Archive for the Kedudukan Filsafat Category

Tujuan Filsafat

Posted in Kedudukan Filsafat with tags , , , , , on November 18, 2012 by isepmalik

Tujuan pendek dan langsung segenap ilmu ialah menyadarkan manusia akan pelbagai masalah yang terungkap dalam ilmu tersebut, dan memuaskan dahaga kodratinya untuk memahami kebenaran. Pasalnya, salah satu naluri paling dasar manusia adalah naluri mencari kebenaran atau keingintahuan yang tak berhingga dan tak terpuaskan. Pemuasan nisbi atas naluri ini akan memenuhi salah satu kebutuhan jiwa. Walaupun tidak semua individu mempunyai naluri ini dalam tingkat yang sangat aktif dan penuh gelora, ia tidak pernah sepenuhnya lenyap dan hilang.

Pada galibnya, setiap ilmu mempunyai pelbagai manfaat dan dampak tidak langsung dan berperantara atas kehidupan material dan spiritual manusia. Umpamanya, ilmu-ilmu alam memudahkan pemanfaatan alam dengan lebih besar dan meningkatkan kesejahteraan jasmani manusia, dan ia tersambung pada kehidupan alami dan hewani manusia dengan satu perantara. Matematika memiliki dua perantara untuk mencapai tujuan-tujuan seperti di atas, kendatipun dengan cara lain ia bisa memengaruhi kehidupan spiritual dan dimensi maknawi manusia. Yaitu, saat matematika berkelindan dengan soal-soal filsafat, ketuhanan, dan penghayatan gnostis (‘irfaniyyah) hati, dan saat ia membeberkan gejala-gejala alam sebagai imbas keteraturan, keagungan, kebijaksanaan, dan kasih-sayang Ilahi.

Hubungan dimensi-dimensi spiritual dan maknawi manusia dengan ilmu-ilmu kefilsafatan lebih dekat ketimbang hubungannya dengan ilmu-ilmu alam. bahkan, ilmu-ilmu alam berhubungan dengan dimensi maknawi manusia melalui perantaraan ilmu-ilmu kefilsafatan. Hubungan tersebut paling tampak dalam teologi, psikologi filosofis, dan etika. Demikian itu karena filsafat ketuhanan (teologi) memperkenalkan kita kepada Tuhan, Sang Mahabesar, sifat-sifat keindahan dan keagungan-Nya dan mempersiapkan kita untuk berhubungan dengan sumber pengetahuan, kekuasaan dan keindahan yang tak berhingga. Psikologi filosofis memudahkan kita untuk mengetahui ruh beserta sifat-sifat dan ciri-cirinya dan menggugah kesadaran kita terhadap esensi (jauhar) kemanusiaan. Ia memperluas cakrawala pandang kita terhadap hakikat diri kita, mengajak kita untuk melampaui alam fisik dan sekat-sekat ruang serta waktu. Juga, memahami kita bahwa hidup manusia tidaklah terbatas dan terkungkung pada kerangka kehidupan duniawi dan material yang sempit dan gelap. Etika dan akhlak menjabarkan pola-pola menyucikan dan menghiasi kalbu serta menggapai kebahagiaan abadi dan kesempurnaan puncak.

Dalam rangka memperoleh semua pengetahuan tak terkira itu, sejumlah masalah dalam epistemologi dan ontologi mestilah dipecahkan terlebih dahulu. Oleh karena itu, filsafat pertama adalah kunci untuk membuka perbendaharaan tak terkira dan tak tertandingi yang menjajakan kebahagiaan dan keuntungan abadi tersebut. Itulah akar yang diberkahi dari “pohon yang baik”. Setiap saat ia membuahkan beraneka kebajikan spiritual dan intelektual serta kesempurnaan spiritual dan Ilahi yang tak ada habis-habisnya.a Dengan demikian, ia berperan sangat besar dalam menyiapkan landasan bagi kesempurnaan dan kekemuncakan manusia.

Selain itu, filsafat juga membantu manusia menghalau was-was setan dan menampik gelenyar materialisme dan ateisme; menjaganya dari penyimpangan berpikir dan macam-macam jerat yang menjatuhkan; melindunginya dengan senjata pamungkas di arena adu gagasan dan membuatnya mampu membela pandangan-pandangan dan aliran-aliran yang benar sekaligus menyerbu dan membidas pandangan-pandangan dan aliran-aliran yang keliru dan tidak sehat.

Demikianlah, selain dengan unik berperan positif dan membangun, filsafat juga berperan tak tertandingi bagi pertahanan dan penyerangan. Pengaruhnya sungguh kuat dalam penyebaran budaya Islam dan penggusuran budaya-budaya lainnya.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


a QS. Ibrahim (14):24-25—M.K.

Prinsip-prinsip Filsafat

Posted in Kedudukan Filsafat with tags , , , , , on November 16, 2012 by isepmalik

Pada pelajaran lalu telah kita katakan bahwa sebelum mulai memecahkan masalah-masalah suatu ilmu, orang seharusnya mengenali prinsip-prinsip ilmu tersebut. Nah, apakah prinsip-prinsip filsafat? Dan pada ilmu mana prinsip-prinsip ini ditetapkan? Jawabannya, mengenali prinsip-prinsip konseptual suatu ilmu atau mengetahui konsep dan esensi subjek serta konsep pokok-pokok masalah ilmu tersebut lazimnya melalui ilmu itu sendiri. Dengan begitu, definisi subjek ilmu yang bersangkutan dipaparkan dalam pengantar umum, dan definisi tiap-tiap masalah partikular dipaparkan dalam pengantar untuk pembahasan masalah tersebut. tetapi, konsep masalah utama filsafat (baca: maujud) adalah swanyata (self-evident) dan tidak membutuhkan definisi. Oleh karena itu, filsafat tidak memerlukan prinsip-prinsip konseptual, sedangkan definisi pokok-pokok masalah partikularnya tertera pada permulaan setiap pembahasan—sebagaimana biasanya terjadi dalam ilmu-ilmu lain.

Prinsip-prinsip asertif ilmu dibagi menjadi dua: afirmasi atas keberadaan subjek; dan afirmasi atas prinsip-prinsip yang dipakai untuk memecahkan masalah-masalah ilmu yang bersangkutan. Keberadaan subjek atau masalah utama filsafat (baca: maujud) tidak lagi perlu dipastikan lantaran kemaujudan maujud bersifat swabukti dan tidak bisa disangkal oleh orang berakal mana pun. Paling tidak, semua orang menyadari kemaujudan diri mereka sendiri, yang sudah cukup untuk membuktikan bahwa konsep “maujud” mempunyai acuan-acuan nyata (baca: kemaujudan diri masing-masing kita), sehingga acuan-acuan lain segera bisa dibahas dan ditahkik. Pada titik inilah para filosof berpisah jalan dari kaum sofis, skeptis, dan idealis (yang menolak atau meragukan kemaujudan mutlak, ataupun kemaujudan secara mutlak).

Ihwal kelompok kedua dari prinsip-prinsip asertif, yakni prinsip-prinsip yang melandasi pemecahan masalah-masalah ilmu tertentu, terbagi menjadi dua: pertama adalah prinsip-prinsip teoretis (= prinsip-prinsip non-swabukti) yang mesti dibuktikan dalam ilmu lain yang disebut dengan prinsip-prinsip hasil kesepakatan (al-ushul al-maudhu’ah). Dan seperti sudah kita sebutkan, prinsip-prinsip hasil kesepakatan yang paling umum ditetapkan dalam filsafat pertama. Dengan kata lain, sebagian masalah filsafat pertama menyangkut pembuktian prinsip-prinsip hasil kesepakatan untuk semua ilmu. Dan filsafat pertama pada dasarnya sama sekali tidak memerlukan prinsip-prinsip hasil kesepakatan serupa, meskipun ilmu-ilmu kefilsafatan lain, seperti teologi, psikologi filosofis, dan etika memerlukan prinsip-prinsip hasil kesepakatan yang telah ditetapkan dalam filsafat peratama atau ilmu-ilmu kefilsafatan lain atau bahkan ilmu-ilmu empiris.

Kelompok prinsip-prinsip kedua adalah proposisi-proposisi swabukti yang tidak perlu dibuktikan lagi, semisal proposisi kemustahilan kontradiksi. Maslaah-masalah filsafat pertama cuma memerlukan prinsip-prinsip dalam kelompok kedua yang sama sekali tidak perlu dibuktikan dalam ilmu itu sendiri, apalagi dalam ilmu lain. Oleh sebab itu, filsafat pertama atau utama tidak perlu bantuan ilmu rasional atau empiris atau naratif lainnya. Dan inilah yang menjadi ciri terpenting filsafat pertama. Logika menjabarkan bahwa metode pembuktian yang berlaku dalam filsafat pertama berpijak pada kaidah-kaidah logis, sedangkan epistemologi menjabarkan bahwa kebenaran filosofis bisa diketahui secara rasional. Pertanyaan seputar keberadaan dan kemampuan akal pun terpecahkan. Pada hakikatnya, filsafat pertama hanya “membutuhkan” prinsip-prinsip swabukti yang terkandung dalam logika dan epistemologi. Prinsip-prinsip swabukti ini sesunggunya tidak bisa dipandang sebagai “masalah-masalah” yang perlu dipecahkan dan dibuktikan. Bahkan, penjelasan prinsip-prinsip itu dalam logika dan epistemologi lebih tepat disebut sebagai penjelasan untuk mengingatkan dan membangunkan kesadaran (isyrah li al-tanbih), bukan untuk membaktikan dan memastikan.[1]

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Pada Pelajaran 11 (Buku Kedua), persoalan ini akan kita terangkan lebih jauh.

Esensi Masalah-masalah Filsafat

Posted in Kedudukan Filsafat with tags , , , , , on November 16, 2012 by isepmalik

Pada pelajaran sebelumnya, secara singkat kita simpulkan bahwa definisi filsafat adalah ilmu yang membincangkan keadaan-keadaan umum wujud (existence). Namun, definisi itu agaknya tidak memadai untuk mendedahkan esensi masalah-masalah filsafat. Tentunya, pemahaman tepat tentang hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan meneliti langsung perkara demi perkara secara terperinci. Dan makin mendalam kita menyelami dan menghayati, makin dekat kita pada inti permasalahannya. Tetapi, sebelum memulainya, baik kiranya kita mempunyai gambaran lebih jelas ihwan masalah-masalah filsafat supaya bisa lebih memahami manfaat-manfaat filsafat dan melanjutkan kajian dengan wawasan dan visi yang lebih luas serta minat dan gairah yang lebih besar. Untuk itu, kita akan mengemukakan beberapa misal ilmu-ilmu kefilsafatan, menunjukkan perbedaan mereka dari ilmu-ilmu lainnya, dan terakhir menjabarkan esensi filsafat pertama dan ciri khas masalah-masalahnya.

Setiap manusia pasti pernah bertanya seperti berikut: Apakah hidupnya berakhir dengan kematian dan tidak ada apa-apa sesudahnya kecuali proses pembusukan bagian-bagian tubuhnya, ataukah ada kehidupan setelah mati? Jelas sekali bahwa jawaban atas pertanyaan ini tidak mungkin diperoleh dari fisika, kimia, geologi, botani, biologi, dan sejenisnya. Kalkulasi-kalkulasi matematika ataupun persamaan-persamaan aljabar juga tidak memberikan jawaban apa pun atas pertanyaan itu. maka dari itu, ilmu lain dibutuhkan untuk menyelidiki soal-soal serupa ini dengan metodologinya sendiri. Ilmu itu dibutuhkan untuk menjernihkan apakah manusia semata-mata kerangka fisik ataukah memiliki realitas lain yang tak terindra bernama ruh? Seumpama ia memang memiliki ruh, apakah ruh itu bertahan setelah mati atau tidak?

Sudah barang tentu bahwa tahkik mengenai soal-soal semacam ini tidak bisa dilakukan dengan metode-metode ilmu empiris, tetapi dengan metode-metode rasional. Dengan demikian, kebutuhan pada ilmu lain dengan metode berbeda tidak lagi dapat dihindarkan. Itulah ilmu kefilsafatan yang disebut sebagai ‘ilm al-nafs atau psikologi filosofis. Masalah-masalah lain seperti kehendak dan karsa yang merupakan landasan bagi tanggung jawab manusia juga mesti dituntaskan dalam ilmu tersebut.

Keberadaan ilmu semacam itu dan nilai cara-cara pemecahannya bergayut pada bukti keberadaan akal dan nilai pengetahuan rasional. Oleh sebab itu, ilmu lain diperlukan untuk menyelidiki jenis-jenis pengetahuan dan menakar nilai masing-masingnya sampai jelas benar apa itu persepsi intelektual, bagaimana nilainya, dan masalah-masalah apa yang bisa dipecahkannya. Persoalan tersebut juga memerlukan pada ilmu kefilsafatan lain yang disebut dengan epistemologi.

Dalam ilmu-ilmu praktis, seperti akhlak dan politik, terhampar berbagai masalah vital dan mendasar yang juga tidak bisa diselesaikan oleh ilmu-ilmu empiris. Di antaranya adalah masalah pengenalan atas hakikat baik dan buruk, kebaijkan dan kebejatan, serta patokan bagi tindakan terpuji dan tercela. Tahkik seputar masalah-masalah semacam ini, lagi-lagi membutuhkan ilmu atau ilmu-ilmu kefilsafatan lain, yang pada gilirannya juga membutuhkan epistemologi.

Perhatian lebih jeli terhadap masalah-masalah ini menunjukkan bahwa mereka saling terkait. Sebagai suatu keseluruhan, masalah-masalah di atas sepenuhnya terkait dengan masalah-masalah teologi: telaah tentang Tuhan yang telah menciptakan tubuh dan ruh serta seluruh maujud alam raya; Tuhan yang mengelola jagat raya dengan tatanan tertentu; Tuhan yang mematikan dan membangkitkan kembali manusia untuk diganjar dengan siksa ataupun pahala ata segenap perbuatan baik dan buruknya; perbuatan baik dan buruk yang telah dilakukannya dengan swakarsa dan kehendak bebas; dan sebagainya dan sebagainya. Persoalan Tuhan Mahasuci dan seluruh sifat dan tindakan-Nya membentuk serangkaian masalah yang dikaji dalam ilmu teologi atau ketuhanan dalam arti khusus (yang juga merupakan ilmu kefilsafatan).

Semua masalah di atas bermuara pada sederet masalah lebih umum dan universal yang melingkupi hal-ihwal indriawi dan material, seperti paparan berikut: segenap maujud saling bergantung dan membutuhkan demi keberadaan dan kelangsungan hidupnya. Mereka saling berhubungan secara pasif (infi’al) ataupun aktif, dalam kerangka aksi ataupun reaksi, dan sebagai sebab ataupun akibat. Dan lantaran segenap maujud yang terjangkau oleh indra dan pengalaman (indriawi) manusia bersifat fana, mestilah ada (jenis) maujud lain yang tidak fana, bahkan ketiadaan dan segala kekurangan tersucikan darinya. Jadi, medan wujud tidak terbatas pada alam material dan indriawi yang berubah-ubah, berganti-ganti, dan bergerak-gerak. Ada jenis-jenis maujud yang tidak mempunyai ciri-ciri tersebut dan tidak pula mereka berkutat dalam ruang dan waktu.

Jawaban positif atas pertanyaan adakah maujud yang bersifat tetap, tunak, tidak fana, dan mandiri membawa kita pada pembagian maujud menjadi mujarad dan material, tetap dan berubah, serba mungkin dan Niscaya Swaada, dan sebagainya. Sebagai masalah ini dipecahkan, ilmu-ilmu seperti teologi, psikologi filosofis, dan sejenisnya tidak akan memiliki landasan dan dasar yang kukuh. Bukan saja isbat (establishment) masalah-masalah semacam ini yang membutuhkan dalil rasional, melainkan penyangkalannya pun menuntut penggunaan rasio. Pasalnya, pengindraan dan pengalaman tidak bisa mengisbatkan maupun menyangkal soal-soal semacam ini.

Atas dasar ini, jelaslah bahwa manusia menghadapi serangkaian masalah pokok dan mendasar yang tidak bisa dijawab oleh sebarang ilmu, tetapi ilmu khusus yang disebut dengan metafisika atau ilmu umum atau filsafat pertama. Subjek ilmu ini tidak khusus menyangkut satu jenis maujud atau zat partikular dan tertentu. Mau tak mau, subjeknya mestilah berupa konsep paling universal yang berlaku pada semua yang nyata dan objektif. Itulah yang diistilahkan sebagai “maujud”. Tentu saja, makna “maujud” di sini tidak dimaksudkan untuk yang material atau yang mujarad belaka, tetapi untuk semua yang maujud (dilihat dari segi ia maujud). Dan itulah yang disebut dengan “maujud mutlak”, atau maujud qua maujud. Ilmu semacam ini patut diberi gelar “induk segala ilmu”.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.499 pengikut lainnya.