Archive for the Selayang Pandang Category

Perkembangan Filsafat di Zaman Islam

Posted in Awal - Zaman Islam with tags , , , , , on September 15, 2012 by isepmalik

Seiring dengan meluasnya wilayah pemerintahan Islam dan membesarnya kecenderungan berbagai kalangan kepada agama yang menghidupkan ini, sekian banyak pusat pembelajaran dunia termasuk dalam wilayah Islam. Terdapat pertukaran gagasan di antara para sarjana dan buku di antara beragam bahasa (India, Persia, Yunani, Latin, Suryani, Ibrani, dan sebagainya) ke dalam bahasa Arab yang secara de facto telah menjadi bahasa internasional umat Muslim. Inilah yang lantas mempercepat laju perkembangan filsafat, beragam sains, dan kesenian. Sekian banyak buku para filosof Yunani dan Aleksandria serta para filosof dari pusat-pusat pembelajaran yang punya reputasi dialihkan ke bahasa Arab.

Pada mulanya, tiadanya bahasa bersama dan peristilahan teknis yang bisa disepakati para penerjemah dan ketidakcocokan asas-asas filsafat Timur dan Barat, menyukarkan pengajaran filsafat. Penelitian dan pemilihan asas-asas filsafat ini pun menjadi lebih sulit lagi. Tetapi, tidak terlalu lama keadaan itu berlangsung hingga muncullah jenius-jenius, seperti Abu Nashr Al-Farabi dan Ibnu Sina yang mampu menyerap keseluruhan pemikiran filsafat zaman itu dengan ketekunan tinggi. Dengan bakat alami mereka yang matang oleh pancaran sinar wahyu dan penjelasan para Imam, jenius-jenius ini lalu berhasil me-review dan memilih sejumlah kaidah filsafat yang pas dan membeberkan sebuah sistem filsafat yang sempurna. Selain memuat gagasan-gagasan Plato, Aristoteles, pemikiran Neo-Platonik dari Aleksandria, dan gagasan-gagasan mistikus Timur (‘urafa), sistem ini juga memuat pemikiran-pemikiran baru dan karenanya berhasil mengatasi semua sistem filsafat Timur maupun Barat lain. Meskipun demikian, bagian terbesar dari sistem ini berasal dari Aristoteles, sehingga warna Aristotelian dan peripatetiknya pun cukup kentara.

Selanjutnya, sistem filsafat ini terkena sorotan kritis dari para pemikir, semisal Al-Ghazali, Abu Al-Barakat Al-Baghdadi dan Fakhr Al-Din Ar-Razi. Pada sisi lain, dengan memanfaatkan karya-karya para arif Iran kuno dan membanding-bandingkannya dengan karya-karya Plato, kalangan Stoik dan Neo-Platonik, Syihab Al-Din Al-Suhrawardi mendirikan aliran filsafat baru yang dinamai sebagai filsafat Iluminasionis, yang warna Platoniknya lebih pekat lagi. Dengan cara ini, pangkalan bagi pergumulan ide-ide filosofis dan perkembangan serta pematangannya telah disiapkan.

Berabad-abad kemudian, filosof-filosof besar, semisal Khwajah Nashir Al-Din Al-Thusi, Muhaqqiq Dawani, Sayyid Shadr Al-Din Al-Dasytaki, Syaikh Al-Baha’i  dan Mir Muhammad Damad berhasil memperkaya filsafat Islam dengan curahan gagasan cemerlang mereka. Akhirnya, giliran Shadr Al-Din Al-Syirazi atau Mulla Shadra datang untuk memperkenalkan sistem filsafat baru yang dengan kejeniusan dan inovasinya menggabungkan elemen-elemen serasi dalam filsafat peripatetik, iluminasionisme, dan penyingkapan-penyingkapan mistis, yang dia tambah dengan beragam ide dan pikirannya yang menawan dan bernilai, serta dia menyebutnya dengan teosofi transenden atau hikmat-e muta’aliyah.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Terbitnya Fajar Islam

Posted in Awal - Zaman Islam with tags , , , , , on September 15, 2012 by isepmalik

Semasa dengan proses di atas (pada abad ke-6 M), di belahan dunia lain, peristiwa sejarah paling besar terjadi: Jazirah Arab menyaksikan kelahiran, perjuangan, dan hijrah Nabi Besar Islam, semoga Allah mencurahkan salawat dan salam kepada beliau dan keluarga. Beliau mengumandangkan pesan petunjuk Ilahi kepada telinga kesadaran alam. sebagai langkah awal, dia menyeru manusia untuk menuntut pengetahuan,[1] dan menghargai kegiatan membaca, menulis, dan belajar setinggi-tingginya. Beliau membangun peradaban dan kebudayaan paling agung dan paling cerdas. Beliau mendorong umatnya untuk memperoleh ilmu dan kebijaksanaan dari buaian ibu hingga liang lahad (min al-mahd ila al-lahd), dari daerah bumi terdekat hingga terjauh (sekalipun ke negeri Cina, wa lau bil-shin), dan dengan ongkos berapa pun (meskipun dengan mengorbankan darah dan menyelami samudera, (wa lau bi safk al-muhaj wa khaudh al-bujaj).[2]

Benih Islam yang disemai oleh tangan tangguh Utusan Allah telah tumbuh rindang dan berbuah subur berkat pancaran wahyu Ilahi dan persentuhan dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Islam menyerap bahan mentah pemikiran manusia mengikuti ukuran-ukuran Ilahi yang sepatutnya dan menempa bahan-bahan mentah itu dengan kritik membangun agar menjadi unsur-unsur berguna. Dan dalam waktu singkat, Islam telah berimbas pada seluruh kebudayaan dunia.

Berkat seruan Nabi dan para penerusnya yang suci, kaum Muslim mulai mempelajari beragam ilmu dan menerjemahkan warisan Yunani, Roma, dan Persia ke dalam bahasa Arab. Unsur-unsur bergunanya mereka serap, dengan menambahkan padanya hasil-hasil penelitian mereka sendiri. Dan dalam sebagian besar lapangan, mereka berhasil menyumbangkan berbagai temuan, seperti aljabar, trigonometri, astronomi, ilmu perspektif, fisika dan kimia.

Faktor penting lainnya bagi perkembangan kebudayaan Islam adalah faktor politis. Rezim Umayah dan Abbasiyah yang secara tidak sah menduduki kursi pemerintahan Islam merasakan kebutuhan mendesak atas landasan popular di kalangan Muslim. Sebaliknya, musuh kedua rezim ini, yakni Ahl Al-Bait Nabi, semoga segenap keberkahan Allah tercurah bagi mereka, sebagai wali sah seluruh kaum Muslim, merupakan sumber ilmu pengetahuan dan harta karun wahyu Ilahi. Rezim berkuasa tidak punya cara untuk menarik orang kepada mereka kecuali dengan ancaman dan penyuapan. Maka dari itu, mereka berupaya memegahkan rezim mereka dengan mengumpulkan para sarjana dan pakar serta membekali mereka dengan beraneka rupa ilmu Yunani, Romawi, dan Persia, agar mereka mau menjajakan ilmu pengetahuan di tengah-tengah masyarakat dan membuat masyarakat berpaling dari Ahl Al-Bait.

Dengan cara ini, seabrek gagasan filsafat dan bermacam jenis ilmu pengetahuan dan seni, dengan berbagai motivasi lawan dan kawan, menyerbu lingkungan Islam. Lalu, kaum Muslim pun mulai menyelidiki, mengadopsi, dan menyanggah pernak-pernik asing ini. Tokoh-tokoh cemerlang bermunculan dalam bidang sains dan filsafat melalui jerih-payah berkelanjutan mereka sendiri, dan kebudayaan Islam pun menghasilkan buah.

Di antara tokoh-tokoh cemerlang itu adalah para pakar teologi dan akidah Islam yang mengkaji dan menyanggah masalah-masalah filsafat ketuhanan dari berbagai sudut pandang. Akan tetapi, sebagian mereka ada yang kebablasan dalam upaya mengkritik, mencari-cari kesalahan, mengajukan pertanyaan, dan keragu-raguan, sehingga memaksa sebagian besar pemikir dan filosof Islam lainnya untuk bekerja lebih keras dan memperkaya khazanah pemikiran intelektual dan filosofis.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Perhatikan ayat pertama yang diturunkan Allah kepada beliau: “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang mencipta… yang mengajari manusia dengan pena… (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-4).

[2] Semua ini adalah isyarat kepada sejumlah hadis Nabi yang sangat terkenal.

Akhir Filsafat Yunani

Posted in Awal - Zaman Islam with tags , , , , , on September 9, 2012 by isepmalik

Setelah masa Plato dan Aristoteles, berlalulah satu kurun panjang manakala murid-murid kedua tokoh ini tenggelam dalam pengumpulan, pengaturan, dan pengupasan pendapat-pendapat kedua guru mereka. Murid-murid ini cukup meramaikan pasar filsafat. Namun, tidak lama berselang, keramaian ini berganti dengan kemandekan, kegairahannya berangsur hilang dari peredaran. Di Yunani, tinggal segelintir konsumen yang berminat membeli dagangan-dagangan ilmu pengetahuan. Guru-guru seni dan ilmu pengetahuan berpindah ke dan menetap di Aleksandria, karam dalam penelitian dan pendidikan. Kota ini terus menjadi pusat ilmu dan filsafat sampai abad ke-4 sebelum Masehi.

Akan tetapi, tatkala Kekaisaran Romawi memeluk agama Kristen dan menyebar-nyebarkan doktrin Gereja sebagai keyakinan dan ajaran resmi, mereka mulai menentang suasana pemikiran dan ilmu yang bebas, sampai akhirnya Justinian, Kaisar Romawi Timur, pada 529 M memutuskan untuk menutup seluruh universitas dan sekolah di Athena dan Aleksandria. Para sarjana lalu berlarian dan mengungsi menyelamatkan diri ke berbagai kota dan negeri lain. Dan dengan begitu, cahaya obor ilmu dan filsafat pada di Kekaisaran Romawi.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Rasionalisme dan Empirisisme

Posted in Abad Duapuluh with tags , , , , , on Agustus 17, 2012 by isepmalik

Paham-paham filsafat Barat terbagi menjadi dua kelompok umum: rasionalis dan empiris. Contoh nyata dari kelompok pertama pada abad ke-19 adalah idealisme Hegel, yang bahkan menemukan pengikut di Inggris; dan contoh nyata dari kelompok kedua adalah positivisme, yang tetap aktif hingga sekarang. Ludwig Wittgenstein, Rudolp Carnap, dan Bertrand Russell bisa dihitung sebagai pendukung mazhab ini. Kebanyakan filosof bertuhan adalah rasionalis, dan kebanyakan filosof ateis adalah empiris. Contoh ganjil adalah McTaggert asal Inggris, yang Hegelian sekaligus ateis.

Keselarasan antara empirisisme dan pengingkaran atau keraguan terhadap metafisika jelas sekali, sedemikian sehingga kemajuan filsafat positivis diikuti dengan kecenderungan-kecenderungan materialis dan ateis. Kurangnya pesaing-pesaing tangguh pada kubu rasionalis menyiapkan landasan bagi kemenangan kecenderungan-kecenderungan ini.

Seperti telah disebutkan, mazhab rasionalis paling terkenal pada abad ke-19 adalah idealisme Hegel. Biarpun punya daya tarik dari sisi sistemnya yang relatif padu, keluasannya, kapasitasnya untuk melihat masalah dari beragam perspektif, aliran ini tidak memiliki logika yang kuat dan penalaran yang kukuh. Dan benar saja, tidak lama berselang ia telah menjadi sasaran kritik, bahkan oleh para penganutnya. Ada dua macam reaksi sezaman yang berbeda dalam menentangnya: satu dilancarkan oleh Soren Kierkegaard, pendeta Denmark, pendiri eksistensialisme, dan dua dipimpin oleh Karl Marx, Yahudi kelahiran Jerman, pendiri materialisme dialektika.

Romantisisme, yang muncul untuk membenarkan kebebasan manusia, akhirnya menemukan sistem filsafat yang mencakup dalam idealisme Hegelian. Ia memperkenalkan sejarah sebagai proses mendasar yang maju dan berkembang searah dengan asas-asas dialektika. Dengan demikian, ia telah melenceng dari jalan utamanya, lantaran dalam pandangan terakhir ini kebebasan individu tidak berperan mendasar. Maka dari itu, ia segera menuai badai kritik.

Salah seorang yang mengkritik tajam logika dan sejarah Hegel adalah Kierkegaard, yang menekankan tanggung jawab individu dan kehendak bebas manusia dalam membangun dirinya. Dia memandang kemanusiaan seseorang lahir dari kesadarannya akan tanggung jawab individual, terutama tanggung jawabnya kepada Tuhan, dan mengatakan bahwa kedekatan dan keterikatan dengan Tuhanlah yang memanusiakan manusia.

Kecenderungan yang disokong oleh fenomenologi Husserl ini memunculkan eksistensialisme. Para pemikir, seperti Martin Heidegger dan Karl Jaspers di Jerman, Gabriel Marcel dan Jean-Paul Sartre di Perancis menganut filsafat ini dari perspektif yang berbeda, bertuhan (theistic) dan tidak bertuhan (atheistic).

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Skeptisisme Tahap Kedua

Posted in Abad Pertengahan with tags , , , , , on Agustus 17, 2012 by isepmalik

Selama berabad-abad, Gereja menebarkan pelbagai pandangan dan gagasan sejumlah filosof sebagai ajaran-ajaran agama, sehingga orang-orang Kristen menerima semua itu sebagai hal yang pasti dan suci, di antaranya adalah pandangan-pandangan kosmologis Ptolemius dan Aristoteles, yang lantas dijungkirkan oleh Copernicus, dan sarjana-sarjana tidak memihak lain juga menyadari kekeliruan pandangan-pandangan tersebut. Seperti telah kita sebutkan, perlawanan dogmatis dan perilaku keji otoritas-otoritas Gereja terhadap para ilmuwan justru memunculkan reaksi bermusuhan.

Perubahan dalam bermacam pemikiran dan keyakinan serta rontoknya tonggak-tonggak akal dan filsafat (pada Abad Pertengahan) melahirkan guncangan-guncangan jiwa pada banyak sarjana dan membersitkan keragu-raguan dalam benak mereka: Bagaimana kita bisa memastikan bahwa keyakinan-keyakinan kita lainnya tidak galat dan kegalatan itu suatu saat menjadi jelas (seperti dalam kasus ajaran-ajaran Kristen)? Bagaimana kita bisa tahu bahwa teori-teori ilmiah yang baru ditemukan tidak akan dikelirukan suatu hari nanti? Akhirnya, seorang sarjana terpandang bernama Michael Eyquem de Montaigne menuliskan: Bagaimana kita bisa yakin bahwa teori Copernicus tidak akan digugurkan di masa mendatang? Montaigne sekali lagi mengungkapkan keragu-raguan kalangan skeptik dan sofis dengan gaya baru, skeptisisme dibela, dan dengan demikian tahap baru skeptisisme mengemuka.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Masa Pertumbuhan Filsafat

Posted in Awal - Zaman Islam with tags , , , , , on Agustus 17, 2012 by isepmalik

Pemikir paling masyhur yang berdiri menentang kaum sofis dan menyanggah gagasan-gagasan mereka adalah Socrates. Dialah orang yang menamai dirinya dengan philosophus, pencinta kebijaksanaan. Ungkapan ini lantas di-Arab-kan menjadi failasuf dan darinya pula kata falsafah diambil.

Para sejarahwan filsafat menyebutkan dua alasan Socrates memilih nama tersebut: kerendahan hati Socrates yang selalu mengakui kebodohan dirinya; dan tentangan bagi para sofis yang menyebut diri mereka sarjana. Dengan pilihan nama ini, tampaknya Socrates hendak memahamkan mereka: “Kalian yang melibatkan diri dalam pembahasan dan perdebatan, pengajaran dan pembelajaran, demi tujuan material dan politik, tidaklah layak menyandang gelar ‘orang bijak’. Bahkan, saya yang menolak gagasan-gagasan Anda dengan alasan-alasan jauh lebih kukuh, tidak merasa layak menyandang gelar itu, dan lebih memilih nama pencinta kebijaksanaan”.

Setelah Socrates, muridnya yang selama bertahun-tahun berguru pada Socrates, Plao, berupaya memantapkan prinsip-prinsip filsafat. Kemudian, murid lainnya, Aristoteles, membawa filsafat pada puncak perkembangannya dan memformalkan prinsip-prinsip pemikiran dan penalaran dalam bentuk ilmu logika, sekaligus merumuskan perangkap-perangkap pikiran dalam bagian macam-macam sesat-pikir.

Sejak pertama kali Socrates menyebut dirinya sebagai filosof, istilah filsafat digunakan sebagai lawan dari sophistry (ke-sofis-an atau kerancuan berpikir), dan memuat seluruh ilmu hakiki (real sciences) seperti fisika, kimia, kedokteran, astronomi, matematika, dan teologi. Sampai sekarang dalam banyak perpustakaan terkenal dunia, buku-buku fisika dan kimia masih dikelompokkan dalam kategori filsafat. Cuma bidang-bidang berdasarkan kesepakatan seperti bidang kosakata, tata kalimat, dan tata bahasa yang berada di luar wilayah filsafat.

Atas dasar itu, filsafat dianggap sebagai kata umum untuk seluruh ilmu hakiki, yang dibagi menjadi dua kelompok umum: ilmu-ilmu teoritis dan praktis. Ilmu-ilmu teoritis meliputi ilmu-ilmu alam, matematika, dan teologi. Ilmu-ilmu alam pada gilirannya meliputi kosmogoni, mineralogi, botani, dan zoologi; matematika meliputi aritmetika, geometri, astronomi, dan musik. Teologi dibagi menjadi dua kelompok: metafisika atau perbincangan umum seputar wujud; dan teologi ketuhanan. Ilmu-ilmu praktis bercabang tiga: moralitas atau akhlak, ekonomi domestik, dan politik.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Positivisme

Posted in Abad Duapuluh with tags , , , , , on Agustus 14, 2012 by isepmalik

Pada awal abad ke-19, Auguste Compte, asal Perancis, bergelar sang Bapak Sosiologi, mendirikan bentuk ekstrem empirisisme yang disebut dengan positivisme, yaitu empirisisme yang membatasi dasarnya pada apa yang langsung datang dari pancaindera. Dari satu perspektif, positivisme dapat dibilang lawan idealisme.[1] Compte bahkan menganggap konsep-konsep abstrak dalam sains yang tidak diperoleh langsung dari pengamatan (observation) sebagai proposisi metafisika yang sejatinya merupakan kata-kata kosong dan tak-makna.

Auguste Compte berpendapat bahwa (perkembangan) pemikiran manusia telah melewati tiga tahap: pertama, tahap Ilahi dan keagamaan yang mengaitkan segenap peristiwa pada sebab musabab adialami; kedua, tahap filosofis yang mencari sebab musabab peristiwa pada substansi-substansi tak nampak dan watak-watak maujud; ketiga, tahap ilmiah yang tidak berurusan dengan pertanyaan tentang alasan mengapa suatu gejala terjadi, tetapi berurusan dengan pertanyaan bagaimana terjadinya dan kesaling-hubungan antara mereka. Dan inilah tahap yang disebut dengan ilmu positif.

Sungguh aneh, Compte pada akhirnya mengakui bahwa agama ialah keniscayaan bagi manusia, hanya saja dia menempatkan manusia sebagai tujuan penyembahan. Dia menganggap dirinya sebagai nabi untuk keyakinan tersebut, dan merancang sejumlah upacara untuk ibadah sendirian atau berjamaah.

Kredo penyembahan manusia, yang merupakan contoh sempurna humanisme, menarik banyak pengikut di Perancis, Inggris, Swedia, dan Amerika Utara serta Selatan. Mereka ini secara resmi memeluk kredo ini dan mendirikan kuil-kuil untuk menyembah manusia. Kredo ini secara tidak langsung telah memengaruhi banyak orang dalam berbagai pola yang tidak bisa saya sebutkan di sini.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Sebelumnya, jenis filsafat ini diajukan oleh Santo Simon, dan akar pemikiran ini bisa ditemukan dalam Kant.

Renaisans dan Perubahan Menyeluruh dalam Pola-Pikir

Posted in Abad Pertengahan with tags , , , , , on Agustus 14, 2012 by isepmalik

Sejak abad ke-14, landasan sebuah perubahan menyeluruh telah terbentuk lewat beragam faktor. Pertama, merebaknya nominalisme (kesejatian penamaan) dan pengingkaran atas keberadaan konseo-konsep universal di Inggris dan Perancis, yang berperan efektif menjatuhkan dasar-dasar filsafat. Kedua, percekcokan seputar filsafat alam Aristoteles di Universitas Paris. Ketiga, gemerutu ketakselarasan filsafat dan dogma-dogma Kristen, atau nalar dan agama. Keempat, mencoloknya perseteruan antara penguasa-penguasa masa itu dan otoritas-otoritas Gereja, dan antar-otoritas Gereja sendiri terjadi perselisihan yang berbuntut pada kemunculan Protestantisme. Kelima, menggilanya humanisme dan tendensi untuk berurusan dengan masalah-masalah kehidupan manusia, sembari mencampakkan masalah-masalah metafisika. Dan akhirnya, keenam, pada pertengahan abad ke-15, Kekaisaran Bizantium runtuh, perubahan utuh (secara politik, filosofis, kesusastraan, dan keagamaan) mencuat di seluruh penjuru Eropa, dan lembaga-lembaga kepausan diserang dari segala jurusan. Dalam keadaan ini, filsafat skolastik yang lemah itu pun menemui nasih akhirnya.

Pada abad ke-16, minat pada ilmu-ilmu alam dan empiris meningkat pesat, dan temuan-temuan Copernicus, Kepler, dan Galileo telah mengguncang dasar-dasar astronomi Ptolemius dan filsafat alam Aristoteles. Singkatnya, semua aspek perikemanusiaan di Eropa terganggu dan terguncang.

Lembaga-lembaga kepausan berhasil menahan gelombang-gelombang besar ini, dan para ilmuwan dihadapkan pada Inkuisisi karena penolakan mereka pada dogma-dogma agama, pandangan-pandangan tentang filsafat alam, dan kosmologi seperti yang diakui oleh Gereja berdasarkan tafsiran Injil dan ajaran-ajaran agama. Banyak ilmuwan yang kemudian dibakar hidup-hidup dengan alasan fanatisme buta dan kepentingan otoritas-otoritas Gereja. Bagaimanapun, pada gilirannya Gereja dan lembaga-lembaga kepausan dimundurkan dengan hina.

Perilaku fanatik dan beringas Gereja Katolik berekor pada sikap negatif masyarakat terhadap otoritas-otoritas Gereja, dan agama secara umum, serta kejatuhan filsafat skolastik, yaitu satu-satunya filsafat yang mengalir pada masa itu. Semua ini selanjutnya melahirkan kehampaan intelektual dan filosofis, dan akhirnya memunculkan skeptisisme modern. Selama proses ini, satu-satunya yang mengalami kemajuan adalah humanisme dan hasrat pada ilmu alam dan empiris di medan budaya, serta kegandrungan pada liberalisme dan demokrasi di medan politik.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Kemunculan Sofisme dan Skeptisisme

Posted in Awal - Zaman Islam with tags , , , , , on Agustus 14, 2012 by isepmalik

Pada abas ke-5 sebelum Masehi, dilaporkan adanya sekelompok sarjana yang dalam bahasa Yunani disebut dengan “Sofis”: orang bijak atau berilmu. Akan tetapi, biarpun berinformasi luas mengenai ilmu pengetahuan pada masanya, mereka tidak meyakini adanya kebenaran-kebenaran pasti. Juga, menafikan adanya sesuatu yang benar-benar diketahui secara pasti. Menurut laporan para sejarahwan filsafat, mereka ini adalah pengajar-pengajar profesional dalam (seni) retorika dan debat. Melatih para pengacara untuk terampil di pengadilan yang sangat dibutuhkan waktu itu adalah pekerjaan mereka. Profesi ini menuntut para pengacara untuk sanggup mengukuhkan sebarang klaim dan menolak segala klaim tandingan. Bergumul dengan pengajaran yang acap tercemar dengan penggalatan dan kerancuan berpikir (fallacy) pelan-pelan menyebabkan mereka berpola-pikir menolak mentah-mentah kebenaran di luar pikiran manusia!

Barangkali Anda pernah mendengar cerita seseorang yang bercanda mengatakan bahwa di rumah fulan bin fulan ada gula-gula yang dibagikan secara gratis. Dengan segala kepolosan, orang-orang bergegas menuju rumah si fulan dan berkerumun di sekitarnya. Sedikit demi sedikit, dalam hati pembawa cerita ini muncul kecurigaan mengenai urusan ini, dan supaya tidak kehilangan kesempatan mendapat gula-gula gratis, dia pun berbaris bersama kerumusan orang-orang polos itu.

Naga-naganya, para sofis juga bernasih serupa dengan orang di atas. Dengan mengajarkan metode-metode yang sarat dengan kegalatan dan kerancuan demi meneguhkan atau menyangkal suatu klaim, perlahan-lahan kecenderungan-kecenderungan itu menulari pemikiran mereka sendiri, yakni pada dasarnya kebenaran dan kegalatan bergantung pada pikiran dan tidak ada kebenaran di luar kepala manusia!

Ungkapan “sofisme”, yang semula berarti orang bijak dan sarjana, lantaran disematkan pada orang-orang seperti di atas, keruan saja kehilangan makna dasarnya dan lambat-laun dipakai sebagai simbol dan isyarat bagi pola-pikir yang mengikuti penalaran menyesatkan. Dari ungkapan inilah, kata Arab sufisthi dan juga safsathah diturunkan.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Idealisme Objektif

Posted in Abad Duapuluh with tags , , , , , on Agustus 12, 2012 by isepmalik

Seperti telah saya isyaratkan, setelah era Renaisans, tidak muncul satu pun sistem filsafat yang tangguh, namun beragam aliran dan pandangan filsafat terus-menerus lahir dan mati. Jumlah serta ragam aliran dan “isme” meningkat tajam sejak permulaan abad ke-19. Dalam tinjauan singkat ini, tidak terluang kesempatan untuk menyebutkan mereka satu per satu, karenanya kita hanya akan sesingkat mungkin menyebutkan sebagian mereka.

Setelah Kant (dari akhir abad ke-18 sampai medio abad ke-19) sejumlah filosof Jerman menjadi terkenal, dan gagasan-gagasan mereka kurang-lebih bermuara pada pemikiran Kant. Kalangan ini berupaya menutupi titik-titik lemah dalam filsafat Kant dengan menggunakan sumber-sumber mistik. Kendati pandangan mereka berbeda-beda, mereka umumnya beranjak dari sudut-pandang pribadi untuk menjelaskan wujud dan kemunculan keberagaman (multiplicity) dari kemanunggalan secara puitis, dan mereka disebut dengan “Para Filosof Romantis”.

Di antara mereka adalah Johann Gottlieb Fichte, yang secara pribadi adalah murid Kant dan sangat tertatik pada ide kehendak bebas. Dari berbagai pandangan Kant, dia sangat menitikberatkan kesejatian moral dan nalar praktis. Katanya, “Nalar teoritis melihat sistem alam sebagai keniscayaan, tapi di dalam diri kita ada kebebasan dan kehendak untuk bertindak swakarsa, dan ada kesadaran yang merancang sistem yang harus kita realisasikan”.

Kecenderungan terhadap kebebasan inilah yang mendorong Fichte dan para romantis lain, semisal Friedrich Wilhelm Joseph von Schelling, untuk menerima sejenis idealisme dan kesejatian ruh (yang salah satu karakteristiknya adalah kebebasan). Paham pemikiran ini lantas dikembangkan lebih jauh oleh G.W.F. Hegel, dan relatif menjadi sistem filsafat yang koheren, dan disebut dengan idealisme objektif.

Hegel, yang hidup semasa dengan Schelling, mengkhayalkan dunia sebagai tumpukan pikiran dan ide sang ruh mutlak. Antara ruh dan pelbagai pikiran atau ide itu terjalin hubungan logis, bukan hubungan kausal seperti diyakini oleh para filosof lain.

Menurut Hegel, ide-ide mengalir dari kemanunggalan menuju keberagaman, dari keumuman menuju kekhususan. Pada tingkat awal, ide paling umum, ide “wujud”, mengemuka, dan dari dalamnya, kebalikannya, yaitu ide ketiadaan, muncul. Lalu, keduanya membaur dan membentuk ide “menjadi” (becoming). Menjadi, yang merupakan sintesis wujud (tesis) dan tiada (antitesis), pada gilirannya menempati posisi sebagai tesis, dan lawannya muncul dari dalamnya, dan dari pembauran keduanya muncul sintesis. Proses ini terus berlangsung hingga mencapai konsep paling khusus.

Hegel menyebut proses lipat tiga (triadik) ini sebagai “dialektika”, dan dia mengkhayalkan sebagai hukum universal bagi kemunculan semua gejala mental dan objektif.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.497 pengikut lainnya.