Kehidupan dan Karya Al-Farabi


Para penulis biografi asal Arab memberikan apresiasi tinggi atas berbagai karya Al-Farabi. Nama lengkapnya dalam sumber-sumber Arab adalah Muhammad ibn Muhammad ibn Uzalagh Ibn Tarkhan, penduduk asli Farab di Transoxiana yang berasal dari Turki atau Turkoman. Penulis biografinya paling awal bernama Said Ibn Said Al-Andalusi (w. 1070) menitikberatkan kontribusi Al-Farabi dalam bidang logika. Setelah belajar logika kepada Yuhanna Ibn Haylan, ia segera melampaui semua Muslim di bidang tersebut. Dia menjelaskan bagian-bagian samar dari (ilmu itu) dan berhasil mengungkapkan rahasia dalam buku-buku karyanya dengan ekspresi dan isyarat yang menarik perhatian.[1] Karyanya yang berjudul The Enumeration of the Sciences (Ihsa al-Ulum) banyak dipuji ilmuwan sebagai ‘risalah tak tertandingi’ dan risalah-risalah yang sama mengagumkan tentang Philosophy of Plato and Aristotle pada metafisika dan politik, Civil Polity (al-Siyasah al-Madaniyah) dan Virtuous Regime (al-Sirah al-Fadilah). Risalah Al-Farabi yang paling terkenal berjudul The Virtuous City (Al-Madinah al-Fadilah). Menurut Said, risalah ini mewujudkan prinsip-prinsip dasar filsafat Aristoteles, fondasi bagi enam prinsip spiritual, dan bagaimana cara substansi jasmaniah berasal dari enam prinsip spiritual tersebut[2];  sebuah referensi yang hampir mirip dengan skema emanasi dari Plotinus (d. 270 ).

Informasi ini dilengkapi sumber-sumber referensi ketika Al-Farabi datang ke Damaskus, di sana ia bekerja sebagai penjaga kebun. Tak lama di situ, ia pindah ke Baghdad mengabdikan diri untuk mempelajari bahasa Arab yang tidak diketahuinya, walaupun ia fasih bahasa Turki serta banyak bahasa lainnya[3]. 3

Di dalam karyanya yang berjudul On the Rise of Philosophy kita diberi tahu bahwa setibanya di Baghdad ia segera berkenalan dengan ahli logika terkemuka bernama Abu Bishr Matta (w. 911) dan ahli logika yang kurang dikenal bernama Yuhanna Ibn Haylan. Selain perjalanannya ke Mesir dan Ascalon, peristiwa yang paling berkesan dalam hidupnya adalah hubungannya dengan Saif Al-Daulah (w. 967) seorang penguasa Hamdani di Aleppo yang mencintai seni dan kaligrafi. Saif Al-Daulah menjunjung tinggi makna filosofis dari kebiasaan hemat dan sikap pertapa serta pada musik. Selain karya besar berjudul Musical Treatise (Kitab al-Musiqa al-Kabir), ditambah dengan karyanya mengenai Melody (fi al-Iqa’) dan Transition to Melody (al-Nuqlah ila al-Iqa’) dan karya-karya musik lainnya. Al-Farabi dilaporkan menjadi musisi terampil. Ia bermain begitu mengesankan di hadapan Saif Al-Daulah yang menyebabkan pendengarnya tergerak untuk mengalirkan air mata. Tetapi ketika ia berubah lagu, mereka tertawa dan akhirnya jatuh tertidur, sehingga ketika ia pergi mereka tidak menyadarinya[4]. Setelah kunjungannya ke Mesir pada tahun 949, ia kembali ke Damaskus sampai meninggal pada tahun 950.[5]

Di dalam karyanya yang hilang berjudul Rise of Philosophy berisi informasi otobiografi tambahan. Setelah meninjau tahap filsafat Yunani melewati periode Klasik ke periode Alexandria, ia menjelaskan bagaimana pengajaran logika berpindah dari Alexandria ke Baghdad, di mana terdapat guru-guru terkenal seperti Ibrahim Al-Marwazi, Abu Bishr Matta dan Yuhanna Ibnu Haylan. Pengajaran logika telah dibatasi sampai dengan ‘akhir suasana hati eksistensial’ karena dianggap banyak mengancam keimanan. Al-Farabi muncul sebagai orang pertama yang melanggar tradisi logika dan melanjutkan bagian pertama dari Organon untuk studi Analytica Posteriora (Kitab al-Burhan)[6]. Studi tentang logika Aristoteles sebenarnya telah dibahas dalam seminar-seminar Nestorian dan Jakobite di Suriah dan Irak mengenai empat bagian pertama dari logika itu; yaitu Isagoge dari Porphyry, Categories, Interpretation (Peri Hermeneias) dan Analytica Priora yang dikenal dalam sumber-sumber Arab sebagai Kitab al-Qiyas[7].

Kesaksian penulis biografinya sendiri sangat konklusif dalam menyoroti peran Al-Farabi sebagai ahli logika besar pertama yang melampaui ilmuwan Muslim pendahulunya dan sarjana Kristen sezamannya seperti Yuhanna Ibn Haylan dan Abu Bishr Matta sebagai gurunya sendiri dalam logika.

Kesaksian ini diperoleh dari luasnya karya Al-Farabi dalam bidang logika. Karyanya mencakup serangkaian komentar besar (shuruh) pada Analytica Posteriora, Analytica Priora, Categories, Isagoge, Rhetorica dan On Interpretation (Syarh Kitab al-Ibarah) merupakan satu-satunya komentar yang masih bertahan[8]. Harus ditambahkan pula karyanya dalam bentuk parafrase dari Analytica Posteriora, Analytica Priora, Topica, Isagoge, dan Sophistica, serta karyanya dalam Conditions of Certainty (Sharait al-Yaqin)[9]. Namun, tulisan paling asli mengenai logika terdiri dari serangkaian risalah analitis yang dimaksudkan sebagai pengantar untuk mempelajari logika dengan pengecualian pada Isagoge karya Porphyry dan pendahuluan pada Categories yang tidak paralel dengan sejarah kuno atau abad pertengahan. Termasuk di dalamnya Introductory Treatise (Risalah fi al-Tawti’ah), Five Sections (al-Fusul al-Khamsah), Terms Used in Logic (al-Alfaz al-Musta’malah fi al-Mantiq) dan Book of Letters (Kitab al-Huruf).

Tulisan-tulisan Al-Farabi mengenai fisika dan meteorologi di antaranya Physics (al-Sama’ al-Tabi’i) mreupakan kitab yang dikenal dalam bahasa Arab, risalah mengenai Changing Entities (Fi al-Mawjudat al-Mutaghayrah), Heavens and the World (al-Sama wa al-Alam), Meteorology (al-Athar al-Ulawiyah), serta risalah mengenai Perpetuity of Motion dan Essence of the Soul (Fi Mahiyat al-Nafs). Adapula karya-karyanya dalam bidang alkimia dan astrologi, risalah yang paling penting mengenai On Valid and Invalid Astrological Inferences (Fi ma Yasuh wa la Yasuh min ‘Ilm Ahkam al-Nujum) yang mampu bertahan sampai sekarang. Ia juga menulis komentar yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai al-Majasti karya dari Ptolemeus berjudul Almagest.

Karya-karya Al-Farabi mengenai metafisik dan metodologinya adalah Treatise on Metaphysics (Fi al-‘Ilm al-Ilahi), Harmony of the Opinions of Plato and Aristotle (Fi Ittifaq wa Ara Aflatun wa Aristutalis juga dikenal sebagai al-Jam Bain Ra’yai al-Hakimain), Name of Philosophy (Fi Ism al-Falsafah), Philosophy and its Genesis (Fi al-Falsafah wa sabab Zuburiha) dan puncak karyanya berjudul Enumeration of the Science (Ihsa al-Ulum)[10].

Dalam bidang etika dan politik, sosok Al-Farabi juga memiliki keunggulan. Sejumlah karya telah dihasilkan berdasarkan sumber-sumber kuno. Daftar karyanya ini dimulai dengan Opinions of the Inhabitants of the Virtuous City (Ara Ahl al-Madinah al-Fadilah), Civil Polity (al-Siyasah al-Madaniyah), Epitome of Plato’s Laws (Kitab al-Nawamis), Select Sections (Fusul Murtaza’ah min Aqawil al-Qudama’), Attainment of Happiness (Tahsil al-Sa’adah) dan risalah pendek berjudul Admonitionto Seek the Path of Happiness (al-Tanbih ‘ala Sabil al-Sa’adah). Karyanya yang hilang berupa komentar mengenai Opening Parts of Aristotle’s Ethics (Syarah Shadr Kitab al-Akhlaq li-Aristutalis).

Akhirnya, Al-Farabi juga cemerlang dalam teori dan praktek musik. Karyanya yang paling terkenal dan sampai kepada kita dalam bidang ini berjudul Large Music (Kitab al-Musiqa al-Kabir), ia juga menulis risalah pendek mengenai Melody (Fi al-Iqa’), Transition to Melody (al-Nuqlah ila al-Iqa’), dan A Short Discourse on Melody (Kalam fi al-Iqa’ Mukhtashar)[11] yang tidak sudah tidak ada lagi.


[1] Tabaqat al-Umam, hal. 53; Al-Qifti, Tarikh al-Hukama’, hal. 277.

[2] Ibid., hal. 54; Al-Qifti, Tarikh al-Hukama’, hal. 278.

[3] Ibn Abi Usaibiah, ‘Uyun al-Anba’, hal. 606; Ibn Khillikan, Wafayat al-A’yan, IV, hal. 239.

[4] Ibn Khillikan, Wafayat al-A’yan, IV, hal. 242.

[5] Ibn Abi Usaibiah, ‘Uyun al-Anba’, hal. 603.

[6] Ibid., hal. 604.

[7] Rescher, ‘Al-Farabi on Logical Tradition’, hal. 127.

[8] Lihat: Bibliography.

[9] Lihat: Bibliography.

[10] Lihat: Bibliography.

[11] Ibn Abi Usaibiah, ‘Uyun al-Anba’, hal. 608.

About these ads

4 Tanggapan to “Kehidupan dan Karya Al-Farabi”

  1. Lukman a.f Says:

    Mudah2an aku bisa mengerti,memahami,dan mengAlami hidup ini serta terus berkarya sebagai wujud kontribusi dalam pagelaran Seni Yang Maha Besar yaitu Hidup ini…sepertinya aku menemukan diriku di dalam diri AL farabi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.497 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: