya tinggi, dan tidak mudah bereaksi dengan pereaksi-pereaksi yang dapat menyerang ikatan pi.

Dalam upaya menjelaskan sifat-sifat kimia benzena, sejumlah ahli kimia mencoba menggambarkan rumus strukturnya. Dari beberapa rumus struktur yang diusulkan oleh para ahli tersebut ternyata hanya rumus struktur yang diusulkan oleh Kekule yang paling mendekati sifat-sifat kimia yang diperlihatkan oleh benzena. Oleh Kekule (tahun 1872), struktur benzena digambarkan sebagai cincin beranggota enam (heksagon) dengan tiga buah ikatan tunggal dan tiga buah ikatan rangkap yang letaknya berselang-seling. Keberatan utama terhadap rumus benzena yang diusulkan Kekule adalah ketidakmampuannya menjelaskan mengapa benzena tidak menunjukkan sifat-sifat kimia seperti alkena sebagaimana yang diperlihatkan oleh ketiga ikatan rangkap dalam strukturnya. Menurut model ikatan valensi, benzena dinyatakan sebagai hibrida resonansi dari dua struktur penyumpang yang ekivalen, yang masing-masing adalah struktur benzena menurut Kekule. Hibrida resonansi tersebut lebih stabil daripada masing-masing struktur penyumbangnya.

Di samping benzena dan turunannya, ada sekelompok senyawa yang berbeda strukturnya dengan benzena tetapi memperlihatkan sifat aromatik. Kelompok senyawa ini dinamakan kelompok senyawa heterosiklik, dan beberapa contohnya adalah piridina, furan, tiofena, dan pirol. Ciri kearomatikan kelompok senyawa ini dijelaskan dengan kaidah Erich Huckel, sedangkan ciri keheterosiklikannya ditandai oleh adanya atom hetero (bukan atom C) dalam cincinnya.

Untuk memahami tatanama turunan perlu diperhatikan ketentuan yang berlaku untuk yang memiliki satu substituen (benzena monosubstitusi), dua substituen (benzena disubstitusi), dan lebih dari dua substituen (benzena polisubstitusi). Untuk benzena monosubstitusi, beberapa nama umum (toluena, anilina, fenol, dan lain-lain) masih dipertahankan, sedangkan untuk benzena disubstitusi digunakan awalan-awalan orto- (o-), meta- (m-), dan para- (p-) jika posisi kedua substituen berturut-turut1,2-1,3,-1,4. Khusus untuk benzena polisubstitusi, posisi masing-masing substituen ditunjukkan dengan nomor atom C yang mengikatnya, sedangkan dalam penulisannya mengikuti urutan abjad huruf pertama nama substituennya.

Di samping benzena dikenal pula hidrokarbon aromatik poliinti, misalnya naftalena (mempunyai dua cincin aromatik), antrasena dan fenantrena (mempunyai tiga cincin aromatik). Dalam hidrokarbon poliinti, di antara cincin aromatik yang satu dengan lainnya terdapat dua atom karbon yang digunakan bersama. Tatanama untuk hidrokarbon poliinti ini pada dasarnya sama dengan tatanama turunan benzena, yaitu dengan menggunakan sistem penomoran yang ditentukan untuk masing-masing sistem poliinti.

Untuk membuat benzena dapat dilakukan dengan 4 macam cara, yaitu (1) mereaksikan Na-benzoat + NaOH, (2) mereaksikan asam benzenasulfonat + air, (3) mereduksi fenol dengan Zn, dan (4) memanaskan asetilena pada 6500C dengan katalis Fe-Si-Cr. Cara pembuatan yang keempat merupakan perubahan dari senyawa alifatik ke senyawa aromatik. Reaksi-reaksi pada benzena yang utama adalah substitusi elektrofilik yang meliputi halogenasi, nitrasi, sulfonasi, alkilasi Fiedel-Crafts, dan asilasi Friedel-Crafts. Dalam kondisi reaksi khusus, benzena dapat mengalami pirolisis dan menghasilkan antara lain bifenil. Atom H pada cincin benzena dapat disbustitusi oleh logam alkali bila direaksikan dengan senyawa alkil alkali.

Seperti halnya hidrokarbon alifatik, dalam hidrokarbon aromatik terdapat pula deret homolog. Rumus-rumus molekul dalam deret homolog tersebut adalah C6H6-C7H8-C8H10- dan seterusnya. Pada rumus struktur toluena terdapat dua bagian, yaitu bagian inti dan “rantai samping” yang berupa gugus –CH3. Bagian-bagian tersebut juga terdapat pada homolog benzena yang lebih tinggi. Untuk membuat homolog benzena dapat dilakukan cara-cara: (1) alkilasi Friedel-Crafts, (2) reaksi Wurtz-Fittig, (3) reaksi Grignard. Khusus untuk membuat mesitilena (1,3,5-trimetilbenzena) ditempuh dengan mendistilasi campuran aseton dan asam sulfat pekat. Reaksi-reaksi yang dapat terjadi pada homolog benzena adalah oksidasi, halogenasi, dan nitrasi.

Benzena mensubstitusi bila berhadapan dengan elektrofil ternyata mempunyai pola reaksi yang tertentu. Dalam hal ini substituen yang terikat pada inti benzena mempengaruhi laju reaksi dan arah serangan elektrofil. Bila ditinjau dari pengaruhnya terhadap laju reaksi, maka gugus-gugus substituen dibedakan menjadi gugus pengaktif dan gugus pendeaktif. Yang dimaksud gugus pengaktif adalah gugus substituen yang keberadaannya meningkatkan kereaktifan dalam reaksinya dengan elektrofil, sedangkan gugus pendeaktif menurunkan kereaktifan. Peningkatan dan penurunan kereaktifan tersebut adalah dengan menggunakan senyawa acuan benzena.

Jika ditinjau atas dasar pengaruhnya terhadap arah serangan elektrofil, maka gugus-gugus substituen dibedakan menjadi gugus pengarah orto-para dan gugus pengarah meta. Yang dimaksud gugus pengarah orto-para adalah gugus substituen yang menyebabkan arah utama serangan elektrofil pada posisi orto dan/ atau para terhadap kedudukan gugus substituen tersebut, sedangkan gugus pengarah meta adalah gugus substituen yang menyebabkan arah utama serangan elektrofil pada posisi meta terhadap kedudukan gugus substituen tersebut.

Reaksi antara benzena disubstitusi dengan suatu elektrofil lebih rumit orientasinya daripada benzena monosubstitusi. Untuk memprediksi hasil-hasil reaksi yang terjadi dalam reaksi antara benzena disubstitusi dengan suatu elektrofil perlu diperhatikan sifat dan posisi kedua substituen yang telah terikat pada cincin benzena.

(Sumber: Parlan. (2003). Kimia Organik I. Universitas Negeri Malang. Hal: 97-99).

Alkuna

Posted in Alkuna with tags , , , , , on April 21, 2012 by isepmalik

Alkuna adalah hidrokarbon alifatik tidak jenuh yang mempunyai sebuah ikatan ganda tiga karbon-karbon (-C≡C-) dan mempunyai rumus umum CnH2n-2. Menurut model ikatan valensi, sebuah ikatan ganda tiga terbentuk dari orbital-orbital hibrida sp atom-atom karbon yang berdampingan, yang bertumpang tindih. Ikatan ganda tiga tersebut merupakan kombinasi dari sebuah ikatan sigma yang dibentuk oleh orbital-orbital hibrida sp yang tumpang tindih, dan dua ikatan pi, yang terdiri dari sebuah ikatan pi dari tumpang tindihnya orbital-orbital 2py yang tumpang tindih dan sebuah ikatan pi dari orbital-orbital 2pz yang paralel dan tumpang tindih.

Menurut tatanama IUPAC pemberian nama alkuna adalah dengan mengganti akhiran –ana pada nama alkana asalnya dengan akhiran –una. Alkuna juga dapat diberi nama dengan menganggapnya sebagai derivat asetilena (HC≡CH). Dalam tatanama derivasi ini, nama gugus-gugus yang terikat pada ikatan ganda tiga disebut terlebih dahulu kemudian ditambahkan kata asetilena.

Sifat-sifat fisika alkuna menyerupai alkana dan alkena. pada temperatur kamar alkuna yang mengandung 2-4 atom C berwujud gas, sedangkan selebihnya berwujud cairan, dengan berat jenis kurang dari 1. Alkuna adalah senyawa nonpolar yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut-pelarut organik nonpolar (eter, benzena, karbon tetraklorida, dan sebagainya). Makin tinggi berat molekul alkuna, makin tinggi titik didihnya.

Reaksi-reaksi pada alkuna dapat berupa: (a) reaksi adisi (dengan hidrogen/ halogen/ hidrogen halida/ air), (b) reaksi oksidasi (dengan larutan KMnO4 yang agak netral/ ozon), dan (c) reaksi pembentukan asetilida. Masing-masing reaksi tersebut memerlukan kondisi reaksi yang spesifik.

Alkuna dapat dibuat dengan beberapa cara, yaitu: (a) dehidrohalogenasi senyawa dihalida visinal maupun geminal, dan (b) mereaksikan asetilida logam dengan alkil halida primer.

(Sumber: Parlan. (2003). Kimia Organik I. Hal: 72).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.497 pengikut lainnya.