Archive for the Riwayat Hidup Category

Riwayat Hidup Ibnu Bajah

Posted in Ibnu Bajah, Riwayat Hidup with tags , , , , , on Agustus 8, 2012 by isepmalik

Dia bernama lengkap Abu Bakar Muhammad bin Yahya as-Shaigh, dan terkenal dengan sebutan “Ibnu Bajah” yang berarti perak dalam bahasa Prancis Maroko. Dia dilahirkan di Sarqusythah, sebuah kota di Andalusia (Spanyol) sekitar tahun 475 Hijriah/ 1082 Masehi. Di kota tersebut dia tumbuh dan besar. Ibnu Bajah meninggalkan Syarqusthah sebelum jatuh ke tangan Alfonso I, raja Aragon pada tahun 512 Hijriah atau 1118 Masehi. Setelah itu dia pindah ke Sibilia, lalu ke Granada, kemudian ke Pasa di Maghribi (Maroko)—di sana terdapat istana kaum Murabithin—dan mendapatkan nasib baik dari mereka, bahkan diberi kedudukan sebagai menteri.[1] Ibnu Bajah meninggal dunia pada tahun 533/1138 di kota Pasa dan sekaligus di makam di kota tersebut.

Ibnu Bajah adalah orang pertama yang memulai periode penulisan buku filsafat di Andalusia. Meskipun sebelumnya bermunculan sejumlah ilmuwan yang sibuk mendalami ilmu kuno di Andalusia, tetapi banyak di antara mereka yang tidak berani mempertahankan pendapatnya, terutama karena takut akan mendapatkan perlakuan buruk atau karena keterbatasan mereka dalam memahami tujuan filsafat.[2]

Para ahli sejarah kehidupan rasionalisme di kalangan kaum Muslim mengakui kelebihan Ibnu Bajah. Ibnu Abu Ushaibah berkomentar tentang Ibnu Bajah, “Sesungguhnya Ibnu Bajah adalah ‘Allamah (setingkat guru besar) pada zamannya di bidang ilmu hikmah. Dia memiliki kelebihan di bidang bahasa Arab dan sastra, penghafal al-Quran, sangat menguasai ilmu kedokteran, musik, antropologi, dan mempunyai beberapa komentar tentang teknik. Dia seorang yang sangat cerdas dan sangat memahami pendapat-pendapat Aristoteles.”[3]

Jamaluddin al-Qafthi juga berkomentar tentangnya, “Sesungguhnya Ibnu Bajah sangat menguasai ilmu-ilmu orang-orang terdahulu. Dia sangat pintar di bidang sastra, sehingga tidak ada yang dapat menandinginya pada saat itu.”[4]

Begitu pula Ibnu Thufail mengakui kelebihan Ibnu Bajah. Dia berkata, “Para ulama kelompok pertama yang muncul di Andalusia tidak menyisakan orang yang lebih cerdas, lebih valid berteori, dan lebih jujur berpikir daripada Abu Bakar bin Shaigh.”[5] Maksudnya, Ibnu Bajah.

Ibnu Rusyd juga banyak dipengaruhi oleh Ibnu Bajah. Itu diakui sendiri oleh Ibnu Rusyd dalam bukunya Talkhish Kitab an-Nafs, di mana dia menyebutkan bahwa semua penjelasan Ibnu Bajah tentang pembahasan akal adalah pendapat Ibnu Bajah sendiri. Tetapi pada saat yang lain, Ibnu Rusyd mengkritik sebagian pendapat Ibnu Bajah.[6]

Albert de Great, salah satu filosof Kristen Abad Pertengahan juga banyak dipengaruhi oleh Ibnu Bajah.[7]

Ibnu Bajah hidup pada masa pemerintahan kaum Murabithin, yaitu suatu masa yang terkenal dengan penindasan pemikiran dan kaum pemikir. Ibnu Bajah pernah mengalami penindasan semacam itu. ibnu Ushaibiah mengungkapkan, “Ibnu Bajah banyak mengalami cobaan dan penderitaan serta celaan dari kaum awam. Mereka pernah bermaksud membunuhnya, tetapi Allah menyelamatkannya dari usaha pembunuhan itu.”[8]

Al-Qafthi juga berkata, “Ibnu Bajah pernah bergabung dengan para dokter dalam disiplin mereka. Lalu mereka iri sehingga membunuhnya dengan racun.”[9]

Fatah bin Khaqan, penulis buku Qalaid al-‘Uqban pernah menyerangnya dengan sengit; menisbatkannya dengan konsep ta’thil (konsep yang meniadakan sifat Allah), aliran kaum filosof, berakidah rusak, dan beriman lemah. Ibnu Khalkan berkomentar tentang hal itu, “Ibnu Khalqan berlebihan dalam bersikap dan melampaui batas dalam membuat batasan mengenai keyakinan yang rusak.”[10]

Ibnu Bajah memiliki wawasan yang luas tentang filsafat Aristoteles dan Plato, serta tertarik dengan pendapat-pendapat kaum filosof Muslim Timur, semisal al-Kindi, al-Farabi dan al-Ghazali. Terutama sekali al-Farabi yang banyak memberikan pengaruh terhadap Ibnu Bajah. Ibnu Bajah mirip dengan al-Farabi dalam hal minat untuk menyendiri, merenung, dan penalaran rasional.

Ibnu Bajah pernah mengkritik al-Ghazali, karena ia memandang bahwa jalan yang benar untuk mencapai Allah adalah melalui berpikir dan perenungan filosofis, bukan kondisi-kondisi sufistik dan meninggalkan proses berpikir,[11]sebagaimana yang menjadi pandangan al-Ghazali.

(Sumber: M. Utsman Najati. (2002). Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim).


[1] Jamaluddin al-Qafthi, h. 526; Umar Farwakh, Tarikh al-Fikr al-‘Arabi, op.cit., h. 607.

[2] Ibnu Khalkan, juz 4, h. 431; Ibnu Abu Ushaibah, h. 516.

[3] Ibnu Ushaibah, h. 515-517.

[4] Jamaluddin al-Qafthi, h. 526.

[5] Ibnu Thufail, Hayy bin Yaqzhan, diberi kata pengantar dan ditahkikkan oleh Faruq Saad, Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1974, h. 111-112.

[6] Muhammad Shaghir Hasan al-Ma’shumi, pengantar buku Kitab an-Nafs karangan Ibnu Bajah, Damaskus: Percetakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Arabia Damaskus, 1960, h. 7.

[7] Henry Corbin, Tarikh al-Falsafah al-Islamiyah, op.cit., h. 341; Muhammad Ali Abu Rayyan, op.cit., h. 441.

[8] Ibnu Abu Ushaibiah, h. 515.

[9] Jamaluddin al-Qafthi, h. 265.

[10] Ibnu Khalkan, h. 429-430; Lihat juga, Umar Farwakh, Ibn Bajah wa al-Falsafah al-Maghribiyah, Beirut: Maktabah Mudzaimanah, 1945, h. 20.

[11] Umar Farwakh, Ibn Bajah wa al-Falsafah al-Maghribiyah, Beirut: Maktabah Faimanah, 1945, h. 31.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.497 pengikut lainnya.