Riwayat Hidup Al-Ghazali


Al-Ghazali memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali yang popular dengan gelar Hujjatul Islam dan Zainuddin. Dia dilahirkan pada pertengahan abad ke-5 Hijriah, tepatnya pada tahun 450 Hijriah/ 1058 Masehi atau seperempat abad setelah kematian Ibnu Sina. Dia dilahirkan di Thus, salah satu kota di Khurasan. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa dia dilahirkan di Ghazalah, yang terletak di ujung Thus, sehingga dapat dikatakan dia memiliki darah Persia. Ayahnya adalah seorang laki-laki miskin yang bekerja sebagai tukang tenun sutera. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa al-Ghazali dipanggail al-Ghazzali (dengan z ganda) karena dinisbatkan pada mata pencarian ayahnya.

Ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa ia dipanggil Ghazali karena dinisbatkan pada tanah kelahirannya, yaitu Ghazalah. Orang tua al-Ghazali adalah seorang laki-laki salih yang sering menghadiri majelis pengajian fiqih sebagai pendengar setia, membantu mengurus majelis pengajian, dan ikut menyumbang sesuai kemampuan. Sang ayah meninggal dunia ketika al-Ghazali belum mencapai usia dewasa. Sementara tentang sejarah ibunya tidak banyak orang yang mengetahuinya, selain bahwa ia hidup hingga menyaksikan kehebatan anaknya di bidang ilmu pengetahuan dan melihat popularitasnya serta gelar tertinggi di bidang keilmuan.

Sang ayah ingin sekali Al-Ghazali tumbuh di lingkungan yang islami, sehingga ia menitipkan al-Ghazali dan adiknya, Ahmad, ke seorang temannya yang sufi dan menyerahkan biaya hidup untuk mereka berdua. Sang sufi adalah seorang yang miskin. Karenanya, ketika biaya hidup telah habis, maka ia menyerahkan keduanya ke salah satu sekolah yang didirikan oleh Nizham al-Mulk yang dapat menyediakan asrama dan biaya hidup bagi para pelajar.

Al-Ghazali menuntut ilmu pertama kali di Thus. Dia mempelajari beberapa metode fiqih. Kemudian dia pindah ke Jarjan pada saat usianya belum mencapai dua puluh tahun. Di sana dia melanjutkan minatnya untuk mengkaji ilmu-ilmu agama dan dua bahasa, yaitu bahasa Persia dan bahasa Arab.

Setelah itu dia kembali ke Thus dan menetap di sana selama tiga tahun sambil mengulangi pelajaran yang pernah diterimanya di Jarjan. Pada saat kembali ke Thus itu, dia mengalami peristiwa pencurian buku oleh sejumlah pencuri. Dia tidak dapat mengambil kembali buku-bukunya, kecuali setelah melalui upaya yang sedikit bersusah payah. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa gara-gara peristiwa pencurian itu dia mulai belajar menghafal semua buku yang dibacanya, sehingga jika kehilangan buku lagi dia tidak perlu lagi mencarinya.

Tidak lama kemudian, dia pergi ke Nisabur pada tahun 470 Hijriah dan berguru kepada Dhiyauddin al-Juwaini, imam al-haramain dan kepala madrasah Nizhamiyah. Dia berguru kepadanya sampai sang guru wafat tahun 478 H/1058 M. Pada masa-masa itu, dia mempelajari fiqih, ushul, ilmu kalam, ilmu debat, logika, dan filsafat. Masa itu merupakan masa yang sangat subur bagi dirinya dalam pembentukan ilmu dan kematangan berpikir. Al-Ghazali memulainya dengan menulis dan mengajar, sehingga dia menjadi orang yang cukup disegani pada masa hidup gurunya, al-Juwaini imam al-haramain.

Setelah kematian al-Juwaini, al-Ghazali meninggalkan Nisabur menuju Muaskar—istana menteri Nizham al-Mulk—di utara Nisabur pada saat usianya mencapai 28 tahun. Di sana dia bertemu dengan menteri berkebangsaan Saljuk, Nizham al-Mulk, yang selalu memberi dorongan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan para ulama, sehingga nama al-Ghazali menjadi kagum dan hormat kepadanya. Majelis sang menteri dihadiri oleh orang-orang yang terkemuka, lalu terjadi perdebatan dan tukar pendapat antara al-Ghazali dan mereka. Alhasil, nama dan popularitas al-Ghazali menjadi terkenal.

Nizham al-Mulk, lalu menawari al-Ghazali untuk mengajar di madrasah Nizhamiyah Baghdad pada tahun 484 H/ 1091 M. Kedalaman ilmunya segera diketahui banyak orang, sehingga penduduk Baghdad menaruh kagum kepadanya. Alhasil, mereka memberinya kedudukan yang tinggi. Banyak sekali para penuntut ilmu dan pengagumnya yang berguru kepadanya.

Pada tahun 487 Hijriah, Khalifah al-Mustadhir meminta al-Ghazali untuk menanggapi pemikiran kaum Ismailiyah, yang terkenal dengan sebutan al-bathiniyah atau at-ta’limiyah. Pada saat itu, mereka merupakan kekuatan yang luar biasa. Al-Ghazali sampai menulis tiga buku untuk menanggapi pemikiran mereka.

Dalam buku al-Munqidz min ad-Dhalal, al-Ghazali menyebutkan bahwa dirinya merasakan munculnya krisis kepercayaan, sehingga ia mulai meragukan semua ilmu pengetahuan yang ada di zamannya dan tidak yakin bahwa ilmu-ilmu itu akan dapat mengantarkannya menuju keyakinan. Akibatnya, dia mulai mempelajari bidang ilmu pengetahuan lain, yaitu filsafat, ilmu kalam, bathiniyah atau ta’limiyah, dan tasawuf.

Dari berbagai kajian yang dia lakukan, al-Ghazali menyimpulkan bahwa filsafat, ilmu kalam, dan bathiniyah tidak mengantarkan orang menuju pengetahuan tingkat yakin (al-ma’rifat al-yaqiniyah) yang dia harapkan. Dia juga menyimpulkan bahwa indera dan akal tidak dapat mengantarkan orang menuju pengetahuan hakikat (al-ma’rifat al-haqiqah). Sebaliknya, dia sampai pada kesimpulan bahwa pengetahuan hati yang bersifat langsung dan tercapai melalui jalan kasyaf atau pengetahuan sufistik adalah jalan kebenaran untuk mencapai pengetahuan tingkat yakin (al-ma’rifat al-yaqiniyah).

Pada saat itu, al-Ghazali mengalami krisis psikologis yang serius dan mematikan seluruh kegiatannya serta membuatnya meninggalkan kegiatan mengajar. Dalam buku al-Munqidz min ad-Dhalal, al-Ghazali menyatakan bahwa krisis psikologislah yang telah membuatnya meninggalkan kedudukannya di madrasah Nizhamiyah.

Al-Ghazali berkata, “Jelas bagiku bahwa aku tidak memiliki keinginan terhadap kebahagiaan akhirat, kecuali melalui ketakwaan dan menahan diri dari hawa nafsu. Pangkal semua itu adalah memutus hubungan hati dengan dunia lewat jalan menjauhi urusan-urusan duniawi dan kembali pada urusan ukhrawi. Dan semua itu hanya akan tercapai melalui cara: menghindari kedudukan dan kekayaan serta menjauhkan diri dari berbagai kesibukan dan angan-angan duniawi.”

“Kemudian aku mengamati keadaan diriku. Ternyata, aku tenggelam dalam berbagai hubungan duniawi dan telah melingkariku dari berbagai sisi. Aku juga mengamati semua pekerjaanku, di mana yang terbaik adalah mengajar dan ceramah. Ternyata, aku juga hanya mengejar ilmu yang tidak penting dan tidak bermanfaat di jalan akhirat,” sambungnya.

“Selanjutnya, aku merenungi niatku dalam mengajar. Ternyata, niatku tidak benar-benar untuk mencari ridha Allah. Bahkan pendorong dan penggerak niatku adalah mencari kedudukan dan popularitas. Maka aku meyakini bahwa aku sedang berada di jurang kehancuran dan mendekati pintu neraka, jika aku tidak segera mengubah keadaanku,” dia menambahkan.

“Saat ini aku dalam situasi memikirkannya untuk memilih. Aku telah bertekad keluar dari Baghdad dan meninggalkan semua keadaan. Sayangnya, masih ada yang ingin menarikku kembali. Aku melangkahkan satu kakiku ke depan dan kaki yang lain ke belakang. Keinginanku untuk mencari akhirat pada usia dini ditentang tentara syahwat, sehingga melemahkanku di usia tua. Syahwat duniawi menarikku dengan rantainya ke posisi tertentu, sedangkan penyeru iman tengah menyeru, “Wahai pengelana, sisa usiamu hanya sedikit dan di hadapanmu terbentang perjalanan panjang, padahal semua ilmu dan amal selama hidupmu adalah riya dan mimpi kosong. Jika engkau belum menyiapkan diri untuk akhirat mulai sekarang, lalu kapan engkau akan siap? Jika engkau tidak mengatasi semua rintangan hidup sekarang ini, lalu kapan engkau akan mengatasinya? Pada saat itu, timbul dorongan dan tekad untuk lari dan menjauh”, ungkapnya.

Lebih lanjut al-Ghazali mengungkapkan, “Kemudian setan kembali berkata, ‘Ini sesuatu yang menyenangkan. Jangan mengikuti seruan iman. Jika engkau mengikutinya dan meninggalkan kehormatan yang nyata ini, mungkin keadaanmu akan menjadi teratur dan bebas dari penistaan, juga bebas dari penentangan musuh. Tapi engkau tidak mudah untuk meraihnya kembali apa yang pernah kau raih.’”

“Hampir selama enam bulan atau hingga bulan Rajab tahun 488, aku masih ragu-ragu antara daya tarik syahwat dunia dan daya tarik akhirat. Pada bulan ini, aku melewati batas ikhtiar menuju keterpaksaan, sebab Allah mengelukan lidahku sehingga aku tidak dapat mengajar. Aku telah berusaha sendiri untuk mengajar satu hari sebagai obat hati, tetapi lidahku tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun dan bahkan tidak sama sekali. Aku kemudian mewarisi kekeluan lidah dengan perasaan sedih di dalam hati. Daya pencernaan, selera makan dan minum menjadi terganggu, sehingga aku tidak dapat makan bubur dan tidak dapat mencerna daging serta kekuatanku semakin melemah. Para tabib berdatangan untuk mengobati dengan mengatakan, ‘Ini sesuatu yang menimpa hati dan kemudian beralih ke fisik. Maka, tidak ada cara untuk mengobatinya, kecuali jika batin bebas dari nestapa yang memilukan.’”[1]

Al-Ghazali meninggalkan dunia mengajar dan meninggalkan Baghdad ke Syam (Suriah) pada tahun 488. Dia menetap di Damaskus selama dua tahun dengan menjauhkan diri dari orang banyak, dan sangat tekun melakukan riyadhah an-Nafs (olah batin), berkhalwat, dan ber-mujahadah. Di sana al-Ghazali hidup sebagai kaum zahid yang sufistik. Sehabis dari Syam dia menuju ke Baitulmaqdis, lalu ke Makkah untuk mengunjungi makam Nabi Ibrahim, lalu ke Hijaz untuk melaksanakan kewajiban haji, dan ke Mesir untuk menetap di Iskandariah selama beberapa waktu.

Setelah itu dia kembali ke kampung halamannya, tanah Thus, dan menetap di sana selama sembilan tahun. Tetapi dia tidak dapat menikmati uzlah atau olah batin, karena disibukkan oleh urusan mengajar dan keluarga.

Selanjutnya, dia kembali ke Nisabur pada tahun 489 untuk melaksanakan tugas mengajar di madrasah Nizhamiyah sebagai respon atas undangan sultan pada saat itu. Tetapi dia hanya menetap di sana selama dua tahun, karena setelah itu ia kembali ke tanah Thus. Lalu dirinya mendirikan sebuah forum diskusi bagi kaum sufi dan madrasah bagi penuntut ilmu fiqih.

Pada tahun-tahun terakhir dari masa hidupnya, dia menghabiskan waktunya untuk beribadah dan meninggal dunia pada tahun 505/1111 dalam usia 54 tahun, lalu dimakamkan di Thus.

(Sumber: M. Utsman Najati. (2002). Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim).


[1] Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqidz min ad-Dhalal wa al-Muwasshil ila Dzi al-‘Izzah wa al-Jalal, ditahkikkan oleh Jamil Shaliba dan Kamil Iyadh, Beirut: Dar al-Andalus (t.t), h. 134-136.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.499 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: