Waktu dalam Pandangan Filsuf Muslim


Filsuf Muslim pada umumnya sangat dipengaruhi oleh Helenisme dan oleh karena itu mereka mencoba menerapkannya mengenai waktu dalam kaitannya dengan isu-isu terkait yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadits. Filsuf Muslim sebelum Ibn Arabi, seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Al-Razi, Al-Ghazali, Ibn Rusyd (Averroes) dan Ibn Sina (Avicenna) menganalisis dan mengkritik atau mengadaptasi konsep yang berbeda mengenai waktu dari aliran filsafat Yunani yang diwakili oleh Aristoteles, Plato, dan Plotinus (Badawi, 1965).

Misalnya, Al-Ghazali,[1] di dalam karyanya yang terkenal Refutation of the Philosophers (Tahafut al-Falasifah)[2] menggunakan argumen standar filosofis dan logika mengenai waktu dan penciptaan, dan kritiknya tersebut dibantah dan dibahas tuntas dalam karya monumental Ibn Rusyd, Tahafut al-Tahafut.[3] Salah satu filsuf Muslim paling berpengaruh yang memiliki pandangan orisinal tentang waktu adalah Ibn Sina; ia membahas panjang lebar dalam beberapa karyanya khususnya tentang waktu dan isu-isu terkait menurut pandangan teologi, kalam, dan aliran-aliran filsafat sebelumnya.[4]

Ibn Sina[5] memulainya dengan ringkasan posisi metafisik sebelumnya dari filsuf[6] (Islam dan lainnya) dan kemudian mengkritik pandangan-pandangan yang berbeda tersebut secara ontologis. Meskipun Ibn Sina seperti Aristoteles yang menyatakan bahwa waktu dan gerak berkaitan erat, tetapi ia menekankan bahwa gerak bukan jumlah waktu. Dia mendasarkan argumennya pada fakta bahwa jarak yang berbeda dapat dilalui dalam waktu yang sama, atau jarak yang sama dapat dilalui dalam waktu yang berbeda, baik karena perbedaan kecepatan atau karena berhenti.[7] Tetapi ia tidak menyatakan waktu ditentukan oleh gerakan, meskipun ia menambahkan faktor jarak untuk mengatasi kesulitan Aristoteles mengenai periodisitas. Dia mengatakan bahwa waktu adalah “jumlah gerak ketika dipisahkan dari sebelum dan sesudah, bukan berada di dalam waktu tetapi di dalam jarak jika bersifat periodik (Nasr, 1978: 224:226).

Di sisi lain, Ibn Sina meragukan eksistensi waktu fisik, dengan alasan waktu itu “eksis” hanya di dalam pikiran sebagai akibat dari memori dan harapan. Ia juga menunjukkan waktu riil dalam arti bahwa waktu itu eksis melalui gerakan yang berkaitan dengan materi fisik; waktu itu riil, tetapi tidak memiliki esensi mandiri karena ia hanya eksis melalui gerak materi.[8] Tentang masalah struktur waktu, Ibn Sina menegaskan bahwa struktur waktu adalah kuantitas kontinu karena ia (seperti Aristoteles) menganggap waktu merupakan jumlah gerakan memutar yang kontinu dan dengan demikian waktu dapat dibagi-bagi hanya oleh ilusi pikiran ke dalam “momen” atau “instan” (anat).[9]

Di sisi lain, para pendukung teologi kalam terutama Asy’ariyah,[10] berdasarkan pandangan atomistiknya menyatakan bahwa waktu adalah diskrit, dan mereka juga berbicara tentang penciptaan kembali dunia dalam waktu. Ibn Arabi mengakui pandangan positif Asy’ariyah, tetapi ia juga mengkritik pandangan tersebut karena tidak lengkap. Kita akan membahas pandangan Ibn Arabi secara rinci pada bagian selanjutnya.

Pada tahap awal filsafat Islam, filsuf dan ahli matematika bernama Al-Kindi[11] dipengaruhi oleh Aristoteles dan mengadopsi pandangannya bahwa waktu adalah jumlah gerak.[12] Namun, dengan beralasan pada prinsip umum Al-Quran bahwa Tuhan adalah yang menciptakan dunia, ia menegaskan bahwa dunia material tidak dapat tak-terhingga (ad infinitum) karena jika demikian akan muncul ketidakmungkinan dari aktualitas yang tak terbatas. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa dunia membutuhkan “generator” awal (muhdits) yang dapat menghasilkan ex nihilo.

Ahli fisika Muslim dan Neoplatonis bernama Al-Razi[13] pada sisi lainnya, tampaknya telah mengadopsi gagasan Plato (dalam Timaeus) bahwa waktu adalah “bentuk gerakan dari keabadian” serta gagasan Plotinus bahwa waktu adalah abadi; oleh karena itu ia menolak pandangan Aristoteles tentang ketidaknyataan waktu.

Pada bagian ini, filsuf berpengaruh bernama Al-Farabi[14] memfokuskan pada aspek metafisik waktu. Dia juga mengadopsi pandangan Aristoteles ketika mengatakan: “Hanya gerakan melingkar yang kontinu dan waktu terkait dengan gerakan ini” (Abdul Muta’al, 2003: 113). Mirip dengan Ibn Arabi, Al-Farabi ternyata percaya bahwa dunia adalah kontingen atau “mungkin eksis” sebelum menjadi eksistensi aktual. Dengan kata lain, jika waktu “tidak mungkin” maka ia tidak eksis, atau jika waktu “perlu” maka ia akan selalu eksis. Al-Farabi menekankan bahwa dunia keseluruhan berada dalam pembentukan kontinu (takwin) dan mengalami kerusakan (fasad) “tanpa waktu”, sedangkan bagian dunia yang mengalami pembentukan dan penghancuran berada dalam waktu (Abdul Muta’al, 2003: 115). Pandangan ini juga mirip dengan pandangan Ibn Arabi (akan dibahas selanjutnya). Penjelasan hal ini sebagaimana ilustrasi berikut. Jika seorang fisikawan diminta untuk menggambarkan keadaan umum dari gunung, ia mungkin akan membuat beberapa persamaan tanpa merujuk kepada waktu karena gunung bersifat kaku. Tapi kalau ia diminta untuk memasukkan fakta bahwa gunung adalah bagian dari Bumi yang berputar pada porosnya dan mengorbit Matahari, dan juga fakta bahwa atom di bebatuan gunung tidak pernah berhenti bergerak, atau gerakan serangga dan hewan lain yang mungkin tinggal di gunung serta gerakan angin, air, dan lain-lain—maka fisikawan perlu menggunakan beberapa persamaan matematika untuk dapat memasukkan parameter waktu dalam persamaannya dengan beberapa kali aproksimasi. Jadi, karena hidup “di dalam” dunia maka kita merasakan waktu, tetapi keseluruhan dunia itu sendiri berada di luar waktu.

Banyak aliran pemikiran Islam berspekulasi mengenai masalah waktu. Bagaimanapun, di dalam Al-Quran sendiri Tuhan tidak menegaskan referensi langsung ke kata Arab untuk “waktu” (zaman), meskipun banyak istilah yang berhubungan dengan waktu dieksplorasi oleh Ibn Arabi—seperti untuk tahun (sana dan ‘am), untuk bulan (syahr), untuk hari (yawm/ nahar), dan malam (layl)—sangat sering disebutkan dalam Al-Quran, di samping beberapa Nama Tuhan yang berhubungan dengan waktu seperti Yang Pertama (al-Awwal), Yang Akhir (al-Akhir), dan Zaman (al-Dahr).

Terdapat ratusan buku dan studi terbaru mengenai waktu dalam perspektif filsafat Islam baik dalam bahasa Arab maupun bahasa lainnya, sangat aneh kalau tidak pernah ada yang berfokus terhadap pandangan Ibn Arabi. Banyak sarjana telah mempelajari dan membandingkan pandangan teologis, filosofis, dan fisika mengenai waktu dan eksistensinya. Namun, sangat jarang studi-studi tersebut yang mengeksplorasi pengetahuan terbaik mengenai konsep waktu dari Ibn Arabi, meskipun—seperti yang akan kita dibahas—pandangannya adalah kunci untuk memahami teori kontroversial dari Kesatuan Wujud. Alasan mengabaikan pandangan Ibn Arabi bukan hanya karena sulit dan tersimpan secara simbolik dalam bahasa sufi, tetapi juga fakta bahwa konsep-konsep Ibn Arabi tersebar di dalam tulisan-tulisannya dan tidak dinyatakan dalam satu tema khusus. Bahkan, Ibn Arabi menyebutkan dalam Futuhat bahwa ia menulis sebuah risalah dengan judul al-Zaman (“Waktu”) di mana kita berharap dapat membaca secara utuh, atau setidaknya ringkasan pandangannya mengenai waktu. Namun, sangat disayangkan risalah berharga tersebut dinyatakan telah hilang, tetapi al-Futuhat al-Makkiyyahsebagian besarnya membahas mengenai masalah waktu dan kosmologi.


[1] Abu Hamid Muhammad B. Muhammad al-Thusi Al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M) adalah seorang teolog, ahli fiqh, pemikir, mistikus, dan religius Muslim. Ia seorang reformis yang kemudian mengejar dan secara sistematis membela ajaran sufisme.

[2] Ibn Rusyd, Tahafut al-Falasifah (The Incoherence of the Philosophers) (1972), ed. M. Bouyges dengan ringkasan dalam bahasa Latin. Ini adalah karya kontroversial berupa sanggahan teologis terhadap Al-Ghazali yang menyebutkan ada dua puluh kekeliruan pada filsuf.

[3] Abu al-Walid Ibn Rusyd (520-595 H/1126-1198 M) adalah hakim kepala di Sevilla dan seorang filsuf besar yang dikenal di Barat sebagai Averroes. Tidak ada satu orang pun yang lebih tinggi darinya dalam hal keputusan hukum (fatwa) untuk isu-isu penting. Ia merupakan tokoh puncak dalam sejarah filsafat dan teologi baik di Islam maupun di Barat. Ia membela filsafat dari serangan teolog Asy’ariyah (mutakallimun) yang dipimpin oleh Al-Ghazali dengan menulis Tahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence), diterjemahkan dari bahasa Arab dengan pengantar dan catatan oleh Simon van den Bergh (Gibb Memorial Trust, 1978).

[4] Teologi Islam adalah teologi yang berasal dari Al-Quran dan Hadits. Kalam (etimologi: berbicara) adalah tradisi Islam yang mencari prinsip-prinsip teologis melalui dialektika. Para ulama ahli kalam direkrut dalam Bait al-Hikmah di bawah Khalifah Abbasiyah di Baghdad pada abad kesembilan, setelah itu bermunculan aliran yang menentang ahli kalam seperti Asy’ariyah dan Mu’tazilah.

[5] Abu Ali al-Husayn Ibn Abdullah Ibn Sina (369-428 H/980-1037 M) dikenal di Barat sebagai Avicenna; ia adalah fisikawan, saintis, matematikawan, dan filsuf Muslim.

[6] Ibn Sina (1983): 68. Lihat juga: Ala al-Din Abdul Muta’al (2003): 131.

[7] Ibn Sina (1983): 72. Lihat juga: Al-Ati (1993): 110.

[8] Ibn Sina (1983): 74.

[9] Ibn Sina (1938), Al-Najat, ed. Muhyi al-Din S. al-Kardi, Edisi Kedua, Kairo, hal: 117.

[10] Dinama sesuai dengan tokoh pendirinya Abu al-Hasan al-Asy’ari, aliran teologis Sunni asal-usulnya sebagai reaksi terhadap rasionalisme yang berlebihan dari Mu’tazilah (gerakan yang didirikan oleh Wasil Ibn Atha’ pada abad kedua hijriyah). Asy’ariyah bersikeras bahwa akal harus tunduk kepada wahyu. Mereka menerima beberapa pandangan kosmologis dari Mu’tazilah, tetapi menolak pandangan yang bernuansa prinsip-prinsip teologis Mu’tazilah.

[11] Abu Yusuf Ya’qub Ibn Ishaq al-Kindi (185-256 H/ 805-873 M) biasa dipanggil sebagai “Bapak” filsuf Muslim. Ia juga seorang saintis dengan akurasi yang cukup tinggi, matematikawan, ahli astronomi, fisikawan dan ahli geografi, juga memiliki talenta dalam musik.

[12] Al-Kindi (1950): 117.

[13] Muhammad Ibn Zakariyya al-Razi (251-313 H/ 865-925 M)

[14] Abu Nasr al-Farabi (259-339 H/ 870-950 M) adalah salah seorang filsuf Muslim dan ahli logika terkemuka.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.499 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: