Archive for the Sumber Pengetahuan Category

Tradisi dan Faham Orang Awam

Posted in Sumber Pengetahuan with tags , , , , , on November 17, 2012 by isepmalik

Filsafat adalah suatu perkembangan yang agak baru dalam perjuangan manusia yang panjang untuk memahami segi kehidupannya. Pada waktu sekarang juga, hanya sebagian kecil dari manusia yang secara sungguh-sungguh mempunyai pandangan terhadap problema-problema kehidupan manusia yang fundamental yang dipikirkan oleh para filosof. Mayoritas yang terbanyak hanya mengikuti pendapat atau kepercayaan yang didasarkan atas tradisi dan adat kebiasaan. Marilah kita bicarakan secara ringkas pendapat-pendapat (tradisi dan adat) sebelum kita menyelidiki sumber-sumber yang pokok dari pengetahuan kita.

Kita dilahirkan dalam kelompok-kelompok sosial yang memilih cara-cara tertentu untuk bertindak, merasakan dan berpikir. Kita sadar akan diri kita dan dunia di sekeliling kita. Kita berkenalan dengan orang lain dan mengenal benda-benda melalui pengalaman-pengalaman yang bertambah luas. Kesadaran kita mencakup sentuhan, penglihatan, pendengaran, pencicipan dan daya cium. Pada waktu obyek (atau hubungan – relation -, kualitas, dan sebagainya) dan suara terkumpul dengan melalui asosiasi atau conditioning yang disengaja, kita membentuk kata-kata dan belajar nama benda-benda. Kata-kata dikelompokkan dalam kalimat (sentence) ketika mengetahui bahasa. Kejadian-kejadian kesadaran kita adalah sangat khusus karena tidak ada orang lain yang mengetahui apa yang kita rasakan. Walaupun begitu, kita menganggap bahwa pengalaman-pengalaman orang lain sama dengan pengalaman-pengalaman kita.

Jika kita menjadi besar dan mendapatkan pengalaman-pengalaman, kita memperoleh adat kebiasaan, perasaan (feeling), pikiran, kepercayaan, dan ingatan-ingatan yang nampaknya dapat diandalkan cara-cara bertindak dan berpikir sebagai tersebut di atas, yang dilakukan oleh anggota-anggota kelompok tanpa rasa ragu-ragu atau mempertanyakan, adalah adat kebiasaan dan tradisi yang cenderung untuk mengikat individu dalam satu jalan. Sering manusia melihat kepada fikiran kelompok untuk membentuk pikirannya sendiri. Cara bertindak dan berpikir, beralih dari suatu generasi ke generasi lain dengan sarana tradisi, meniru dan pengajaran. Cara yang umum untuk memandang kepada sesuatu ini biasanya dinamakan paham orang awam (common sense). Dengan begitu maka common sense adalah istilah yang luas untuk pendapat-pendapat yang dimiliki oleh tiap anggota kelompok.

Kebijaksanaan yang diperoleh ini (bukan bawaan) mencakup kaidah (maxim) dan peribahasa yang praktism pendapat-pendapat tentang praktek yang diikuti oleh orang ramai, dan kepercayaan yang tidak diucapkan akan tetapi dpegang teguh oleh anggota kelompok. Bahwa anak-anak harus tunduk kepada perintah ibu-bapak mereka, bahwa organisme binatang mempunyai umur tertentu, bahwa benda yang lebih berat dari udara akan jatuh ke bumi, dan bahwa benda-benda itu ada, terlepas dari kita dan dari pengetahuan kita tentang benda-benda tersebut, semua ini dapat dimasukkan ke dalam keyakinan-keyakinan yang tak terhitung jumlahnya dan yang timbul dari pengalaman manusia. Di antara sifat-sifat pendapat orang awam, kita cantumkan empat yang penting seperti di bawah ini:

Pertama, pendapat orang awam condong untuk bersifat kebiasaan dan meniru, yang diwarisi dari masa silam. Ia bersandar kepada adat dan tradisi. Apa yang menjadi adat dan tradisi bagi suatu kelompok menjadi kebiasaan dan kepercayaan bagi pribadi-pribadi. Kepercayaan orang awam biasanya dikatakan sebagai peribahasa atau kaidah yang datang dari masa lalu. Umpamanya, peribahasa Inggris: “Spare the rod and spoil the child” (jangan memakai cambuk dan anakmu akan jadi manja).

Kepercayaan orang awam membatasi kemauan dan tingkah laku individu seta menekankan kepada cara-cara kelompok yang sudah dicoba dan disepakati. Karena itu maka paham orang awam biasanya dianggap sinonim dengan good sense dan orang memiliki common sense dianggap sebagai seorang yang mempunyai pertimbangan yang sehat.

Kedua, pendapat orang awam biasanya samar-samar dan tidak jelas. Pendapat itu seringkali dangkal dan dapat berbeda dari seseorang kepada orang lain, dan dari suatu daerah ke daerah lain. Paham orang awam adalah campuran dari fakta dan purbasangka, dari kebijaksanaan dan kecenderungan emosi. Ia mencakup pendapat-pendapat yang telah terbentuk tanpa pemikiran yang teliti atau kritik, umpamanya “The good die young” (orang-orang yang baik mati pada usia muda). Selain dari itu pendapat orang awam mencakup semua bidang kehidupan dalam arti bahwa ia adalah kepercayaan yang tidak terkhususkan (spesialis). Pada suatu waktu ia mungkin menjadi unsur kekuatan dan keseimbangan. Ia memungkinkan kita untuk menganggap faham orang awam sebagai sebaliknya dari pendapat-pendapat spesialis yang ekstrim atau berat sebelah yang melihat dunia dan kehidupan dari segi yang sangat sempit. Walaupun begitu kepercayaan orang awam dapat menyesatkan orang sebagaimana ia dapat menuntun ke arah yang benar. Dalam dunia yang kompleks dan berubah secara cepat, paham orang awam sering tidak cukup untuk menghadapi atau mengatasi situasi yang baru dan belum terkenal.

Ketiga, pendapat orang awam, kebanyakan merpakan kepercayaan yang belum diuji. Tidak seperti orang yang kebanyakan cenderung untuk percaya, pendapat orang awam bukannya pernyataan tentang fakta yang didasarkan atas perasaan dari tangan pertama atau pengalaman-pengalaman lain. Sebagai contoh, ada pepatah bahasa Inggris: Red-headed people are quick-tempered (orang yang rambutnya merah lekas marah). Seperti orang-orang yang tidak berambut merah, ada yang lekas marah dan ada pula yang tidak. Kasus-kasus positif biasanya menguatkan pendapat, sedang kasus-kasus negatif biasanya tidak dipakai untuk menolak kepercayaan itu. Walaupun mereka yang memegang teguh pikiran-pikiran tersebut mungkin mengira bahwa pikiran mereka itu sangat jelas, pada hakikatnya pikiran tersebut didasarkan atas tanggapan-tanggapan yang sering tidak diselidiki dan karenanya perlu untuk dicek dan dikritik. Walaupun banyak pikiran orang awam yang dapat dibenarkan, sejarah sains dan filsafat membuktikan bahwa pandangan pertama (first look) tidak selalu benar dan benda-benda itu tidak selalu seperti apa yang nampak kepada penglihatan kita.

Keempat, pendapat orang awam jarang disertai dengan penjelasan mengapa benda-benda itu seperti yang dikatakan. Penjelasan tidak ada, atau jika ada, ia terlalu umum sehingga tidak memperhatikan kekecualian atau kondisi-kondisi yang membatasi. Sebagai contoh: jika air dikatakan membeku pada temperatur rendah, mengapa begitu. Dan mengapa air yang mengalir dan air asin tidak membeku pada kondisi yang sama seperti air yang tenang dan tawar? Untuk membedakan sains daripada faham orang awam, Ernest Nagel berkata: “Yang menimbulkan sains adalah keinginan untuk penjelasan yang bersifat sistematis dan dapat dikontrol dengan bukti-bukti fakta; maksud yang jelas dari sains adalah untuk mengatur dan mengelompok-ngelompokkan pengetahuan atas dasar prinsip-prinsip yang menjelaskan.[1]

Kita tidak pernah dapat membebaskan diri dari faham orang awam, walaupun kita sudah mendapat pengetahuan yang sangat jauh atau memiliki pengetahuan yang sangat khusus (spesial). Barangkali ada baiknya bahwa kita tidak pernah meninggalkan kepercayaan faham orang awam, karena faham orang awam dapat berguna sebagai cek terhadap hal-hal yang samar-samar (blind spots) yang timbul dalam pikiran orang jika ia terlalu berspesialisasi. Tetapi, jika harus dipakai untuk maksud yang berfaidah itu, faham orang awam perlu diperiksa kembali secara teliti.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] The Structure of Science (New York: Harcourt, Brace and World, 1961), hal. 4.

Persoalan-persoalan Pokok dalam Teori Pengetahuan

Posted in Sumber Pengetahuan with tags , , , , , on November 16, 2012 by isepmalik

Pertanyaan: “Apakah yang dapat saya ketahui?” menduduki tempat yang sentral dalam filsafat sejak zaman Plato di Yunani purba. Semenjak Renaisans, dan sampai sekarang, persoalan ini telah diperdebatkan dalam tulisan-tulisan para filosof. Pengetahuan sekadarnya tentang problem yang berkaitan dengan persoalan tersebut adalah sangat perlu sebagai latar belakang untuk memahami banyak dari sistem-sistem pokok dalam filsafat yang akan kita bicarakan dalam Bagian IV. Soal tersebut bukannya hanya merupakan yang terpenting akan tetapi juga yang lebih sukar dalam bidang filsafat. Para pengarang buku ini telah berusaha untuk menyajikan problema dalam bahasa yang tidak terlalu teknis sedapat mungkin tanpa mengorbankan arti dan ketepatan.

Apakah watak pengetahuan manusia itu? Apakah akal manusia yang dapat mengetahui itu? Apakah kita mempunyai pengetahuan yang sesungguhnya yang dapat kita andalkan, atau kita harus merasa puas dengan sekadar pendapat dan dugaan. Apakah kita ini terbatas kepada fakta-fakta pengalaman atau kita dapat mengetahui di belakang hal-hal yang diungkapkan oleh indra?

Istilah untuk teori pengetahuan adalah epistemologi. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani: episteme, yang berarti pengetahuan. Terdapat tiga persoalan pokok dalam bidang ini: (1) Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahui? Ini adalah persoalan tentang “asal” pengetahuan. (2) Apakah watak pengetahuan itu? Apakah ada dunia yang benar-benar di luar fikiran kita, dan kalau ada, apakah kita dapat mengetahuinya? Ini adalah persoalan tentang apa yang kelihatan versus hakikatnya (reality). (3) Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita dapat membedakan yang benar dari yang salah? Ini adalah soal entang mengkaji kebenaran atau verifikasi. Soal-soal ini semua akan kita bahas dalam fasal ini dan dua fasal sesudahnya. Dalam fasal 12 kita akan membahas metoda ilmiah untuk penyelidikan serta hubungan antara sains dan filsafat.

Banyak kepercayaan yang pada suatu waktu dianggap benar, ternyata salah. Manusia pada suatu waktu yakin bahwa bumi ini datar, bahwa setan-setan penyebab penyakit dapat dihalau keluar dengan suara yang keras dan bahwa dalam mimpi, jiwa kita benar-benar pergi ke tempat dan zaman yang jauh. Kepercayaan ini yang pada suatu waktu dipegang teguh, sekarang ini secara universal sudah ditinggalkan. Apakah kejadian semacam itu dapat terjadi juga kepada pengetahuan kita sekarang.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.497 pengikut lainnya.