Archive for the Apakah Filsafat Itu? Category

Definisi Filsafat

Posted in Apakah Filsafat Itu? with tags , , , , , on Oktober 28, 2012 by isepmalik

Mengingat filsafat setara dengan filsafat pertama atau metafisika, dengan subjek “maujud mutlak” (bukan maujud secara mutlak),a kita dapat mendefinisikannya sebagai berikut: ilmu yang membahas keadaan-keadaan maujud mutlak; atau ilmu yang memaparkan hukum-hukum umum kemaujudan; atau sehimpunan proposisi dan masalah menyangkut maujud sejauh ia adalah maujud. Beberapa ciri filsafat telah banyak diutarakan, terpenting dari mereka adalah sebagai berikut:

  1. Berbeda dengan ilmu-ilmu empiris dan naratif, pemecahan masalah filsafat menggunakan metode rasional. Metode yang sama juga digunakan dalam logika, teologi, psikologi filosofis, dan sejumlah ilmu lain, seperti etika dan matematika. Oleh karena itu,  metode ini tidak khusus untuk filsafat pertama;
  2. Filsafat menangani penegasan (assertion) prinsip-prinsip pelbagai ilmu lain. Itulah sebabnya ilmu-ilmu lain membutuhkan filsafat sehingga ia disebut induk semua ilmu.
  3. Filsafat merupakan patokan manusia untuk memisahkan hal-ihwal yang benar-benar nyata dan hakiki dari hal-ihwal waham dan rekaan. Maka dari itu, tujuan utama filsafat terkadang dianggap untuk mengetahui hal-ihwal yang benar-benar nyata dan hakiki serta pemilahannya dari ilusi. Tetapi, sebaiknya hal itu diletakkan sebagai tujuan epistemologi.
  4. Konsep-konsep filsafat sama sekali tidak diperoleh lewat pancaindra atau pengalaman (indriawi), seperti konsep sebab dan akibat, niscaya dan mungkin, material dan mujarad. Konsep-konsep ini secara teknis disebut objek-objek sekunder yang terpahami secara filosofis (philosophical secondary intelligibles). Pada Bagian Epistemologi, istilah ini akan kita jelaskan lebih jauh.

Setelah mengamati ciri-ciri khas tersebut, mudah dimengerti mengapa soal-soal kefilsafatan hanya bisa dibuktikan dengan metode rasional, dan mengapa pula hukum-hukum filsafat tidak diperoleh dengan merampatkan (generalizing) hukum-hukum berbagai ilmu empiris.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


a Pembaca harus teliti membedakan dua ungkapan ini: “maujud mutlak” dan “maujud secara mutlak” (al-maujud al-muthlaq wa laisa muthlaq al-maujud). “Maujud mutlak” adalah konsep maujud tanpa penyifatan, pembatasan, dan embel-embel apa pun. Itulah maujud abstrak yang universal. Sebaliknya, “maujud secara mutlak” adalah keseluruhan ragam dan pola maujud secara partikular, seperti Tuhan, batu, langit, dan akal—M.K.

Subjek dan Masalah Filsafat

Posted in Apakah Filsafat Itu? with tags , , , , , on Oktober 24, 2012 by isepmalik

Mengingat bahwa cara terbaik untuk mendefinisikan ilmu ialah dengan mencirikan (specify) subjeknya. Dan karena subjek itu mempunyai batasan atau ikatan, kita mesti mencermatinya dengan saksama. Kemudian, masalah-masalah ilmu itu kita perkenalkan sebagai proposisi-proposisi yang berkisar pada subjek tersebut. Pada sisi lain, pencirian dan pembatasan (qualifications) bergantung pada penentuan masalah-masalah yang ditujukan untuk menjabarkan suatu ilmu, sehingga sampai batas tertentu ia bergantung pada konvensi dan kesepakatan. Umpamanya, kalau kita perhatikan topik “maujud”, yang merupakan konsep paling umum untuk sesuatu yang hakiki, kita akan melihat bahwa subjek semua masalah hakiki berpayung di bawahnya. Dan jika kita menjadikannya sebagai subjek suatu ilmu, ia akan meliputi segenap masalah ilmu hakiki. Ilmu dengan subjek “maujud” inilah yang disebut sebagai filsafat dalam pengertian orang-orang kuno.

Pengajuan ilmu yang sedemikian mencakup (inclusive) ini tentunya tidak sejalan dengan tujuan klasifikasi ilmu. Untuk memenuhi tujuan tersebut, tidak ada pilihan lain kecuali melihat subjek secara lebih terbatas. Para pengajar kuno membagi seluruh masalah teoretis dalam dua kelompok, masing-masingnya berkisar pada sehimpunan isu. Kelompok pertama disebut dengan fisika dan lainnya matematika. Kemudian masing-masing dari kedua kelompok ini dipecah-pecah lagi ke dalam ilmu-ilmu yang lebih partikular. Selain dua kelompok masalah teoretis tersebut, ada kelompok ketiga yang berkisar pada Tuhan, yang disebut dengan teologi (ma’rifat al-rububiyah). Kelompok keempat masalah-masalah intelektual teoretis berada di luar subjek-subjek yang telah disebutkan dan tidak terbatasi atau terikat pada subjek tertentu.

Tampaknya, lantaran nama atau istilah yang tepat untuk menyebut masalah-masalah dalam kelompok keempat yang didiskusikan setelah fisika ini tidak ditemukan, ia disebut saja dengan metafisika (setelah bagian fisika). Posisi persoalan ini terhadap persoalan ilmu-ilmu teoretis lainnya persis seperti posisi fisika elementer terhadap ilmu-ilmu alam lainnya. Dan sebagaimana subjek fisika elementer adalah “benda mutlak”, subjek metafisika adalah “maujud mutlak” atau “maujud qua maujud”. “Maujud mutlak” bukanlah subjek ilmu yang spesifik, dan karena itu ilmu dengan nama metafisika atau belakangan disebut dengan “ilmu universal” (‘ilm-e kulli).

Pada era Islam, masalah-masalah metafisika diasimilasikan dengan masalah-masalah teologi dan kemudian disebut dengan “ketuhanan dalam arti luas” (ilahiyyat bi al-ma’na al-‘am). Sewaktu-waktu, masalah-masalah lain, seperti Hari Kebangkitan dan sarana-sarana mencapai kebahagiaan manusia, bahkan masalah-masalah menyangkut kenabian dan keimanan dilampirkan padanya, sebagaimana dapat kita lihat pada bagian ketuhanan buku Al-Syifa, karya Ibn Sina. Jika semua masalah ini dianggap sebagai masalah-masalah utama suatu ilmu, dan tidak terjadi pemaksaan atau penyimpangan dalam kaitan ini, subjek ilmu ini mestilah diduga sangat luas. Menentukan satu subjek untuk beragam masalah serupa bukan soal mudah. Untuk itu, sejumlah upaya menentukan subjek tersebut dan menjelaskan bahwa semua predikat ini adalah ciri-ciri esensialnya (essential properties/ ‘awaridh dzatiyah) telah dilakukan, walaupun tidak begitu berhasil.

Demikianlah, ada tiga alternatif dalam konteks di atas: pertama, segenap masalah teoretis selain fisika dan matematika dipandang sebagai ilmu tunggal bersubjek tunggal; kedua, atau tolok-ukur dan kriteria kohernsi dan kemanunggalannya adalah kemanunggalan tujuan dan sasarannya; ketiga, setiap kelompok persoalan yang bersubjek tunggal dilihat sebagai satu ilmu, seperti soal-soal universal keberadaan, yang dibicarakan dalam “filsafat pertama atau utama” mengikuti salah satu makna khas “filsafat”.

Agaknya alternatif terakhirlah yang paling pas. Oleh karena itu, aneka masalah yang disodorkan sebagai filsafat dan hikmah dianggap mencakup beberapa ilmu terpisah. Dengan kata lain, kita akan mempunyai serangkaian ilmu kefilsafatan yang sama-sama bermetode rasional, tetapi istilah filsafat mutlak cuma akan kita terapkan pada “filsafat pertama”. Dan tujuan utama buku ini adalah memaparkan masalah-masalah filsafat pertama dalam pengertian di atas. Namun, lantaran pemecahan masalah-masalah ini bergantung pada persoalan pengetahuan manusia, mula-mula kita mesti membeberkan epistemologi, dan selanjutnya barulah kita meninjau masalah-masalah ontologi dan metafisika.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Hubungan Prinsip-prinsip, Subjek, dan Masalah Ilmu

Posted in Apakah Filsafat Itu? with tags , , , , , on Oktober 18, 2012 by isepmalik

Pada setiap ilmu terdapat serangkaian proposisi yang saling berhubungan. Dalam kenyataannya, sasaran pendek dan motivasi belajar serta mengajar ilmu itu ialah menganalisis proposisi-proposisi tersebut dan membuktikan keberlakuan predikat pada subjek ilmu itu. jadi, pada setiap ilmu subjek diasumsikan mewujud dan pelbagai predikatnya bisa dibuktikan sebagai bagian atau contoh individual dari subjek tersebut. karena itu, sebelum berurusan dengan pemaparan dan penguraian masalah-masalah suatu ilmu, kita perlu mengenal sederet hal berikut:

  1. Keapaan (mahiyah) dan konsep subjek;
  2. Keberadaan subjek;
  3. Prinsip-prinsip untuk memecahkan pelbagai persoalan ilmu tersebut.

Hal-hal tersebut adakalanya swanyata (self-evident) dan tidak memerlukan penjabaran dan penghayatan sehingga tidak ada kesulitan sama sekali; dan adakalanya pengetahuan mengenai hal-hal itu perlu dijabarkan dan dibuktikan. Misalnya, bisa saja keberadaan subjek (seperti ruh manusia) masih diperselisihkan, dan diduga bisa merupakan khayalan dan tidak nyata sehingga keberadaan sesungguhnya mesti dibuktikan. Juga, bisa saja terdapat keraguan seputar prinsip-prinsip pemecahan masalah dalam suatu ilmu, sehingga mestilah pertama-tama kita membuktikan prinsip-prinsip itu. kalau tidak demikian, semua simpulan yang diturunkan dari prinsip-prinsip tersebut tidak ada bernilai ilmiah dan melahirkan kepastian.

Soal-soal semacam ini diistilahkan dengan “prinsip-prinsip ilmu” (mabadi’ al-‘ilm), yang terbagi menjadi prinsip-prinsip konseptual (tashawwuri) dan prinsip-prinsip asertif (tashdiq). Prinsip-prinsip konseptual yang berisi pelbagai definisi dan penjelasan keapaan hal-hal dibahas ini biasanya tertera dalam pengantar ilmu bersangkutan. Adapun prinsip-prinsip asertif suatu ilmu kerapkali dibicarakan dalam ilmu-ilmu lain. Seperti telah kita singgung, filsafat setiap ilmu sebetulnya adalah ilmu lain yang menjelaskan dan menerapkan prinsip-prinsip ilmu tersebut. Akhirnya, prinsip-prinsip paling umum semua ilmu dibicarakan dan diteliti dalam filsafat utama atau metafisika.

Di antara prinsip-prinsip itu ialah prinsip “kausalitas”, yang diandalkan oleh para pakar semua ilmu empiris. Pada dasarnya, segenap penelitian ilmiah dilakukan dengan penerimaan terlebih dahulu atas prinsip ini, lantaran semua penelitian berkisar pada penemuan hubungan-hubungan sebab akibat antar beragai gejala. Namun, prinsip dan hukum ini sendiri tidak dapat dibuktikan dalam ilmu empiris yang mana pun, dan pembahasannya dilakukan dalam filsafat.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Hubungan antara Subjek dan Masalah

Posted in Apakah Filsafat Itu? with tags , , , , , on Oktober 15, 2012 by isepmalik

Sejauh ini kita telah mengenal sejumlah istilah filsafat, dan kini saatnya menjelaskan pokok pembahasan buku ini: apa yang kita maksud dengan filsafat dan masalah-masalah apa yang akan kita perbincangkan dalam buku ini? Tetapi, sebelum menjelaskan filsafat, ada baiknya kita menguraikan lebih jauh tentang “subjek”, “masalah”, dan “prinsip” ilmu serta pertautan ketiganya.

Pada pelajaran-pelajaran lalu telah kita sebutkan bahwa istilah “ilmu”—menurut empat dari lima yang tercantum—berlaku pada kumpulan proposisi yang diduga saling bertautan. Lebih jauh, jelas sudah bahwa hubungan-hubungan yang berbeda memisahkan satu ilmu dari lainnya. Dan bahwa hubungan terdekat antara berbagai masalah sebagai standar pemilahan ilmu adalah relevansi subjek-subjek mereka. Dengan kata lain, pelbagai masalah yang bersubjek terdiri atas bagian-bagian keseluruhan atau partikular-partikular universal bisa membentuk satu ilmu. Oleh sebab itu, masalah-masalah ilmu terdiri atas proposisi-proposisi yang subjek-subjeknya berada di bawah payung topik induk (sebagai keseluruhan atau universal). Dan subjek ilmu adalah topik induk yang mencakup pelbagai masalah.

Di sini sebaiknya kita sebutkan bahwa mungkin saja satu topik menjadi subjek dua atau lebih ilmu, dan perbedaan ilmu satu dan lainnya terkait dengan perbeaan tujuan dan metode penelitiannya. Namun, butir ini tidak boleh diabaikan: adakalanya suatu topik diletakkan sebagai subjek mutlak suatu ilmu, padahal ia menjadi subjek ilmu itu secara terikat. Perbedaan ikatan ini kemudian mengakibatkan munculnya beberapa ilmu dan perbedaan di antara mereka. Misalnya, “materi”, ditinjau dari segi komposisi internal dan perpaduan serta penguraian unsur-unsurnya menjadi subjek ilmu kimia. Tetapi, ditinjau dari segi perubahan-perubahan lahiriah dan ciri-ciri khasnya, ia menjadi subjek ilmu fisika. Misal lainnya adalah “kata”: ditinjau dari segi perubahan konstruksinya ia menjadi subjek morfologi, dan ditinjau dari segi perubahan infleksina ia menjadi subjek sintaksis.

Oleh sebab itu, orang mesti berhati-hati apakah topik induk itu merupakan subjek suatu ilmu secara mutlak atau dengan ikatan dan batasan tertentu. Betapa sering suatu topik induk menjadi subjek ilmu secara mutlak, lantas dengan tambahan ikatan tertentu ia menjadi subjek ilmu-ilmu lain. Misalnya, dalam klasifikasi masyhur filsafat kuno, benda adalah subjek seluruh ilmu alam. lalu, ditambah beberapa ikatan, ia menjadi subjek minerologi, botani, zoologi, dan sebagainya. Mengenai pola pencabangan ilmu, telah kita singgung bahwa adakalanya mereka berasal dari pengetatan lingkup dan pembatasan subjek utama ilmu yang lebih umum.

Salah satu cara membatasi topik induk ialah dengan “menyempitkan kemutlakannya” (qaid al-ithlaq). Penjelasannya, dalam ilmu (yang lebih umum) pembicaraan berkisar pada prinsip-prinsip tetap dalam esensi subjek secara umum, atau secara mutlak, tanpa mempertimbangkan ciri-ciri khasnya. Pembicaraan mengena pada seluruh contoh individual subjek yang bersangkutan. Umpamanya, prinsip-prinsip dan ciri-ciri khas benda ditetapkan secara umum atau mutlak, apakah bersifat mineral atau organik, tumbuhan atau binatang (manusia). Subjek ilmu tersebut dapat kita tetapkan sebagai “benda mutlak”, yang nantinya bisa kita buat lebih sempit dan lebih ketat dalam ilmu-ilmu tertentu. Ahli-ahli hikmah (hukama) mengkhususkan bagian pertama fisika untuk mengulas prinsip-prinsip umum itu dengan nama al-sama al-thabi’i (fisika umum elementer) dan sama al-kiyan (astronomi umum elementer), baru setelah itu mereka mengkhususkan sekelompok benda untuk ilmu tertentu, seperti kosmologi, minerologi, botani dan zoologi.

Pola yang sama ini juga bisa berlaku pada sub-subbagian ilmu yang lebih partikular. Misalnya, masalah-masalah yang terkait dengan semua binatang dapat kita jadikan sebagai ilmu khusus yang subjek “binatang mutlak” atau “binatang sebagai binatang”. Lantas, hukum-hukum khusus untuk tiap-tiap binatang bisa dibahas dalam ilmu-ilmu yang lebih khusus pula.

Dengan cara seperti itu, benda secara umum menjadi pokok masalah (subject matter) dalam bagian filsafat kuno yang disebut sebagai “ilmu alam”, dan benda mutlak menjadi subjek bagian pertama fisika yang disebut dengan “fisika umum elementer”. Tiap-tiap (jenis) benda, seperti benda-benda kosmik, benda-benda tambang, dan benda-benda hidup, menjadi subjek kosmologi, minerologi, dan biologi. Lalu, benda hidup secara umum menjadi subjek ilmu biologi umum, dan benda hidup mutlak subjek ilmu yang membahas prinsip-prinsip segenap maujud hidup. Masing-masing jenis maujud hidup membentuk subjek cabang-cabang tertentu biologi.

Di sini, satu persoalan muncul: bilamana suatu prinsip terdapat pada beberapa jenis subjek universal dan tidak mencakup semuanya, dalam ilmu apa prinsip-prinsip semacam itu ditelaah? Misalnya, bila ada satu hal yang terdapat pada beberapa maujud hidup, ia tidak dapat dianggap sebagai sifat aksidental maujud hidup mutlak, karena ia tidak mencakup seluruh maujud hidup; pada sisi lain, membahasnya pada tiap-tiap ilmu bersangkutan akan menjadi pengulangan sia-sia. Jadi, di manakah seharusnya prinsip semacam itu diletakkan?

Jawabnya: biasanya masalah semacam ini ditelaah dalam ilmu yang bersubjek mutlak. Prinsip-prinsip subjek mutlak (al-‘awaridh al-dzatiyah, aksiden-aksiden esensial) didefinisikan sebagai berikut: suatu prinsip menyangkut esensi subjek sebelum ia terkena pembatasan dan pengetatan ilmu-ilmu partikular. Sebetulnya, kelonggaran definisi ini lebih baik daripada pengulang-ulangan masalah. Ihwal filsafat pertama atau metafisika, sebagian filosof menyatakan bahwa itu adalah ilmu yang membahas hukum dan aksiden yang ditetapkan pada maujud mutlak (atau maujud qua maujud), sebelum maujud itu dibatasi oleh pembatasan “alami” atau “matematis”.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.497 pengikut lainnya.